APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 103.perjalanan


__ADS_3

Hidup kita harus terus berlanjut, perjalanan panjang terpampang lebar di depan kita terkadang suka terkadang duka, terkadang kita di titik menyerah.


Perjalanan hidup Bertha dan Edo juga berlanjut, satu persatu orang yang dekat dengan mereka sudah mendapatkan kebahagiaannya.


Tidak ada satu orang dari mereka yang tidak punya masa lalu yang, semua memiliki perjalanan hidup.


Saat semua sudah mendapat kebahagiaannya Gilbert yang terakhir akhirnya mendapatkannya dengan menikah dengan gadis yang bisa menerima segala kekurangannya serta keadaan kedua orangtua Gilbert.


Hari ini adalah hari kebahagian itu kedua orang tua Gilbert menangis haru, tidak menyangka jika putra manja mereka sedewasa ini.


Semua diterima dengan ikhlas bahkan rela meninggalkan masa mudanya demi kuliah dan kesehatan kedua orang tuanya.


Bertha menatap satu persatu orang yang ada disana, rasa bahagia meliputi hati setiap orang yang berada di sana.


"Aku tidak menyangka jika aku sampai di tahap seperti ini, gumamnya dengan tetesan air mata kebahagiaan.


Aku memiliki semua, teman, Kekuarga dan semua yang mencintai aku dan keluarga."


Edo datang menghampiri istrinya, dia memeluk Bertha dengan erat.


"Sayang apa yang ada di dalam sini?" tanyanya dengan meraba dada Bertha.


"Apa sih pi? ganggu deh."


"Tadi aku lihat istriku seperti memikirkan sesuatu, makanya aku mengikutimu sayang."


"Aku hanya baghagia pi, aku tidak menyangka jika aku memiliki kebahagiaan seperti ini."


"Semua ada waktunya sayang, dan saat ini adalah waktu kita merasakan kebahagiaan itu."


"Iya.. pi,aku sangat bahagia pi."


"Aku lebih bahagia sayang, melihat istri tercintaku dapat merasakan kebahagiaan."


"Trimakasih sayangku ini semua berkat dukungan dari kamu."


"Sama -sama sayang ini adalah hasil dari kesabaran istriku ini."


****/////**///****


Beberapa tahun kemudian kehidupan Edo dan Bertha masih terasa hangat di tambah ketiga anak mereka sudah beranjak remaja.


Para pria dewasa sering berkumpul di akhir pekan.


Pesta kecil -kecilan, itulah istilah dari mereka.


Mereka membuat satu perkumpulan khusus dari pada pergi kedunia hiburan yang bisa membawa mereka tersesat.


Hari ini adalah akhir pekan di mana para suami sudah siap-siap.


Pino yang sudah berpakaian santainya juga sudah siap tiba-tiba isyrinya minta ikut.


"Sayang aku ikut.." ucapnya sambil tersenyum menggoda.


"Tapi disana hanya ada para pria sayang kamu nanti akan bosan."


"Tidak apa-apa sayang, aku tidak akan bosan percaya deh."


"Iya sudah yo kita berangkat, tapi jangan merengek untuk minta pulang ok."


"Siap bos."


Mereka akhirnya berangkat menuju tempat khusus yang sudah mereka buat yaitu ruangan yang sudah di buat oleh Edo senyaman mungkin.


Sampai di sana ternyata sudah ada Joni bersama istrinya, dan Gilbert bersama istrinya.


Pino yang heran akhirnya memilih untuk duduk di kursi yang kosong.


Di kursi pojok ternyata ada Kinan dan Rita bersama suaminya.

__ADS_1


Andre juga sudah duduk manis bersama istrinya,mereka baru menikah tiga tahun yang lalu.


Pasangan terakhir adalah Edo bersama sang tuan putrinya.


"Oh... jadi karena ini, kamu minta ikut ternyata kalian semua sudah janjian?"


Para wanita spontan tertawa memeluk pasangan masing-masing.


"Memang hanya kalian butuh hiburan? kami juga tahu," ujar Rita sebagai wanita tertua di sana.


Para pria saling pandang dan akhirnya tertawa bersama mereka mengingat drama para istri ketika minta ikut tadi.


"Sepertinya menarik, bagaimana jika acara ini kita buat bersama para istri kita, acara keluarga besar," usul Pino akhirnya.


"Aku setuju kak dari pada dapat drama setiap kita kumpul,iya mungkin lebih baik."


Para wanita sangat merasa senang, karena biarpun mereka ibu rumah tangga tetapi memiliki kesibukan masing -masing, jadi sangat jarang untuk berkumpul.


"Tapi mungkin tidak bisa setiap akhir pekan bagaimana jika dua kali seminggu dan di selanya untuk keluarga kita masing -masing."


"Ha... itu ide bagus, aku juga setuju,"ujar Pino kembali.


Acara hari ini mereka habiskan sekedar mengobrol, sambil menikmati cemilan yang sudah Bertha siapkan.


Jam sepuluh malam mereka pulang ke rumah masing-masing.


Sementara itu Andre dan adik -adiknya juga membuat acara anak muda.


Mereka ada sepuluh orang berlomba main tembak.


Andre yang tertua menemani adiknya, Dio, Andra anaknya om Pino , Kevin anak om Joni,Gio anak Gilbert, Rendi anaknya Revan,Yimo anaknya bibi Rita dan Jito anak bibi Kinan.


Selesai acara mereka, semua membersihkan diri karena sudah pada keringat.


Sementara para anak cewek juga membuat acara sendiri, mereka juga tidak kalah ramai.


Seli anak bibi Rita adalah gadis terbesar diantara mereka baru Dia.


Yang tersisa tinggal Andre dan kedua adiknya.


"Kak mau mencicipi kue buatan Dia tidak?"


"mau dong coba bawa sini."


Dia memberikan kue buatan mereka tadi.


"Enak banget dek sama ini kamu yang buat?"


"Iya kak tapi kasih resep dan yang ngajarin kak Seli."


"Enak banget kok dek, lanjut tuh belajarnya supaya bisa buat sendiri."


"Kakak serius kuenya enak?"


"serius dek, tuh tanya mami."


"Ada apa sayang?"


"mi cobain deh kue buatan adek."


Mami dan papinya mencoba kue buatan Dia.


"Iya benaran enak sayang," puji kedua orang tuanya.


Dio yang melihat keluarganya berkumpul akhirnya ikut bergabung dan mengambil apa yang mereka makan.


"Wah.. ternyata ada koki baru di rumah ini iya, enak banget Dia kamu curang yang seharusnya mencicipi pertama itu aku."


"Kenapa harus begitu coba?"

__ADS_1


"Yang kakak kembarmu itu aku, memang kamu lupa?"


"Peraturan apa itu?" protes Andre.


"Peraturan anak kembar,"jelas Dio.


"Mana ada begitu, ngawur K


kamu."


"Sudah-saduh tidak ada peraturan seperti itu kalian berdua itu kakaknya Dia."


"Papi senang putri papi pandai memasak,tapi untuk sekarang kita harus istirahat aja karena sudah larut malam."


"Baik pi, selamat malam semua,"Dia pergi duluan meninggalkan kita kedua orang tuanya yang di susul oleh kedua kakaknya.


Akhirnya semua penghuni rumah itu sudah masuk dalam mimpi indah.


Pagi hari semua keluarga sudah berkumpul di meja makan.


Andre mengambil makanan untuk adiknya Dia,sejak Dia sudah bisa makan sendiri dialah yang menemaninya sedangkan Dio karena sudah besar sudah ambil makanan sendiri tanpa maminya.


"Abang kok masih ambilin nasi tuh anak sih, diakan sudah besar bahkan di sekolah sudah ada cowok yang mengejarnya."


"Kamu mau biar abang ambilkan."


"Cih.... males aku itu sudah besar dan tidak manja seperti dia."


"Dua itu adik abang kok kamunya sewot."


"Loh adik aku juga bang."


"Iya sudah kenapa kamu sewot."


"Sudahlah ayo kita makan, kalian bisa terlambat kalau masih ribut terus."


"Tapi papi rasa ada benarnya juga bang, Dia itu sudah besar jadi biar dianya gambil makanan sendiri bahkan yang harus ngambil makanan abang itu iya gadis papi."


"Ah... papi malah ikutan, biar seperti ini pi."


"Baiklah tapi jangan terlalu di manjakan kasihan adekmu jika sudah dewasa tidak bisa urus suami."


"Apaan sih pi orang masih sekolah malah mikirin suami,"protes Dia.


Edo terkekeh melihat reaksi putrinya, sebenarnya dia hanya takut anaknya terlalu tergantung pada abangnya, kasihan dia akan kecewa jika mereka sudah dewasa dan sudah memiliki pasangan.


Akhirnya Edo memilih diam,dari pada Andre marah.


Setelah selesai sarapan Andre dan kedua adiknya masuk ke dalam mobil yang sudah ada kedua orangtua mereka.


Edo dan Bertha berangkat dan bekerja bersama.


Bertha ikut bekerja bersama Edo urusan kantor sudah sepenuhnya kak Pino dan Joni yang urus.


"Sayang... baik belajarnya iya jangan mikirin cowok dulu," ujar Edo sambil tersenyum.


"Iya papi aku belum ada pikiran kesana, Dio tuh yang sudah naksir cewek."


"Eh... kok aku mana ada ya."


"Sudah tidak usah ribut abang yang sudah naksir cewek."


Andre menengahi perdebatan kedua adiknya.


Bersambung


Hai....


kike dong....

__ADS_1


komentarnya mana..


__ADS_2