
Hari bahagia selalu di nantikan oleh setiap orang,baik tua maupun muda.
Tidak ada yang luput satupun dari keinginan untuk bahagia, walaupun akhirnya tidayhok semua merasakan apa itu bahagia.
Hari ini adalah hari yang di nantikan oleh keluarga besar Andre.
Hari yang sudah mereka tetapkan untuk berlibur bersama keluarga besar akhirnya tercapai juga.
Saat ini mereka sudah berada di Villa sedang sibuk membereskan perlengkapan mereka selama di sana.
Anak-anak sudah pada sibuk berlari kesana kemari, sejuknya udara membuat mereka seolah tidak mempermasalahkan terik matahari.
"Apa sih bang jangan ganggu aku ya, soalnya aku mau menikmati sejuknya udara."
"Dia sayang, abang bukannya mau mengganggu tapi dari tadi papi nyari kamu tuh."
"Emang mau apa sih bang."
"Mana abang tahu dek, kamu tanya sana, biar jelas."
"Iya deh, aku kesana."
Dia akhirnya meninggalkan abangnya lalu menuju villa untuk mencari keberadaannya sang papi.
Papi.... papi.. Dia berteriak mencari keberadaan papinya.
"Adek kok jerit sih, cari papinya ke kamar sana."
"Memang papi ada di mana om?"
"Mungkin dia di kamar, om juga belum jumpa mulai tadi."
"Ah... si om aku pikir tahu tadi."
Pino hanya bisa tarik nafas melihat kelakuan keponakannya yang selalu teriak jika mau nemanggil seseorang.
"Papi.... papi... di mana sih?" kesal Dia saat dia ke kamar tapi papinya tidak ada.
Dia berjalan menuju ruang tengah tetapi tetap tidak ada papinya, akhirnya Dia menuju tempat awal Dia menikmati sejuknya udara.
"Abang mau mengerjai aku ya, mana ada papi di Mana-mana."
"Tadi ada di kamar dek, abang bukan bohong."
"Mana ada."
"Iya sudah nanti abang bantu nyari, Dio ada?"
"nggak ada siapa-siapa di sana."
"Iya sudah yo kita cari tidak usah cemberut, jelek tahu."
"Ih... abang doanya jelek banget,apa abang senang melihat adiknya jelek?"
"iya nggak maulah dong adikku sayang yang bawel."
"Makanya sih bang."
"Eh.... papi dan mami kemana ya, kok inggak ada ya."
"Tahu ah bang."
"Bang jalan ke sana yo, sepertinya tempatnya bagus."
"Boleh ayo."
__ADS_1
Andre mengajak adiknya duduk di taman belakang villa, kursi itu berhadapan dengan kolam ikan mas.
"Ikan ini boleh di ambil nggak bang?sepertinya enak untuk di panggang."
"Ah... gayamu dek sok yang pandai memasak saja."
"Ye..paling nggak pandai memakan bang, dari pada ada yang pandai memasak tetapi tidak ada yang makan."
"Memang kamu itu sangat cerdas ya dek, ada saja jawabannya."
"Iya harus itu bang, siapa yang mau di rendahkan terus."
"Kamu itu dek.... dek."
Andre mengacak-acak rambut adiknya,sehingga terjadi pergulatan antara abang dan adiknya.
Saat mereka masih saling kejar kejaran,yang lain datang membawa berbagai macam makanan dan yang pasti kue ulang tahun.
"Selamat ulang tahun kami ucapkan... "mendengar lagu itu permainan mereka terhenti.
Dio juga ada di antara mereka, Dio yang membawa se buah kotak kado.
"Selamat ulang tahun... kami ucapkan selamat panjang umur kita kan doakan selamat sejahtera sehat sentosa selamat panjang umur dan bahagia."
Tiup lilinnya, tiup lilinnya tiup lilinnya sekarang juga sekarang juga, sekarang juga.
Dio dan Dia meniup lilin secara bersama.
"Selamat ulang tahun dek,"Dio memberi ucapan selamat kepada saudara kembarnya, begitu juga dengan Dia, ia memeluk abang.
Semua bertepuk tangan, dan kemudian satu persatu memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada keduanya.
"Selamat ulang tahun kesayangan mami, sehat selalu ya sayangnya mami."
"Aduh... kesayangan papi sudah pada besar sekarang, papi bangga punya kalian, semakin baik lagi ya."
''Trimakasih banyak papi."
Mereka makan bersama di taman belakang villa, sungguh suatu pemandangan yang luar biasa, sebuah keluarga besar bisa berkumpul bersama.
Om Pino yang terakhir memberikan kadonya,membuat Dia penasaran, ia ingin membuka tetapi sang papi sudah memanggil agar segera makan.
"Sayang ayo makan, nanti saja buka kadonya,papi sudah lapar nic."
"Ok bos."
Dia segera berjalan menuju bangku kosong yang ada di hadapan papinya.
Edo kali ini yang mengisi piring putrinya, dengan senang hati Dia menerimanya.
Sedangkan Dio maminya juga sudah menyiapkan piring serta nasi dan lauknya.
Mereka akhirnya makan bersama dengan suka cita yang tidak dapat di gambarkan dengan kata-kata.
Saling bercanda menikmati makanan yang sudah tersedia bagi mereka.
Papi dan mami Andre sudah mempersiapkannya sejak tadi, makanya ketika Dia mencari mereka ia tidak menemukannya.
"Pi tadi kemana, aku nyari tapi tidak ada di Mana-mana?"
"Iya pergi dong sayang untuk mempersiapkan semuanya, memang cari papi dan mami mau apa?"
"loh tadi katanya abang papi nyari aku."
"Tanya saja kok sayang, nggak ada apa-apa, memang salah jika papi nyari keberadaan anak gadisnya papi."
__ADS_1
"Iya nggak apa-apa sih pi, aku malah senang."
"Harus dong sayang, masa di cariin papi nggak senang."
"He.... he.... mana mungkin aku tidak senang pi."
"Iya sudah yo makan yang banyak,hadiah ulang tahun gadis papi khusus sayang untuk kalian berdua, lihat ni papi yang masak."
"Memang papi yang masak ini semua?"
"iya sayang."
"Iya mi?"
"Iya... sayang, papi semangat mempersiapkan semuanya mulai sampai sampai selesai masak."
"Makasih papi."
"Sama -sama sayang, papi senang melakukan semua itu demi kebahagian kedua kesayangannya papi."
Setelah selesai makan mereka bercerita sebelum akhirnya mereka beristirahat, karena sejak tadi mereka belum istirahat, setelah selesai berberes-beres pakaian mereka langsung mempersiapkan makanan.
"Kita panggang apa nanti kak Dia?" om Joni memulai pembicaraan mereka untuk mencairkan suasana.
"Yang enak apa ya om?"
"Ayam mau kak?"
"mau banget om, apa lagi pahanya, lima habis."
Dia sedikit kesal pada abangnya yang langsung menjawab seolah mempermalukan dirinya.
"Ih.. abang senang banget memperlakukan adiknya yang paling cantik ini."
"Nyata kali dek bukan hanya cerita bohong."
"Iya jangan terlalu jujur, malu tahu."
Mendengar perkataan Dia membuat semua tertawa bersama.
Iya sudah nanti om panggang, spesialis."
"Trimakasih om."
"Sama-sama sayang aku, yang penting keponakan om yang cantik dan ganteng ini selalu bahagia."
"Pastinya om,aku akan selalu bahagia,apa lagi semua keluarga sangat,menyayangi aku dengan tulus."
"Pastinya dong kami akan selalu menyayangi kamu kapan pun,karena kamu adalah keponakan kesayangan kami."
"Om bilang begitu nanti ada yang yang marah."
"Siapa yang marah?"
"itu... tu... itu... tu... om."
"Aku maksudnya om."
Dio langsung mengaku ,dia tahu jika saudari kembarnya mengejek dirinya.
"Ah... kamu ada,saja ngapain juga Dio marah."
"Karena sejak tadi om hanya nyebut namaku saja, makanya aku bilang begitu."
Bersambung
__ADS_1