
Hari ini Sakura dan Dirga akan mengunjungi kembali tempat yang sebelumnya mereka datangi. Sakura tengah menunggu kedatangan laki-laki itu di depan rumahnya seorang diri. Bersandar pada dinding pagar dengan ponsel sebagai pengisi rasa bosannya.
Belasan menit menunggu, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Namun, Sakura sama sekali tak tertarik akan mobil yang tidak dia kenali itu. Tetapi, mobil tersebut juga sama sekali tidak beralih dari hadapannya, membuat Sakura semakin tidak nyaman dibuatnya. Dia menurunkan ponselnya, bersiap untuk berlari disaat perasaannya mulai tidak enak.
Wanita itu sama sekali tidak meletakkan pandangannya pada mobil tersebut. Dia tak mau jika terlihat takut dengan mobil tersebut—walau pada kenyataannya memang Sakura takut. Pun dia memasukkan ponselnya ke dalam tas, bersiap lari guna menghindar.
Dugaannya memang benar, jika mobil tersebut mengincarnya. Entahlah, Sakura tak tahu siapa orang-orang yang berada di balik topeng hitam itu. Dia membawa kedua tungkainya berlari dengan kecepatan tinggi. Hanya saja, dia seorang perempuan yang tak sebanding dengan banyaknya laki-laki berbadan besar yang saat ini mengejarnya. Dia tertangkap oleh mereka.
"Hahaha,"
"Hahaha,"
Hanya suara tawa yang dapat terdengar rungu Sakura. Wajahnya telah tertutup rapat dengan kain hitam, serta kedua tangan dan kakinya yang terikat kuat.
"Siapa kalian?! Lo semua pengecut tau, nggak. Pada nggak berani tunjukin wajah kalian!!"
Siapa sangka, memberontak justru semakin membuat dirinya berada dalam bahaya. Wanita itu mendapat pukulan yang cukup keras, hingga membuat dirinya merasakan rasa perih di bagian bibirnya. Sakura juga mampu menghirup aroma darah. Dia hanya bisa merintih kesakitan, namun suara rintihan itu disalahartikan oleh sekelompok laki-laki di sana.
Sakura malah mendapat sentuhan-sentuhan tak berdasar oleh para laki-laki itu, yang mana membuat Sakura yakin jika dia adalah korban selanjutnya. Sama seperti perempuan yang saat itu dia tolong bersama Dirga, korban kekerasan dan pelecehan. Dia tak akan berbohong, jika rasa takutnya semakin besar, apalagi disaat perempuan itu mengatakan sulit untuk keluar dari tempat itu.
Wanita itu sekali lagi berteriak meminta untuk dilepaskan, hanya saja dengan kurang ajarnya mereka malah melepas seluruh kancing pakaian Sakura, hingga membuat tubuhnya mulai terlihat. Sayangnya, usaha Sakura sama sekali tak membuahkan hasil apapun karena tangan dan kakinya yang terikat kencang. Ya, dia hanya bisa menangis, ketakutannya sudah tak dapat dia kendalikan. Sakura begitu pasrah dengan nasibnya hari ini.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu, tangisannya masih belum berhenti, yang mana bersamaan dengan mobil tersebut yang berhenti. Suara gaduh mulai terdengar, tubuhnya terguncang ketika ditarik dengan kasar untuk keluar dari mobil itu. Sungguh, Sakura tak bisa melihat apapun, hanya aroma rokok yang terbakar yang bisa dia rasakan.
Tubuhnya dibanting begitu saja, suara teriakannya tak bisa tertahankan lagi. Sakura merasakan tubuhnya bersama dengan orang-orang yang bernasib sama dengannya.
"Barang baru?" tanya seorang laki-laki.
"Iya, bos. Dia punya darah Jepang,"
"Orang Jepang, ya," laki-laki itu berjongkok tepat di depan Sakura. Menyentuh dagu wanita itu, lantas menuruni hingga melewati celah di antara kedua dada Sakura, dan berhenti pada perut ratanya. "Barang bagus. Pisahin dari yang lain!" katanya yang memberikan perintah pada anak buah.
Lagi dan lagi, Sakura kembali digendong ke tempat yang sama sekali tak ia ketahui. Sungguh, mendengar percakapan mereka sudah membuatnya putus asa. Bahkan, sampai tangisannya tak mengeluarkan air matanya lagi.
Dan di tempat terpisah dan sunyi ini, dia mendengar suara langkah yang mendekat ke arahnya. Sampai berjam-jam, penutup matanya tak dibuka, hanya suara yang ia dengar. Lebih parahnya, laki-laki itu menyentuh tubuh atasnya yang sudah terbuka. Sakura sempat melontarkan umpatan, sayangnya dia justru disiksa, menampar pipinya beberapa kali hingga terasa begitu panas.
...****************...
Mobil Dirga telah berhenti di depan rumah Sakura, dia menunggu lebih dari tiga puluh menit, dan tak ada respon apapun dari wanita itu. Pun ponselnya tak bisa dihubungi sama sekali. Dia memilih untuk turun dan memeriksa sendiri ke rumah Sakura. Hanya saja, pagar rumah Sakura telah terkunci. Khawatir sesuatu terjadi di dalam, Dirga melompati pagar rumah yang hanya sebatas perutnya. Pribadi itu mengetuk berkali-kali pintu rumah Sakura, namun tak ada respon apapun dari dalam.
"Nggak biasa banget Sakura begini," herannya seraya menghubungi Sakura—walaupun tanpa adanya jawaban apapun.
Dirga berjalan keluar, melihat ke arah sekeliling daerah tersebut, tak menampilkan adanya tanda-tanda Sakura di sana. Begitu kesal lantaran Sakura tak dapat dihubungi. Dia sampai bertanya pada beberapa orang, namun tak ada yang melihat keberadaan Sakura.
__ADS_1
"Permisi, mas,"
Suara seseorang mengalihkan atensinya. Seorang laki-laki yang seusia dengannya datang dengan membawa tas selempang berwarna abu-abu yang dipadu dengan oren.
"Mas, ini tasnya Mbak Sakura, saya temuin di depan rumah saya. Dompet dan ponselnya masih aman, mas," kata salah satu laki-laki yang merupakan tetangga Sakura itu.
Dengan seluruh kebingungannya, ia menerima barang tersebut. Tatapannya terarah pada tas selempang tersebut. Buru-buru Dirga membuka isi dari tas wanita itu, memeriksa sesuatu yang mungkin menjadi petunjuk baginya. Hanya saja, tak terdapat apapun yang bisa membantunya. Pasalnya, waktu semakin mendekati malam, dia khawatir sesuatu terjadi pada wanita itu.
Dirga mencoba untuk berpikir, menggunakan imajinasinya guna menemukan Sakura. Ditambah keberadaan tas Sakura yang berada jauh dari rumahnya. Hanya selang beberapa menit, Dirga bangkit dari tempat duduknya, dia bergegas masuk ke dalam mobil ke tempat yang menjadi tujuannya dengan Sakura sejak awal. Dan hal ini dia juga akan mengajak Ryan. Sekalian saja dia membongkar akan perbuatannya.
Laki-laki itu telah menghubungi Ryan untuk membawa sepupunya itu pergi bersamanya mencari Sakura. Akhirnya, mereka berdua bertemu di jalan yang menuju ke tempat tujuan. Ryan banyak tanya perihal Sakura, namun Dirga sama sekali tak menimpalinya, lantaran dia juga tak tahu dan hanya mengkhawatirkan wanita itu.
"Kenapa kita nggak langsung bawa polisi aja?" tanya Ryan.
"Nggak bisa, gue takut kalau mereka denger ada banyak polisi, Sakura bakal disakitin duluan. Bukan cuma ada Sakura di sana, banyak perempuan juga disekap di sana," tuturnya.
"Gila banget tu orang!"
Dirga sekilas memperhatikan air muka Ryan. Sepupunya itu tampak sangat marah dengan penjelasannya. Namun, Ryan tak akan tahu jika dia akan membawanya ke markasnya. Batin Dirga hanya melemparkan umpatan pada Ryan yang berpura-pura kesal akan hal tersebut.
Sampai pada akhirnya, Dirga dan Ryan telah berada di area tersebut. Akan tetapi, Ryan justru tampak kebingungan dan asing dengan tempat ini. Seakan, dia tak mengetahui apa-apa perihal tempat yang didatangi keduanya.
__ADS_1
"Tunjukin di mana lo sembunyiin Sakura," kata Dirga dengan suara tegasnya.