
"Apa terlalu mencolok?"
Sakura menatap cermin di hadapannya, memastikan dandanannya malam ini tak terlihat memalukan. Tentu saja, Sakura ingin sisi cantiknya pada laki-laki itu. Lantas dirinya menarik tas selempangnya, membawa tubuhnya keluar dari kamar.
Wajahnya menampilkan senyuman cerah, sempat berdiri di depan kaca rumah guna memastikan penampilannya adalah yang terbaik. Mengingat kejadian yang menimpanya karena memesan taksi online, ada rasa takut dalam dirinya untuk memesan transportasi itu lagi. Sebab itu, Dirga sendiri yang akan menjemputnya, tak peduli jika arahnya berlawanan dengan tujuan keduanya.
"Gue deg-degan banget," ucapnya pada diri sendiri.
Sakura duduk di kursi depan rumahnya, sepuluh jarinya terasa begitu dingin menanti Dirga menjemputnya. Ah, Sakura sengaja menunggunya di teras rumah, lantaran Dirga tak ingin Sakura mengalami hal yang serupa seperti saat ia diculik kala itu. Mengingat semua perintah itu, membuat Sakura tersenyum senang. Rasanya, dia belum pernah sebahagia ini diperhatikan oleh laki-laki.
Sedangkan di lain tempat, Dirga juga sudah keluar dari rumahnya guna menjemput Sakura. Melakukan hal yang sama, Dirga memastikan penampilannya tak tampak buruk sebelum bertemu dengan Sakura. Bahkan, dia menggunakan parfum dengan aroma yang berbeda dari sebelumnya. Makan malam ini tak boleh berantakan atau meninggalkan kesan buruk.
Sekilas memerika waktu saat ini, dia juga telah memberi kabar pada wanita itu tentang keberadaannya. Dirga rasa tak akan banyak waktu untuk tiba ke rumah Sakura, lantaran jalanan yang juga tidak begitu ramai. Apalagi ini sudah malam, tak banyak orang yang berniat untuk keluar—walaupun masih belum terlalu malam.
Sampai akhirnya Dirga tiba di depan gerbang rumah Sakura. Laki-laki itu segera memberi tanda pada wanita yang hanya meletakkan fokusnya pada layar ponsel. Lantas maniknya menangkap Sakura yang berjalan masuk ke dalam mobilnya.
"Lo nggak suka ya gue ajak malem-malem begini?" tanya Dirga disaat melihat air muka Sakura yang tak meyakinkan baginya.
"Terus, lo mau batalin gitu aja, walau gue udah serapi ini?"
__ADS_1
Dirga sampai menelan ludahnya, dia merasa pertanyaannya tadi seharusnya tidak dia ucapkan di hadapan wanita itu. Pun dengan cepat Dirga menggeleng disertai dengan tangan yang melambai, menandakan jika laki-laki itu tak akan membatalkannya begitu saja. Dirga tetap melajukan mobilnya ke tempat yang menjadi tujuan mereka.
Sedari tadi tidak ada obrolan apapun diantara keduanya. Dirga hanya sibuk menyetir dan Sakura lebih memilih untuk melihat pemandangan di luar jendela—walaupun objek yang bisa dilihat lantaran keadaan langit yang sudah gelap. Dan sekarang, tendangan keduanya hanyalah orang-orang yang mendatangi restoran ini. Iya, mereka berdua akan makan malam.
"Rasanya aneh," kata Sakura.
"Aneh kenapa? Mau pindah tempat aja?" tanya Dirga.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, dia bukan bermaksud membicarakan restoran yang dipilih. "Bukan restorannya, tapi suasana kita sekarang ini," ucap Sakura. Kedua matanya mengitari ke seluruh sudut ruangan yang terlihat indah. Wajahnya juga tersenyum cerah, seakan sedang menggambarkan suasana hatinya saat ini. "Suasana yang udah lama nggak gue rasain lagi," katanya lagi.
"Kalau gue boleh tau, kapan terakhir kali lo ngerasain hal ini?" tanya Dirga.
Sakura tak langsung menjawabnya, mencoba untuk melakukan ingatan selamanya ketika dia merasakan hal seperti ini di masa. Dia sedikit mendesis kala ingatan itu hampir hilang di kepalanya.
Mulut Dirga terbungkam, dia terkejut dengan jawabannya katakan oleh wanita di depannya. Karena memang sudah begitu lama, bahkan usia Sakura saat ini sudah dua kali lipatnya. Pun laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya sebagai respon dari jawaban Sakura.
Entah kenapa, Dirga jadi ingin tahu tentang keluarga Sakura. Pasalnya, selama dia mengenal wanita itu, tak pernah sedikit punya sakura membalas tentang keluarganya. Awalnya, Dirga pikir Sakura memiliki hubungan yang kurang baik dengan anggota keluarganya, tapi melihat dia menangis di depan makam kedua orang tuanya, Dirga rasa dugaannya itu tidak benar.
"Lo cuma dua bersaudara?"
__ADS_1
"Iya. Gue cuma punya satu adik laki-laki,"
Memang agak sedikit ragu, tapi dia nggak mencoba untuk mencari tahu tentang penyebab kedua orang tua dan adik Sakura meninggal. Dia mencoba untuk menggunakan kalimat yang sekiranya tidak membuat hati wanita itu terluka.
"Pasti mereka udah bahagia di surga. Mereka berdoa buat kebaikan lo. Hidup yang bahagia di dunia ini," kata Dirga.
"Orang tua, adik gue meninggal karena kecelakaan mobil," Sakura tersenyum tipis, sedikit terbuka ketika mengingat kejadian tersebut. "Waktu itu, mereka baru aja nganter gue buat ikut ujian masuk perguruan tinggi. Tapi, nasib buruk justru dateng ke mereka," ungkapnya.
Dirga dapat melihat kerinduan yang terpancar dari wajahnya. Ada sedikit penyesalan untuknya bertanya, tapi setidaknya ada harapan juga buat Dirga bisa membuat wanita itu tersenyum. Dia ingin membuat Sakura tersenyum tanpa mengingat kejadian masa lalunya. Bukan untuk melupakan kenangan tersebut, Dirga sendiri sangat yakin hal itu tak akan terlepas dari ingatan Sakura. Namun, dia ingin membuat kenangan baru yang juga tak bisa terlepas dari ingatan wanita itu.
"Apapun penyebab kematian mereka, jangan jadiin hal itu penghalang lo buat bahagia," Dirga menjeda kalimatnya, dia menarik nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Jangankan mereka, gue juga pengen lo bahagia. Karena itu, lo harus ada di deket gue. Kayak permintaan gue sebelumnya, buat kenangan baru bareng gue. Sampai lo lupa caranya buat sedih," pungkasnya.
Sakura mengangkat wajahnya menatap laki-laki yang tersenyum lembut ke arahnya. Memberikan penuturan yang bahkan membuat Sakura tak bisa menimpali kalimat tersebut. Semua ucapan Dirga membuat Sakura sedikit merasa lega. Dia tak sama sekali tak pernah menceritakan tentang keluarganya kepada siapapun yang pernah ditemui. Tapi, menceritakannya pada Dirga membuatnya percaya seutuhnya pada laki-laki itu.
Lantas wanita tersebut menganggukkan kepalanya. "Oke, gue percaya. Tapi, sampai lo bohong, gue minta bokap gue buat narik lo ke dalem tanah," timpal Sakura.
"Hey, hey, ancaman lo ngeri,"
Sakura tertawa, yang mana membuat Dirga juga ikut tertawa. Candaan itu membuat obrolan keduanya semakin dalam dan santai, seakan melupakan rasa canggung karena untuk pertama kalinya merasakan momen seperti ini.
__ADS_1
Akan tetapi, ketika keduanya terlalu larut dalam obrolan, secara mendadak Sakura terkejut dan membuat wanita itu terdiam. Entah datang dari mana arwah perempuan itu bisa berada di dekat mereka. Padahal, Sakura melihatnya dengan jelas jika tangan Dirga telah tertutup. Dengan cepat ia mengatakannya pada Dirga untuk membahas masalah yang mereka hadapi saat ini. Ya, selain tak ingin mendapat serangan lagi, Sakura tak mau jika acara makan malamnya bersama Dirga mendadak hancur karena keberadaan arwah perempuan tersebut.
"Bisa-bisanya dia ganggu diwaktu momen begini," kesal Dirga dengan suara lirih serta mata yang berputar jengah.