Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Tentang Kamu


__ADS_3

"Sakura,"


Suara itu memecahkan lamunan Sakura, sosok laki-laki berbadan tegap baru saja tiba guna menghampiri dirinya yang sedang terduduk di sebuah kafe. Sakura hanya tersenyum singkat untuk menyambut kedatangan Dirga. Wanita itu memperhatikan Dirga sampai duduk di hadapannya. Dan ada satu hal yang menarik perhatian. "Kenapa cincinnya ditutup lagi? Gue udah nggak takut sama dia lagi," tanya Sakura.


Dirga yang mendengarnya menaikkan kedua alis singkat, lantas tersenyum miring sebelum memberikan jawabannya.


"Di dunia ini, yang bisa lihat dia bukan cuma lo," katanya.


Sakura tertawa lirih, dia kembali memalingkan wajahnya, membuat Dirga sedikit mengernyitkan dahi. Ya, tapi dia tak mau ambil pikir, lantaran bertemunya mereka memiliki tujuan lain. Namun, pertemuan saat ini tidak menjawab rasa penasaran Sakura. Pasalnya, benda yang dibutuhkan itu mendadak hilang. Entah dicuri atau Dirga lupa meletakkannya.


"Gue minta maaf," katanya.


"Kenapa?" tanya Sakura.


"Cincin yang satu nggak ketemu," jawabnya.


Reaksi Sakura tampak biasa saja, ditambah anggukkan kecil kepalanya. Terlihat sepepti tidak tertarik dengan jawaban Dirga. Yang tadinya Dirga ingin abai, dia justru merasa penasaran dengan sikap Sakura yang sangat berbeda daripada hari-hari sebelumnya.


"Lo kenapa? Ada sesuatu yang dipikirin?" tanya Dirga.


Sakura terdiam beberapa detik, sebelum mengangkat kedua alisnya serta manik yang membola. Lantas dia menggelengkan kepalanya, menyanggah apa yang dipikirkan Dirga saat ini—kendati keadaannya berbanding terbalik. Bagaimana dia tidak bisa memikirkannya? Jika Sakura dan Dirga cepat-cepat memeriksa bekas luka punggung Ryan, mereka berdua tak tahu akan mendapatkan masalah apalagi. Ditambah Dirga sempat menceritakan jika luka yang ia dapati itu berasal dari kemarahan arwah perempuan tersebut.


Wanita itu juga ragu untuk menceritakannya pada Dirga. Pasalnya, dari kalimat arwah perempuan itu seakan mengatakan jika dirinya harus pergi sendiri untuk bertemu Ryan. Hanya saja, dia takut dengan hal yang sempat terpikirkan olehnya. Sakura juga tidak ingin menjadi korban selanjutnya jika hal itu memang akan terjadi.


"Jangan bohong, deh. Kelihatan jelas dari raut wajah lo," kata Dirga lagi.


Demi menghilangkan rasa curiga Dirga, Sakura justru tersenyum dan menatap manik Dirga dari jarak yang cukup dekat. Dia sengaja menggoda laki-laki itu supaya tak terus merasa penasaran dengan dirinya. Dan usahanya itu tidak seutuhnya berhasil, lantaran Dirga malah menepuk dahinya. Membuat Sakura sedikit merintih kesakitan karena perbuatan laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Sakit, lho," rintihannya.


"Makanya, jangan bertingkah aneh-aneh,"


Tangannya masih mengusap rasa sakit pada dahinya, namun maniknya telah bergerak pada pelipis Dirga. Tangan yang ia gunakan untuk mengusap dahinya langsung bergerak memegang dagu laki-laki itu, sedikit menggerakkannya supaya ia bisa melihat dengan jelas perban atas luka tersebut.


"Apa lukanya masih perih? Kalau masih, mending diganti perbannya," kata Sakura.


Dirga terdiam sesaat, lantas menganggukkan kepalanya, memberi jawaban jika luka tersebut memang masih perih. Pun mereka berdua langsung bangkit dari tempat duduknya, berjalan keluar dari kafe itu. Namun, Sakura sempat kebingungan, lantaran dia tak melihat adanya mobil Dirga di sini. Wanita itu sampai menoleh ke arah presensi di sebelahnya.


"Mobil lo kemana?" tanyanya dengan kedua alis yang tertekuk.


Laki-laki yang lebih tinggi dari Sakura itu menatap Sakura sebelum menggelengkan kepalanya. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Wah, ternyata lo cewek matre, ya," ucapnya yang langsung berjalan mendului Sakura. "Lo nggak lihat gue luka begini? Susah buat nyetir," imbuhnya.


"Gue nggak matre, ya. Enak aja kalau ngomong," balas Sakura dengan begitu kesal.


...****************...


Laki-laki itu mengamati seluruh sudut rumah Sakura yang begitu minimalis dan nyaman. Namun, dia sama sekali tak melihat adanya satu bingkai foto pun di ruang tamu ini. Hanya ada bingkai dari dekorasi rumah. Dirga rasa, Sakura benar-benar hidup seorang diri.


Hingga beberapa menit setelahnya, Sakura datang dengan membawa obat-obatan dan juga minuman untuknya. Wanita tersebut duduk tepat di sebelah Dirga, mulai membuka perban lama dari lukanya. Keduanya sama-sama hening dengan kesibukannya masing-masing. Hanya sejenak, sampai akhirnya Dirga membuka obrolan.


"Lo anak tunggal, ya?" tanya Dirga.


"Nggak. Gue punya adik laki-laki,"


"Oh iya? Kemana dia sekarang?" tanya Dirga lagi.

__ADS_1


"Nyusul orang tua ke surga,"


Ya ampun, Dirga terkejut mendengar hal itu. Rasanya dia begitu bersalah kala menanyakan hal yang menyakitkan untuk Sakura. Pun buru-buru Dirga meminta maaf, dia benar-benar tidak ada maksud untuk mengungkit hal tersebut. Laki-laki itu juga teringat kembali hari dimana dirinya dan Sakura bertemu di pemakaman. Mungkin memang saat itu Sakura sedang mendatangi makam orang tua dan adiknya.


Karena pertanyaannya itu, Dirga justru kembali terdiam. Memilih untuk bungkam dan tidak penasaran lagi tentang wanita itu. Bersamaan dengan Sakura yang selesai mengganti perbannya, wanita itu justru tertawa karena melihat sikap Dirga saat ini. Terdiam bersama dengan rasa bersalahnya. Sakura sampai memukul salah satu bahu Dirga supaya menghilangkan kecanggungan diantara keduanya.


"Kenapa diem, sih? Kematian anggota keluarga gue bukan karena kesalahan lo. Tenang aja," kata wanita itu.


"Bukan begitu, gue cuma penasaran aja tentang lo. Dari nama lo, sampai semua hal-hal yang berkaitan sama lo," balas Dirga.


Senyuman Sakura perlahan memudar, wanita itu mengerjapkan maniknya ketika mendengar kalimat Dirga itu. Entahlah, rasanya Sakura tak bisa membalasnya dengan apapun. Apalagi ketika Dirga menatapnya dengan tatapan begitu lekat.


"Wajah lo, mata lo. Gue yakin, lo ada darah dari Jepang,"


Sakura yang sedikit canggung itu berusaha untuk tetap tenang dan membalas kalimat Dirga. Pasalnya, laki-laki itu tampak begitu tenang, tidak seperti dirinya yang merasakan darahnya berdesir karena sesuatu.


"I-iya, keluarga jauh nyokap emang dari sana," timpalnya yang sedikit gugup.


"Kenapa jawabnya sampai gugup begitu, sih?" tanya Dirga dengan sedikit tawa.


Sakura menggelengkan kepalanya dengan begitu yakin, dia juga memasang raut wajah yang seperti mengatakan pada Dirga jika pikiran laki-laki itu salah terhadap dirinya. Bahkan, Sakura juga bersikap seolah dirinya tak terlihat gugup sama sekali.


"Emang lo mikir apa? Bisa-bisanya bilang gue gugup," tanya Sakura.


"Sama kayak yang lo pikirin sekarang," jawab Dirga.


"Gue nggak mikir apa-apa, ya,"

__ADS_1


Dirga tersenyum singkat, namun detik berikutnya dia langsung memangkas jarak diantara keduanya, sampai membuat tubuh Sakura merendah mendekati dudukan sofa. Laki-laki itu memandang lekat kedua manik cokelat Sakura sebelum berujar.


"Kalau kayak begini, lo masih nggak mikir apa-apa?" tanyanya yang sukses membuat Sakura bungkam dengan nafasnya yang tercekat.


__ADS_2