Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Takut


__ADS_3

Jam kerja Sakura baru saja berakhir, bersiap untuk pulang, Sakura menatap buket bunga bersebelahan dengan tasnya. Dia tak bisa menyembunyikan senyumannya, lantas mengangkat kedua benda itu secara bersamaan. Lantas membawanya keluar dari toko kue tersebut. Pandangannya sama sekali tak bosan menatap buket bunga tersebut. Dibalut dengan kertas berwarna ungu lembut, menambah kecantikan pada buket tersebut.


Beberapa meter di depan toko, senyumannya mendadak luntur dikala kebingungan melandanya. Melihat ke dua arah, Sakura merasa aneh dengan jalanan sore ini. Tak ada banyak kendaraan yang lewat. Padahal, saat ini sudah masuk jam pulang pekerja, bahkan dia tak nampak adanya anak-anak sekolah yang lewat.


"Aneh banget hari ini," gumamnya seraya mengambil ponsel.


Wanita itu berniat untuk memesan taksi online, lantaran terlalu lama menunggu taksi yang lewat di jalan yang sepi ini. Setelah beberapa kali ditolak, akhirnya Sakura mendapatkan satu taksi yang mau menjemputnya. Pun wanita itu menunggunya di depan toko seorang diri, seraya menatap bunga pemberian Dirga.


Entahlah, isi pikirannya tertuju pada laki-laki itu. Namun, mengingat hari dimana keduanya berada di pemakaman, Sakura kembali murung. Melihat bagaimana tatapan Dirga pada makam mantan kekasihnya membuat Sakura seperti tak punya celah untuk menyukai laki-laki itu.


"Dia masih sesayang itu sama mantannya," gumamnya dengan suara penuh kehampaan.


Terdengar pula suara helaan nafas yang begitu berat. Hanya saja, pada akhirnya dia menegakkan tubuh ketika menyadari taksi pesanannya terlalu lama untuk menjemputnya. Sakura mencoba memeriksa ponselnya, dia sampai mengelus dada, merasa lega lantaran taksi itu akan tiba sebentar lagi. Dia juga segera bangkit membawa barang-barangnya, berjalan ke pinggir jalan supaya sopir taksi itu tidak kebingungan.


Pada arah jam tiga, ia baru melihat sebuah mobil berwarna putih yang menghampiri keberadaannya. Hingga mobil tersebut berhenti tepat di hadapannya, Sakura memastikan jika mobil tersebut adalah taksi yang ia pesan. Akan tetapi, saat kaca taksi itu turun, sopir tersebut sama sekali tak menampilkan wajahnya, menutupnya dengan topi hitam. Dengan senyuman canggungnya, Sakura memundurkan langkahnya. Sepertinya dia memilih untuk membatalkan taksi tersebut.


Sakura sampai kesulitan menelan ludahnya sendiri, buru-buru mencari nomor Dirga guna menghubungi laki-laki tersebut. Lantas berlari jauh guna menghindari taksi tersebut, tapi taksi itu malah mengikutinya. Sungguh, rasa takutnya muncul, terlebih dia harus berlari cepat dan mencari jalan sempit supaya laki-laki itu tidak mengejarnya.


"Jangan sampai ketangkep," ucapnya dengan suara yang bergetar.


Sekilas dia menoleh ke belakang, rupanya sopir taksi itu turun dari mobilnya, mengejarnya tanpa ragu. Semakin panik wanita tersebut untuk menghubungi Dirga, ditambah laki-laki itu cukup lama menjawab panggilannya. Saking takut dan khawatirnya, Sakura tak bisa berlari dengan fokus, yang mana membuat dirinya menabrak tumpukkan kardus dari salah satu toko grosir. Buket bunga dan ponselnya jatuh begitu saja, padahal Dirga baru saja menjawab.

__ADS_1


"Dirga!! Tolongin gue!!" teriaknya seraya berlari menjauh dari ponselnya.


Wanita itu tak bisa mengambil ponsel itu, laki-laki yang mengejarnya juga berlari begitu cepat. Sakura hampir tak bisa menjauhinya.


Tenaganya benar-benar terkuras banyak, membuat Sakura kesulitan untuk bernafas. Pun dadanya mulai terasa sakit akibat terlalu banyak berlari. Rasanya ingin sekali menangis karena kelelahan seperti ini. Sampai akhirnya kecepatan Sakura berkurang, membuatnya lemah ketika berlari, dan laki-laki itu berhasil menangkapnya.


Wanita itu berontak dengan sisa tenaganya, tak ingin tertangkap untuk yang kedua kalinya. Beruntung, Dirga datang tepat waktu, namun laki-laki itu tak segera turun dari mobil, membuka pintu sisi kiri dan menyuruh Sakura untuk segera mengigit tangan laki-laki itu.


"Gigit!!" teriak Dirga dari dalam mobil.


Cara itu berhasil, Sakura segera berlari ke dalam mobil Dirga. Keduanya melaju cepat meninggalkan tempat. Nafas Sakura tak beraturan, dia sangat ketakutan walau sudah aman bersama Dirga. Hanya saja, beberapa meter melaju, Sakura meminta Dirga untuk kembali ke tempat tadi.


"Buat apa? Lo mau ketangkep lagi?"


Dirga segera menghentikan mobilnya di bahu jalan, menghadap Sakura guna memeluk tubuh wanita itu. Dia mengusap pucuk kepalanya, sebelum berujar. "Gue bisa ngasih bunga lagi ke lo. Biarin aja bunga itu ilang atau diambil orang,"


Sakura membalas dengan erat pelukan Dirga, dia menumpahkan air matanya pada dada laki-laki itu. Tapi, tingkah Sakura ini justru membuatnya tersenyum dalam diam, masih dengan tangan yang mengusap kepala Sakura.


"Lagipula, kenapa lo lebih khawatir bunga ilang, daripada hp lo sendiri?"


...****************...

__ADS_1


Dirga membawa Sakura ke pinggir jalan, dia menenangkan wanita itu yang sejak tadi hanya diam dan melamun. Dia rasa jika sakura masih memikirkan tentang buket bunganya yang jatuh. Dirga menghela nafasnya cukup panjang, lantas mendekati wanita itu dengan senyuman hangatnya.


"Masih mikirn bunganya?" tanya Dirga. Kendati Sakura sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu, Dirga dengan jawaban yang tercetak dari raut wajah. "Kalau gitu, besok gue bawain bunga yang lebih gede lagi," katanya.


Beberapa detik wanita itu sama sekali tidak berniat untuk berbicara. Dia terus melamun dengan tatapan sayunya. Namun, pada akhirnya dia bersuara dan membuat Dirga tak bisa berkata-kata.


"Itu pertama kalinya gue dikasih bunga sama seseorang," kata Sakura dengan suara parau.


Entahlah, mendengar kalimat tidak keluar dari mulut Sakura, secara tiba-tiba membuat hati Dirga menghangat. Ada perasaan senang tetapi juga bercampur dengan rasa sedih dan penyesalannya. Iya, setidaknya dia mengetahui bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang menurun diri sendiri itu sangat berharga. Entah pertama kali atau terakhir kali mendapatkannya, keduanya sama-sama memiliki tempat tersendiri dalam hati. Tapi mau bagaimana lagi? Ketika kehilangan, mau tidak mau harus belajar untuk mengikhlaskannya.


Lantas salah satu tangan laki-laki itu terarah pada pucuk kepala Sakura, dia merapikan rambut wanita itu yang terlihat berantakan karena berlari tadi. Dirga ingin memberikan ketenangan melalui sentuhannya, serta memberitahu pada Sakura, jika semua yang ada di dunia ini tidak bersifat abadi.


"Bukan cuma bunga, tapi gue juga bisa kehilangan lo. Begitupun sebaliknya," tuturnya.


Sakura menoleh dengan tatapan yang lebih hidup dari sebelumnya, namun hanya beberapa detik sebelum ia kembali menurunkan pandangan itu. Menyatukan kedua tangannya di atas pangkuan.


"Tapi, gue nggak mau kehilangan lo," ucap Sakura dengan suara yang begitu lirih, sampai Dirga meminta pengulangan.


"Apa? Lo bilang apa?"


"Gue nggak mau kehilangan lo," kali ini dengan sedikit penekanan.

__ADS_1


Dirga tertawa kecil, menatap sisi kanan wajah Sakura yang masih menunduk itu. "Emangnya, gue mau kehilangan lo?"


__ADS_2