
Bertha yang merasa dirinya sudah sehat, akhirnya meminta untuk segera pulang, sebenarnya bukan karena dia tidak mau liburan lama,
hanya dia kasihan pada Edo yang pekerjaannya akan menumpuk.
Hari ini mereka sudah bersiap untuk pulang setelah perdebatan yang cukup lama.
"Besok pagi kita pulang saja ya, aku sudah rindu sama Joni, ucapnya agar Edo mau menurutinya.
Lagian aku sudah sembuhkan?"
Edo yang merasa bahwa Bertha hanya beralasan tidak segera menjawab.
Dengan berpura -pura sibuk dengan pekerjaannya.
Dia menutup leptopnya dan kemudian berjalan mendekati Bertha dan Edo duduk disamping Bertha.
"Apa kamu sudah bosan sayang bersama aku disini? aku tahu itu hanya alasanmu."
Bertha yang mendengar jawaban Edo seketika terdiam, kenapa setiap alasan yang aku buat dia tahu ya, gumamnya dalam hati.
"Aku tidak alasan yang, benar sudah kangen banget sama Joni jawabnya untuk menyakinkan Edo."
Edo kemudian memeluk Bertha sambil berkata "sayang kamu tahu apa pun yang kamu inginkan sulit untuk aku menolaknya,
tapi aku masih mau bersamamu disini, masalah rindu sama Joni biar nanti dia dibawa kesini."
Edo juga berusaha menahan keinginan Bertha.
Bagi Edo dengan menghabiskan waktu yang sudah disepakati bersama papa Aldo dan dokter membuat Bertha benar -benar pulih,
jika suatu saat ada yang mengobrak-abrik jiwanya tidak akan kambuh lagi.
"Aku tahu yang," semua yang kamu lakukan demi kebaikan aku, jadi tolonglah ini juga demi kebaikan aku.
"Aku benaran rindu Joni,"dan disana aku janji tidak akan kemana - mana sebelum waktu yang sudah ditetapkan dokter dan papa."
Edo menatap dalam manik mata Bertha, dia tahu apapun yang dia katakan tidak akan membuat Bertha menyerah,aku lebih baik yang menyerah batin Edo.
"Iya sudah kita besok pagi pulang tapi dengan satu syarat bahwa dirumah juga kamu terus istirahat sampai dua minggu kedepan."
Bertha yang merasa sangat bahagia mendengar perkataan Edo kemudian mencium bibir Edo sekilas.
"Iya aku janji,kalau perlu aku ikut kamu kerumahmu jika kamu tidak percaya, asal kita jumpa adek dulu."
Edo hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bertha.
"Benar kamu ikut kerumah?"atau kita nikah aja yo sayang biar kita lebih bebas, ucap Edo.
"Aku sudah tidak sabar ingin memilikimu seutuhnya."
Bertha tersenyum mendengar perkataan Edo.
"Kamu selalu ajak aku menikah seperti ngajak mau kekampus saja,grutu Bertha."
Edo yang mendengarkan perkataan Bertha hanya terkekeh sambil memeluk Bertha dengan erat.
"Tapi aku serius sayang,aku mau kamu seutuhnya,atau kamu masih ragu untuk cintaku? "
Bertha yang merasa bingung apa dia harus menerima ajakan Edo hanya diam.
Dalam hati Bertha ingin menerima ajakan Edo tapi dia masih ingin bekerja dulu.
"Yang,bukannya aku meragukan cintamu tapi aku sudah pernah bilang aku mau kerja dulu."
Lagian bukannya setiap hari kita bersama terus ya? berarti aku milikmu yang tidak bisa disentuh oleh pria lain.
"Edo terkekeh kembali, aku ingin ini sayang ucapnya sambil menunjukkan harta Bertha yang paling berharga. "
Ih kamu mesum amat ucap Bertha sambil memukul Edo dengan bantal.
"Ih aku heran deh kenapa sekarang kadar mesummu meningkat drastis. "
"Ha... ha.."
__ADS_1
tawa Edo pecah mendengar perkataan Bertha yang mengatakan kadar mesum.
"Sayang itu karena aku pria normal, coba kalau tidak pasti aku tidak tertarik dengan ini ucap Edo sambil menunjukkan milik Bertha."
Atau jika aku pria belok pastinya aku suka dengan batang ubi kayu seperti milikku. Panjang lebar Edo menjelaskan bahwa dia seorang pria normal.
"Apa? ubi kayu?ucap Bertha dengan bingung."
"Iya sayang ubi kayu,"nanti kalau kita sudah menikah kamu akan tahu dahsyatnya ubi kayu ku.
Bertha yang merasa kesal atas perkataan Edo, mengerucutkan bibirnya.
"Sayang itu bibir kenapa? minta dicium iya?"ucap Edo yang sudah mendekati wajah Bertha.
Bertha dengan cepat memalingkan wajahnya,agar Edo tidak menciumnya.
"Eh... jangan jadi bebek dong,nyosor aja grutu Bertha. "
"Aih... dasar pacar songong pacar dibilang bebek, jika begini ganteng saja dibilang bebek bagaimana jika tidak?"
"Pastinya jadi unta ha..... ha..."tawa Bertha mengejek Edo."
Bertha yang melihat Edo akan menyerang,berlari untuk menghindar.
"Sayang kamu nakal iya ucap Edo sambil mengejar Bertha."
Edo yang memilik tenaga lebih dari Bertha, dengan mudah dapat menangkap Bertha.
"Ayo aku apakan kamu ha?"dicium atau mau menikmati batang kayuku?
"Nggak ada yang manapun," ucap Bertha tapi dengan cepat dia mencium bibir Edo sekilas yang kemudian melepaskan diri dari Edo.
Bertha kemudian duduk di sofa ruang tamu tempat dia berlari tadi.
"Aku capek yang,"ucapnya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Edo yang sudah duduk di sampingnya."
"Maaf sayang,"karena aku Kamu capek,ucap Edo sambil mengelus rambut panjang Bertha dengan lembut.
Edo kemudian membantu Bertha untuk berbaring di sofa dan berbantalkan pahanya.
"Tidur yang nyenyak sayang semoga kamu mimpi indah, dan kebahagiaan yang selalu menemanimu."
Setelah Edo melihat Bertha sudah tidur pulas, ia mengangkat Bertha untuk dipindahkan ke kamar.
Dibaringkanya tubuh Bertha diranjang dan kemudian menyelimutinya.
Edo mencium kening Bertha dan ia memilih keluar dari kamar Bertha.
Ia tidak mau sampai terjadi sesuatu kepada gadis yang sangat dia cintai itu.
Bagi Edo kebahagiaan Bertha sangat berarti baginya,maka sebisa mungkin dia akan menjaga Bertha baik dari dirinya sendiri ataupun orang lain.
........
Setelah membereskan semua barang mereka, degan bantuan supir yang sekaligus yang mengurus rumah singgah itu,sekarang mereka sudah berada dalam mobil.
Sebenarnya Edo bukan tidak bisa menyetir sendiri tapi dia tidak mau jika momen berdua akan terganggu.
Makanya jangan dia lebih suka memakai jasa seorang supir.
Saat dalam perjalanan Edo yang memilih untuk banyak diam,membuat Bertha merasakan sepi.
"Yang ada apa ya kok diam saja?"
"Tidak apa sayang, aku hanya ingin menikmati perjalanan ini,memang kenapa? ya kamu mau tidur?"
"sini ucap Edo sambil membaringkan Bertha pada kursi mobil berbantalkan pahanya."
Edo yang tahu Bertha dalam perjalanan harus berbaring dan dielus rambutnya maka Edo segera mengelus rambut panjang Bertha hingga membuat kita gadis itu cepat tertidur.
"Sayang kamu selalu menguji cintaku,"aku sungguh tidak kuat menahan hasratku jika kamu begini terus gumamnya dalam hati.
Lelah hanya dengan pikiranya akhirnya Edo ikut tertidur dengan tangan kanan menahan badan Bertha dan tangan kiri menahan kepalanya.
__ADS_1
Tapi karena nyenyak akhirnya tangan Edo terlepas dari kepala dan badan Bertha.
Saat mobil berguncang karena lubang di jalan membuat Bertha terbangun.
Edo yang juga terkejut akhirnya ikut terbangun.
"Maaf sayang kamu hampir terjatuh,tadi aku ikut tertidur pulas ucap Edo terbata -bata karena rasa terkejutnya."
"Tidak apa sayang aku hanya terkejut ucap Bertha agar Edo tidak merasa bersalah."
Maaf den,"ujar pak sopir karena "dengan lobang membuat majikannya harus terbangun.
"Tidak apa pak,"karena jalannya yang rusak ujar Bertha tulus.
Bertha menyadari bahwa itu bukan kesalahan pak sopir semata.
"Kamu minum dulu ya biar lebih tenang ujar Edo sambil memberikan air mineral,ucap Edo tiba-tiba."
Edo menatap Bertha dengan tulus,tidak pernah sedikitpun dia mau menyakiti Bertha.
Bertha menerima air itu lalu dengan cepat meminumnya sampai habis.
"Terimakasih ya yang ujar Bertha sambil tersenyum."
Beberapa menit kemudian mobil berhenti di sebuah rumah makan untuk makan siang.
Setelah mobil terparkir dengan sempurna,mereka turun untuk mengisi perut yang sudah minta di isi.
Bertha segera duduk dikursi yang kosong, sementara Edo memesan makanan untuk mereka.
"Sayang apa kamu lelah?"jika kamu lelah kita bisa istirahat dulu.
"Tidak yang,kita lanjut saja dirumah nanti bisa istirahat,tolaknya dengan halus."
Bertha sebenarnya sedikit lelah, mungkin karena baru ini mengadakan perjalanan jauh setelah sembuh.
Sewaktu mereka berangkat menuju rumah singgah, dia tidak bisa membedakan antara lelah dalam perjalanan atau karena kondisinya masih sangat lemah.
Tapi saat ini dia sudah merasa karena lelah dalam perjalanan.
"Iya sudah hanya aku tidak mau jika kamu kelelahan, sementara tidak ada yang kita kejar di rumah."
"Aku sudah tidak apa -apa, jadi jangan terlalu kwatir,grutu Bertha,karena merasa perilaku Edo yang selalu menganggap dirinya orang yang harus dikasihani. "
"Iya aku sudah tidak apa -apa sayang."
"Iya sudah yo kita berangkat ajak Edo lembut."
Mereka akhirnya meninggalkan rumah makan dan kembali kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Satu jam kemudian akhirnya mereka sampai di rumah papa Aldo.
Joni yang melihat kakaknya pulang berlari mengejar Bertha.
"Kakak adek rindu kakak ucapnya sambil memeluk kaki Bertha."
Akhirnya Bertha jongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan adiknya.
"Kakak juga sangat rindu kamu sayang ujar Bertha sambil memeluk adiknya."
"Apa kakak sudah
sembuh?"tanya Joni yang merasa sangat bahagia melihat kakaknya.
"Sudah sayang makanya kakak pulang, ujar Bertha sambil tersenyum."
Trimakasih ya Tuhan atas kesembuhan yang Engkau berikan untuk kakakku ucap Joni tulus.
"Iya sudah ya kita masuk dulu kakak mau istirahat ya, pamit Bertha pada adiknya itu. "
'Baik kakak,"aku tidak akan mengganggu kakak, selamat istirahat kakakku sayang, ucap Joni penuh semangat.
Bersambung
__ADS_1
Dukung terus ya dengan vote dan like.
Terimakasih