Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Serupa


__ADS_3

Air mata itu terus mengalir deras, hampir tidak terlihat bersamaan dengan air hujan yang mengguyur. Di belakang tubuh seorang wanita itu terdapat seorang laki-laki yang berdiri dengan memegang payung hitam, serta salah satu tangannya yang masuk ke dalam saku mantel. Laki-laki itu menatap dalam diam, mendengarkan seluruh isi hati Sakura.


Dengan memegang batu nisan yang tertancap di makam sang ibu, Sakura menumpahkan rasa penyesalan serta semua yang terjadi padanya semalam. Tangan lembut itu mengusap nama sang ibu yang terukir, melakukan hal yang sama dengan batu nisan sang ayah.


"Sakura benar-benar minta maaf sama kalian. Nggak bisa jaga diri," katanya dengan tangis sesegukan.


Rasanya begitu menyesakkan melihat Sakura menangis di depan makam kedua orang tuanya. Dirga mengulurkan payung yang dibawanya, menghalangi hujan agar tak lebih banyak membasahi tubuh Sakura. Pun laki-laki itu turut menatap makam tersebut. Dagunya terangkat, melihat sesuatu yang berjarak tak jauh dari makam tersebut. Makam mantan kekasihnya.


Pribadi itu menyerahkan payungnya pada Sakura, ia berjalan mendatangi makam Nadia—mantan kekasihnya. Wajahnya sama sendunya, namun bedanya ada rasa kelegaan dalam hati Dirga perihal pelaku yang membuat wanita tersebut. Laki-laki itu berjongkok, memegang pahatan batu nisan yang tertera nama mantan kekasihnya. Wajah Dirga tersenyum, seakan membalas senyuman Nadia dari balik tanah cantik itu. Iya, dia bisa merasakan bagaimana senangnya Nadia ketika pelaku telah berhasil ditangkap.


"Aku tau kamu lega, karena aku juga sama leganya," Dirga menjeda ucapannya. Tangannya masih mengusap lembut nama cantik itu. "Udah nggak ada lagi kekhawatiranku buat kamu. Tapi, aku masih tetep benci hujan," katanya lagi.


Disaat obrolannya masih terus berlangsung, dia mendengar suara langkah yang mendekat. Iya, Dirga tahu jika Sakura yang berdiri di belakangnya. Dia merasakan punggungnya disentuh oleh wanita itu. Sekali lagi Dirga tersenyum menatap makam mantan kekasihnya, sebelum akhirnya dia berdiri untuk berpamitan.


Pun dia dan Sakura akhirnya meninggalkan tempat tersebut. Berjalan di bawah payung hitam yang sama, dengan hati yang sama-sama abu-abu. Selama beberapa meter berjalan, tak ada obrolan apapun diantara keduanya, masih sibuk dengan pemikiran masing-masing. Pun Dirga merangkul tubuh Sakura, berjalan dengan tatapan yang terus ke arah depan.


"Gue baru tau, kalau itu makam mantan lo,"


Dirga tersenyum miring usai mendengar kalimat itu. Bahkan, laki-laki itu juga sama terkejutnya, jika makam keluarga Sakura berada di dekat dengan makam mantan kekasihnya. Ya, memang mereka berdua tak pernah mengenal sebelumnya, dan tak pernah mengetahui jika keduanya ditakdirkan begitu dekat.


"Sekarang udah tau," balas Dirga. Kalimat tersebut juga sukses membuat Sakura tersenyum. "Tapi, kenapa permintaan lo justru dateng ke pemakaman? Padahal, lo tau sekarang lagi hujan," tanyanya.


Mengingat tawaran yang akan dikabulkan Dirga, Sakura memang memilih untuk dibawa ke tempat pemakaman ini.

__ADS_1


"Lo inget nggak, kata-kata gue waktu itu? Dimana hujan bisa nyembunyiin tangisan lo?" tanya Sakura yang langsung diangguki oleh Dirga. "Hari gue lagi berantakan, rasanya pengen nangis di depan makam orang tua. Dan kebetulan hari ini hujan deras, jadi gue rasa emang tempat ini yang gue butuhin," jelasnya.


Ah iya, Dirga ingat kata-kata Sakura saat mereka baru mengenal. Dan itu menjadi pertama kalinya ia tak melihat air mata Sakura dengan jelas di bawah guyuran hujan. Lantas Dirga semakin mengeratkan rangkulannya, membuat tubuh Sakura semakin menempel.


"Mulai sekarang, kalau mau nangis nggak perlu tunggu hujan. Lo bisa tunjukin itu ke gue," tuturnya. "Lagipula, lo juga udah nunjukin," imbuhnya.


"Nunjukin apa?" tanya Sakura.


"Semuanya. Warna hitam," jawab Dirga dengan senyuman yang merekah.


Mengerti maksud ucapan tersebut, Sakura menoleh dengan tatapan tajam. Dia tanpa ragu mencubit perut laki-laki itu. "Biru tua!"


"Lo pikir gue nggak lihat?"


"Dasar mesum!!" kesal Sakura seraya mengejar Dirga.


Mengejar disaat hujan turun seperti ini membuat jalanan sedikit licin. Sakura sendiri juga tak berani untuk berlari cepat lantaran khawatir kakinya akan tergelincir. Padahal, Dirga sudah berada di depannya cukup jauh. Memang, tak ada keringat yang keluar, hanya saja nafas wanita itu juga sudah tersengal tak kuat mengejar Dirga lagi. Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika seseorang menghentikan langkahnya. Bukan, itu bukan manusia, melainkan hantu perempuan yang selalu berada di sebelah Dirga.


Sangat terkejut dengan keberadaan arwah tersebut yang menghentikannya secara tiba-tiba, ditambah lokasinya yang masih berada di pemakaman.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba— akh!"


Sakura merintih kesakitan ketika dia mendapat cakaran pada salah satu tangannya. Wanita itu cukup ketakutan dengan sikap arwah itu secara mendadak. Wajahnya terlihat menahan amarah, tatapan menyalang itu juga jelas tertuju padanya.

__ADS_1


"Sakura!!"


Itu adalah suara Dirga yang kembali menghampirinya, namun arwah perempuan itu menghilang begitu saja. Dirga tiba dengan tubuh yang basah kuyup. Dia melihat salah satu tangan Sakura yang terangkat dengan luka cakar yang cukup panjang. Darahnya mengalir, membuat Dirga bergegas membawa Sakura menuju mobil.


"Nggak hati-hati, kan?"


Dirga bergerak mengambil kotak obat di dalam dasboard. Dia membersihkan luka tersebut dengan hati-hati. Secara bergantian pula Dirga menatap manik Sakura. Wanita itu sama sekali tak merintih ketika lukanya disentuh.


"Dirga," panggil Sakura dengan suara parau, membuat sang pemilik nama menoleh. "Kayaknya hantu itu marah karena kita ngesampingin masalahnya, dan malah nyelesein urusan mantan lo," katanya.


Pandangan Dirga kembali turun, melihat luka di depan matanya. "Oh, jadi luka ini dari hantu itu," mendadak tatapan Dirga begitu tajam, seakan tak menyukai cara arwah perempuan itu terhadap orang yang akan membantunya. "Kalau gitu, gue siap amputasi jari ini. Biar sekalian kita selesein tanpa susah-susah bantu dia balas dendam. Gue juga capek selalu diserang. Seakan-akan kita nggak boleh ada waktu buat bernafas," katanya dengan penuh penekanan.


"Jangan!" cegah Sakura seraya memegang tangan kiri Dirga. "Gue nggak mau ada yang hilang dari diri lo cuma karena nyelesein masalah yang nggak kita perbuat," tuturnya.


Dirga menghela nafas panjang, ia menganggukkan kepalanya guna menuruti perkataan Sakura. Laki-laki itu juga mengusap kepala Sakura, seakan menenangkan wanita itu untuk tidak mengkhawatirkan ucapannya tadi.


"Hari ini, kita istirahat aja. Nggak usai mikirin masalah apa-apa dulu. Kita juga butuh istirahat," kata Dirga dan langsung diangguki oleh Sakura.


Masih memegang tangan Sakura yang terluka, Dirga memperhatikan lekat luka yang didapat wanita tersebut. Dia menekuk kedua alisnya, mengamati luka itu dalam diam. Entah kenapa, dia seperti memiliki spekulasinya sendiri, namun sengaja dia tutupi demi mengistirahatkan diri mereka.


"Kenapa?" tanya Sakura.


"Nggak, kok. Nggak apa-apa," jawabnya seraya merapikan kotak obat itu, lantas membawa diri mereka meninggalkan lokasi pemakaman.

__ADS_1


__ADS_2