
Tatapan tajam milik Dirga itu tersorot jelas ke arah Ryan yang membeku di tempat. Tak ada kesempatan untuk dirinya pergi begitu saja. Ryan sama sekali tak berani membalas tatapan Dirga, sebelum akhirnya menemukan alasan untuk menutupi kesalahannya.
"Maksudnya gimana? Kan kemarin gue udah bilang, kalau gue nggak ngambil gambar itu," kata Ryan.
Dirga sampai membuang nafas cukup panjang, tatapannya semakin dalam kala Ryan semakin terlihat jelas dengan sikapnya yang terus mengelak. "Bahkan, gue dari tadi nggak nyebut soal gambar itu," katanya. Dari netranya, dia melihat Ryan yang masih berusaha untuk tenang ditengah-tengah gugupnya. Dirga membawa satu langkah lebih dekat, mensejajarkan diri dengan sepupunya. "Jangan dikira gue nggak bisa kejam cuma karena lo sepupu gue," tandasnya.
"Lo aneh, Ga,"
Ryan meninggalkan Dirga yang masih berdiri di ambang pintu. Sedangkan Sakura, hanya melihat punggung Ryan yang pergi menjauh dari hadapan Dirga. Pandangannya sempat turun, saat tak bisa melakukan apa-apa disaat Dirga dan Ryan berdebat kecil. Pun ia melihat Dirga yang kembali masuk dengan pintu tertutup rapat, buru-buru Sakura mengeluarkan gambar yang ia simpan sejak tadi malam.
Tepat setelah Dirga meletakkan tubuhnya di atas kursi seraya memegang pelipisnya, Sakura tiba dengan meletakkan gambar tersebut ke atas meja berlapis kaca itu. Jari telunjuknya terarah pada punggung pelaku.
"Dari posisi di gambar ini, pelaku nggak mungkin pakai bajunya, 'kan?" tanya Sakura dan langsung mendapat anggukkan dari Dirga.
"Baju yang dipakai, sebenarnya ada di atas sofa. Tapi, gue nggak berani buat gambar sevulgar itu," katanya.
Kedua alis Sakura terangkat bersamaan, dia berjalan ke sampir Dirga guna merendahkan dirinya dengan telinga laki-laki itu. Tak ada yang boleh mendengar kalimat yang akan dia katakan pada Dirga. Namun, bisa dipastikan jika kalimat itu sukses membuat Dirga terdiam untuk menimang.
"Cukup tunjukkin ke gue,"
...****************...
Beberapa hari usai bertemunya Sakura dengan Dirga, keduanya kembali bertemu. Sakura mendatangi rumah laki-laki itu disore hari dengan menenteng sebuah paper bag yang akan dia bawa masuk ke dalam kamar Dirga. Melintasi ruang tamu, langkahnya sempat terhenti kala mendapati seorang wanita paruh baya yang menyambut kedatangannya. Hanya konversasi singkat yang terjadi di antara dirinya dan ibunda Dirga sebelum akhirnya kembali membawa langkahnya.
__ADS_1
Sebelum memasuki kamar laki-laki itu, Dirga sempat menghentikan wanita itu. Tatapannya terarah pada barang bawaan Sakura yang masih belum dia ketahui sedari tadi. Namun, dia malah menyuruh Dirga untuk tetap diam dan masuk ke dalam kamarnya.
"Pintunya dibuka aja," kata Sakura.
"Dan lo mau nyokap mergokin kita?"
"Tapi, apa nggak lebih nakutin kalau pintunya ditutup?" tanya Sakura yang merasa begitu ragu.
"Terserah, kalau mau dibuka, ya gue buka,"
Akhirnya, Dirga mengalah untuk membuka pintu tersebut. Tepat setelahnya, Dirga justru dibuat bingung ketika Sakura berjalan menuju kamar mandi dengan membawa barang yang dibawanya itu. Entahlah, Dirga saja sampai kebingungan dan tak tahu harus melakukan apa, selain menunggu Sakura sampai keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu duduk seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Selang beberapa menit, akhirnya rungu Dirga menangkap suara pintu yang terbuka. Dia menoleh dan terdiam ketika melihat Sakura mengenakan gaun merah muda dengan rambut panjangnya yang terikat. Wanita itu berjalan, mendekati Dirga yang masih mematung di tempatnya. Dirga setia membungkam mulutnya sampai Sakura berhenti di depan tubuhnya.
"Gimana? Model bajunya emang beda, sih. Tapi, lumayan mirip, kok,"
Sakura sampai menggigit bibirnya penuh kekesalan, begitu geram dengan perkataan yang baru saja dia dengar. Lantas pribadi itu menghela nafas panjang, berusaha sabar untuk menghadapi Dirga. Ya, ini adalah perang batinnya. Pun mengabaikannya, Sakura berjalan di salah satu sofa yang bersebelahan dengan meja Dirga saat ini.
Kedua mata cokelatnya masih melihat Dirga yang mengeluarkan peralatan gambarnya. Sakura juga mengeluarkan gambar yang berada di dalam tas. Wanita itu meletakkan gambar tersebut bersebelahan langsung dengan kertas gambar Dirga yang masih polos. Menunggu laki-laki itu menatap dalam diam—tidak tahu apa yang Dirga pikirkan saat ini.
"Gue inget,"
Mendadak Dirga bangkit dari empat duduknya, dia menuntun Sakura untuk duduk di atas ranjangnya. Tangan kiri Dirga berada di punggung Sakura, membawa wanita itu berbaring di sana. Namun, baru setengah bergerak, mendadak Dirga menghentikannya. Tangannya yang lain bergerak menuju rambut Sakura, menarik pelan karet ikat rambutnya sampai tergerai seluruhnya. Dirga melakukannya sesuai dengan bayangan yang ia dapati.
__ADS_1
Sakura telah berbaring seutuhnya di atas ranjang Dirga. Dan lagi-lagi Dirga menghentikan kegiatannya, dia berjalan ke arah gantungan pakaian di belakang pintu. Laki-laki itu mengambil jaketnya dan langsung diletakkan di atas paha Sakura. Barulah dia memulai kembali kegiatan yang berdasar pada ingatannya.
"Gue minta maaf kalau posisinya bikin nggak nyaman," kata Dirga. Dia juga membawa tangan kiri Sakura untuk memegang punggungnya. "Bikin seakan lo nyakar punggung gue," katanya lagi.
Apa lagi yang bisa dilakukan Sakura selain menuruti perkataan Dirga? Toh, dirinya juga yang meminta melakukannya. Akan dia akui, sebenarnya membuatnya sedikit tidak nyaman. Namun, hanya dengan cara ini mereka bisa melihat kemungkinan yang terjadi pada arwah perempuan itu.
Berada di bawah Dirga, menatap laki-laki itu dari posisinya saat ini banyak membuatnya menelan saliva. Berkali-kali juga Sakura mengalihkan pandangannya kala wajah Dirga terlihat begitu serius. Apalagi ketika Dirga mendadak mendekatkan tubuhnya, memangkas jarak diantara keduanya. Rasanya Sakura telah kehilangan pasokan udaranya. Dan karena posisi mereka saat ini, secara tiba-tiba ibunda Dirga hanya bisa berdiri di depan pintu yang terbuka lebar dengan menutup bukaan mulutnya.
"Dirga, nyokap lo!" kata Sakura yang menyadari lebih dulu. Dia mendorong tubuh Dirga menjauh darinya.
Dirga tampak begitu tenang, bahkan menyuruh sang ibu untuk masuk ke dalam kamarnya. Air muka Dirga saat ini pun masih seperti biasanya. Apalagi ketika sang ibu masih terkejut dengan yang dilakukan anaknya serta Sakura, Dirga masih diam tak bersuara.
"Kalian ngapain?" tanya sang ibu.
"Aku udah bilang ke ibu, kalau aku sama Sakura bakal ngereka ulang kejadian itu," jawab Dirga.
Tak heran, memang, jika ibunda Dirga sangat terkejut dengan apa yang tertangkap kedua matanya. Namun, jauh di dalam hatinya, melihat kebersamaan Dirga dan Sakura membuat wanita paruh baya itu merasa lega dengan putranya yang mau kembali dekat dengan wanita. Kendati beberapa kali mendapat serangan, namun keduanya masih bersama hingga detik ini.
Pun sang ibu hanya mengangguk, memahami penjelasan dan maksud dari kegiatan mereka saat ini. Sakura sempat meminta wanita tersebut untuk duduk dan melihat—lantaran takut terdapat salah paham lagi. Hanya saja, ibunda Dirga menolaknya, membiarkan putranya bersama dengan Sakura untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Toh, tentunya juga dengan tujuan lain. Sebab itu, sang ibu telah membawa kedua tungkainya pergi dari kamar putra sematawayangnya.
Kini keadaan canggung malah menyambar dua anak muda di sana. Mereka saling membuang wajah, dengan Dirga yang bergegas menuju mejanya guna menggambar lebih detail lagi. Sedangkan Sakura terduduk di pinggiran ranjang, melihat laki-laki itu serius dengan yang dilakukannya saat ini.
Dibalik keseriusan Dirga dengan semua alatnya, dari ekor mata dia mampu merasakan kegugupan yang tengah dirasakan Sakura. Dirinya bersikap tetap abai, namun hanya beberapa menit sebelum memilih bangkit dan membuka jendela kamarnya, sehingga wanita itu bisa merasa kembali segar.
__ADS_1
"Jangan terlalu percaya diri, gue buka jendela karena gerah," kata Dirga.
"Tapi, AC-nya udah nyala," balas Sakura.