
Kepergian Sakura dari ruangannya menghilangkan senyuman Dirga yang berdiri di belakang pintu. Pandangannya kembali tajam dengan kilatan di sudut mata. Laki-laki itu berjalan kembali ke mejanya, duduk dengan perasaan kesal yang sejak tadi dia tahan. Rahangnya mengeras, isi pikirannya hanya terarah pada wanita itu. Entah siapapun namanya, Dirga tidak ingin penasaran.
Tangan kanannya telah terkepal kuat, seperti sedang melampiaskan amarahnya. Pribadi itu terpejam singkat, membuang nafas penuh kemarahan, lantas kembali membuka maniknya. Namun, dirinya terkejut ketika melihat Sakura telah berdiri di ambang pintu. Bahkan, Dirga sama sekali tak mendengar adanya suara pintu yang terbuka. Dia mengerjap beberapa kali, berusaha untuk mengembalikan ketenangan dirinya sebelum Sakura melontarkan pertanyaan yang sulit untuk dia jawab.
"Kenapa balik?" tanya Dirga dengan seutas senyum tipis.
"Hp aku ketinggalan," jawab Sakura.
Wanita itu berjalan kembali ke arah meja sang kekasih, dia mengambil ponselnya yang diletakkan bersebelahan dengan milik Dirga. Pun dia juga tersenyum seraya berjalan keluar. Akan tetapi, usai pintu ruangan Dirga tertutup, senyuman wanita itu tentu berubah. Kedua alis Sakura juga tertekuk bersamaan usai merasakan sesuatu yang aneh.
Dia sedikit menoleh ke belakang, menatap sekilas pintu ruangan Dirga yang tertutup rapat. Dirinya berjalan menjauh, namun belum memasuki lift, dia berpapasan dengan sekretaris kekasihnya. Tanpa ragu, Sakura segera menghentikan wanita tersebut, mencari tahu sendiri melalui sekretaris Dirga.
"Maaf, boleh saya tahu. Apa ada sesuatu yang terjadi sama Pak Dirga?" tanya Sakura.
Sekretaris itu terdiam beberapa saat, lantaran tengah mencoba untuk mengingat apa yang sedang terjadi pada atasannya itu. Tapi wanita tersebut langsung menggelengkan kepalanya, yang mana tidak membenarkan adanya hal yang terjadi pada atasannya itu. Hanya saja, Sakura merasa tidak yakin dengan jawaban sekretaris kekasihnya itu.
Lantas wanita itu memilih untuk mengalah, ia langsung meninggalkan tempatnya usai berterima kasih pada sekretaris kekasihnya itu. Sakura tidak bisa berhenti memikirkannya selama dia berada di dalam lift, anehnya Dirga sama sekali tidak memberitahunya dengan apa yang terjadi. Mungkinkah hal ini berkaitan dengan privasinya, yang mana tidak bisa Sakura ketahui. Ya, Sakura harap emang itu yang terjadi, kerajinan yang ingin memberikan privasi terhadap kekasihnya.
Sedangkan di ruangannya, Dirga bisa bernafas lega karena kekasihnya tidak mempertanyakan sesuatu yang membuatnya harus berbohong lagi. Pun laki-laki itu mencoba untuk menjernihkan pikirannya, tidak ingin memenuhi pikiran yang menurutnya adalah hal yang sangat tidak penting. Dirinya dituduh tanpa bukti apapun.
"Tapi gimana bisa tau alamat kantor ini?" herannya.
__ADS_1
Berdasarkan ingatannya, Dirga sama sekali tidak pernah memberitahu lokasi kantornya. Karena memang laki-laki itu tidak mau ada masalah pribadinya yang dibawa menuju kantor.
"Apa mungkin salah satu dari mereka ada yang ngikutin gue sampai ke sini?" tanyanya lagi pada diri sendiri.
...****************...
Duduk berdiam seraya melihat pembeli yang berdatangan adalah hal yang sedang dilakukan oleh Sakura. Dia sudah berada di toko kuenya lagi guna memperhatikan semua hal yang ada di sana. Namun, untuk hari ini pikirannya sedikit tercampur dengan Dirga. Ya, semua sudah merasakannya sejak kemarin, akan tetapi dia tidak mendapatkan informasi apa-apa tentang kekasihnya.
Wanita itu hanya bisa menghembuskan nafas panjang, lantaran dia tidak bisa melewati batas itu. Ya, mau tidak mau, dirinya harus menunggu sampai Dirga yang bercerita sendiri. Mungkin akan membutuhkan waktu yang lama sampai kekasihnya itu mau bercerita atas kemauannya sendiri. Tapi, memang cara seperti ini yang selalu mereka terapkan sejak awal mengenal satu sama lain.
"Ada apa sih sebenarnya sama dia? Kalau ada hubungannya sama pekerjaan, pasti sekretarisnya udah jawab. Tapi, sekretarisnya aja nggak tau apa yang terjadi sama atasannya. Itu mungkin nggak ada hubungannya sama pekerjaan," gumamnya sendirian.
"Udah pada makan siang?" tanya Sakura yang merupakan perhatiannya pada karyawannya.
"Sudah, bu," jawab seluruh karyawan itu dengan kompak.
Sakura menganggukkan kepalanya, dia merasa tenang karena karyawannya juga memikirkan diri mereka masing-masing. Hal itu wajib, Sakura tidak mau orang karyawan yang merasa tertekan saat bekerja di tempatnya ini. Lantas dia membawa langkahnya untuk berkeliling dapur tersebut guna melihat mereka yang sedang membuat adonan. Bahkan, Sakura sempat berhenti di depan oven, memperhatikan adonan kue yang sedang dipanggang di dalamnya.
Setelah beberapa menit melakukan pemeriksaan itu, wanita itu membawa dirinya keluar menuju kasir. Namun, sebuah pemandangan menarik perhatiannya. Karyawan yang berjaga di sana, sedang menggaruk kepala belakangnya, seakan ia sedang dengan dihadapi situasi yang membingungkan. Tanpa ragu, Sakura mendatanginya guna menanyakan hal yang mungkin terjadi.
"Kenapa?" tanya Sakura.
__ADS_1
"Ini bu, ada yang pesan roti. Tapi, dia nggak jelasin detailnya. Malah minta saya untuk mikir jenis roti yang dia mau," jawab karyawan tersebut.
"Dia bilang apa aja?"
"Dia bilang nggak masalah sama jenis rotinya, asalkan lembut dan nggak terlalu manis," jawab karyawan itu lagi.
Sakura juga kebingungan, karena dia juga khawatir roti yang diinginkan pembeli itu justru berbeda dengan bayangannya. Pun dia mencari pembeli itu, berharap bisa mendapat detail lebih jelasnya. Setidaknya, jika pelanggan itu tidak mengetahui jenis kuenya, Sakura memiliki gambaran tentang kue yang diinginkannya. Namun, usai mencari beberapa menit, wanita itu sama sekali tidak menemukannya, membuat Sakura kembali masuk ke dalam toko.
Dia memperhatikan pegawainya yang masih memegang kertas yang dia gunakan untuk mencatat. Lantas mendekatinya guna menanyakannya lagi. "Orangnya nggak ketemu. Mungkin dia cuma iseng pesen ke sini," kata Sakura.
"Tapi, bu, dia sudah bayar," balas karyawannya itu seraya menunjukkan sejumlah uang.
Sakura sampai tidak tahu harus menimpalinya dengan kalimat apa. Dia mengulum bibirnya dengan kedua alis yang tertekuk, lantas menarik nafas panjang guna berpikir atas pesanan tersebut.
"Dia bilang untuk acara apa, nggak?" tanya Sakura dan langsung mendapat gelengan kepala dari pegawai tersebut.
Masih kebingungan, Sakura justru melihat ke arah lembaran uang yang masih dipegang oleh pegawainya itu. Barulah di sana dia mendapatkan solusi yang paling mudah.
"Kalau gitu, bikinin aja roti yang sesuai sama nominal uang itu. Yang lembut dan nggak terlalu manis," tutur Sakura yang langsung diangguki oleh pegawainya.
Wah, Sakura tak menyangka jika dirinya akan mendapat pembeli yang seperti ini. Bahkan, dia mendapatinya dihari dia memiliki pikiran yang sedikit jenuh. Beruntung, wanita itu bisa mengatasinya, dia bisa kembali bernafas lega. Dan semoga saja, solusi yang dia dapatkan tidak mengecewakan pembeli itu.
__ADS_1