Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Mulai Berdatangan


__ADS_3

Hari-harinya telah sibuk dihabiskan untuk melakukan ini dan itu. Ini bukan hanya soal pekerjaan, banyak hal lain yang juga dikerjakannya. Dan itu membuat fokusnya terpecah begitu saja. Beruntung, hari ini Dirga dalam keadaan yang baik, bahkan dirinya bisa bersantai lebih lama. Tangan kanannya memegang ponsel dalam keadaan tegak, dirinya hanya bersandar seraya menggunakan imajinasinya.


Bayangan di kepalanya itu rak berlangsung lama, lantaran sebuah pesan menyambar ponselnya. Sedikit terkejut, namun dia segera membuka ponselnya, dan lebih terkejut ketika dia mendapatkan kiriman foto dari Sakura. Wanita itu secara mendadak mendatangi makam Nadia, apalagi dia menaburkan banyak bunga pada makan tersebut. Entahlah, Dirga hanya bisa tersenyum menatapnya dari layar ponsel.


"Dia sama sekali nggak keberatan sama masa lalu gue," gumamnya masih menatap foto tersebut.


Laki-laki itu hanya membalas sekenanya, membiarkan Sakura melakukan apa yang dia ingin lakukan di pemakaman sana. Toh, makam keluarga Sakura dan Nadia tidak jauh. Namun, ketika dirinya masih mengetikkan balasannya, pintu ruangannya terbuka secara tiba-tiba, membuat atensinya teralihkan dan mendapati Ryan berdiri di ambang pintu.


"Ga, gue beli kopi dulu, ya. Mau nitip nggak?" tanya Ryan.


"Kopi di dapur udah abis?"


"Bukan kopi itu, kopi lainnya,"


Mengerti maksud Ryan, laki-laki itu segera menganggukkan kepalanya. Dia juga meminta dibelikan pesanannya oleh sepupunya itu. Pun setelah anggukkan yang diberikan oleh Ryan, dia menghilang dari balik pintu tersebut. Dirga yang baru saja meletakkan pandangannya pada layar ponsel kembali melihat pintu ruangannya. Secara mendadak, dia memiliki keraguan terhadap Ryan.


Dirga mengetukkan jari di atas meja kaca itu, dia mencoba untuk berpikir. Lantas menghubungi seseorang untuk mengikuti kemana Ryan pergi. Mustahil jika ia melakukannya sendirian. Kendati begitu, tetap saja Dirga masih penasaran dengan tujuan laki-laki itu. Apa akan mendatangi penjara itu lagi?


"Siapa yang sebenarnya ada di dalam penjara? Kenapa dia nggak pernah cerita ke gue?" tanyanya pada diri sendiri, lantaran masih merasa sangat penasaran dengan hal yang ditutupi oleh Ryan.


Ditengah-tengah kebingungannya, dia memukul dahi sendiri saat menyadari sesuatu yang sejak tadi tak terpikirkan olehnya. Pantas laki-laki itu segera mengirimkan pesannya lagi pada Sakura. Dia meminta pada wanita tersebut untuk bertanya pada Riana tentang tujuan Ryan yang datang ke sebuah penjara. Anggap saja, itu sebuah tugas untuk Riana.


Dirga menunggunya dengan sangat sabar, bahkan yang paling ditunggu saat ini hanyalah kabar dari Sakura. Pasalnya, hal yang dia minta pada Sakura itu jauh lebih penting daripada hal yang dia minta pada orang suruhannya saat ini. Dan ya, kabar yang dia terima lebih dulu justru berasal dari orang suruhannya. Walau dengan hembusan kekecewaan, tetapi laki-laki itu tetap menerima kabarnya.


"Dia beneran beli kopi," katanya.


Kendati Dirga tahu tujuan Ryan saat ini, laki-laki itu tetap menyuruh orang suruhannya untuk terus membuntuti kemana perginya Ryan. Kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi, Dirga bisa mengetahui hal itu. Lantas dia meletakkan kembali ponselnya, menunggu datangnya kabar dari Sakura.

__ADS_1


Hanya selang beberapa menit, ponselnya kembali berdenting, yang mana menandakan adanya pesan masuk. Kali ini, pesan itu berasal dari Sakura, memberikan jawaban padanya tentang rasa penasarannya sejak kemarin.


"Temen? Dia punya temen narapidana?" lagi-lagi Dirga terheran. Namun, dia juga mencoba untuk memahaminya. Ya, mungkin memang ada teman Ryan yang seperti itu.


Dirga menggeleng singkat, lantaran dia rasa sudah cukup untuk memikirkan hal yang tidak penting baginya.


...****************...


"Apa-apaan dia ini, padahal gue lagi mau balik. Malah disuruh-suruh begini," celotehan Sakura itu terjadi ketika dia baru saja keluar dari pemakaman.


Wanita itu tengah duduk di pinggir jalan seraya menunggu taksi yang telah dia pesan. Pandangannya sama sekali tak teralihkan dari layar ponsel. Sakura masih membalas pesan-pesan yang dikirimkan oleh Dirga. Akan tetapi, dia merasa seseorang baru saja datang dan ikut duduk di sebelahnya. Dirinya abai, lantaran merasa tak mengenal sosok tersebut.


Hanya saja, sedari tadi dia merasa sepasang mata tersorot ke arahnya, yang mana membuat Sakura sedikit waspada dengan laki-laki di sebelahnya itu. Kakinya begitu kuat untuk bersiap melarikan diri, tapi setelah kepalanya menoleh dia terkejut dengan keberadaan Ryan di sana.


"Ternyata lo. Kenapa nggak ngomong, sih? Gue pikir lo orang jahat," kata Sakura yang jantungnya masih berdebar.


Sakura tak bisa menjawabnya, dia menelan ludahnya sebelum akhirnya menutup ponsel. Bahaya jika Ryan membaca isi pesannya dan Dirga.


"Gue bukannya mau ngagetin, tapi gue lihat lo lagi fokus sama hp. Jadi, gue nggak mau ganggu," kata Ryan lagi.


Sakura masih tak menimpalinya, dia hanya tersenyum canggung saat bertemu dengan sepupu Dirga itu. Namun, dia juga menumbuhkan pertanyaan di kepalanya. Untuk apa Ryan berada di sini? Ini pemakaman.


"Lo ngapain ke sini?" tanya Sakura.


"Lo sendiri, ngapain?"


Bukannya menjawab, Ryan justru melemparkan pertanyaan yang sama pada Sakura. Akan tetapi, Sakura tetap menjawab pertanyaan tersebut.

__ADS_1


"Gue habis dateng ke makam keluarga gue. Orang tua sama adek gue dimakamin di sini," jelasnya.


Ryan mengangguk, dia juga menampilkan raut wajah penuh rasa peduli. Iya, Ryan tidak tahu jika keluarga Sakura telah meninggal.


"Ini juga tempat mantan Dirga dimakamin. Gue habis dari sana," kata Ryan.


"Nadia?" tanya Sakura yang ingin memastikan.


"Iya,"


Tunggu dulu, Sakura hanya bisa terdiam setelah mendengar kalimat tersebut. Sakura yakin jika Ryan tak mengetahui lokasi makam keluarganya. Jika memang Ryan mengunjungi makam Nadia, bukankah mereka seharusnya bertemu? Toh, Sakura juga baru saja tiba di tempat ini, tak lama Ryan datang.


"Apa semua mantan Dirga dimakamin di sini?" tanya Sakura.


"Iya, mereka semua ada di sini. Tapi, Dirga ngerahasiain sisa makam yang lain. Cuma makam Nadia yang dia kasih tau ke banyak orang," tutur Ryan.


Sakura sudah tak bisa bersuara lagi, tidak tahu apa yang harus dia katakan. Isi kepalanya saat ini hanya kalimat Ryan barusan. Memangnya kenapa kalau ada orang lain yang tahu makam mantan-mantan Dirga yang lain? Apa Dirga tak mau dianggap sebagai laki-laki yang memiliki banyak wanita?


Terlalu larut dalam pikirannya, taksi yang dipesannya telah berhenti di hadapannya. Wanita itu segera bersiap untuk pergi meninggalkan tempat tersebut dan juga Ryan.


"Kalau gitu, gue duluan, ya," kata Sakura.


"Iya, hati-hati," balas Ryan.


Wanita itu memasuki taksinya, namun pandangannya masih belum teralihkan dari Ryan yang masih duduk di bangku tersebut. Sakura mengerutkan dahinya, merasa ada yang tidak beres dengan hal ini. Pikirannya mendadak tercampur jadi satu.


"Apa yang harus gue percaya?"

__ADS_1


__ADS_2