
Terasa begitu kuat aura mengerikan ketika Herman melihat lambaian tangan Dirga yang ditujukan padanya. Namun, Herman baru menyadari usai Dirga berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Bahkan, nafasnya terasa begitu mencekat. Sepertinya bukan hal bagus yang akan dia hadapi setelah ini.
"Lo kenapa nggak ngomong kalau mau dateng ke sini?!" tanya Dirga dengan nada suara yang begitu kesal.
"Ya karena lo nggak mau dateng, ditambah lo nggak mau bawa paper bag ini," jawab Herman.
Dirga langsung mengambil paper bag yang ada di tangan temannya itu. Dengan satu tarikan nafasnya, laki-laki itu menjelaskan jika dirinya memang akan berniat datang ke sini setelah Herman memberitahu tentang paper bag tersebut. Namun, dia telat untuk menyadarinya, membuat temannya itu mengambil keputusannya sendiri. Pun keduanya berjalan bersama, di sana Dirga sendiri yang menunjukkan lokasi kamar wanita tersebut, hanya saja Dirga tak bisa membiarkan Herman untuk ikut bersamanya. Setidaknya, temannya itu harus berada di jarak beberapa meter dari kamar tersebut.
Apa lagi yang bisa Herman lakukan jika tidak menuruti apa yang dikatakan oleh atasannya itu. Dirinya tidak bisa melihat maupun mendengar sesuatu yang terjadi di kamar ini. Ya, setidaknya Dirga mau melakukan yang seharusnya dia lakukan.
Dan di dalam kamar tersebut, Dirga lapangan paper bag tersebut ke atas pangkuan wanita itu. Rasanya aneh sekali, Dirga sudah bertanggung jawab karena tangan tidak sengaja menabrak wanita itu, tapi keluarga mereka justru memaksanya untuk menuruti apa yang mereka mau. Seakan-akan permintaan mereka itu adalah sebagai ganti rugi dan tanggung jawab Dirga atas kecelakaan tersebut.
"Dengar! Ini benar-benar terakhir kalinya gue bilang kalau gue nggak mau ikut campur urusan pribadi lo. Bayi yang ada di kandungan lo itu bukan anak gue!" ucapnya dengan penuh ketegasan.
Wanita tersebut mengangkat wajahnya, dia terlihat seperti seseorang yang sudah menahan kesabarannya berkali-kali lipat. Lirikan matanya begitu tajam kala Dirga berucap, pun tanpa ragu membalas tatapan tegas dari laki-laki di sebelahnya.
"Omong-omong, pacar lo belum tau soal ini, 'kan? Lo juga sengaja nggak ngasih tau dia,"
Seakan jantungnya berhenti sejenak, Dirga sama sekali tidak bisa membalas kalimat wanita tersebut. Apa yang diucapkan oleh wanita itu benar adanya, hingga saat ini dia belum memberitahu Sakura tentang masalah yang sedang dihadapinya. Lidah Dirga kelu, karena dirinya belum tahu harus berbuat apa. Jika sudah menyangkut Sakura, laki-laki itu harus berhati-hati dalam bertindak.
__ADS_1
Dirinya terdiam beberapa saat, sampai akhirnya Dirga membalas kalimat tersebut dengan lebih tegas lagi. "Semua masalah ini nggak ada hubungannya sama gue ataupun pacar gue. Jadi, nggak usah bawa-bawa dia!" tandas Dirga, yang mana langsung keluar dari kamar tersebut dan meninggalkan lokasi.
Melihat Dirga yang menghalau begitu saja, membuat Herman menyusul teman sekaligus atasannya itu. Dirinya bisa melihat dengan jelas raut wajah kesalahan yang ada pada Dirga. Dia belum mengetahui penyebab utama temannya seperti ini, dan hanya mengimbangi langkah Dirga sampai mereka mereka berdua tiba di tempat parkir.
"Dirga, ada apa sih? Keluar dari sana lo kayak begini," tanya Herman.
Dirga yang masih menahan emosinya itu tengah mengatur nafasnya menjadi lebih tenang. Dia menoleh sekilas ke arah temannya itu, semakin perlahan kemarahannya berukurang, membuat dirinya bisa mengembalikan fokusnya. Pun tak ada perintah lain dari Dirga, selain menyuruh temannya itu untuk segera kembali ke kantor.
...****************...
Seharian yang membuatnya suntuk, Dirga memilih untuk mengunjungi kekasihnya untuk menghilangkan rasa penat sekaligus memastikan keadaan Sakura baik-baik saja. Pasalnya, setelah wanita itu menyebutkan Sakura, Dirga sama sekali tidak bisa menang dan berhenti untuk memikirkan kekasihnya tersebut. Padahal, selama ini dia tidak pernah membawa nama Sakura ke dalam masalah yang dihadapi ini, akan tetapi wanita itu justru menarik nama Sakura lebih dulu, membuat Dirga merasa murka.
Dari kejauhan laki-laki tersebut melihat punggung Sakura yang sedang menguleni adonan sendirian. Tak ada ekspresi apapun yang Dirga pasang, hanya membawa kedua tungkainya semakin dekat pada sang wanita.
"Tolong dibentuk hati," ucapnya seraya menggoda kekasihnya tanpa sepengetahuan wanita itu.
Mendengar suara yang sangat tidak asing baginya, Sakura langsung menoleh ke sumber suara. Detik itu juga, wanita tersebut mengabaikan adonannya, berlari ke arah laki-laki tersebut sebelum jatuh ke dalam pelukan Dirga. Terdengar suara kekehan kecil, menandakan kebahagiaan wanita tersebut akan kedatangan Dirga. Bahkan, Sakura sampai lupa jika dirinya tampak berantakan dengan tepung yang telah memenuhi celemek.
Namun, setelah menyadarinya, Sakura buru-buru menjauhkan diri dari kekasihnya itu. Wanita itu juga membersihkan bekas tepung yang menempel di pakaian Dirga. Tentu saja, merasa bersalah yang muncul begitu saja, lantaran terlalu bahagia dengan kemunculan sang kekasih yang secara mendadak.
__ADS_1
"Oh, maaf. Aku lupa kalau lagi ada di dapur," kata Sakura yang merasa bersalah terhadap laki-laki itu.
Dirga menggelengkan kepalanya, saya akan merasa tidak keberatan dengan apa yang dilakukan sang kekasih. Toh, laki-laki itu juga sama sekali tidak perut ketika pakaiannya dipenuhi oleh saat memeluk Sakura. Malah, Dirga bisa merasakan kebahagiaan kekasihnya itu.
"Tumben banget dateng ke sini sore-sore,"
"Iya. Semua kerjaan udah selesai, dan dari tadi aku bosen di kantor, nggak ada kamu," balas Dirga.
Entah kenapa, Sakura merasa cukup tergelinting setelah mendengar kalimat tersebut. Dia tidak tahu jika kalimat itu akan berefek seperti ini terhadap dirinya. Pun sakura semakin menjauhkan dirinya dari Dirga disertai dengan tawa kecil. Pasalnya, kalimat tersebut tidak cocok untuk mereka berdua.
"Kayak anak yang lagi pubertas aja, deh. Geli, tau!" balas Sakura yang masih tertawa kecil.
Begitupun dengan Dirga yang juga tertawa. Namun, ketawanya itu langsung redup setelah beberapa saat pikirannya yang teringat akan sesuatu. Laki-laki tersebut mengamati Sakura, masih terlihat sangat baik—sekalipun dengan perasaannya. Mungkin, sampai saat ini dia tidak perlu mengkhawatirkan kekasihnya tersebut, tapi di masa yang akan datang, Dirga tak tahu apakah bisa memastikan Sakura akan baik-baik saja dalam waktu yang lama.
Dirga merasa begitu payah dalam melindungi kekasihnya sendiri. Sampai-sampai orang lain bisa mengincar Sakura tanpa ia membicarakannya sekalipun. Lantas salah satu tangan laki-laki itu diarahkan pada pucuk kepala, memberikan usapan penuh afeksi dengan tatapan yang sangat lekat. Dia tidak membicarakan apapun, hanya fokus mengamati tiap inci pahatan wajah milik kekasihnya itu.
"Pasti ada maunya," ucap Sakura.
Dirga mendadak tersenyum, pun dirinya menarik nafas panjang sebelum mendekatkan bibirnya ke arah Sakura. "Tau aja," balasnya yang berbisik.
__ADS_1