
Rumah yang sudah lama tak berpenghuni itu kini telah disegel oleh polisi. Hingga detik ini, mereka hanya mendapatkan informasi jika telah terdapat tiga korban. Dirga dan Sakura masih berada di depan rumah itu dengan pikiran yang cukup berantakan. Entahlah, bahkan keduanya tidak tahu harus memikirkan apa yang lebih penting. Sungguh, yang saat ini mereka inginkan adalah hantu perempuan itu datang menemui keduanya dan menjelaskan dari perbuatannya.
Akan tetapi sampai seluruh mayat sudah dikeluarkan dari rumah itu, baik Dirga maupun Sakura sama sekali tidak melihat keberadaan hantu perempuan itu. Mereka juga tidak bisa masuk rumah itu lagi dengan sembarangan, karena ya sudah menyegelnya. Dua orang itu dibuat frustrasi oleh Hanna. Sangat tidak mungkin jika tempat ini akan sepi sebentar lagi. Pasti akan ada banyak orang yang menyelidiki kasus tersebut.
"Hanna memperburuk keadaan," kata Sakura.
Dirga sampai tidak bisa berkata-kata lagi, lantaran pribadi itu juga tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya menghela nafas begitu berat, menjambak rambutnya karena kepalanya yang secara tiba-tiba terasa pening. Pun tapi mengamankan diri terlebih dahulu, Dirga memilih untuk mengajak Sakura pergi meninggalkan lokasi tersebut. Iya, mereka akan kembali mencari arwah perempuan itu sampai ketemu—walaupun tidak bisa hari ini.
Mereka berdua membawa diri mereka menuju rumah Dirga. Tidak ada obrolan yang terjadi di dalam sana selama dalam perjalanan. Keduanya benar-benar hening, sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Jika dipikir, balas dendam itu akhirnya selesai, karena Hanna yang mengakhirinya sendiri dengan membalas Ryan dengan merenggut nyawanya. Dan saat ini, Dirga sedikit bingung ketika dia tiba di rumah dan menjelaskan pada ibunya. Bagaimanapun juga sang ibu selalu menganggap Ryan sebagai keponakannya.
Sampai setelah belasan menit, akhirnya mobil tersebut berhenti di pelataran rumah Dirga. Kedua pribadi itu berjalan masuk dengan kepala yang tertunduk serta tatapan begitu lesu. Ekspresi itu sudah cukup menjelaskan, apalagi ketika ibunya terlihat memasang raut wajah yang Dirga sendiri juga tidak tahu artinya. Laki-laki itu juga yakin jika sang ibu pasti telah melihat beritanya.
"Dirga, Sakura,"
Ketika wanita paruh baya itu memanggil kedua nama tersebut, sang pemilik nama tidak bisa menjawabnya. Mereka berdua duduk di ruang tamu, masih terus menghindari tatapan wanita paruh baya tersebut.
__ADS_1
"Biar ibu ambilin minum dulu buat kalian," kata sang ibu yang langsung bergegas menguji dan berguna mengambilkan segelas air mineral untuk mereka berdua.
Sedangkan Sakura yang duduk tepat di sebelah Dirga menoleh ke arah laki-laki itu dan membaca raut wajah Dirga. Wanita itu juga apakah tangan Dirga yang berada di atas pahanya. Sakura terlihat seperti sedang menenangkan laki-laki itu, seakan mengatakan jika dia tidak sendirian di situasi ini. Mungkin tidak sepenuhnya, tapi Sakura bisa merasakan bagaimana perasaan Dirga yang tetap sebagai keluarga dari Ryan—walaupun dia membenci sepupunya itu.
Ibunda Dirga datang dengan kedua tangan yang membawa dua gelas air mineral. Wanita itu memberikan pada Dirga dan Sakura, lantas turun duduk di sana bersama kedua pemuda di depannya. Untuk memberikan waktu sejenak sampai Dirga berani membuka suaranya.
"Maaf, kalau ibu tiba-tiba tau kabar kayak gini," Dirga menjeda kalimatnya, kepalanya tertunduk sebelum kembali bersuara. "Tapi kita berdua bener-bener nggak tau kalau bakalan begini. Hanna yang ngelakuin," jelas Dirga.
Ibunda Dirga tidak tahu ingin berkata apa. Bohong jika wanita itu tidak menyesalkan apa yang terjadi. Kejadian ini sampai masuk pada berita di televisi. Apalagi setelah mendengar penjelasan dari putranya, membuat wanita itu semua kita menyangka jika keponakannya meninggal karena balas dendam dari arwah perempuan yang pernah ditemuinya itu.
Sakura menggelengkan kepalanya, dia juga turut merasa menyesal dengan kejadian hari ini. Dia juga mengatakan pada ibunda Dirga, jika mereka tetap akan mencari keberadaan Hanna, karena dia telah melewati batas. Tak bisa dipercaya seutuhnya. Sakura juga pastinya marah dengan hantu itu, namun dia tak bisa menemukannya saat ini.
Dirga tahu, ibunya itu pasti juga bingung jika nantinya ibunda Ryan akan menghubunginya, mengingat Ryan bekerja di dealer Dirga. Sebagai anak, Dirga juga turut merasakan apa yang dirasakan ibunya sekarang. Dan tak lama, dia melihat sang ibu yang akhirnya meninggalkan mereka berdua. Dirga dan Sakura hanya bisa melihat punggung wanita itu yang menjauh dari mereka.
Disituasi yang cukup menegangkan sekaligus duka ini membuat mereka berdua merasa bersalah karena telah membantu roh jahat untuk membalaskan dendamnya. Terutama Dirga yang menoleh ke arah Sakura, dia memegang tangan wanita itu sebelum berujar.
__ADS_1
"Gue minta maaf. Seharusnya, Hanna gue lepasin ke dukun itu," kata Dirga yang menyesal.
Ah, Sakura baru teringat, jika sebelumnya Hanna sudah tertangkap oleh dukun itu. Akan tetapi, Dirga sangat yakin dengan Hanna yang bisa berubah. Sakura sendiri juga sudah memikirkan kemungkinan ini yang akan terjadi, jadi dirinya juga tak terlalu terkejut jika hal ini terjadi. Namun, tetap saja hal ini disayangkan. Andai Dirga mendengarkannya, mereka berdua tak perlu susah payah membantu Hanna untuk membalaskan dendamnya—toh, pada akhirnya Hanna melakukannya sendirian.
"Sejak pertama ngulur tangan buat bantu dia, gue udah duga bakal ada hal buruk. Karena memang roh jahat itu nggak bisa dipercaya. Cuma kebencian yang ada di dalam dirinya," tutur Sakura. Wanita itu menarik nafasnya panjang, dan kembali melanjutkan ucapannya. "Tapi, dia tetep bakal dapet karma dari apa yang dia lakuin," katanya lagi.
Dirga mengerjapkan kedua matanya, karena dia sedikit lega mendengar kalimat Sakura barusan. Iya, karena memang sebelumnya dia menyesal karena Hanna tak menepati janjinya, namun sekarang dia lega mendengar penuturan Sakura. Setidaknya, Hanna mendapat konsekuensi, entah itu berupa apa.
Pun mereka berdua lantas membuka ponsel, membaca seluruh berita yang beredar pada media sosial. Pasalnya, mereka tak bisa mengungkapkan penyebab kematian Ryan. Iya, itu karena baik Dirga maupun Sakura tak bisa dimintai keterangan tentang hal tersebut. Mereka hanya menjelaskan tentang Sakura yang diculik oleh Ryan. Dan beredarnya berita ini membuat Sakura dan Dirga memikirkan bagaimana mereka akan berada di lingkungan sosial setelah ini. Memang pada dasarnya mereka tidak bersalah, akan tetapi mereka terlibat di dalam kasus tersebut.
"Maaf, ngebuat lo ada diposisi sulit," kata Dirga.
Sakura menggelengkan kepalanya, dia sendiri sama sekali tidak merasa Dirga penyebab hal ini. Toh, selama ini mereka juga tidak pernah terganggu sebelum akhirnya Hanna melakukan kehendaknya sendiri. Sangat tidak masuk akal jika hal ini tertulis dalam berita. Orang-orang tak akan ada yang mempercayainya.
"Bukan salah lo. Ini salah kita berdua yang terlalu percaya Hanna," pungkasnya.
__ADS_1