APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode14.Pesta Penyambutan


__ADS_3

Selesai membritahu apa yang harus di kerjakan oleh Bertha,Jojo mengakhiri pertemuan mereka.


Jojo tidak mau terlalu memaksakan yang akhirnya membuat Bertha bosan.


Menurut Jojo biarlah dengan berjalannya waktu,Bertha juga semakin bisa memahami semua tanggung jawabnya.


"Bertha sudah bisa pulang om?"tanya Bertha.


"Sudah tapi ingat besok ya,rapat jam tiga."


"Ok om ."


"Bertha duluan om," ucapnya sambil berlalu.


Jojo yang baru menyadari kepergian Bertha akhirnya berlari mengejar Bertha.


"Om kok lari ada apa?"


"Kenapa kamu tinggalkan om?"


"Ya karena Bertha mau pulang om."


"Ya sudah om antar sampai kedepan.Oiya kamu pulang naik apa?"


"Nanti dijemput teman om.


"Apa kamu butuh mobil?"


"Tidak om,nanti sajalah jika butuh akan Bertha bilang.


"Masih ada yang setia jemput Bertha om,"tapi nanti jika dia sudah benar-benar sibuk baru cari jalan lain om.


"Iya om tahu nak, dia sangat baik pada kamu semoga kalian bisa selalu bersama hingga akhir hayat."


"Terimakasih om aku sangat beruntung punya om yang peduli dengan Bertha."


"Om lebih bersyukur atas kehadiranmu sayang karena ketulusan hatimu om akhirnya bisa punya anak."


"Oiya om itu dia sudah datang Bertha duluan om,"pamit Bertha pada omnya.


"Hati-hati sayang ingat untuk persiapkan hatimu untuk rapat besok dan sesudah rapat kita pulang kerumah om ok."


"Ok om ,"ucapnya.


"Ayo sayang ucap Edo yang kemudian membuka pintu untuk Bertha."


Edo menundukkan kepalanya dan "berkata duluan om."


Omnya hanya tersenyum ,melihat keponakanya itu,rasa bahagia selalu dia rasakan setiap kali melihat Bertha di tambah dengan kehadiran Edo yang dengan tulus nenerima Bertha sejak dalam keterpurukannya.


"Didalam mobil Bertha dan Edo bercerita tentang pengalamanya saat dikantor tadi."


Setelah mereka sampai di depan rumah mereka langsung turun untuk menjemput papanya untuk terapi.


Diruang keluarga nampak pak Aldo telah bersiap-siap.


Setelah menyapa orang tua itu,mereka segera berangkat,karena sudah waku untuk terapi mudah-mudahan tidak terjebak macet.


"Maaf ya pa lama menunggu ucap Bertha pada papanya."


"Tidak apa nak,"papa tahu pasti di pengalaman pertama kamu sangat melelahkan.


Didalam mobil mereka bercerita berbagai macam yang bisa membuat mereka tertawa.


Edo yang sudah terbiasa dengan pak Aldo sudah tidak merasa canggung lagi ,dia sudah menganggap sebagai ayahnya sendiri.


Sehingga keakraban terlihat jelas diantara mereka,walaupun masih tetap terjaga kesopanan.


Joni yang sengaja mereka bawa ikut juga bercerita membuat mereja lebih seru.


"Kak kenapa sih teman-teman Joni mengejek Joni jelek?


"Wah siapa yang bilang adek ganteng kakak ini jelek?pasti matanya itu lagi sakit dek makanya tidak usah didengarin."


"Terus katanya Joni tidak punya mama."


"Siapa bilang?"


"Kita punya mama hanya dia lagi ada urusan sehingga tidak bisa menemani kita."


Pak Aldo yang mendengar menjadi berubah mimik wajahnya yang tadinya ceria kini berubah murung.


Edo yang melihat perubahan wajah calon mertuanya mengalihkan topik pembicaraan.


"Eh ganteng nanti sepulang dati rumah sakit mau main ke mall tidak?"


"Mau dong kak pasti lebih seru jika bermain bersama kakak lagian aku belum pernah bermain kesana padahal kata temanku asyik banget."

__ADS_1


Setelah mereka sampai di rumah sakit dengan cepat menuju ruang periksa.


Setelah melewati berbagai pemeriksaan terapupun dimulai.


Dokter sangat bahagia karena perkembangan pasiennya .


Benar kata orang semangat dari kita sendiri yang bisa menyembuhkan penyakit orang.


Setengah jam terapi mereka segera nebebus obat lalu keluar menuju parkiran.


Saat di dalam mobil Aldo minta untuk diantar pulang,karena sangaat merepotkan jika harus ikut ke mall.


Baiklah pa kita pulang jika papa tidak merasa aman.


"Iya nak tapi hati-hati jaga adik ya."


"ok pa."


Setelah sampai di depan rumah mereka ,segera Edo membantu Aldo untuk masuk kedalam rumah.


Setelah sampai di kamar Edo langsung permisi untuk berangkat ke mall.


Trimakasih Edo tolong jaga "anak-anak om,ujarnya dengan penuh permohonan."


"Baiklah om kami pergi dulu,"ujarnya kemudian berlalu.


Setelah meninggalkan rumah papanya Bertha, mereka segera menuju mall.


Berbagai permainan mereka tawarkan kepada joni,dengan senyum besar Joni mengikuti permainan itu.


Bahagia dipenuhi tawa ria terlihat di wajah Joni,Bertha yang menyaksikan itu merasa sangat sedih karena dia tahu sejak kecil adiknya tidak pernah mengalami seperti ini.


Jika dibandingkan dengan dirinya masih lebih beruntung karena masih mendapatkan kasih sayang penuh sampai dia berumur sepuluh tahun.


Dia begitu di manjakan oleh almarhum mamanya dan papanya sangat me nyanyanginya.


Bertha melihat bahwa Joni sedikit kelelahan,dia perlahan mendekati dan minta untuk pulang,Joni yang merasa sudah puas akhirnya mengagguk.


Edo menggendog Joni karena pengunjung masih terlihat ramai kasihan Joni harus desak-desakan.


"Kamu lapar ganteng tanya Bertha,"yang di jawab dengan anggukan dari Joni.


"Ya sudah kita cari tempat makan dulu,lagian kita juga belum makan malam loh ucap Edo."


Setelah mendapat tempat makan yang ada di pusat perbelajaan itu mereka mencari meja kosong dan segera menesan makanan.


Setelah makanan datang tanpa menunggu lama segera menyantap makanan tersebut


"Pasti dong Kak,"sahut Joni.


"Ini sudah mau habis kak jawab Joni girang."


Selesai makan dan Edo segera menuju meja kasir untuk membayar tagihan makan mereka.


"Kita langsung pulang,"ucap Edo.


"Boleh juga sudah malam kasihan Joni."


"Ok cantik ucap Edo semangat."


Sampai di depan rumah Edo menepikan Bertha segera turun dari mobil.


"Aku lanjut ya say nanti masih ada yang harus diselesaikan di cafe."


Edo segera melajukan mobilnya menuju ke cafe miliknya.


Sampai disana sudah ada asisten dan supirnya menunggu.


Edo langsung duduk diantara mereka.


"Bagaimana dengan rencananya apa berhasil?"tanya Edo.


"Berhasil den ucap pak wo semangat."


"Apa mereka susah untuk diajak kerja sama?"


tidak den karena penawaran kita sangat mengiurkan dan memberi keuntungan kepada kedua belah pihak.


Kenapa tidak berterus terang sama non Bertha den tanya pak Wo.


"Jangan paman kita harus berjuang dengan usaha kita sendiri,biar nanti jadi kejutan saat dia sudah resmi pemilik perusahaan itu paman."


"Jadi kapan menandatangani kontrajnya paman?"


"Sudah tadi langsung den," jawab asistennya .


"Benarkah?tanya Edo semangat."

__ADS_1


"Iya den tadi sempat ada sedikit ketegangan ketika mereka minta harus den yang tanda tangan."


"Apa om itu curiga dengan namaku?"


"Apa den mengenalinya?"


"Iya paman,"bahkan sudah beberapa jali kami jumpa.


"Apa mungkin iya pa Wo?"tanya sang asisten.


"Aku rasa iya soalnya saat melihat berkas tadi sepertinya presedir itu senyum-senyum."


"Tidak apalah om toh tujuan kita tidak jahat ucap Edo."


"Ya sudah kalau begitu kita makan dulu paman biar pulang."


Mereka akhirnya makan malam bersama dan kemudian meninggalkan tempat itu.


Setelah memeriksa keadaan cafe Edo juga meninggalkan cafenya dan melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Dua minggu setelah Bertha belajar mengenai perusahaan,diapun telah diperkenalkan dalam rapat kepada pemilik saham diperusahaa Abdi Sehati Group.


Sesuai keinginan omnya hari ini adalah pesta penyambutan Bertha resmi ahli waris Abdi Sehati Group.


Banyak orang merasa iri akan Bertha yang masih muda sudah memiliki perusahaan besar.


Tetapi babyak juga yang meragukan apakah anak ingusan bisa dipercaya mengolah perusahaan itu?


Bertha dengan dandanan yang tidak terlalu mencolok tetapi kesederhanaan pakaiannya membuat keanggunan sebagai wanita sungguh sangat terpancar disana.


Rencana papa dan omnya untuk sekalian membuat pesta pertunangannya dengan Edo juga sudah sempurna kedua orang tua Edo juga sudah datang.


Setelah perkenalan sebagai ahli waris mc berdiri kembali dengan cukup heboh mengungkapkan tujuan selanjut.


Dan selanjutnya kita saksikan kedua sijoli yang akan membuat hubungan mereka semakin terarah dengan menyematkan cicin tunangan di jari manis keduanya.


Kita sambut tuan dan putri kita Edo dan Bertha agar naik kembali ke panggung yang telah disediakan.


Setelah mc berbicara tampak sebuah panggung yang sudah dihias sedemikian rupa tetapi berbeda dari tempat Bertha berdiri saat diperkenalkan sebagai ahli waris.


Bertha dan Edo ysng merasa bingung saling bertatapan dan kemudian beralih menatap para oran tua yang ada disansa.


Mereka seolah mengerti dengan kebingungan keduanya akhirnya mengangguk tanda membenarkan ucapan sang mc.


Papa dan omnya serta mama Edo membawa anaknya untuk naik keatas panggung.


Segera mamanya Edo mengeluarkan cincin yang telah dipersiapkan lalu memberikan kepada Edo.


Edo menyematkan cicin yang indah itu dijari manis Bertha begitupun sebaliknya.


Sehingga resmilah dua manusia yang dimabuk cinta itu bertunangan.


Para orang tua mereka segera mengucapkan selamat kepada keduanya.


Aldo yang sengaja menyembunyikan bahwa dia sudah dapat berjalan dngan sempurna datang menghampiri Bertha tanpa kursi roda.


Bertha yang melihat itu langsung berlari memeluk papanya.


"Papa sudah sembuh,"ujarnya dengan penuh semangat dan suara yang lumayan kuat seolah tidak mempethatikan dimana dia sedang berada.


Rasa bahagianya membuat iran ikutbergembira dan juga sedih sampai menitikkan air mata.


Kasih sayang seorang ayah sangat terpancar disana demikian juga sebaliknya .


"Selanat putriku sayang semoga kebahagiaan yang selalu menghampirimu ucapnya sambil memeluk putrinya."


"Trimakasih pa ujar Bertha dengan isakan tangisnya,"ia tidak dapat membendung air matanya agar tidak menetes.


Setelah ucapan dari orang terdekat para tamu dipersilahkan mencicipi hidangan.


Saat hendak makan Edo berbisik di telinga Bertha,"kok tidak sekalian pernikahan ya."


Bertha yang mendengar itu memutar bola matanya sedangkan Edo sudah mengambil tempat yang aman duduk di tempat yang sudah dipersiapkan secara khusus bagi mereka.


Bertha kemudian menyusul Edo lalu duduk dihadapannya.


"Makan yang banyak sayang biar lebih berisi saat pesta pernikahan kita ujarnya sambil terkekeh."


Bertha tersenyum menanggapi ucapan Edo.


"Kamu kenapa hanya diam?"tanya Edo karena Bertha tidak mengeluarkan suara selama mereka makan.


Ucapan Edo hanya dijawab dengan senyuman dan anggukan.


Bertha sengaja mengerjai Edo yang usil.


"Sayang ngomong dong jangan hanya diam buat aku takut saja,"ujar Edo.

__ADS_1


Bersambung


Mohon maaf jika banyak penulisan yang salah.


__ADS_2