
Setelah tiga bulan pernikahan anang kak Rita, Edo menagih janji pada Bertha.
"Can.. pernikahan kak Rita sudah tiga bulan kan, lagian ini sudah balik tahun, aku mau menagih janji sama kamu nic,soalnya waktu itu kamu janji kita akan menikah setelah salah satu kakakmu menikah."
"Ingat saja sih pagan... "
"Jelas dong bahkan aku mencoret kalender setiap hari loh."
"Apa? kaget Bertha dengan keras, dia tidak menyangka sebegitunya Edo mengajak dia untuk menikah.
"Kok kaget sih, aku itu sangat serius nih."
"Iya aku tahu."
"Makanya itu, memang kamu masih ragu dengan aku ya, kok sepertinya kamu berat banget untuk mengambil keputusan."
Ada rasa kecewa di hati Edo, setelah mendengar perkataan Bertha.
Edo bangkit dari duduknya lalu meninggalkan kita Bertha sendiri.
Edo menarik nafas dalam lalu melepaskannya dengan kasar, tampak diatas burung beterbangan kesana kemari.
Bertha yang melihat Edo menjauh, ikut bangkit dari duduknya lalu menyusul Edo.
,Kamu marah,ucap Bertha sambil memeluk Edo dari belakang.
Edo hanya diam, dia tidak mau membuat wanita yang sangat dicintainya terluka karena perkataannya.
"Kamu marah?"tanya Bertha sekali lagi, lalau melepaskan pelukannya.
"Aku tidak marah, tapi jujur aku Kecewa dengan jawabanmu."
"Maaf,"hanya itu yang terucap dari bibir mungil Bertha.
"Kenapa kamu minta maaf?mungkin kamu yang benar, menganggap hubungan kita hanya sebatas pacaran saja,hanya untuk mengisi kekosongan hati mu."
"Bukannya begitu, aku tidak pernah menganggap kamu seperti itu, aku juga sangat mencintai kamu, tapi entahlah aku rasanya belum siap, bayang-bayang masa lalu selalu nenghantuiku."
"Apa aku pernah menyakiti hati kamu? bahkan masa lalu kamu, kaitkan dengan cintaku."
"Bukannya itu, pengalamanku di masa lalu, bukan pengalaman bersama kamu.
Dengan kamu mana aku berani melakukan itu, bahkan kamu lebih peduli dari pada orang yang membuat aku hadir di dunia ini."
"Iya sudah kalau memang kamu belum siap aku tidak memaksa, iya sudah kita pulang."
Edo berjalan tanpa menunggu Bertha yang sedang mengambil tasnya di tempat mereka duduk di tadi.
Di mobil Edo tidak seperti biasa, dia hanya diam hingga sampai di depan rumah Bertha.
Ketika Bertha sudah turun, Edo langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Karena Edo membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi maka tidak perlu membutuhkan waktu lama dia sudah sampai di rumahnya.
Tanpa membersihkan diri Edo langsung merebahkan tubuhnya diranjang empuknya.
Sampai setengah jam Edo tidak bisa memejamkan matanya, lalu bangkit menuju dapur untuk mengambil minuman dingin, dan langsung menegukknya.
Edo melihat di meja makan masih tersedia makanan, lalu duduk untuk segera menikmati hidangan tersebut,karena sejujurnya dia memang sangat lapar.
Sehari Bertha menunggu telepon dari Edo, tapi sampai tengah malam tidak juga.
Akhirnya Bertha yang menghubungi Edo, tapi dari seratus panggilannya satupun tidak ada jawaban.
Bertha akhirnya menyerah dan berusaha untuk memejamkan matanya.
Pagi hari Bertha langsung menyusul Edo kerumahnya, tapi Edo tidak ada, kata asisten rumah tangga Edo lagi di luar kota.
Tiga hari Edo tanpa ada kabar membuat Bertha sangat frustrasi.
Bertha berencana mencari angin, lalu berjalan menuju jalan raya tanpa ia sadari ada mobil yang sedang melaju kencang, membuat Bertha meringkuk karena takut.
Tapi sebelum mobil menghantam tubuh Bertha Edo terlebih dahulu menarik Bertha.
"Apa yang kamu lakukan di tengah jalan seperti ini? ucap Edo mmembentak Bertha."
Bertha yang mendapat bentakan dari Edo,hanya diam.
Edo sadar dengan ucapannya langsung memeluk Bertha dengan erat.
__ADS_1
"Maafkan aku, tadi itu hanya refleks karena aku terkejut melihat kamu."
Edo yang sengaja mau mengunjungi Bertha di bukit, melihat Bertha berjalan dengan langkah gonta,langsung mengikuti Bertha dari belakang.
Edo yang sudah mulai tenang membawa Bertha menuju mobilnya.
Saat ini mereka sudah sampai di rumah Edo, disana mereka langsung di sambut oleh para asistennya dengan senyum ramah, beda dengan pak Wo,yang mengerutkan keningnya melihat Bertha yang acak -acakan.
Edo langsung membawa Bertha menuju balkon kamarnya, disana Edo duduk disamping Bertha.
Mereka masih saling diam hingga seorang pelayan datang membawa minuman serta makanan untuk mereka.
Setelah meletakkan di meja makanam itu, pelayan tersebut langsung keluar.
"Sayang maafkan aku, aku memang egois pergi tanpa kabar dan tidak menjawab panggilan dari kamu, aku sangat minta maaf sama kamu."
"Aku juga minta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu.Aku tidak bisa jauh dari kamu,jangan pergi lagi."
"Iya sayang aku juga minta maaf, sudah mengabaikanmu."
"Mulai sekarang aku tidak mau mengulangi seperti itu lagi, aku tidak melihatmu seperti tadi."
"Tadi kok kamu ada di sana? bukannya lagi di luar kota ya."
"Kami sudah pulang tadi pagi, selesai membersihkan diri aku langsung menyusul kamu, eh malah liat kamu berjalan tanpa arah."
"Trimakasih ya lagi-lagi kamu menyelamatkan aku."
"Iya itu kewajiban aku untuk selalu melindungi kamu, jika tadi ada sesuatu dengan kamu, aku tidak tahu apa aku bisa memaafkan kamu."
"Iya sudah kamu mandi dulu ya,"baju kamu yang waktu itu masih ada di sini,sebentar aku ambilkan.
Bertha menuruti ucapan Edo karena dia memang sangat kacau, mungkin setelah kena guyur air tubuhnya akan lebih segar.
Saat Bertha keluar dari kamar mandi ternyata Edo sudah keluar lagi hanya meninggalkan pakaian ganti Bertha.
Bertha memakai pakiannya kemudian menyusul Edo su balkon kamarnya Edo.
"Sudah selesai?" sini duduk ucap Edo sambil menggeser tubuhnya.
Bertha duduk di samping Edo, dan merebahkan tubuhnya berbantalkan pahanya Edo.
"Sudah kamu tenanglah pagan, aku sudah tidak apa-apa."
"Aku percaya... "ujar Edo sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kenapa dengan mata kamu? kok kedip -kedip."
"Iya nih yang, rasanya kok ingin berjoget ria ya."
"Memang bisa ya,mata joget -joget."
"Bisa dong ini buktinya,"ucap Edo sambil mengedipkan matanya lagi.
"Oya... kamu masih mau ke butik atau mau langsung pulang?"Edo yang melihat waktu sudah sore, bertanya pada Bertha.
"Kebutik dulu ya, soalnya barang aku masih disana."
"Boleh sayang,"ayo sudah sore nanti om byariin lagi.
Mereka bangkit berdiri untuk segara berjalan menuju mobil Edo.
Dalam perjalanan menuju butik Edo masih menggenggam tangannya Bertha, rasa bersalah masih menemani pikiran Edo.
Dia tidak dapat membayangkan bagaimana Bertha jika tadi dia tidak datang tepat waktu.
"Sayang sekali lagi maafkan aku ya," ucap Edo masih dengan nada penyesalan.
"Iya... aku sudah memaafkanmu, hanya jangan pernah lakukan lagi."
"Aku janji... ucap Edo semangat."
Melihat tingkah majikannya yang tidak biasa membuat pak Wo faham, apa yang terjadi.
Sampai di butik masih sangat ramai pengunjung, hingga Bertha tidak tega membiarkan para karyawan kualahan.
Pia yang kwatir sejak tadi langsung memeluk Bertha, setelah pelanggan sepi.
"Kak dari mana aku sangat kwatir, kenapa kakak pergi tidak bilang dan tidak cepat pulang?kakak jahat tahu nggak."
__ADS_1
"Maaf aku pergi nggak kasih tahu dan buat kamu kwatir."
"Iya kak, aku sangat menyayangi kakak."
"Sama, aku juga sangat menyayangi kamu adikku nakal."
Mendengar perkataan Bertha membuat Pia mengerucutkan bibirnya.
"Kakak mau pulang duluan ya, nanti jangan lupa untuk memeriksa semua ruangan."
"Baik bos.. perintah akan segera di laksanakan."
Pia masih setia menatap kepergian Edo dan Bertha.
Semoga kebahagian yang selalu menghampirimu kak, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu untukku dan adik -adikku.
Pia adalah anak yatim piatu yang di temui Bertha tiga tahun lalu,Pia memiliki dua adik.
Saat itu Bertha juga sedang pemulihan karena ulah kakaknya.
Pia juga berada di rumah sakit menemani ibunya yang sedang kritis.
Saat ini Bertha ingin berjalan mencari angin dia melihat tiga anak yang sedang menangis pilu, karaena merasa kasihan Bertha menghampiri mereka.
"Ada apa dek?kalian nunggu siapa?"Bertha ikut jongkok agar melihat wajah Pia.
Pia yang merasa bebannya yang cukup berat menceritakan kebenarannya.
"Kami menunggu ibu kak, ibu kritis karena kami tidak punya uang operasi kemarin."
Hati Bertha ikut bersdih menyaksikan tangisan pilu adiknya Pia yang masih berumur sekitar enam tahun itu.
"Baiklah kakak akan bantu operasi ibu kamu, tapi jangan menangis,karena semua akan baik saja ok."
Akhirnya Bertha membiayai semua keperluan mereka, tapi sayangnya si ibu tidak bisa diselamatkan.
Ibu Pia menghembuskan napas terakhirnya saat di bawa ke ruang operasi.
Setelah kepergian ibunya Pia dan kedua adiknya dibawa oleh Bertha tinggal di butiknya.
Ruang yang seharusnya untuk dia tempati menjadi tempat Pia dan kedua adiknya.
Pia juga meneruskan sekolahnya.Saat ini Pia sudah kuliah semester enam, setelah pulang kuliah Pia akan membantu di butik.
Sebenarnya Bertha melarangnya agar Pia fokus kuliah tapi Pia tetaplah Pia, dia tidak bisa duduk manis sementara pekerjaan ada di depan mata.
Sementara itu Edo mengajak Bertha singgah ke taman untuk sekedar menghilangkan perasaannya yang masih
mengganggu.
Edo menghubungi papa Aldo, agar tidak cemas menunggu Bertha.
Saat ini mereka sudah duduk di kursi yang ada di taman, semua pengunjug taman nampak lalu lalang mencari kebahagian sendiri.
Tidak ada yang mempedulikan akan kebahagian orang lain, tawa dan canda hanya milik mereka sendiri.
Sedangkan mereka yang sedang meratapi nasibnya,hanya sibuk dengan air mata dan kesedihannya.
Seolah dialah yang paling terpuruk dari yang lain.
"Sayang kamu mau makan apa?"tanya Edo setelah cukup lama mereka terdiam.
Melihat bakso di pinggir jalan, menarik perhatian Bertha, lalu bangkit mengajak Edo untuk makan bakso.
"Aku mau makan bakso,ayo kita kesana."
"Ayo... aku juga mau,"seru Edo ketika mereka sudah sampai di meja grobak bakso tersebut.
Setelah pesanan mereka sudah di depan mata, tanpa menunggu langsung menyantapnya.
Melihat Edo yang lahap menyantap baksonya,membuat Bertha tersenyum.
"Mau tambah?"
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, dan votenya,ya.
Trimakasih.
__ADS_1