
"Apa maksud lo?! Lo yang ngajak gue datengin tempat ini, kenapa malah nanya Sakura ke gue?!" Ryan tak bisa menahan emosinya.
Dirga sampai mendengus tak percaya dengan kemarahan palsu milik Ryan itu. Bahkan, semua sudah terlihat jelas, tapi Ryan sama sekali tak mau mengaku. Namun, Dirga tak akan kalah begitu saja, dia masih menuding Ryan jika tempat tersebut adalah markasnya. Karena bersama Dirga, Ryan tak akan mau mengakunya. Tentu saja, tak ada penjahat yang mau kejahatannya terungkap.
"Ga!! Terserah lo kalau masih mau nyalahin gue. Tapi, cewek lo selamatin dulu! Sekalian kita buktiin, apa gue kenal orang-orang di dalam sana!" tandas Ryan yang lebih dulu keluar dari mobilnya.
Dirga sampai berdecak kesal, memukul roda setirnya sebelum membawa dirinya menyusul laki-laki itu. Keduanya melangkah begitu tenang, lantaran mengerti jika situasi di tempat ini begitu berbahaya. Mereka sama-sama menahan amarah serta menurunkan ego demi menyelamatkan Sakura. Bahkan, dua laki-laki tersebut saling melindungi secara natural, menandakan jika keduanya memang saling peduli satu sama lain.
Keadaan di tempat ini sangat minim dengan penerangan, mereka sama-sama mengingatkan jika kedua mata mereka benar-benar harus terbuka lebar dan waspada terhadap lingkungan sekitar. Terlebih tempat ini begitu lebar, membuat mereka kebingungan untuk memilih lokasi yang akan dituju terlebih dahulu.
"Hati-hati," ucap Ryan dengan suara lirihnya.
Mereka memutuskan untuk berpisah, yang mana membuat keduanya lebih mudah untuk diserang. Sungguh, jantung Dirga telah berdetak tiga kali lipat dari biasanya. Dia benar-benar melawan rasa takut demi menemukan Sakura. Di jalur yang ia pilih, banyak pintu yang tidak tertutup rapat, menampilkan banyak wanita yang setengah telanjang. Hal ini sedikit menambah rasa takutnya jika hal yang sama akan terjadi pada Sakura.
Pribadi itu mengatur nafasnya terlebih dahulu, terpejam sejemang demi menenangkan diri. Lantas kembali membawa kedua tungkainya melangkah. Hanya saja, dari kejauhan dia mendengar suara orang bertengkar. Dia yakin jika Ryan pasti tertangkap. Besar kemungkinan untuknya juga tertangkap oleh orang-orang di sana.
"Gawat," ucapnya tanpa suara.
__ADS_1
Dirga mencari tempat yang tidak terkena penerangan sama sekali guna menyembunyikan dirinya dari penglihatan orang-orang. Bahkan, laki-laki itu juga menahan nafasnya, tak ingin ada yang mendengar suara deru nafas. Jantungnya terasa lepas dari tempatnya ketika banyak orang yang berlarian di hadapannya yang tengah bersembunyi.
Mencari satu perempuan di tempat ini sangatlah susah. Ditambah dengan mereka yang tidak berpakaian lengkap, membuat Dirga tak bisa melakukannya sendiri—kendati ia juga tidak tega melihatnya. Selagi masih ada waktu, Dirga memeriksa dari celah-celah kecil, berharap ada Sakura yang tertangkap maniknya. Dia membuka salah satu pintu yang tidak terkunci. Dan seluruh wanita di sana terkejut melihatnya, dengan segera dia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, meminta mereka semua untuk tenang.
"Jangan berisik, kalian bakal selamat. Saya sedang mencari seseorang. Karena perempuan itu juga yang akan menolong kalian. Tolong pengertian kalian," kata Dirga.
Tak membutuhkan waktu lama sampai akhirnya para wanita di dalam sana tenang. Dirga berjalan mendekati mereka untuk berbicara lebih lirih lagi. Kendati ia tahu jika para wanita di sana tak nyaman dengan keberadaannya—dia juga merasakan hal yang sama.
"Apa ada diantara kalian yang datang hari ini?" tanya Dirga.
Maniknya bergerak mengamati semua wanita di sana, dan hanya ada satu wanita yang mengangkat tangannya. Setidaknya, Dirga lega karena dirinya bisa bertanya pada wanita tersebut. Lagi dan lagi, Dirga memastikan keadaan lokasi tersebut masih aman, sebelum bertanya.
"Mata saya ditutup, nggak bisa lihat satu sama lain siapa-siapa saja yang dibawa ke tempat ini. Saya baru bisa melihat setelah dibawa masuk ke ruangan ini," jelas wanita tersebut. Dari jawaban itu, Dirga semakin takut dengan keberadaan Sakura. "Tapi, tadi mereka bicara tentang perempuan Jepang. Mereka mengatakan jika perempuan itu adalah barang bagus. Dia berada di ruangan yang berbeda dengan kami semua," imbuhnya.
Demi apapun, jantung Dirga terasa semakin panas, dia benar-benar mengkhawatirkan kondisi Sakura saat ini. Tepat setelahnya, suara derap langkah kembali terdengar, Dirga mulai panik jika keberadaannya tertangkap. Dirinya bersembunyi di balik pintu, sampai seseorang memasuki ruangan ini. Dirga benar-benar kehabisan ide untuk keluar dari sana.
Saat itulah, penjaga yang berada di tempat ini merasakan hal aneh saat pintu ruangan tak bisa terbuka lebar. Saat memeriksanya, penjaga itu melihat keberadaan Dirga. Dirinya dalam bahaya. Tentu saja, Dirga masih ingin nyawanya selamat, dia melawan penjaga tersebut, tak peduli jika tubuhnya lebih kecil para penjaga di tempat ini.
__ADS_1
"Rasain tu!!"
Dan ya, nasib buruk menimpanya. Dengan satu pukulan pada perut, Dirga langsung tak sadarkan dirinya. Yang mana membuat dua orang penjaga lainnya membawa dirinya pergi dari ruangan tersebut.
"Pintu kelima dari ruangan ini, tempat di mana perempuan-perempuan cantik dipisahkan. Mungkin perempuan yang masnya cari ada di sana,"
Kalimat itu terngiang di kepalanya, Dirga tak sungguh-sungguh hilang kesadaran. Dengan cara ini dia bisa mendatangi tempat yang dikatakan oleh salah seorang wanita di sana. Maniknya terbuka sedikit, menghitung pintu sesuai dengan perkataan tersebut.
Sampai di pintu keempat, Dirga bangkit dan segera melawan para penjaga tersebut. Walau membutuhkan waktu yang lama untuk membuat mereka terkapar di lantai, setidaknya Dirga berhasil untuk melawan mereka semua. Kini ia berdiri tepat di depan pintu kelima, tanpa ragu Dirga membuka pintu tersebut. Hanya saja, sebuah pistol telah berada tepat di tengah dahinya. Perlahan kedua tangan laki-laki itu harus terangkat, pertanda menyerah.
"Ternyata perempuan cantik ini ada yang cari," kata laki-laki bertopeng itu.
Sialnya, Dirga sama sekali tak mengenal siapa sosok laki-laki di balik topeng tersebut. Namun, wanita yang berada di sana benarlah Sakura. Dadanya begitu menggebu saat melihat pakaian Sakura telah terbuka, menyisakan pakaian dalamnya. Dia tak bisa menolongnya, Dirga kembali tertangkap oleh para penjaga, yang mana membuat laki-laki itu harus terikat di kursi.
"Tinggalin kita bertiga," kata pria bertopeng itu pada seluruh penjaga.
Pintu telah tertutup rapat, bahkan ruangan ini tak terdapat celah jendela sedikitpun, hanya ventilasi yang tak mampu menerima banyak pasokan udara. Fokus Dirga hanya tertuju pada Sakura dengan mata yang masih tertutup. Laki-laki bertopeng itu membuka penutup mata Sakura, yang mana membuat wanita itu semakin ketakutan saat melihat keadaan Dirga yang juga terikat.
__ADS_1
Dirga hanya mampu menundukkan kepalanya, merasa dirinya tak berguna lantaran tak mampu menolong Sakura. Namun, maniknya melihat sepatu pantofel yang mendekat ke arahnya. Dirinya hanya terdiam, melihat presensi di depannya itu mulai membuka topengnya. Ya, dia mengira jika itu adalah Ryan, namun terpatahkan ketika sosok lain yang ia lihat. Maniknya membola dengan kulit yang merinding sekujur tubuh.
"Kejutan,"