Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Perasaan Berbeda


__ADS_3

Suara yang mengisi ruangan rapat itu sama sekali tak ada gunanya di dalam diri Dirga. Seluruh penjelasan yang disampaikan oleh pegawainya juga bagai angin yang berhembus. Pasalnya, Dirga sama sekali tidak meletakkan perhatiannya pada rapat hari ini. Dia memangku wajahnya dengan salah satu tangan dengan pandangan yang berada di lain arah. Bahkan, hanya dengan membaca air muka Dirga, semua orang di sana juga bisa menduganya. Sampai akhirnya, Herman sendiri yang mengakhiri rapat saat itu juga.


Satu persatu pegawai telah keluar dari ruangan rapat, menyisakan dua orang laki-laki yang memiliki hubungan pertemanan paling dekat. Herman tahu, jika Dirga menyadari tatapannya sejak tadi, hanya saja temannya itu dengan sengaja mengalihkan pandangannya—enggan berbicara dengannya. Dia sampai membuang nafas pasrah, merapikan tumpukkan lembaran yang ada di tangannya sebelum bangkit dari tempat duduknya.


"Kagak perlu gue tanya, lo harusnya bisa cerita sendiri," ucap Herman yang langsung meninggalkan ruangan tersebut.


Dirga masih setia dengan posisinya, heningnya masih berlanjut beberapa saat sampai dirinya bangkit dan meninggalkan ruangan tersebut. Seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya, dia melihat Herman yang tengah menahan seorang wanita yang sangat tidak asing baginya. Dirga menghela nafasnya, rasa lelahnya semakin menjadi melihat pemandangan di depannya. Dia memilih untuk memilih jalur terjauh, menghindari seseorang yang seharusnya dia hindari.


Kendati dia mengetahui jika Liza menyadari keberadaannya, Dirga tetap abai dan berada dilangkahnya untuk menghindari wanita itu. Lagipula, untuk apa Dirga meladeninya? Menyebarkan rumor yang tidak berdasar di kantor ini? Tidak! Dirga tidak mau melakukan hal sebodoh itu. Hanya saja, pemikiran itu terjadi sebelum suara Liza begitu lantang terdengar.


"Aku bisa bilang ke semua orang kalau ini anak kamu!"


Kontan Dirga memutar langkahnya, berjalan mendekat dengan tatapan tajam terarah pada wanita tersebut. Tiap langkahnya membakar dirinya sendiri untuk melawan Liza yang dengan seenaknya mengucapkan hal tersebut. Bahkan, Herman sampai terkejut dengan keadaan sekitar yang mulai meletakkan perhatian mereka pada Dirga dan Liza.

__ADS_1


Tanpa adanya keraguan, jari telunjuk Dirga terarah tepat di depan kedua manik wanita tersebut. Ketegangan itu semakin terlihat jelas kala seluruh nadinya terlihat jelas di permukaan kulit. Semua itu terjadi karena emosinya yang telah terpancing karena perkataan yang tidak pantas mengudara di kantor ini.


"Denger ya! Jangan nyari masalah di kantor gue! Nggak ada bukti kuat kalau anak itu anak gue!" ucap Dirga dengan kalimat yang begitu tegas.


Tak ada rasa takut saat Liza tetap menatap Dirga yang tengah menggertaknya. Bahkan, tatapan wanita itu tak kalah mematikan. Dengan pandangan yang sama mengerikannya, Liza kembali membuka suaranya—tak peduli jika Dirga tak menyukainya.


"Lo tinggal pilih, mau nama lo jelek atau ikutin kemauan gue!" bisik Liza.


Dirga sama sekali tidak bisa menjawabnya untuk saat ini. Dan hanya hitungan detik Liza memilih untuk pergi dari sana, seraya menantikan jawaban dari laki-laki tersebut. Wanita itu juga tidak mempedulikan bagaimana banyaknya pasang mata yang tertuju padanya. Yang terpenting, tujuannya harus tercapai, kan? Semua itu ada di tangan Dirga.


"Kalian dapat uang dari orang yang sedang kalian bicarakan!" ucap Herman sebelum kembali mengikuti ke mana Dirga pergi.


Dengan suara dentuman pintu yang keras, menandakan luapan amarah akibat emosi yang salah. Laki-laki itu melepas kasar jas serta dasi yang ada pada kemejanya. Tampak terlihat dengan jelas kilatan dari sudut mata, urat nadi yang timbul ke permukaan kulit juga menandakan hal yang sama.

__ADS_1


Kedua laki-laki tersebut, sama kebingungannya—terlebih Herman. Bagaimana cara dia mengatakannya? Dirinya sama sekali belum pernah melihat atau bertemu seorang wanita seperti perempuan yang ia lihat tadi. Perlakuan tanggung jawab Dirga atas kejadian kecelakaan itu sudah lebih dari cukup, apalagi Dirga memberikan kamar yang bagus untuk wanita itu, namun yang temannya dapati itu hanya masalah yang lebih besar.


Herman menggelengkan kepalanya karena dia sulit untuk berpikir, lantas meletakkan diri di samping Dirga yang sejak tadi sama sekali tidak bersuara.


"Kenapa nggak lapor polisi aja?" tanya Herman.


Dirga tak menjawab pertanyaan itu, dia hanya tenggelam dalam pikirannya. Kedua alisnya tertekuk bersamaan, sebelum akhirnya dia membuka suara.


"Ini bukan kali pertamanya gue punya masalah sama perempuan," katanya.


Kontan Herman menolehkan kepalanya ke arah temannya itu, kedua maniknya turut melebar, menunjukkan rasa terkejutnya usai mendengar kalimat Dirga. Hanya dari air mukanya kini, tampak jelas Herman memerlukan adanya penjelasan.


"Tapi, jauh lebih parah dari sebelumnya," ucap Dirga.

__ADS_1


Tak sampai selesai bicara, Dirga justru menyuruh Herman untuk keluar dari ruangannya. Namun, tidak mudah mendapat persetujuan dari Herman, lantaran dia masih belum mengerti dengan kalimat Dirga. "Jangan cerita kalau orang lain nggak boleh tau!" kesalnya lantaran Dirga membuatnya penasaran.


__ADS_2