Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Berkencan


__ADS_3

Sejak memasuki mobilnya, Dirga barulah bisa menganggap keberadaan sosok itu di sebelahnya. Sulit baginya untuk membuka obrolan pada sosok yang sama sekali tak ia ketahui apapun. Bahkan, Dirga hanya melirik dari ekor matanya—merasa canggung dengan hantu.


Laki-laki itu mencoba untuk memberanikan dirinya menoleh ke arah hantu itu seutuhnya, melihat raut wajahnya yang tersenyum lembut. Dirga akui, jika sosok itu tampak berbeda tanpa adanya darah yang memenuhi kulitnya. Namun, di kepalanya hanya terisi akan bayangan dimana dirinya yang terkadang mengutuk hantu tersebut. Dirga hanya bisa membuang nafasnya, menerobos benteng pertahanannya untuk mengajak sosok itu berbicara.


"Nama lo siapa? Selama ini, gue nggak pernah tau," tanya Dirga.


Arwah perempuan itu menoleh ke arahnya, senyumannya itu juga menampilkan lesung pipit di wajahnya. "Hanna," jawab hantu itu.


"Hanna," kata Dirga yang mengulang jawaban Hanna.


Hantu perempuan itu kembali melihat ke jalanan, dia tidak ada niatan untuk membuka obrolan dengan Dirga. Tentu saja, hal ini menyulitkan Dirga yang harus mencari bahan obrolan bersama dengan hantu. Dan hal itu membuatnya berpikir panjang tentang kencan mereka nantinya.


"Lo ada tempat yang mau kita datengin?" tanya Dirga lagi.


"Museum,"


"Kencan di museum? Klasik, ya?" ucap Dirga dalam hati. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya, lantaran tak ingin membawa hal ini terlalu serius. Toh, dia anggap tempat itu adalah tempat yang belum pernah dikunjungi oleh hantu perempuan itu. Setidaknya, Dirga berbaik hati untuk mewujudkan hal-hal yang belum terwujud semasa hantu itu masih hidup.

__ADS_1


Sampai akhirnya mereka berdua tiba di tempat tujuan setelah menempuh belasan kilometer. Dirga memarkirkan mobilnya di tempat yang tidak jauh dengan pintu masuk. Keduanya berjalan bersama, yang mana Dirga hanya perlu membayar tiket masuk untuk dirinya sendiri. Mungkin juga menguntungkan untuk dirinya? Orang lain tak bisa melihat keberadaan Hanna, tentu penjaga loket tak akan meminta bayaran untuk hantu perempuan itu.


Memang tak banyak orang yang mendatangi tempat ini. Pasalnya, tak banyak juga yang minat dengan benda-benda bersejarah. Dirga sekilas melihat ke arah Hanna, wajah senyumnya sama sekali tak luntur. Pribadi itu sempat terkejut, saat Hanna menggandeng lengannya. Walau dia adalah arwah, Dirga bisa merasakan sentuhannya. Laki-laki itu mengikuti langkah Hanna yang menariknya.


"Tolong jangan banyak nanya, ya. Nggak semua orang bisa lihat lo," kata Dirga dengan suara lirih, dan permintaannya itu seketika diangguki oleh Hanna.


"Bakal aneh kalau gue nggak lihat-lihat juga," kata Dirga dalam hatinya.


Walau Dirga tidak tertarik untuk mengetahuinya, namun Dirga tetap melakukannya untuk diri sendiri. Sesekali melihat Hanna yang terlihat begitu serius menatap tiap benda bersejarah di sini.


"Kenapa?"


"Contohnya, dinosaurus. Walaupun keberadaannya udah nggak ada, semua orang tetap ingat sama hewan itu," tuturnya.


Hantu perempuan itu melepas gandengannya dari lengan Dirga, berjalan lebih jauh lagi. Dirga yang masih diam di tempatnya memandang punggung sosok itu. Entah kenapa, dia tak bisa berkata-kata setelah mendengar kalimat Hanna.


Selama ini, Dirga tak pernah tahu keberadaan keluarga arwah itu. Padahal, ketika Dirga dan Sakura mendatangi rumah Hanna, terdapat beberapa foto keluarga arwah perempuan itu. Tapi, kenapa kalimat Hanna terdengar seperti sosok yang ditinggalkan oleh keluarganya? Karena terlalu lama melamun, Dirga sedikit terkejut ketika Hanna memanggilnya. Pun dia segera menghampiri hantu itu.

__ADS_1


Kedua tangan Dirga memasuki saku celananya, berdiri di belakang Hanna yang masih fokus dengan benda-benda bersejarah di sana. Ya, ketertarikan Hanna cukup besar terhadap semua benda itu.


"Nggak semua orang berharap keberadaan dinosaurus. Mereka semua bakal lari, kalau satu dinosaurus aja ada di bumi ini," kata Dirga tanpa ragu, yang mana membuat Hanna menoleh.


"Aku pikir, kamu dan Sakura nggak keberatan tentang keberadaanku," timpal Hanna dengan raut wajah sedihnya. "Aku tau, aku emang hantu yang pastinya bikin semua orang kabur," kata Hanna lagi yang kembali melihat ke arah benda-benda museum itu.


"Tapi, orang-orang tetap bakal ingat hewan itu setelah tau keunikannya," kata Dirga lagi. Arwah perempuan itu hanya terdiam tanpa bersuara. "Bahkan, walau ditakuti manusia, dinosaurus tetap masuk di buku pelajaran. Anak-anak jadiin dinosaurus sebagai tugas gambar mereka," imbuhnya.


"Hantu nggak bisa disamain sama dinosaurus," balas Hanna.


Dirga menghela nafasnya panjang, dia berdiri tepat di sebelah hantu tersebut guna meredam suaranya agar tidak terdengar oleh orang lain jika dirinya sedang bersama sosok arwah. "Tapi, lo bisa jadi hantu yang nggak ninggalin kesan seram buat orang-orang yang lo sayang," tutur laki-laki itu.


Hanna semakin terdiam ketika penuturan Dirga terlontar untuknya. Dia melihat ke arah Dirga yang membelakanginya. Rasanya kalimat itu cukup mengganggunya, dan anehnya Hanna sama sekali tak kesal dengan perkataan tersebut.


"Tapi, untuk lo tetep harus bantu gue sama Sakura dulu," kata Dirga yang tiba-tiba membalik tubuhnya.


Hanna tertawa mendengarnya, dia menganggukkan kepalanya. "Iya, aku tetep bantu kalian, kok," pungkas Hanna.

__ADS_1


__ADS_2