
Suara teriakan Sakura kontan membuat Dirga menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Tidak tahu bagaimana ceritanya, tetapi dia melihat Sakura yang tampak histeris dengan kedua tangan menutup telinganya. Laki-laki itu segera memeluk tubunya, menenangkan wanita itu yang secara tiba-tiba menangis.
"Hey, hey, kenapa?" tanya Dirga dengan suara yang begitu lembut.
Wanita itu masih tak menjawab, perlahan tangisan dan rasa takutnya menghilang. Nafasnya berderu cepat, dia memegang tangan Dirga begitu kuat. Kepalanya menoleh ke belakang, melihat apakah sosok tersebut masih berada di belakangnya atau tidak. Beruntung, arwah perempuan tersebut menghilang dari hadapannya. Dia melihat tangan Dirga yang tertutup dengan sarung tangan.
"Hantu itu marah. Dia tadi juga ada di lokasi kecelakaan," kata Sakura dengan suara bergetar.
"Jadi maksudnya, hantu itu yang nyebabin kecelakaan tadi?" tanya Dirga yang langsung diangguki oleh Sakura.
Rahang Dirga menegas, dia benar-benar habis kesabaran karena ulah arwah perempuan yang selalu mengganggu mereka berdua. Dia menahan amarahnya, memilih untuk menenangkan Sakura terlebih dahulu. Ia sama sekali tak melepaskan tangan Sakura, membiarkan salah satu tangannya terus menggenggam tangan wanita tersebut.
Dirga tak bisa melakukan apapun, karena dia sendiri juga tidak memiliki kemampuan apapun untuk bertemu dan berbicara dengan mudah pada arwah perempuan itu. Namun, dia juga tak bisa membiarkan arwah itu mengusiknya.
Pun keduanya kembali hening, sampai perjalanan itu berakhir di rumah Sakura. Keduanya turun bersama, Dirga mengantar wanita tersebut hingga ke dalam rumah. Dirinya berencana untuk menginap di rumah wanita itu, supaya bisa menemani Sakura—khawatir jika arwah perempuan tersebut masih mengganggu. Hanya saja, Sakura justru menolak. Dirga sendiri juga tidak bisa memaksa keputusan wanita itu.
Lantas usai beberapa menit Dirga berada di sana, pada akhirnya laki-laki itu berpamitan pulang. Setidaknya dia sudah memastikan keadaan Sakura baik-baik saja.
"Kalau ada apa-apa, langsung telepon gue," kata Dirga.
Sakura mengaku beberapa kali setelah memahami perkataan Dirga. Dia mengantar laki-laki itu sampai ke depan rumahnya. Menyaksikan sendiri ketika mobil Dirga mulai menjauh dari pelataran rumahnya. Pun ketika dirinya kembali masuk ke dalam rumah, Sakura memastikan di setiap sudut ruangannya tak ada sosok yang menakutkan itu. Sungguh, dirinya hanya ingin beristirahat untuk hari ini saja.
...****************...
__ADS_1
Setibanya di rumah, Dirga segera membawa dirinya masuk. Ibunya tengah berada di ruang makan seorang diri. Terdiam tanpa melakukan apapun. Laki-laki itu tersenyum tipis, ia menghampiri ibunya yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Ibu, kenapa nggak tidur duluan? Akhir-akhir ini, aku pulang malam," katanya.
Hanya saja, kalau ada respon apapun dari ibunya setelah beberapa saat. Senyuman tipis itu seketika luntur begitu saja. Dirga mencoba menatap ibunya, dan anehnya wajah ibunya terlihat begitu pucat. Memang, sejak tadi dia memegang tangan ibunya, Dirga merasakan tangan ibunya itu begitu dingin.
"Ibu, ibu sakit?" tanyanya.
Dan lagi-lagi tak ada jawaban apapun dari ibunya. Jujur saja, pribadi itu semakin dibuat panik, tidak biasanya sang ibu bersikap seperti ini. Laki-laki itu mencoba untuk menggerakkan tubuhnya supaya tersadar. Namun, memang tidak ada respon apapun dari wanita paruh baya tersebut. Lantas Dirga mencoba untuk memundurkan langkahnya, menjauhi sang ibu lantaran sikap aneh tersebut.
Jantungnya berdebar, menyaksikan ibunya mengangkat wajah, dan menatap ke arah Dirga dengan tanaman yang sangat mengerikan. Dirga sendiri sampai kesulitan menelan ludahnya, nafasnya juga terasa tercekat.
Laki-laki itu terkejut saat langkahnya harus terhalang oleh sesuatu yang berada di belakang tubuhnya. Iya, dia sudah tidak bisa bergerak menjauh lagi. Jantungnya berdebar, rasa takutnya semakin meningkat kalau melihat ibunya berdiri dari kursi, dan berjalan mendekat ke arahnya dengan salah satu tangan yang terulur—layaknya meminta tolong.
"Dirga," suara wanita paruh baya tersebut terdengar parau.
Dirga menganggukkan kepalanya, ia rasa ibunya sadar jika dia adalah anaknya. Akan tetapi, sang ibu mendekat ke arahnya, justru wajah ibunya semakin berubah lebih mengerikan. Sampai akhirnya dia melihat arwah perempuan itu yang berada di belakang tubuh sang ibu. Dirga menyaksikan sendiri bagaimana ibunya dicekik tepar di depan kedua matanya. Ingin menolong, Dirga tak mampu karena tubuhnya yang mendadak kaku.
"Jangan sakitin ibu!! Gue mohon!!" kata Dirga yang sangat-sangat memohon pada arwah perempuan itu.
Hanya suara bising yang dia dapatkan di tengah malam ini. Kedua tangannya tak mampu menutup suara tersebut, yang mana mampu membuat telinganya berdenging.
"Besok. Besok bakal gue cari tau lagi pelakunya. Tolong lepasin nyokap gue!!" sekali lagi, Dirga memohon dengan sangat supaya ibunya bisa terbebas. "Gue janji! Nggak akan main-main buat bantu lo balas dendam," imbuhnya.
__ADS_1
Sayangnya, semua perkataannya yang benar-benar memohon pada arwah perempuan itu sama-sama tidak didengar. Karena pada akhirnya sang ibu tetap menjadi korban. Di depan kedua matanya secara langsung hantu tersebut mencakar leher sang ibu, hingga mengeluarkan banyak darah yang berkecucuran di lantai.
"Ibuu!!" teriak Dirga.
Sampai ibunya tergeletak di lantai, barulah tubuhnya bisa ia gerakkan kembali. Dirga berlari cepat ke arah sang ibu, menahan darah yang terus mengalir.
Ini adalah salah satu kekhawatirannya, dia tak bisa melindungi sang ibu dari arwah jahat tersebut. Kedua wanita yang ia pikir tak akan celaka, justru sekarang mereka harus mendapatkan akibat dari sesuatu kesalahan yang tak mereka lakukan. Dia meletakkan kepala ibunya di atas pangkuan, menangis sedu memeluk raga sang ibu.
"Ibu, maafin aku," ucapnya disela-sela tangisan.
Kepalanya tertunduk, dia benar-benar memeluk ibunya yang sudah kehilangan nyawa. Rasanya berbeda ketika dia kehilangan mantan kekasihnya. Ibunya sudah seperti bagian dari seluruh kehidupannya. Kehilangan wanita itu, sama saja Dirga kehilangan hidupnya.
"Dirga,"
Tangisan Dirga mendadak terhenti, dia mendengar suara ibunya. Kepalanya terangkat, menoleh ke sumber suara, yang mana dia melihat sang ibu berdiri tegak di sebelah meja makan. Dengan sisa air mata yang berada di wajahnya, Dirga kembali menoleh ke arah di mana sang ibu tergeletak. Kedua pupilnya membesar, tak melihat presensi sang ibu di sana. Dengan cepat ia berdiri, berlari ke arah sang ibu guna memeluk erat wanita paruh baya tersebut.
Dia menangis lagi, tak mampu berkata-kata, karena pada akhirnya dia tetap bisa bertemu dengan ibunya. Seluruh tangannya yang tadi berlumuran darah, mendadak hilang begitu saja. Namun, dia masa bodoh untuk saat ini. Hanya pada sang ibu, Dirga akan terus memeluknya.
"Ibu, jangan pergi cepet-cepet. Kita harus bisa hidup bahagia dulu," kata Dirga disisa tangisnya.
"Ibu nggak akan pergi, sampai lihat kamu bahagia," balas sang ibu.
"Nggak usah pergi, ibu juga harus bahagia. Panjang umur sampai nantinya ibu bisa lihat menantu sama cucu ibu," pungkasnya yang sukses membuat ibunya tertawa.
__ADS_1