
Masih belum terlambat untuknya menyelesaikan masalah yang mendatanginya secara tiba-tiba. Pribadi itu mendatangi rumah sakit dengan penuh rasa yakin untuk menjauhkan dirinya dari masalah tersebut. Dirga tiba di rumah sakit satu jam sebelum dirinya berangkat menuju kantornya. Iya, memang sengaja, menghindari pandangan buruk dari para karyawannya.
Laki-laki itu masuk ke kamar yang menjadi tempat wanita itu dirawat. Kedua maniknya mendapati wanita tersebut sedang duduk di ranjangnya dengan kedua tangan yang mengusap perutnya. Dengan hembusan nafas yang berat, Dirga membawa langkahnya memasuki kamar tersebut dengan pembawaan yang lebih berani. Berdiri tepat di sebelah ranjang dengan tatapan lebih tegas.
"Saya tegasin! Saya nggak akan mau menikah dengan anda, hanya karena anda tidak siap untuk dimarahi orang tua. Itu kesalahan yang harus anda tanggung!" kata Dirga langsung pada intinya.
"Tapi, bukannya kemarin udah setuju?"
"Saya tidak pernah menyetujuinya! Anda dan orang tua yang memaksa. Memaksa," ucapnya penuh penekanan.
Dirga perlu memperjelas dan menekankan pada wanita itu supaya tidak melibatkan dirinya dalam permasalahan pribadi. Baiklah, Dirga mengaku sebagai seseorang yang tidak sengaja menabrak. Akan tetapi, dia juga bertanggungjawab atas perbuatannya, membawa wanita tersebut ke rumah sakit dan memberikan kamar dengan pelayanan dan fasilitas yang baik. Namun, jika dia harus bertanggungjawab atas sesuatu yang tidak dia lakukan, selamanya dia tak akan mau melakukannya.
Hanya selang beberapa menit, pintu kamar itu kembali terbuka, menampilkan sosok orang tua dari wanita tersebut. Dari air muka mereka tampak tak menyenangkan kala melihat Dirga telah berada di rumah sakit sepagi ini. Seperti seorang ayah yang ingin melindungi putrinya, laki-laki itu menjauhkan Dirga dari ranjang, seakan tak rela jika putrinya akan mendapat ancaman dari laki-laki yang dianggap telah menghamili putrinya.
"Mau apa kamu?! Jangan coba-coba ancam anak saya!" kata laki-laki itu.
Dengan hembusan nafas yang cukup panjang, Dirga mendekati laki-laki tersebut, dengan tatapannya yang lebih tegas. Kali ini, Dirga tak akan takut untuk menghadapinya, toh bukan dia pelakunya. "Saya tegaskan, saya bukan laki-laki yang menghamili anak anda. Silahkan jika ingin melakukan tes DNA. Saya sama sekali tidak keberatan," timpal Dirga.
Kalimat Dirga itu seakan mengundang amarah untuk ayah dari wanita itu. Dadanya telah naik-turun karena ucapan Dirga, kedua tangannya telah terkepal kuat di kedua sisi tubuh. Jika saja istrinya tidak menahan, Dirga akan kembali mendapat pukulan. Pun hanya berakhir dengan menodongkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Dirga.
__ADS_1
"Jangan mentang-mentang kamu orang kaya, seenaknya lari dari tanggung jawab dan hanya menggunakan uang untuk menyelesaikan semuanya! Saya nggak akan pernah mau nerima uang kamu. Yang saya mau, kamu tanggung jawab atas kehamilan anak saya!"
Belum saja Dirga membalasnya, seorang perawat yang secara kebetulan melewati lorong tersebut langsung memasuki kamar itu—lantaran pintu yang tidak tertutup rapat. Perawat itu mengatakan jika tidak boleh membuat keributan di sana, walaupun mereka mengenal pasien di ruangan tersebut. Pun Dirga membenarkan pakaiannya, berjalan keluar tanpa berkata apapun.
Dengan langkahnya yang begitu tegas, Dirga menuju mobilnya guna meninggalkan rumah sakit. Laki-laki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, dia meremat roda setir dengan penuh kekesalan. Pasalnya, dia rasa masih belum bisa terbebas dari mereka yang membuat dirinya harus bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. Akan tetapi, Dirga akan menganggap hal ini sudah selesai. Dia sudah mempertegas pada mereka dan mengatakan dengan sebenarnya bahwa dia sama sekali tidak menghamili wanita tersebut.
...****************...
Di waktu yang hampir mendekati dengan jam makan siang, Dirga masih sibuk dengan pekerjaannya yang selama beberapa hari ini tidak disentuh olehnya. Ya, laki-laki itu harus membayar semua waktunya yang terbuang dengan menyelesaikan pekerjaan. Tak masalah jika dirinya tidak memiliki waktu istirahat. Toh, semua ini karena kesalahannya yang mengabaikan waktu.
Namun, ketika tepat jam makan siang telah dimulai, sebuah gabungan pintu mengalihkan perhatiannya. Laki-laki itu memberikan izin pada seseorang yang baru saja mengetuk pintu tersebut. Tadinya, dia akan menduga jika sang kekasih yang akan mendatanginya, tapi ternyata sekretarisnya yang datang dengan amplop coklat di tangannya. Jaga sampai menghentikan kegiatannya saat ini dan memandang sekretarisnya itu dengan kedua kali yang tertekuk. Entahlah, tidak biasanya dia mendapat surat di siang hari seperti ini.
"Dari siapa?"
"Maaf, pak. Saya juga kurang tahu, karena ini dari staf keamanan," jawab sekretaris tersebut.
Hanya dengan satu kali anggukkan kepala, Dirga menerima amplop tersebut dengan wajah penuh keraguan. Lantas ketika dia mengambil isi dari amplop tersebut, laki-laki terlucu ketika melihat sebuah foto hasil USG dengan sebuah kertas kecil di belakangnya. Dia langsung menggerakkan giginya, menahan kesal setelah membaca isi secarik kertas tersebut.
Dia mengerang keras, namun terhenti seketika setelah melihat Sakura yang baru saja membuka pintu ruangannya. Wanita itu sempat terkejut setelah mendengar suaranya, dan Dirga berusaha untuk mencari alasan supaya Sakura tidak mencurigainya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Dirga.
Laki-laki tersebut menghembuskan nafasnya cukup panjang, dia menunjuk pekerjaannya menggunakan dagu. "Aku capek, karena pekerjaanku masih banyak," alibinya.
Detik itu juga Sakura langsung tersenyum, seakan bisa memahami posisi kekasihnya saat ini. Pun wanita itu berjalan mendekat ke arah Dirga, membiarkan sang kekasih meletakkan kepalanya untuk bersandar pada pinggangnya.
"Berarti aku dateng di waktu yang tepat," kata Sakura. Dia juga membawakan bekal makan siang untuk laki-laki tersebut yang dia beli di restoran kesukaan Dirga. "Ayo, makan siang dulu. Kerjanya lanjut nanti,"
Dengan senyuman tipis, Dirga mengangguk, menurut dengan apa yang dikatakan oleh sang kekasih. Hanya saja, saat Sakura meletakkan makanan tersebut ke atas meja Dirga, maniknya menangkap amplop yang baru Dirga dapatkan beberapa menit lalu.
"Ini amplop apa?" tanya Sakura, salah satu tangannya hendak mengambil amplop tersebut.
Dirga yang terkejut, secara natural mengambil amplop tersebut sebelum dia masukkan ke dalam laci mejanya. "Ada karyawan yang mau mengundurkan diri," alibinya lagi.
"Mengundurkan diri? Kenapa? Apa ada masalah di kantor?" tanya Sakura yang juga mendadak khawatir.
Laki-laki tersebut hanya menggelengkan kepalanya disertai dengan lambaian tangan, yang menandakan jika apa yang dikhawatirkan Sakura itu tidak benar. "Mungkin, karena dia dapat kerjaan yang lebih bagus. Aku nggak punya hak untuk nahan dia kalau emang itu pilihannya dia," kata Dirga.
Ya, tentu saja Sakura mempercayai semua perkataan sang kekasih. Dia hanya mengagumkan kepalanya dan merasa kekasihnya itu adalah atasan yang baik hati karena tidak melarang siapapun yang ingin mencari kehidupannya yang lebih baik.
__ADS_1
"Maafin aku,"—ucapnya dalam batin.