
Di balik roda setir tersebut, Dirga melajukan mobilnya memecah jalanan kota yang ramai akan pengendara lainnya. Mobilnya sampai tak mampu bergerak di tengah-tengah banyak kendaraan. Situasinya begitu padat, sampai membuat Dirga mampu melamun cukup lama. Kejadian tadi memang sempat membuat pikirannya kacau, sebab itu Dirga memilih untuk menjauhi Sakura untuk saat ini, mencari udara segar yang bisa membuatnya melupakan kejadian itu.
Namun, dari semua tempat yang terlintas di kepalanya, hanya ada satu tempat yang bisa dia kunjungi, serta terhindar dari banyak wanita. Iya, tempat itu adalah tempat sepupunya, Ryan. Pun Dirga segera membawa kendaraannya meluncur ke sana—setidaknya dia juga memiliki teman mengobrol.
Dirga sungguh bersyukur karena memiliki sepupu laki-laki yang tak akan membuatnya takut berada di sekitarnya. Selama ini, hanya dengan Ryan dia bisa bersikap layaknya manusia lainnya. Sebab itu, disaat sepupunya diganggu oleh arwah perempuan itu, Dirga sangat mengkhawatirkannya.
Hingga belasan menit berlalu, akhirnya Dirga tiba di rumah sepupunya itu. Namun, beberapa kali mengetuk pintu, tak ada satu orangpun yang membukakan untuknya. Dia tahu jika Ryan di rumah, melihat mobilnya yang belum masuk ke dalam garasi. Dirga segera membawa dirinya masuk ke dalam sana, mencari sosok sepupunya. Tepat di depan pintu kamar, Dirga mendengar gemericik air yang membawa dugaannya jika sepupunya tersebut tengah berada di sana. Pun dia memilih untuk meletakkan diri di salah satu kursi.
"Astaga! Ngagetin aja, lo,"
Ryan baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan setengah tubuh yang telanjang. Pribadi itu terkejut usai melihat perawakan Durga yang menatap ke arahnya. Dirinya berjalan ke arah lemari guna mengambil pakaiannya. "Baru berapa jam pisah sama gue, udah nyariin gue lagi," kata Ryan seraya membelakangi Dirga.
Tidak menimpali kalimat sepupunya itu, atensi Ditga justru teralihkan pada luka yang terdapat punggung Ryan. "Luka apa itu?" tanyanya.
"Luka udah lama aja, kok. Biarin aja," balas Ryan.
Laki-laki itu menghampiri Dirga usai mengenakan kaos oblong, lantas duduk berhadapan dengan sepupunya itu. Kedua tangannya berada di kedua sisinya, sebagai penyangga tubuh ketika tubuh itu sedikit condong. "Lo belum jawab pertanyaan gue. Kenapa tumben ke sini?" tanya Ryan sekali lagi.
"Nggak ada apa-apa, lagi pengen ke sini aja," kata Dirga seraya menyandarkan tubuhnya.
"Oke, jangan ngode-ngode supaya gue dengerin cerita lo, ya," kata Ryan guna memberikan peringatan pada Dirga.
Hendak bangkit dari duduknya, secara mendadak Dirga menahannya dengan langsung melontarkan kalimatnya, yang mana membuat Ryan kembali duduk ke tempatnya dengan raut wajah yang menantikan kelanjutan cerita tersebut.
"Kok bisa hantu itu suka sama lo?" tanya Ryan.
Dirga menaikkan kedua bahunya singkat, dia sendiri juga tak mengetahui alasan yang jelas perihal arwah yang beberapa hari terakhir dia ketahui keberadaannya. Mulutnya tak bisa dia teruskan untuk merampungkan semua kejadian yang dia alami akhir-akhir ini. Pasalnya, semua belum terungkap jelas, tak ada yang bisa dipastikan dari semua hal itu. Toh, dirinya dan Sakura juga akan mencari fakta lebih banyak tentang arwah perempuan itu yang berhubungan dengan kecelakaan semua mantan kekasihnya.
__ADS_1
"Lo tau dari mana kalau hantu perempuan itu suka sama lo?" tanya Ryan.
"Ada orang yang bisa lihat,"
"Siapa?"
"Percuma gue kasih tau, lo juga nggak akan kenal," pungkas Dirga.
Keduanya sama-sama dilanda keheningan, bermain dengan pemikiran mereka sendiri. Sampai akhirnya Dirga mengambil ponselnya usai mendapati sebuah dentingan menyambar pada gawai tersebut. Nomor yang tertera di sana bukanlah nomor yang ia kenal, namun melihat isi pesannya, orang yang mengirimkan pesan padanya tampak mengenal Dirga. Dia membaca tiap kata yang tertulis di sana, lantas melihat ke arah Ryan secara bergantian.
"Yan, lo dapet mobil itu di mana?" tanya Dirga.
Sempat terhenti sejemang usai mendengar pertanyaan itu, namun hanya mobil itu yang akhir-akhir ini mendapatkan banyak perhatian dari keduanya. Sebab itu, Ryan langsung menjawab pertanyaan sepupunya tersebut.
"Susah sih dari jalanan, tapi kalau semisal lo mau gue anter, ayo,"
Pun keduanya bergegas bangkit dari tempat duduknya, mereka pergi menggunakan mobil Dirga yang lebih mudah untuk keluar. Selama dalam perjalanan, Dirga bermain dengan pemikirannya sendiri, laki-laki itu tampak melihat keluar jalanan, menutupi pikirannya dari Ryan. Birainya ikut terbungkam, membuat keadaan di dalam mobil ini sangat hening. Bahkan, tak ada satupun dari mereka yang membuat obrolan selama menuju rumah yang menjadi tujuan Dirga.
Belasan menit berlalu, akhirnya mobil yang menampung dua laki-laki itu berhenti di salah satu rumah besar dengan gerbang yang cukup tinggi. Seperti tak dihuni oleh siapapun di sana, namun keadaan pelataran tersebut sangat bersih, bahkan semua tanaman di sana masih terlihat begitu segar, seakan-akan ada seseorang yang rajin merawatnya.
"Bener ini rumahnya?"
"Iya. Rumah ini diisi keluarga besar gitu. Cuma karena kepala keluarga di sini udah meninggal, jadinya mereka ngejual mobil itu," jelas Ryan.
Kedua manik Dirga masih menatap rumah di depan sana. Entah kenapa, padangannya sama sekali tak ingin teralihkan dari rumah berwarna abu-abu dan putih itu. Namun, Dirga juga mempercayai semua ucapan Ryan, lantaran sepupunya sendiri yang mendapatkan mobil itu dari keluarga tersebut. Memang sih, sulit untuknya menghubungkan arwah perempuan itu dengan rumah besar yang masih terlihat begitu bersih ini. Pun dengan helaan nafas yang panjang, akhirnya dirinya menyuruh Ryan untuk melakukan mobil meninggalkan rumah tersebut.
"Emang kenapa lo pengen tau siapa pemiliknya? Padahal, itu mobil juga udah bertahun-tahun di tempat kita,"
__ADS_1
Sekilas Dirga melihat ke arah Ryan, kedua tangannya terangkat guna berpegangan pada hand grip, menatap jalanan luar seraya menggelengkan kepalanya. Semua ini tak ada urusannya dengan Ryan, dia tak mau membuat sepupunya kembali terseret oleh arwah perempuan itu.
...****************...
Keesokan harinya, Dirga menuju sebuah kafe yang menjadi tempat bertemunya dengan Sakura. Pribadi itu duduk seorang diri di meja dekat jendela yang menampilkan pemandangan luar kafe. Secangkir kopi panas di depannya dengan asap yang mengepul menjadi temannya kala menunggu kedatangan gadis itu. Wajahnya tampak datar menatap jalanan luar, maniknya bergerak acak, seakan tengah memikirkan sesuatu.
Sampai di seberang jalan dia menjumpai sosok wanita yang tak asing di netranya. Pun Dirga segera menegakkan tubuhnya, membuang nafasnya cukup panjang saat melihat Sakura telah menghampirinya.
"Udah lo tanyain dimana sepupu lo dapet mobil itu?" tanya Sakura langsung pada intinya.
"Udah," jedanya, pandangannya sedikit turun sebelum kembali menatap Sakura. "Gue minta maaf kalau kemarin nyakitin lo," katanya dengan suara parau.
"Nggak apa-apa, bukan salah lo, tapi arwah itu,"
Keheningan menyambar keduanya sejenak, kembali pada inti pertemuan mereka hari ini, Dirga ingin mengatakan sesuatu yang menurutnya berbeda dari apa yang dia pikirkan selama ini. "Kemarin, waktu gue sama Ryan dateng ke rumah pemilik mobil itu, Ryan bilang kalau rumah itu diisi keluarga besar, dan kepala keluarga di sana udah meninggal, makanya mobilnya dijual," sejenak menghentikan ucapannya, Dirga mengangkat tangan kiri yang tertutup oleh sarung tangannya. "Tapi, cincin yang gue pakai, itu cincin pasangan, yang mana yang meninggal itu justru perempuan yang selama ini lo lihat," imbuhnya.
"Jadi maksud lo, kalau semisal pemilik mobil itu laki-laki dan meninggal, harusnya laki-laki itu yang ganggu lo karena mungkin dia nggak rela mobilnya dijual?" tanya Sakura yang langsung dibalas anggukkan beberapa kali.
Kontan wanita itu menautkan kedua alisnya, mereka tak akan bisa memahami situasinya jika tidak langsung bertanya pada orang yang bersangkutan. Lantas ketika tatapan keduanya saling bertemu, mengerti maksud sama lain, Dirga dan Sakura bergegas pergi meninggalkan kafe guna mengunjungi rumah yang kemarin Dirga datangi. Walau sedikit, setidaknya mereka bisa menemukan petunjuk dari orang-orang yang tinggal di sana.
Di dalam mobil, Dirga menceritakan semua yang Ryan ceritakan padanya. Memang cukup tidak menyambung dengan yang mereka dapati selama ini. Dalam batin Dirga pun, dia lebih yakin dengan apa yang Sakura katakan—kendati keduanya baru kenal dalam waktu singkat ini. Toh, dia melihat ada arwah perempuan itu di setiap kecelakaan mantan kekasihnya. Namun, semua ini masih abu-abu, entah siapa yang memanipulasi keadaan.
Sampai belasan menit berlalu, akhirnya Driga menghentikan mobilnya di tempat yang sama seperti kemarin. Keduanya melihat ke arah rumah besar tersebut. Namun, dari masing-masing tatapan itu terdapat makna yang berbeda. Apalagi pada Sakura yang terlihat memasang raut wajah aneh kala melihat rumah besar tersebut.
"Lo yakin ini rumahnya?" tanya Sakura.
"Iya, kemarin gue sama Ryan ke sini, kok. Masih ada penghuninya di dalem. Rumahnya aja kelihatan selalu bersih," jawab Dirga.
__ADS_1
Wanita itu meletakkan telapak tangannya ke indera penglihatan laki-laki itu. "Ga, rumah ini rumah terbengkalai," kata Sakura seraya melepaskan telapak tangannya dari kedua mata Dirga.