
Pagi ini Bertha dan Edo menuju ke kampus, Untuk mengikuti kuliah,Bertha yang sudah mulai berbaur dengan segala luka yang dia alami.
Berkat pertolongan iya psikolog yang selalu membantunya untuk tidak menahan segala beban hidupnya.
Berbagi cara disarankan kepada Bertha, salah satu yang selalu dilakukan oleh Bertha adalah melampiaskan segala rasa sakitnya dengan mencoret dalam kertas.
Setelah dia berjumpa dengan mamanya minggu lalu, setelah pulang dari kampus hari ini dia berjumpa dengan kakaknya yang sudah keluar dari penjara.
Saat Bertha keluar dari rumah untuk membeli sesuatu di toko dekat rumahnya, kakak dan mamanya menghadangnya.
Hai kamu kesini panggilnya kepada Bertha. Sebenarnya Bertha ingin menghindar tapi sebelum Bertha melangkah Kinan sudah duluan mebarik tangannya.
"Kamu pikir, bahwa semua telah selesai setelah kamu memasukkan aku ketahanan," dan melepaskan aku dari sana? ucapnya sambil mendorong Bertha.
Bertha yang tidak siap dengan tindakan kinan, terjatuh dan terguling jejalan, dan brukkkkk sebuah mobil yang melaju kencang menabrak tubuh Bertha.
Darah segar mengalir deras dari kepala dan tubuh Bertha.
Beberapa orang yang sedang makan dirumah makan sebrang jalan, segera berhamburan melihat apa yang terjadi.
Orang yang ada disana segera memboyong tubuh Bertha kedalam mobil yang menabraknya.
Bapak satpam yang melihat kejadian itu segera menelepon Aldo.
Saat Bertha lewat dari gerbang perumahan tempat dia tinggal, sempat menyapanya, dan masih jarak sekitar lima meter iya kejadian itu.
Bapak satpam menyaksikan semuanya bahkan masih mendengarkan apa yang mereka katakan pada Bertha.
Pak satpam berulang kali menghubungi Aldo tapi tak ada jawaban.
Sementara Bertha sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Sepuluh menit kemudian Aldo menghubungi balik no yang sudah tertera tiga puluh kali panggilan.
"Apa? teriak Aldo kaget setelah mendengar perkataan satpam tadi."
Tanpa terasa hand pond papa Aldo terjatuh,dari tangannya.
Segera papa Aldo meninggalkan ruangannya dan menuju keparkiran mobilnya.
Saat di depan lif, Pino dan Rita berpapasan dengan papa Aldo.
Melihat wajah omnya dengan air mata, segera menyapa.
"Om ada apa kok nangis?"dan kenapa buru -buru?
"Bertha kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit, ujar papa Aldo dengan suara gemetar."
"Apa om?ucap mereka serempak."
"Iya sudah kami ikut dengan om,"ujar Pino.
Mereka berangkat naik mobil papa Aldo, disepanjang jalan tidak ada suara dari mereka, hanya suara mesin mobil.
Sementara di rumah sakit, seorang pria paruh baya segara berlari nemanggil suster agar segera mengangkat tubuh Bertha.
__ADS_1
Perawat segera mendorong Bertha menuju IGD.
Saat seorang dokter keluar dari IGD, dan meminta persetujuan untuk operasi bagian kepala.
Saat itu juga papa Aldo tiba,dengan cepat papa Aldo mengukuti dokter untuk menandatangani semua berkas.
"Pino,panggil papa Aldo dengan bergetar, dan kemudian meneruskan ucapannya,apa yang harus om lakukan untuk mama kamu dan kinan?ucapnya emosi tapi tetap dengan suara gemetar."
"Apa maksudnya om? "
Iya ini semua karena mama dan adik Kamu kinan.
Kinan mendorong Bertha hingga dia terbalik kejalan,dan sebuah mobil yang sedang melaju kencang menabrak tubuh Bertha.
Pino dan Rita sangat terkejut mendengar perkataan omnya.
Pino menangis, dia sangat kecewa atas tindakan mama dan adiknya.
Saat hati dan pikiran mereka sibuk dengan pikiranya seorang perawat memanggil papa Aldo, agar mencari darah,o positif karena Bertha banyak kehilangan darah sehingga persediaan yang ada di rumah sakit tidak cukup.
Baik suster kami memiliki darah yang sama, silahkan ambil darah kami ucap mereka serempak.
Baik kalau begitu, mari ikuti saya, tapi tolong tetap dicari lagi,karena tetap masih kurang.
Pino dan Rita segera mengikuti perawat tadi untuk mengecek darah mereka.
Setelah dicek ternyata golongan darah Pino dan Rita sama, tapi tetap kurang.
Aldo segera menghubungi asistennya untuk mencari darah, siapa tahu ada karyawan yang memiliki darah yang sama Bertha.
Bagaimana dokter keadaan anak saya?tanya papa Aldo.
Operasi berjalan lancar, tapi..perkataan dokter terhenti karena tidak tega melihat wajah sahabatnya.
Dr. Preddi adalah teman SMA papa Aldo, selain papanya Edo.
kenapa Di? saat tanya Aldo tanpa embel -embel dokter.
"Bertha masih kritis Do, karena tadi dia banyak kehilangan darah."
"Dan dia harus dipindahkan keruangan ICU,"ucapnya lagi.
"Silahkan lakukan yang terbaik Di,ucap papa Aldo bergetar."
Air mata Aldo kembali membasahi pipinya, hatinya hancur, perlahan Aldo tersadar bahwa dia harus berdoa untuk putrinya bukan malah hanya menangis.
Sementara itu Edo yang berada di kantor merasa tidak tenang, tapi pekerjaannya sangat nenumpuk dan harus selesai hari ini.
Mencoba untuk serius tapi tidak bisa, dan akhirnya Edo meninggalkan ruangannya.
Edo yang mulai tadi menghubungi Bertha tidak bisa akhirnya memilih untuk mendatangi Bertha kerumah.
Saat di depan gerbang perumahan Bertha, satpm datang menghampiri Edo.
Satpam yang sudah mengenal Edo, bertanya bagaimana keadaan Bertha.
__ADS_1
"Eh.. nak Edo, kirain siapa, oh... ya sudah bagaimana keadaan nak Bertha?"
Edo yang tidak tahu apa -apa bingung untuk menjawab.
"Maksudnya apa ya pak?"memang Bertha kenapa? tanyanya semakin bingung.
"Loh nak Edo belum tahu kalau nak Bertha ada di rumah sakit,karena tadi didorong seseorang dan nak Bertha terbalik kejalan dan ditabrak mobil yang sedang melaju tinggi."
Edo segera pamit kepada pak satpam dan langsung menuju rumah sakit.
Sampai dirumah sakit, Edo langsung bertanya pada bagian informasi dimana Bertha dirawat.
Edo menuju ruang icu, dan benar saja papa Aldo, Pino dan Rita sudah duduk diruang tunggu.
"Om.. panggil Edo."
"Eh.. nak Edo ujarnya dengan tatapan yang senduh."
Bagaimana keadaan Bertha om?
Bertha sudah selesai operasi tapi dia masih kritis nak,air mata papa Aldo kembali menetes.
Edo juga tidak dapat menahan rasa sedihnya, air mata Edo berhasil lolos begitu saja.
Hari ini sudah tiga hari Bertha dalam tidak sadar,Papa Aldo dan Edo bergantian menjaga diruang tunggu, kali aja ada perkembangan dari Bertha, tapi sayangnya sampai saat ini belum ada perkembangan.
Saat ini papa Aldo sedang ada dirumah untuk beristirahat, ketika melewati kamar Joni,perlahan dia menghentikan langkahnya yang melihat Joni sedang menangis.
Papa Aldo masuk dan mendekati Joni,"ada apa nak?"tanyanya sambil merangkul pundak anaknya.
"Kakak pa,"ucapnya sambil menangis.
Kita berdoa terus ya nak, biar kakak cepat sadar, kita mohon berkat Tuhan untuk kakakmu.
"Iya pa, tapi aku rindu kakak, dan aku menyesal karena menyuruh kakak untuk membeli alat lukis pa, ucap Joni dengan sedih."
"Sudahlah nak, itu bukan salah kamu sayang, jadi jangan pernah menyalahkan diri sendiri ya."
"Sekarang kamu bobok siang ya, supaya cepat besar, ujar papa Aldo."
Joni mengangguk pasrah, dan segera naik keranjang untuk segera tidur.
Melihat Joni yang sudah tertidur, segera meninggalkan kamar Joni,dan masuk ke kamarnya.
Papa Aldo duduk sejenak dan kemudian berdoa demi kebaikan Bertha.
Kemudian Aldo membersihkan diri lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuknya.
Sore hari papa Aldo bersiap untuk menuju rumah sakit, agar Edo bisa pulang dan beristirahat.
Joni seedang duduk di samping? "ruang tunggu tanya papa Aldo pada pengasuh joni.
Iya pak, sudah berapa hari ini den Jonj sedih terus, sejak kakaknya masuk rumah sakit.
Bersambung.
__ADS_1
Bersambung.