APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 96.Hidup Baru


__ADS_3

Dua minggu Kinan habiskan waktunya untuk berlibur bersama suaminya.


Hari ini mereka memulai hidup baru di rumah yang baru pemberian Bertha.


Sebenarnya Yanto sudah memiliki rumah sendiri tapi demi menghargai niat baik dari keluarganya iapun rela tinggal di rumah itu.


"Sayang kok bengong?" tanya Yanto lembut.


"Maaf ya mas kita tidak jadi tinggal di rumah yang sudah kamu siapkan."


"Tidak apa-apa sayang kita bisa kesana jika kamu mau."


"Benarkah?"


"benar dong sayang masa bohong, nanti rumah itu bisa tempat untuk anak kita jadi tidak perlu merasa bersalah gitu."


Hidup baru di mulai dengan semangat baru akan membawa hal yang baru pula.


Cinta tidak pandang bulu, cinta tidak dari harta, tapi dari hati yang tulus dari hati.


Sementara itu Edo dan Andre sedang berada di dalam mobil menuju sekolah.


Gilbert seperti biasa menggoda Andre sehingga kesal dan kadang tertawa terbahak-bahak membuat Edo tertawa melihat reaksi putranya.


Saat ini hubungan Edo sudah kembali hangat seperti dulu, saat pulang sekolah dia minta papinya yang jemput karena mau ikut ke kantor.


"Ok boy, baik belajar nanti om dan papi akan jemput."


"Awas ya tidak boleh terlambat, T e r l a m b a t."


Andre mengeja kata terlambat membuat dua pria dewasa itu tertawa.


"Anak kamu menggemaskan tahu nggak?"


"iya tahulah orang aku bapaknya."


"Iya... ya... aku lupa, aku kira anakku."


"Makanya kamu cari istri biar punya anak."


"Aku masih takut Do,takut tidak akan menerima kedua orang tuaku yang sakit."


"Soal biaya kamu tidak perlu kwatir, aku jamin mereka aman."


"Selain biaya aku takut jika istri aku nanti tidak bisa menerima, iya misalnya merawat mereka."


"Tapi sampai kapan perasaan itu akan hilang, kedua orangtua kamu butuh cucu yang bisa penyemangat mereka, jika kamu seperti ini terus mereka akan merasa bersalah."


"Ah... aku tidak tahulah, pusing tahu dapat cewek cantik dan baik."


"Masa kamu kalah sama Kinan."


"Dia saja dapat pendamping yang bisa menerima segala kekurangannya."


"Iya juga iya, tapi namanya jodoh."


"Kamu mau nggak sama cewek yang ngurus butik itu."


"Tapi apa dia mau menerima kedua orang tua aku?"


"kamu dekati dia dulu dan jujur akan keadaan kedua orangtua kamu."


"Iya sih dia juga cantik dan baik hati juga."


"Vera kamu tidak suka?"


"tidak ah, terlalu caper."


"Kamu susah terlalu banyak milih yang ada kamu tua,atau mau di sebut panglatu?"


"panglima lajang tua."


"Apa?"


"tega amat sih sama teman sendiri."


"Makanya jangan terlalu milih."


"Iya... apa yang kamu pikirkan istri cantik dan baik pula."

__ADS_1


"Iya tapi jangan kamu lupa kalau aku juga harus bisa menerima semua hidupnya yang tidak mudah."


"Iya juga sih."


Karena asyik bicara tanpa terasa mereka sudah sampai di kantor.


Segera mereka turun dan berjalan menuju ruangan masing-masing.


Edo menyelesaikan pekerjaannya karena nanti harus jemput Andre dari sekolah.


Gilbert masuk untuk segera jalan untuk pertemuan mereka dengan teman bisnisnya.


"Ayo waktunya sudah mepet,"ucap Gilbert setelah masuk ke ruangan Edo.


"Baiklah, aku tidak mau kita terlambat menjemput Andre dari sekolah, yang ada aku di semprot."


"Takut amat sama anak sendiri."


"Iya kamu tidak tahu rasanya di cuekin oleh anak sendiri sih."


"Aku tahu kok."


Saat ini mereka sudah berada di sebuah cafe untuk menemui seseorang dan ternyata sudah menunggu mereka.


Sebenarnya tidak ada yang sangat penting tapi mereka sudah lama tidak berjumpa, karena dari perusahaan masing-masing sudah ada yang menangani.


"Selamat pagi pak, maaf sudah lama menunggu,"ucap Edo sopan.


"Tidak masalah, oya bagaimana nampaknya semakin sukses ya."


"Bapak bisa saja, bapak yang lebih sukses."


"Iya dari segi materi memang bapak sukses nak Edo tapi dalam hidup bapak sudah gagal."


Pak Ando memiliki dua anak tapi putranya satu tahun yang lalu kecelakaan hingga saat ini belum bisa berjalan, sedangkan anak gadisnya karena terlalu manja akhirnya menikah muda, karena telah mengadung terlebih dahulu.


Saat ini pak Ando mengajari putrinya untuk terjun ke perusahaan, sementara menantunya masih kuliah untuk mengambil dokter spesialis saraf.


"Pasti ada jalan untuk lebih baik pak," ujar Edo yang tidak tahu harus bilang apa.


"Iya bapak percaya itu nak, tolong selalu doakan anak saya."


Setelah mereka hampir dua jam bercerita Edo pamit untuk berangkat ke sekolah Andre.


"Pak maaf ya kami harus pulang karena harus jemput anak saya ke sekolah."


"Oya... tidak apa -apa nak, Trimakasih sudah mau menemani bapak,banyak salam sama anak kamu."


Setelah Edo dan Gilbert pergi, mereka langsung menuju sekolah Andre.


Mereka sampai tapi Andre belum keluar, masih sekitar setengah jam lagi.


Banyak hal yang mereka bahas tentang pekerjaan dan juga tentang pertemuan mereka tadi.


"Aku tidak menyangka seorang pebisnis handal harus mengalami keterpurukan seperti itu."


"Namanya juga takdir hidup Gil."


"Iya juga termasuk keluarga aku ya, aku tahu kadang hidup ini sebuah lelucon, tapi lelucon yang menyakitkan."


"Sudahlah aku malas ngomong sama kamu, akhirnya kamu jadi raja drama."


"Ah... kamu sih tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan dan alami selama ini."


"Iya sudah kita bahas yang lain saja,oya apa itu Andre?"


"iya, itu Andre."


Edo segera turun dan mendekati putranya yang lagi bercerita dengan seorang gadis seusia anaknya.


"Jagoan papi."


"Eh... papi sudah datang, kenalin ini teman Andre pi."


"Nama aku Ria om."


"Iya kamu pulang sama siapa?"


"belum tahu om, tante aku lagi sakit."

__ADS_1


"Iya sudah om antar ya."


"Boleh deh om dari pada naik ojek aku takut."


"Kedua orang tua kamu di mana?"


"Sudah meninggal dunia om."


"Terus kamu tinggal sama siapa?"


"tante aku om, tadi pagi di serempet mobil, tapi mobilnya main pergi saja."


"Terus siapa yang nolong tante kamu?"


"bu guru yang anter om."


"Iya sudah kita permisi ke bu guru dulu,baru kita berangkat."


"Ibu guru kami yang antar Ria ya."


"Tapi tantenya masih di rumah sakit, terus Ria di bawa ke mana?"


"kami ke rumah sakit dulu, jika tidak ada tempat selain di rumah sakit biar Ria ikut di rumah kami."


"Baiklah pak."


Edo akhirnya menemui tantenya Ria di rumah sakit.


Kondisi tubuh Lira tantenya Ria,sangat memprihatinkan dan tidak mungkin bisa pulang dalam kondisi seperti itu.


"Baiklah kami akan bawa Ria ke rumah dia teman kelas Andre anak saya."


"Trimakasih pak sudah menolong keponakan aku."


"Sama-sama, kamu istirahatlah dan masalah biaya kamu tidak usah kwatir saya akan mengurus semuanya, yang penting Kamu cepat sembuh kasihan Ria."


"Trimakasih pak, saya tidak bisa membalas semua kebaikan bapak."


"Iya sudah kami tinggal dulu ya."


Selepas kepergian Edo dan Gilbert Lira menangis haru.


Sementara itu Edo tersenyum bahagia karena dia punya rencana untuk Gilbert.


Saat ini mereka sudah sampai di rumah, Andre tidak jadi ikut ke kantor, Ria sangat takjub melihat rumah besar dan megah milik Andre.


"Rumah kamu besar bangat An."


"Iya ini milik kakek papi aku kok."


"Tante kamu kerja apa?"


"Kerja di restoran sambil kuliah."


"Terus kamu sama siapa di rumah?"


"sendiri An."


"Rumah kami di perumahan yang ramai, tapi aku tidak pernah bermain bersama teman di sana, tante aku tidak ijinin."


"O... gitu, iya sudah kita masuk yo pasti papi sudah menunggu kita."


"Hai... sayang siapa nama kamu?"


"Ria tante."


"Anak pintar, kamu duduk dulu ya biar kita makan."


Ria anak yang pintar dan mandiri, jadi beberapa hari tinggal di rumah Andre tidak merepotkan sama sekali.


Hari ini Ria akan pulang karena tantenya sudah boleh pulang dari rumah sakit.


"Trimakasih om, tante," ucap Ria sedih.


"Sama-sama sayang."


Gilbert menjemput lira dari rumah sakit atas perintah Edo.


Dan sekarang mereka sudah berada di rumah kecil milik papa dan mama Ria.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2