
Tubuh Ryan menampilkan ruam merah akibat alerginya itu. Ditambah, Ryan sama sekali tak membawa obat untuk menghilangkan alerginya, lantaran tak pernah terpikirkan olehnya akan memakan bawang putih secara sengaja. Ryan sampai tak berani untuk keluar ruangan Dirga dengan keadaannya yang begini.
"Ya udah, lo tunggu sini, biar gue cariin obatnya," kata Dirga yang langsung berlari mencari obat untuknya.
Laki-laki itu pergi dengan membawa mobilnya, mencari apotek terdekat untuk Ryan yang masih kesakitan di ruangannya. Hanya saja, hal ini malah membuatnya kerepotan, lantaran beberapa apotek terdekat tidak buka. Entahlah, mendadak Dirga menyesal tak menyingkirkan bawang putih dari makanan Ryan. Sekarang malah dirinya yang harus kewalahan mencari obat untuk sepupunya itu. Dirga menggaruk kepalanya frustasi, kesulitan menemukan apotek di daerah tersebut.
Namun, belasan menit mencari, akhirnya dia menemukan tempatnya yang cukup jauh dari lokasi dealer-nya. Buru-buru Dirga berlari ke sana, menemui para apoteker yang berjaga.
"Mbak, obat untuk alergi bawang putih," kata Dirga.
"Yang diminum atau dioles?" tanya apoteker tersebut.
Di sana Dirga terdiam sejenak, berpikir untuk memilih diantara kedua obat tersebut. Lantas detik berikutnya, Dirga telah memutuskannya. "Oles,"
Tak membutuhkan waktu lama sampai akhirnya Diega telah membayar obat tersebut. Dengan langkah yang lebar, dia membawa diri masuk ke dalam mobil, meninggalkan lokasi menuju dealer-nya.
Dibandingkan berangkat, pulang lebih membutuhkan waktu yang singkat, lantaran Dirga juga memikirkan sepupunya itu yang pastinya tersiksa. Dia berlari masuk ke dalam ruangannya, yang mana dia melihat Ryan yang semakin mengerikan. Tubuhnya benar-benar memerah, membuat Dirga segera membuka salep tersebut.
Dengan sedikit panik, Dirga bergerak cepat mengoles salep yang dibawanya pada seluruh bagian kulit Ryan yang memerah dan panas. Bahkan, Dirga juga bisa merasakan panasnya kulit merah tersebut.
"Maaf banget kalau gue kelamaan. Apotek di sini pada tutup," katanya yang juga merasa bersalah.
Tak ada kalimat apapun dari Ryan untuk membalas perkataan Dirga. Dia hanya melihat sepupunya yang membantu mengoleskan salep tersebut pada ruam kemerahannya. Sampai beberapa menit berlalu, Ryan merasa kulitnya membaik, dia melihat ke arah Dirga yang masih belum menutup salep tersebut.
__ADS_1
"Udah, Ga, udah mulai ilang," kata Ryan.
Dirga baru tersadar dengan kalimat itu, dia mengerjap beberapa kali sebelum menutup salep itu kembali. Padahal, dalam batinnya, dia berharap jika Ryan meminta bantuannya untuk mengoleskan di punggungnya—sebab itu dia membeli obat oles. Hanya saja, sepupunya sama sekali tidak membuka pakaiannya. Ada rasa kekecewaan yang tak dapat ia ungkap. Tapi, ya sudahlah, Dirga akan cari cara lain untuk membuatnya bisa melihat punggung Ryan.
...****************...
Usai kejadian tadi siang, Dirga hanya duduk di bangkunya dengan air muka yang begitu serius. Alergi Ryan tak membantunya sama sekali, yang mana malah membuatnya kewalahan mencari obat untuk sepupunya itu. Laki-laki itu bersandar pada kursinya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada, tatapannya sedikit menyipit kala pikirannya tengah bekerja keras.
"Gimana caranya, ya? Padahal, gue udah yakin kalau luka yang gue lihat emang ada di punggung Ryan. Terus, buat apa gue ngelihat lagi?" ucapnya pada diri sendiri.
Dia benar-benar terheran dengan balas dendam yang diinginkan arwah perempuan itu. Sebelumnya, dia telah menyadari jika arwah perempuan tersebut telah menyerang Ryan. Terlihat jelas dengan luka cakar yang sepupunya dapatkan sama persis dengan luka cakar yang didapat oleh Sakura. Itu menandakan, jika arwah perempuan itu bisa membalas Ryan dengan caranya sendiri. Lalu, untuk apa bantuannya? Dirga sama sekali tak memiliki kekuatan apapun.
Lantas dia mengusap wajahnya kasar, lantaran pikirannya buntu. Dia tak memiliki ide apapun untuk memikirkan hal ini. Pribadi itu bangkit dari tempat duduknya, bergerak keluar dari ruangannya guna mencari udara. Entahlah, mendadak dia ingin menatap pengunjung yang datang. Dirga sudah tak takut akan wanita lagi, toh penyebab utamanya telah dia temukan.
"Tumben duduk sini,"
Itu adalah suara Ryan yang mendadak dia dengar saat pikirannya masih memikirkan hal aneh tersebut. Pun dengan segera Dirga mengalihkannya. "Udah sembuh, lo?" tanyanya.
Ryan melihat dan menunjukkan kedua tangannya yang sebelumnya juga menunjukkan ruam kemerahan. "Udah lumayanlah," jawabnya. Namun, setelahnya dia terkejut saat Dirga menarik salah satu tangannya.
"Ini lo garuk? Sampai luka begini?" tanya Dirga saat ia melihat ada luka kemerahan, seperti baru saja berdarah. "Sorry banget, karena gue nyari obatnya kelamaan," kata Dirga lagi.
"Biarin aja, yang penting udah mendingan," balas Ryan yang kembali menarik tangannya.
__ADS_1
Lantas keduanya sama-sama melihat ke arah jajaran mobil yang terpajang di sana. Tak ada obrolan apapun selama beberapa menit, sampai akhirnya Ryan yang melemparkan pertanyaannya berdasarkan rasa penasarannya.
"Lo belum cerita, kenapa tumbenan duduk di sini? Nggak takut ketemu perempuan lagi?" tanyanya.
Hanya sekilas Dirga melihat ke arah Ryan, dia memasang senyumannya seakan menjawab pertanyaan sepupunya itu. "Nggak. Lo sendiri juga udah lihat berapa kali gue ketemu Sakura,"
Sepupu Dirga itu menganggukkan kepalanya, ikut senang karena rasa takut Dirga berhasil dihilangkan sebab adanya Sakura. Padahal, kalau Ryan pikir kembali, kenalnya Dirga dan Sakura itu belum terlalu lama, tapi Dirga juga sudah yakin jika ketakutannya terhadap wanita telah hilang seutuhnya.
"Syukur deh, kalau perempuan itu emang udah bisa bikin lo suka lagi sama perempuan," ucap Ryan. Dia diam sejenak sebelum kembali melempar pertanyaan. "Udah lo tembak?"
Dirga mengulum bibirnya, melirik ke arah Ryan, lantaran terkejut dengan pertanyaan yang diberikan sepupunya itu. "Darimana lo tau gue suka Sakura?" Dirga justru bertanya balik.
Pertanyaan yang diberikan Dirga justru membuat Ryan tertawa geli. Entah Dirga kelewat polos atau sungguh tak menyadarinya, tetapi berkali-kali dia melihat Sakura dan Dirga bersama, sudah dapat dia katakan jika Dirga menyukai perempuan itu.
"Tatapan dan perlakuan lo ke dia itu udah kelihatan jelas. Apalagi waktu kita nolongin dia," jawab Ryan.
Dirga bungkam, dia mengingat kembali semua kebersamaannya dengan Sakura yang disaksikan langsung oleh sepupunya. Dirga sendiri juga tidak tahu, seberapa banyak hari yang dia habiskan bersama Sakura. Tapi, rasanya baru saja dia menyukai wanita itu. Jujur saja, ketahuan oleh Ryan begini sedikit membuatnya malu. Karena tak terpikirkan olehnya, jika dia akan menyukai kembali seorang wanita setelah bertahun-tahun lamanya.
"Oh, ada pengunjung,"
Dirga melihat Ryan yang menghampiri pengunjung itu. Baru kali ini Dirga melihat cara Ryan melayani pengunjung seorang wanita. Ingin terlihat keren, sepupunya itu sampai melipat lengan kemejanya sebatas siku. Sepertinya Ryan lupa, jika ada luka di tangannya karena alerginya tadi.
"Tapi, kenapa bekasnya terlalu dalem?"
__ADS_1