
Di ruangan yang tak begitu luas ini, Dirga menatap pintu yang hanya setengah tertutup. Maniknya menangkap para karyawan yang berlalu-lalang melewati ruangannya. Laki-laki itu masih berpikir untuk mencari cara supaya ia bisa melihat punggung Ryan lagi. Jika mendatangi rumahnya secara mendadak—seperti hari itu—Dirga tak yakin bisa melihatnya kembali. Ryan sendiri akan berhati-hati, mengunci pintu menjadi hal paling penting baginya.
Dirga sampai membuang nafasnya cukup panjang, memperkirakan jika dia membutuhkan banyak waktu berserta usaha demi melihat bekas luka tersebut. Iya, Dirga menyesal mau membantu arwah perempuan itu untuk balas dendam. Jika bukan demi menyelamatkan Sakura dan ibunya malam itu, tentunya hari ini dia sudah bisa merasakan kebebasan dalam kehidupannya.
Kepalanya dia jatuhkan begitu saja di atas meja hingga membentur kaca. Kedua maniknya terpejam, pikirannya juga buntu. Saking buntunya, dia kembali membenturkannya beberapa kali.
"Kacanya bisa pecah,"
Suara itu berhasil membuat Dirga berhenti membenturkannya, tubuhnya menengak dengan penuh keterkejutan. Kedua maniknya membola ketika melihat sang ibu datang ke tempat kerjanya. Memang sih, Dirga hanya menghabiskan waktu di ruangan ini, sampai terkejut saat ibunya datang ke tempat ini setelah beberapa tahun yang lalu. Entahlah, Dirga juga tak tahu apa yang membuat ibunya mendatanginya.
"Emangnya nggak boleh ibu dateng?" tanya sang ibu.
"Ya pasti bolehlah, bu. Tapi, kenapa mendadak? Ibu juga nggak ngabarin aku dulu," balas Dirga.
"Ibu ini ibumu, buat apa juga ngabarin anaknya dulu?"
Dirga tak menimpalinya lagi, dia melihat ibunya yang meletakkan sebuah tas berwarna kuning ke atas mejanya, membawakan makanan untuk laki-laki itu. Senyumannya merekah begitu saja, ada rasa bahagia yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata atas semua perhatian ibunya.
"Jangan sampai ada yang sisa," tutur sang ibu.
"Iya, nanti aku makan semua makanannya," timpalnya.
Dirga perhatikan, rupanya sang ibu tidak hanya membawa satu tas makanan tersebut, melainkan dua. Dengan isi makanan yang sama, ibunya mengatakan jika tas berisi makanan itu akan diberikan pada Ryan. Dirga kembali mengingat semua makanan yang dibawakan ibunya, kontan membuat kedua maniknya membola, serta alis yang terangkat bersamaan.
__ADS_1
Wajah laki-laki itu tersenyum ketika ibunya bangkit dari kursi guna memanggil Ryan untuk datang ke ruangannya. Tatapan Dirga juga terarah pada tas makanan yang ada di hadapannya itu. Iya, itu yang akan diberikan pada sepupunya. Tak ada niatan buruk dalam diri Dirga, bahkan tangannya sama sekali tak menyentuh makanan tersebut. Yang ada, Dirga menunggu kedatangan ibu dan sepupunya.
Sampai beberapa menit berlalu, tibalah dua orang yang sedari tadi ditunggu. Dirga melihat ke arah sang ibu yang memasang senyuman khas seorang ibu, memberikan tas makanan tersebut pada Ryan.
"Nanti dimakan bareng Dirga, ya. Tante cuma sebentar mampir ke sini buat bawain makanan ini ke kalian. Jangan sampai ada yang sisa. Soal tempatnya, nanti biar dibawa Dirga," tutur ibunda Dirga.
"Iya, tante. Makasih banyak, jadi ngerepotin," kata Ryan yang sedikit merendahkan tubuhnya sebagai rasa hormatnya.
"Nggak repot sama sekali,"
Lantas setelah terjadi konversasi ringan di antara ketiganya, ibunda Dirga berpamitan pada dua laki-laki di sana. Membawa tubuhnya keluar dari ruangan putranya, meninggalkan dua laki-laki tersebut yang sama-sama memandangi tas makanan mereka.
"Mau makan bareng?" tanya Dirga.
Laki-laki itu duduk tepat di hadapan Dirga, sama-sama menatap tas berisikan makanan yang telah dibawakan oleh wanita paruh baya tadi. Mereka berdua tersenyum bersama, merasa lucu dan senang di waktu yang bersamaan. Pasalnya, Dirga dan Ryan merasa seperti kembali menjadi anak-anak yang diperhatikan dan dibawakan makan siang seperti ini.
Sekilas Ryan melihat jam yang paling kanan di tangan. Laki-laki itu tengah berpikir untuk memulai kegiatan makan siang mereka yang rasanya akan sangat lucu. Pun waktu saat ini menunjukkan hampir pukul dua belas siang. Memang masih ada waktu beberapa menit sebelum jam istirahat mereka dimulai.
"Tapi, kalau emang mau makan sekarang juga nggak apa-apa," kata Ryan usai menatap jam tangannya.
Dirga sendiri hanya menganggukkan kepala, merasa setuju dengan perkataan sepupunya itu. Pun keduanya langsung membuka isi dari tas yang dibawakan oleh ibunda Dirga usai Ryan mengatakan pada karyawaman lainnya jika khusus hari ini istirahat dimulai lebih awal. Rasanya tidak adil, jika hanya Ryan dan Dirga yang memulai jam istirahat mereka lebih dulu dibandingkan para karyawan yang lain.
Dari tiap pas makanan yang dibawakan oleh ibunda Dirga, tiga kotak dengan isi yang berbeda. Namun, mereka berdua mendapatkan jenis makanan yang sama. Dirga juga tidak lepas dari senyumannya ketika melihat makanan yang sudah dibawakan oleh sang ibu. Iya, ibunya mengetahui makanan apa yang sedang ingin dia makan hari ini.
__ADS_1
"Aromanya enak," kata Ryan dia membuka salah satu kelompok yang berisikan lauk.
Pun dua laki-laki tersebut telah memulai acara makan siang mereka, Dirga dan Ryan terlihat begitu menikmati makanan yang mereka lahap siang ini. Namun, surga juga tidak melepas pandangannya dari sepupunya yang sedang menikmati salah satu lauk yang mengandung bawang putih. Dirga tahu jika Ryan terhadap bawang putih, yang mana dapat membuat laki-laki itu merasa gatal diseluruh tubuhnya. Harapannya, Ryan mau membuka bajunya dan Dirga bisa memastikan bekas luka itu.
Dirga sampai menggigit sendoknya sendiri antara menunggu reaksi dari bawang putih tersebut. Dia seperti tidak sabar menantikannya, akan tetapi sampai detik ini Ryan masih belum menunjukkan tanda-tanda alerginya. Sungguh, Dirga geregetan sendiri. Tetapi, penantiannya sejak tadi juga tidak sia-sia, karena baru saja dia melihat Ryan merasa tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri.
"Jorok lo, makan sambil garuk-garuk," kata Dirga yang memulai obrolannya.
"Bukan gitu, Ga," Ryan menjeda kalimatnya, dia masih menggaruk tubuh yang terasa gatal. "Badan gue mendadak gatel-gatel, ada rasa panasnya juga," ucapnya lagi.
"Kenapa emangnya?" tanya Dirga.
Ryan tak menjawab pertanyaan itu, pemeriksaan laut yang dari tadi dia makan tanpa banyak berpikir. Sampai pada akhirnya laki-laki itu menemukan pusat masalah yang membuat tubuhnya gatal begini.
"Ga, ada bawang putih di makanan ini. Gue alergi sama bawang putih," katanya.
Dirga hanya berpura-pura tidak mengetahui jika sepupunya itu memiliki alergi terhadap bawang putih. Dia menampilkan raut wajah terkejut, serta sedikit panik guna menunjukkan rasa pedulinya. Hanya saja, yang paling Dirga tunggu adalah disaat Ryan membuka bajunya.
"Mana aja yang gatel?" tanya Dirga.
"Semuanya,"
"Apa yang bisa gue bantu? Biar gue bantu sekarang," kata Dirga yang menawarkan bantuan. "Butuh baju bersih, nggak? Gue punya beberapa baju bersih di sini,"
__ADS_1