Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Lakukan Yang Terbaik


__ADS_3

Panggilan Sakura dan Riana akhirnya selesai, gadis yang masih berlari menghindari Hanna. Maniknya sekilas menoleh ke arah Dirga dan dukun tersebut, membuat Riana dengan segera membawa dirinya ke arah mereka. Pun sebuah senyuman miring tersemat di wajahnya, menandakan rasa semangat Riana yang akan melaksanakan perintah Sakura. Dia seperti mengejek Hanna supaya hantu tersebut tetap mengejarnya, tak peduli akan semarah apa.


"Sini, kejar gue kalau bisa," kata Riana yang menantang.


Namun, sebelum gadis itu membawanya ke arah Dirga dan dukun itu, Riana sempat mengambil jalur terjauh, supaya perhatian Hanna tidak terarah pada Dirga dan dukun tersebut. Tentu saja, tujuannya supaya hantu itu tidak akan sadar jika Riana akan membawanya pada dukun tersebut. Tiba-tiba saja, energinya merasa kembali terisi.


Kecepatan Riana perlahan melambat, yang mana menandakan dirinya semakin dekat dengan dua presensi. Dia berteriak, memanggil nama Dirga supaya laki-laki tersebut melihat ke arahnya yang sedang dikejar oleh Hanna. Bukan hanya Dirga, tetapi dukun tersebut juga melihatnya. Riana tak melihat jelas bagaimana raut wajah mereka berdua, akan tetapi dia yakin jika dukun tersebut akan melakukan sesuatu saat melihat kemarahan Hanna yang sudah melebihi batas. Terlihat jelas ketika wanita tua itu langsung bertindak, meletakkan fokusnya untuk menangkap Hanna.


"Suruh gadis itu berhenti," titah dukun tersebut pada Dirga.


Hanya dengan satu anggukkan kepala, Dirga langsung menuruti apa yang diminta oleh wanita tersebut. "Riana, berhenti!" ucap Dirga dengan suara lantangnya.


Mendengar perintah itu, Riana menghentikan lariannya secara mendadak, yang mana dia melihat jika dukun itu sudah bergerak untuk menangkap Hanna. Iya, kali ini dirinya yang melihat Hanna dikejar oleh dukun tersebut. Entahlah, pikirannya berkata jika wanita tua itu tak akan sanggup mengejar hantu tersebut. Pasalnya, tenaga wanita itu tidak sebanding dengan kekuatan Hanna. Usahanya akan percuma jika Riana kembali bergabung, lantaran Hanna tak akan tertarik padanya.


Namun, apa boleh buat? Riana kembali berlari guna membantu dukun tersebut. Dia mencoba untuk mengambil perhatian Hanna lagi, supaya hantu itu kembali mengejarnya. Setelahnya, Riana akan berlari lambat dan mempermudah dukun tersebut menangkap Hanna. Tapi, hal itu memang bukan hal yang mudah, lantaran roh jahat itu juga tidak mudah untuk dialihkan perhatiannya. Hanna hanya terus menghindari dukun yang terus mengejarnya hingga detik ini.


Riana berhenti berlari, nafasnya tersengal dengan kedua tangan yang berada di pinggang. Maniknya masih menatap pada Hanna dan wanita tua tersebut yang masih mengejar. Caranya barusan sama sekali tidak berhasil, membuat gadis itu harus mencari cara lain. Pun dia berlari ke arah Dirga, meminta bantuan sepupunya untuk menghubungi Sakura. Riana akan mencobanya lagi.


"Kalau udah, panggil gue," kata Riana yang langsung kembali berlari meninggalkan Dirga.

__ADS_1


Dirga dengan cepat merogoh saku celananya, mengambil ponsel yang akan dia gunakan untuk menghubungi Sakura. Laki-laki itu tidak akan menampik jika dirinya merasa begitu gugup, bahkan tangannya gemetar saat mencari nomor Sakura. Menunggu panggilan itu sampai dijawab oleh wanita tersebut, tatapan Dirga melihat ke arah Riana yang masih berusaha mengambil perhatian Hanna. Dari pandangannya, memang Riana terlihat seperti anak aneh yang berlarian seorang diri, akan tetapi dengan adanya dukun tersebut yang membantunya, semua orang yang berada di sini pasti berpikiran yang sama dengan Dirga.


Baru dia ketahui, jika dukun tersebut juga dikenal oleh beberapa pegawai kebersihan pusat perbelanjaan ini. Bahkan, para pegawai tersebut juga tidak menangkap dukun itu saat sedang mengejar roh-roh jahat yang berkeliaran di sini. Dan karena terlalu tenggelam dengan pemikiran itu, Dirga sampai tidak sadar jika panggilannya terlah tersambung dengan Sakura.


"Halo," ucap Sakura yang lebih dulu membuka obrolannya.


"Oh, Sakura, ini gue Dirga," balasnya dengan penuh kebingungan. Bahkan, Dirga sampai sedikit gagap ketika hendak berbicara pada wanita tersebut. "Dukun itu udah ngejar Hanna, tapi kayaknya tenaganya nggak cukup," kata Dirga lagi.


"Minta Riana buat ngalihin perhatiannya," kata Sakura.


"Udah, tapi kata Riana, Hanna sama sekali nggak terpengaruh. Fokusnya dia cuma menghindar dari dukun itu," balas Dirga.


"Ra? Lo denger gue, kan?" tanya Dirga, lantaran Sakura sama sekali tidak bersuara.


"Iya, iya, ini gue denger, kok," balas Sakura. Dia menarik nafasnya panjang, barulah membuka suaranya untuk mengatakan pendapatnya. "Untuk sekarang, cara itu yang paling tepat. Lo lihat dulu, apa ada hasilnya atau enggak. Kalau emang gagal, kita bisa omongin lagi sama dukun itu," kata Sakura.


Dirga menyetujuinya, dia segera memberitahu pada Riana tentang apa yang dibicarakan Sakura. Pun gadis itu hanya menganggukkan kepalanya, kembali melakukan cara tersebut sampai akhir.


"Hanna! Mau sebesar apa usaha lo, Dirga nggak akan pernah mau sama lo! Dia jatuh cinta sama Sakura!" ucap Riana.

__ADS_1


Kalimat itu membuat tubuh Riana merinding, lantaran Hanna akhirnya berhenti dengan menatapnya tajam. Akan tetapi, dia malah menggunakan cara lain untuk melarikan diri, yang mana dia menghancurkan beberapa tiang penyangga di dalam sana, membuat banyak reruntuhan yang bisa membahayakan banyak orang. Dan yang lebih parah, ketika reruntuhan itu membuat dukun perempuan tersebut terjatuh dan tidak bisa berlari lagi.


Sungguh, Riana merasa menyesal mengatakan hal tersebut demi mengalihkan perhatian Hanna. Gadis itu sampai mengumpat, lantaran dia harus melepaskan Hanna dan bergegas menolong wanita tua tersebut.


"Bu, ibu nggak apa-apa?" tanya gadis itu seraya membantu wanita itu bangkit. "Saya minta maaf, karena membuat Hanna marah besar," kata Riana yang merasa menyesal melihat kondisi dukun itu.


"Dia yang paling kuat dari banyaknya roh jahat di sini," tutur dukun itu.


Bersamaan dengan Dirga yang datang untuk membantu, Riana langsung menanyakan dari apa yang baru saja dia dengar. "Kenapa dia bisa paling kuat?" tanyanya.


"Itu karena dendamnya yang begitu besar, sama banyaknya remehan orang-orang karena menganggap dia nggak bisa sama laki-laki ini," jawab dukun itu seraya menyentuh lengan Dirga.


Dirga dan Riana saling bertukar pandangan, yang mana pikiran mereka sama. Namun, dibandingkan Riana, Dirga lebih penasaran dan mengajukan pertanyaan.


"Tapi, gimana kalau saya benci dia?" tanya Dirga.


"Nggak akan ada pengaruh. Mau sebenci apapun kamu ke dia, kamu tetap nggak bisa lihat dia, dan dia juga nggak akan ninggalin kamu," jawab dukun tersebut.


Dirga sempat tertunduk dengan pikirannya yang mendadak kacau. Dan tak lama kepalanya terangkat, tatapannya tampak hampa sebelum berucap. "Selesein aja semuanya. Daripada bikin celaka kalian, lebih baik gue balik ke kehidupan gue yang dulu," katanya dan membuat Riana menoleh cepat ke arah laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2