Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Kelewat Kaget


__ADS_3

Rumah yang didatanginya bukanlah rumah yang ada dipenglihatannya. Berbeda dari apa yang dia lihat sejak kemarin hingga beberapa menit yang lalu. Rumah besar dengan banyak kotoran dan tanaman liar yang tumbuh di pekarangannya. Dadanya mendadak terasa panas, begitu terkejut dengan apa yang tak bisa dia percaya. Dirga menoleh cepat ke arah Sakura, seakan air mukanya bertanya alasan yang membuatnya melihat rumah tersebut tampak seperti rumah yang terurus. Laki-laki itu sampai tak mempu bersuara, menyadari situasi saat dirinya bersama dengan Sakura.


Sedangkan Sakura menatap Dirga dengan sedikit rasa penyesalannya. Mungkin Sakura tak menyesal, namun dirinya juga bisa tahu apa yang dirasakan Dirga ketika pandangannya terhadap rumah itu bisa berubah. Sakura yakin jika arwah perempuan itu sengaja melakukannya demi menarik perhatian Dirga mendatangi rumahnya. Memang sulit menghadapi arwah yang memiliki dendam. Namun, Sakura juga dibuat kebingungan, jika memang arwah perempuan itu menyukai Dirga, kenapa dia justru mempersulit Dirga mejalani kehidupannya? Apalagi dengan membuka fakta jika disetiap kecelakaan semua mantan Dirga, terdapat sosok perempuan itu di sana.


"Kemarin gue sama Ryan masih lihat rumahnya bersih, tapi kenapa sekarang—" Dirga sampai tak mampu melanjutkan kalimatnya.


"Lo yakin, yang dilihat Ryan itu sama kayak yang lo lihat?"


"Nggak yakin, sih," jawab Dirga.


Sakura menghela nafasnya cukup panjang, lantaran dia juga tidak dapat berpikir. Tangan kirinya memijat ringan pelipisnya, kedua matanya terpejam saat dirinya berusaha untuk berpikir. Hanya saja, karena keduanya tak melakukan apapun dalam waktu lama di sana, Dirga terkejut saat seorang laki-laki paruh baya muncul di kaca mobilnya. Ditambah sosok orang tua itu sampai mengetuk kaca mobil, membuat Dirga keluar dari sana guna menjumpai laki-laki paruh baya tersebut. Mereka juga khawatir ada sesuatu yang salah dengan keberadaan mereka di sini.


Dengan senyuman ramahnya, Dirga berdiri di hadapan pria paruh baya itu. Namun, ketika belum sempat mengeluarkan suaranya, laki-laki tua di depannya itu lebih dulu mengeluarkan suaranya, yang mana membuat Dirga terdiam dengan rungu yang fokus mendengar.


"Laki-laki dan perempuan tidak boleh berduaan di dalam mobil saat berhenti di depan rumah ini," kata pria tua tersebut.


"Kalau saya boleh tau, kenapa memangnya, pak?" tanya Dirga.


"Pokoknya tidak boleh. Apalagi sampai berbuat sesuatu yang tidak senonoh!!" jawab pria tua itu dengan begitu tegas.


Hanya sesingkat itu obrolan antara Dirga dan pria paruh baya itu sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil. Pun hal ini tidak luput dari perhatian Sakura yang juga menanyakan.


"Bapak itu bilang, kalau laki-laki sama perempuan nggak boleh berduaan di depan rumah ini, apalagi ngelakuin hal yang nggak senonoh," kata Dirga.


Sakura mencoba melirik ke arah rumah itu, dia terdiam sejenak sebelum membuka suaranya guna menimpali kalimat Dirga tadi. "Apa mungkin ada hubungannya sama kematian arwah perempuan itu?" tanya Sakura.


"Gue nggak bisa bilang itu bener, tapi cuma itu yang masuk akal,"

__ADS_1


Keduanya kembali dilanda keheningan dengan pemikiran masing-masing. Namun, hanya dalam hitungan detik, suara Dirga memecahkan atensi Sakura yang membuat wanita itu sampai ternganga. Bahkan, juga menolak ide gila yang bahkan enggan untuk Sakura dengarkan. Dia terus menolak semua perkataan laki-laki itu. Sampai-sampai Dirga menyentuh tangannya, menggenggam erat dan memohon hingga pada akhirnya Sakura lagi-lagi mengalah.


Sakura sampai mengerang penuh rasa kesal, lantaran dirinya kembali menyetujui apa yang diminta oleh Dirga. Mungkin dirinya juga kesal karena mengatakan mau membantu laki-laki itu menyelesaikan permasalahan yang Durga hadapi.


"Penderitaan lo jadi penderitaan gue," kata Sakura.


...****************...


Sudah lebih dari lima jam Sakura duduk di sofa ruang tamu rumah Dirga. Bahkan, pribadi itu telah melihat puluhan kali langkah ibunda Dirga yang lewat tepat di depan kedua bola matanya. Bahkan, presensi yang menyuruhnya berasa di sini selama berjam-jam justru tak menampakkan batang hidungnya.


Dirga pintar membawa dirinya datang ke rumahnya, lantaran Sakura tak akan marah selama ada ibunda dari laki-laki itu. Sakura sendiri juga hanya bisa melipat kedua tangannya dan mengutuk Dirga dari dalam batinnya. Sekilas memperhatikan ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, menunjukkan waktu yang semakin membuat langit semakin gelap. Entah sampai jam berapa Sakura harus menunggu lebih lama lagi. Rasanya seperti ia tak memiliki stok kesabaran lebih banyak lagi.


Dan setelah Sakura berada dibatas kesabaran untuk menunggu, wanita itu mengepalkan telapak tangannya, ingin segera berpamitan lantaran Dirga tak kunjung datang. Dengan helaan nafasnya yang cukup panjang, akhirnya Sakura berdiri seraya menenteng tasnya. Dia mendekati ibunda Dirga. Namun, tinggal beberapa langkah lagi, wanita itu terkejut saat tubuhnya terasa begitu hangat saat Dirga menanggalkan jaket besar pada punggungnya.


"Ibu, aku pergi dulu sama Sakura,"


Dirga berpamitan pada ibunya, berjalan keluar seraya menggenggam tangan Sakura, membawa keluar wanita itu. Pun tanpa memperumit keadaan, wanita paruh baya itu langsung menganggukkan kepala guna menyetujuinya. Membiarkan dua orang tersebut pergi dengan urusan mereka.


"Parkir yang jauh sekalian, supaya orang nggak curiga," kata Sakura.


"Justru supaya lebih cepet buat kabur," balas Dirga.


"Bilang aja kalau takut," ejek Sakura.


Dirga enggan menimpali, dia hanya memutar bola matanya jengah, membawa diri keluar dari dalam mobil. Mereka mengamati keadaan sekitar, memastikan apa yang dilakukannya saat ini sudah aman untuk melakukan niatan awal yang telah Dirga katakan sejak tadi. Laki-laki itu lebih dulu menaiki pagar yang bisa membuat kegaduhan lantaran pagar tersebut terbuat dari baja. Hendak membantu Sakura, dirinya justru melihat Sakura yang membuka pintu gerbang dengan begitu santai tanpa membutuhkan usaha sebesar yang dia lakukan.


"Makanya, kalau nggak bakat jadi penjahat, jangan cari ide aneh-aneh. Rumah kayak gini mana mungkin digembok, maling aja nggak berani dateng," cebik Sakura yang berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Sejujurnya, Dirga sedikit merasa malu dan kesal diwaktu yang bersamaan. Namun, jika bukan Sakura, siapa lagi yang akan membantunya? Sebab itu, saat ini Dirga hanya menahannya. Dirinya membuntuti langkah Sakura di depannya. Hanya dengan bantuan lampu penerang dari ponsel, keduanya melewati halaman yang begitu luas sebelum memijak teras rumah yang sangat kotor.


"Padahal, bangunannya masih kokoh," kata Dirga seraya memegang salah satu dinding.


Kontan Dirga mendapat pukulan ringan dari Sakura supaya laki-laki itu tidak memegang sembarangan yang mana bisa saja meninggalkan jejak di sini. Lantas Sakura kembali fokus guna membuka pintu rumah tersebut. Sayangnya, saat tangannya telah mengeluarkan usaha untuk membuka, pintu tersebut sama sekali menolaknya. Dia hanya mampu menghela nafas panjang, lantaran kesal dengan situasi saat ini. Pun Dirga menggeser tubuh wanita itu, menggantikan Sakura dengan menyalurkan tenaganya untuk membuka.


Hanya satu kali percobaan dan kurang dari tigavpuluh detik, pintu tersebut akhirnya terbuka dengan mudah oleh Dirga. Momen ini menjadikan dirinya mampu membalas dendam pada Sakura yang tadi sempat meledeknya. "Makanya, kalau nggak bisa megang barang mahal, jangan sok mimpin,"


Salah satu tangannya telah terkepal kuat, siap untuk melayangkannya pada pribadi yang sedang merasa unggul hanya karena mampu membuka pintu rumah tersebut dengan mudah. Dalam hatinya, Sakura sudah memiliki niat untuk meninggalkan Dirga tanpa sepengetahuan laki-laki itu.


Memasuki rumah kosong tersebut, anehnya Sakura tak melihat satupun arwah di dalam sana. Padahal, rumah ini kosong sudah bertahun-tahun, terasa begitu pengap juga, seharusnya banyak penunggu di sini. Dan keanehan itulah yang membuat Sakura menautkan kedua alisnya ketika menatap Dirga.


"Ini aneh, nggak ada satupun hantu di sini," kata Sakura.


"Maksud lo rumah ini cuma rumah kosong biasa?" tanya Dirga yang langsung mendapat anggukkan dari Sakura. Namun, mengingat cincin yang dia pakai, Dirga langsung mengarahkan tangan kirinya tepat di depan wajah Sakura. "Kalau gue buka, gimana?"


Sakura sampai memegang pelipisnya, meneguk salivanya kesulitan. Dia tengah memikirkan nasibnya jika arwah itu akan menyerangnya kembali. Dan dalam beberapa menit setelahnya, Sakura menganggukkan kepalanya, berharap arwah perempuan itu bisa membantunya memberikan petunjuk lebih. Lantas Dirga menyuruhnya untuk berdiri di sebelah kanan laki-laki itu, bahkan Dirga juga melebarkan tangan kanannya, supaya Sakura bisa memegang dirinya jika rasa takutnya berlebihan.


Cengkraman tangan Sakura terasa begitu kuat saat Dirga telah melepaskan sarung tangannya, menampilkan sosok yang membuat Sakura ketakutan. Diam beberapa menit, arwah perempuan itu sama sekali tak melakukan apapun, yang mana membuat Sakura berpikir jika dia tak akan mendapat serangan selama tak melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh arwah itu. Perlahan tangannya mulai terlepas dari lengan Dirga, mencoba untuk melihat ke arah arwah tersebut yang menunjuk ke salah satu arah.


Sakura mengarahkan tangan Dirga yang memegang ponselnya ke arah yang sesuai dengan tangan arwah itu. Keduanya bergerak menuju objek yang ditunjuk oleh arwah tersebut. Sebuah sofa adalah objeknya.


"Ga, dia minta lo duduk," kata Sakura.


"Kenapa?" tanya Dirga.


"Gue nggak tau, tapi udah nurut aja,"

__ADS_1


Dengan helaan nafas, akhirnya laki-laki itu menurut untuk menduduki sofa. Beberapa detik, tak ada sesuatu yang terjadi, tak juga menimbulkan sebuah petunjuk apapun. Sampai-sampai keduanya juga kebingungan maksud dari arwah perempuan itu menyuruh Dirga untuk duduk. Hingga laki-laki itu menyandarkan tubuhnya, Dirga seperti seseorang yang kemasukan sesuatu, membuatnya kembali mendapat bayangan aneh yang menyesakkan dadanya. Tatapannya langsung terarah pada Sakura sebelum membuka mulutnya.


"Kayaknya dia korban pemerkosaan,"


__ADS_2