
Helaan nafas Dirga terbuang cukup panjang, kala kedua netra menangkup presensi wanita duduk dengan pandangan yang terarah padanya. Bersamaan dengan itu, Dirga mengeluarkan tangan yang sedari tadi berada di dalam saku jaketnya. Namun, dia melihat Sakura yang langsung memutus pandangannya. Dia hanya mengeluarkan tangan, bukan melepas bajunya.
"Perempuan itu dateng lagi," kata Sakura.
Yang tadinya dia ingin melontarkan kekesalan, Dirga kontan mengurungkan niatan itu. Penuturan Sakura juga membuatnya menoleh ke segala arah, guna mencari tahu keberadaan wanita tersebut. "Dimana dia?" tanya Dirga seraya berjalan mendekat ke arah Sakura.
"Sebelah kiri lo,"
Tepat setelah jawaban itu, Dirga kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Pasalnya, tentang perempuan yang sejak kemarin mengganggu pikirannya itu menjadikan dirinya mendapatkan bayangan aneh yang berkaitan dengan kecelakaan mantan kekasihnya. Pun laki-laki itu menyuruh Sakura untuk menatapnya, lantaran ada hal yang ingin dia katakan pada wanita itu. Rasanya tidak sopan jika bertamu tapi tidak menatap pemilik tempat tersebut. Dan dengan gerakan kepala yang terbilang lambat, Dirga melihat Sakura akhirnya kembali melihat ke arahnya.
"Tentang perempuan itu—"
"Perempuan itu udah hilang,"
Sakura terkejut, dia langsung bangkit dan menegakkan tubuhnya tepat di depan tubuh Dirga. Kedua tangan wanita itu bergerak ke arah pergelangan tangan Dirga. Tanpa izin dari laki-laki tersebut, Sakura memegang erat kedua tangan besar itu. Ada sesuatu yang ingin dia pastikan dari Dirga.
__ADS_1
"Apa-apaan, sih!"
Hal ini sudah ditebak oleh Sakura, jika Dirga pasti enggan untuk disentuh seperti ini. Namun, wanita itu juga tetap mempertahankan posisinya sesuai dengan niatannya sejak awal. Dengan tangan yang bergetar, Sakura menarik tangan kanan Dirga untuk keluar dari persembunyian itu. Hanya setengah dari keseluruhan Sakuran membuka maniknya, dengan jantung yang juga tidak karuan dirinya mengalihkan pandangan usai tangan kanan Dirga seutuhnya keluar dari saku tersebut. Tak ada apapun di sekitar mereka, dia sampai melihat ke segala sudut ruangan. Namun, semua itu belum selesai saat maniknya menatap tangan kiri Dirga yang masih dia tahan di dalam saku.
Hendak menariknya, Sakura teringat jika dia melihat sosok itu berada di sisi tubuh laki-laki tersebut. Dirinya memalingkan wajah berlawanan arah dengan tangan Dirga. Perlahan tangan kanannya terangkat, dengan pandangan yang juga sedikit terbuka. Namun, tak dia sangka jika Dirga menariknya dengan cepat keluar dari jaketnya—lantaran laki-laki itu bingung dengan tingkah Sakura. Dan benar saja, sosok perempuan yang akhir-akhir ini mereka bahas terlihat kembali di sebelah tubuh laki-laki itu. Sakura memperhatikan benang merah yang terhubung di antara keduanya.
Tanpa berpikir dirinya menarik cepat tangan kiri Dirga, memperhatikan benang yang terikat dengan cincin di tangan laki-laki itu. Dirinya menatap Dirga dan arwah perempuan itu secara bergantian, lantas memasukkan tangan Dirga ke dalam saku jaket kembali. Pasalnya, Sakura tak memiliki keberanian untuk mengatakannya disaat dia melihat sosok perempuan itu.
"Dirga, benang merah itu terikat sama cincin yang lo pakai!" ucapnya tegas.
"Gue baru sadar, disaat cincin itu terekspos, sosok perempuan itu bakal terlihat. Begitu juga sebaliknya," tutur Sakura yang masih menahan tangan Dirga. "Sebab itu, gue nggak lihat sosok perempuan itu waktu kita ketemu di pemakaman. Dimana lo pakai sarung tangan. Dan hal itu terjadi lagi hari ini," tambahnya.
Tanpa menimpali kalimat Sakura, dengan satu tangannya yang bergerak, laki-laki itu mencari sarung tangan miliknya. Walau tak berpengaruh untuknya, tapi di lingkungan ini tak hanya Sakura yang mampu melihat hal semacam itu. Entah itu seseorang atau lebih, pasti ada yang melihatnya. Dirga enggan menjadi bahan obrolan mereka, sebab itu keputusannya untuk menutup jari tangan kirinya sudah bulat. Dengan beberapa petunjuk yang juga dia dapat, setidaknya Dirga ingin mengetahui siapa sosok perempuan yang terikat olehnya ini. Sebab perempuan itu, dirinya beberapa kali mengalami hal yang berada diluar nalar.
Beberapa menit mencari, akhirnya Dirga menemukan sepasang sarung tangan tersebut. Hendak menarik tangannya keluar, laki-laki itu melihat Sakura yang mulai memalingkan wajahnya. Dirga tahu apa yang ada di kepala Sakura. Pun laki-laki itu menyerahkan sarung tangannya pada Sakura. Dia menggunakan tangan kanannya untuk menutup kedua mata wanita tersebut, membantu Sakura untuk tidak melihat sosok yang menakutkan baginya.
__ADS_1
"Tolong pasangin," pinta laki-laki itu seraya mengeluarkan tangan kirinya sebelum menyentuh tangan Sakura.
Dengan keadaan yang gelap, tangan Sakura bergerak guna membantu memasangkan sarung tangan tersebut. Tangannya sempat menyentuh cincin tersebut, membuat bulu di tangannya berdiri. Baru setengah jari yang masuk, pergerakan Sakura terhenti, lantaran sesuatu bersinggungan dengan kulitnya. Tidak hanya bersinggungan, bahkan tangannya sudah tak mampu dia gerakkan, yang mana arwah perempuan itu menahan pergerakannya. Pun tak ragu juga Sakura mengatakan apa yang dia rasakan saat ini, membuat rasa takutnya semakin tinggi lantaran ini menjadi kali pertamanya bersentuhan dengan arwah perempuan yang menempel pada Dirga selama ini. Beruntungnya, Dirga segera memasukkan sisa jarinya supaya membuat Sakura terlepas.
Nafas wanita itu berderu tidak aturan, jantungnya terasa lepas dari tempatnya begitu merasa lega. Hampir saja Sakura terjatuh, lantaran kedua tungkainya terasa lunglai tak bertulang. Dia sampai mengusap bekas tangannya yang disentuh oleh arwah tersebut, berkali-kali sampai terasa panas. Tapi, sulit untuk menghilangkan rasa bekas sentuhan tersebut. Sampai akhirnya Dirga menyentuh tepat di tempat yang disentuh oleh arwah perempuan itu.
"Jangan lakuin lagi," tutur laki-laki itu.
Selagi membiarkan Sakura tenang, Dirga menyiapkan niatannya untuk menceritakan hal-hal yang sempat dia alami usai mengenakan cincin itu. Apalagi tentang sekelebat bayangan yang ia dapati sebanyak dua kali. Dia ingin membicarakannya, lantaran sosok wanita yang dia lihat sama persis dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Sakura. Lantas dia melepas genggaman tangannya, membiarkan wanita di depannya itu duduk di sofa seperti semula.
"Gue lihat perempuan itu," kata Dirga tiba-tiba.
Sakura menoleh ke arah laki-laki tersebut, dia terdiam ketika paham dengan arah pembicaraan Dirga. Entah bagaimana laki-laki itu bisa melihatnya, setidaknya Dirga tahu jika dirinya tidak berbohong dengan sosok yang selama ini selalu mereka bahas. Dirinya juga masih belum berniat menimpali kalimat Dirga, lantaran pribadi jangkung itu masih meneruskan kalimatnya.
"Anehnya, dia ada disetiap kecelakaan semua mantan pacar gue," Dirga menjeda kalimatnya, melipat kedua tangan di depan dada. "Dan bayangan pertama yang gue dapet, dia lagi sama seorang laki-laki. Tapi, gue nggak tau siapa laki-laki itu," pungkasnya.
__ADS_1
"Jadi, arwah perempuan itu bukan mantan pacar lo yang meninggal itu? Selama ini, gue mikir kalau perempuan itu mantan pacar yang lo ceritain waktu kita dari pemakaman," kata Sakura. Dia menekuk kedua alisnya sejenak, menyimpulkan secepat mungkin sebelum dia lontarkan pada Dirga. "Bisa jadi, arwah itu suka sama lo,"