APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 70.Meleleh


__ADS_3

Hari berganti hari baby Andre semakin besar, kini dia sudah enam bulan, dia tumbuh sehat dan semakin aktif.


Bertha membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang, dia tidak mau mengulangi pengalaman pahit yang sudah di alaminya.


Edo juga membantu, dia juga tidak menyia-nyiakan waktu untuk membesarkan putra mereka di sela kesibukannya.


Saat Bertha ikut ke kantor mereka akan membawa Andre, dengan bergantian untuk menjaga putranya.


Dari awal mereka tidak mau sepenuhnya memberikan tanggung jawabnya kepada seorang pengasuh.


Untuk membatu mereka bolehlah, jadi sungguh mereka melibatkan diri.


Hari ini mereka berangkat bersama menuju kantor, kak Pino mengurus anak cabang yang baru di buka, sementara papa Aldo juga ikut untuk beberapa hari.


Untuk menggantikan kedua pria tersebut, Bertha dan Edo yang harus kesana, semua sudah sepakat bahwa Edo akan menemani istrinya kekantor.


Bingung memang hanya alasan itu milik Bertha maka dia juga harus ikut, pada hal bisa saja di wakilkan mengingat beberapa kejadian yang sudah berlalu.


"Sayang kamu temani Andre sana biar aku yang ngerjain semuanya, kasihan dia hanya main sendiri."


"Baik pisay, aturan mulai tadi iya dek, soalnya mami ngantuk."


Mungkin biasa bagi ibu yang sedang menyusui akan lebih muda tidur dari pada anaknya.


"Iya sudah kalian istirahat saja di kamar, nanti jika sudah selesai aku banguni."


Tidak membuang waktu Bertha langsung beranjak dari duduknya sambil memeluk putranya.


Bertha benar terlelap, setelah sang buah hati tidur dia juga segera terbang ke alam mimpi indah.


Sementara Edo harus bekerja super ekstra, antara pekerjaan dia dan istrinya.


Tiga jam bekerja, akhirnya selesai juga, gumam Edo yang terasa pegal pinggangnya, bagamana tidak, empat jam tidak bergerak dari duduknya.


Edo masuk ke kamar pribadi istrinya, dia melihat kedua yang sangat dicintainya masih terlelap.


"Mi... ayo pulang, papi sudah selesai nic, atau kita mau tidur di sini?"


Bertha yang merasa tudurnya terganggu perlahan membuka matanya.


Edo membelai wajah bantal istrinya, "ayo kita pulang, sudah sore."


Edo menganggkat tubuh Andre dan berjalan menuju lobi karena di sana sudah ada pak Wo yang menunggu mereka.


Sampai di mobil,pak Wo langsung menjalankan mobilnya, dengan kecepatan sedang.


Sampai di rumah mereka segera membersihkan diri, sedangkan sang putra Bertha yang memandikan.


Setelah selesai mandi, Andre yang sudah mulai berceloteh, membuat Edo tertawa.


Capacapa... papipa... cacapaca... banyak lagi yang di ucapin bayi tersebut, Edo tertawa bukan karena tahu apa yang di ucapkan putranya tapi karena merasa lucu.


"Anak mami senang banget ya, cerita apa sih kok sampai papinya tertawa gitu."


Setelah lelah bermain mereka turun untuk makan malam, tapi sebelumnya sang jagoan yang duluan di suapin oleh sang mami.


Semua terasa indah, tidak ada yang perlu di ragukan,Edo yang sangat menyayangi Bertha dan anaknya membuat keluarga mereka sungguh sangat bahagia.


Pagi hari mereka berangkat ke kantor bersama, hari ini Edo yang akan meeting di luar, dia tidak mau ambil risiko dengan membawa sang buah hati.


Saat Edo belum pulang ternyata Joni datang menyusul ke kantor.


Karena beberapa hari hanya sendiri membuat dia merasa bosan, jadi di sinilah dia bersama keponakan tersayang.


Karena Bertha sering membawa sang putra, maka sudah ada di buat ruang bermain.


Walaupun dia sudah remaja, tidak membuat Joni merasa tidak enak bermain dengan Andre.


Sambil merangkak, Andre mengejar dia dengan berbagai macam gaya.


"Ayo cepat kejar om."


Waa.... a...


tangis Andre pecah seketika.


"Ha... ha... jagoan om kalah,ayo in gendong karena usaha jagoan om yang sangat luar biasa."


Joni membawa Andre mendekati sang kakak yang lagi sibuk.

__ADS_1


"Kakak nampaknya jagoan kakak sudah bosan nic, aku kembalikan deh."


Bertha dengan cepat mengambil alih anaknya,"sayangnya mami diapain sama om kok nangisnya kencang banget."


"Kak aku cari makan dulu ya lapar."


"Pesan sama kak Edo saja, dia sudah mau pulang kok."


"Boleh deh kak."


Joni menghubungi Edo agar membawa makanan untuk mereka.


Semua tertata rapi di atas meja, saat Joni dan Bertha memasuki ruangan khusus bermain.


"Loh kakak yang nyiapin semua?" tanya Joni melihat makanan yang sangat mengundang selera.


"Iya sudah kita makan, kakak sudah lapar," jelas Edo sambil mengisi nasi ke dalam piring.


Semua makanan sudah ludes, sekarang mereka tinggal melanjutkan pekerjaannya.


Setelah satu jam kemudian mereka pindah kantor, karena Edo masih ada keperluan di kantornya.


Joni pengikut setia,mengikuti langkah kedua kakaknya tanpa protes.


Sore ini Joni mau ikut ke rumah kakaknya dia malas hanya sendiri di rumah.


"Kak aku mau cari buku, aku duluan ya,"pamit Joni setelah beberapa jam mereka menunggu Edo.


"Iya sudah hati -hati ya dek, jangan macam -macam."


"Ok kak."


Setelah Joni pergi, Bertha mulai mencari tempat yang paling nyaman untuk terbang bersama mimpinya.


Satu jam terbang bersama mimpinya, Bertha bangun karena merasa ada yang meniup telinganya.


"Bangun sayang, ayo kita pulang sudah sore."


"Joni mana mi?"


"Sudah duluan, katanya mau cari buku."


"O... iya sudah yo."


Satu minggu telah berlalu, hari ini papa Aldo dan kak Pino sudah kembali.


Pino kembali dengan segala kerinduan untuk sang kekasih, tapi rupanya sang kekasih malah memberikan hadiah yang paling menyesakkan.


Pino langsung menuju rumah kekasihnya setelah membersihkan diri, tapi ketika dia sampai di depan rumah sang kekasih, betapa terkejutnya dia melihat sang kekasih sedang bermesraan dengan pria lain.


"Via... ucapnya lirih," membuat yang punya nama sangat terkejut, apa lagi keadaannya yang sudah benar polos.


Pino segera pergi meninggalkan tempat mesum tersebut.


Perlahan tapi pasti Pino menyetir mobilnya menuju sebuah tempat, yang rencananya akan mengajak sang kekasih makan romantis.


Melihat semua sudah siap, ia menghubungi Bertha dan Edo, dia tidak mau menyia-nyiakan banyak uang hanya percuma.


Otak dan hati Pino masih berfungsi dengan baik.


Setelah menghubungi Edo ia segera mengirimkan alamat.


Setelah pasangan suami istri itu sampai, mereka bingung melihat tempat yang begitu indah.


"Ini untuk kalian, silahkan nikmati kakak akan menjaga keponakanku yang paling ganteng ini."


Walaupun masih bingung dengan hadiah sang kakak, Edo dan Bertha menikmatinya setelah Pino membawa Joni dan Andre.


Edo mengajak Bertha berdansa, karena musik sudah di sediakan jadi sangat sayang jika di nikmati.


"Sayang aku sangat mencintaimu,"ucap Edo sambil mencium bibir Bertha setelah mereka selesai berdansa.


"Aku juga sangat mencintai mu suamiku,"jujur Bertha.


Jam sepuluh mereka sudah sampai di rumah, dan di sana kak Pino nampak tertidur, begitu juga dengan Andre dan Joni.


Pino adalah pribadi yang sangat tenang, wajahnya yang datar apalagi bagi mereka yang baru saja berjumpa.


Tapi tidak dengan Bertha, dia tahu jika saat ini kakaknya itu sedang ada masalah, entah apa itu.

__ADS_1


Bertha mrndekati kakak yang selalu ada untuk dia.


"Sudah biarkan saja sayang, kasihan kalau di banguni."


Edo mengambil selimut untuk kakak dan adik iparnya itu.


Dia membawa Andre dan meletakkan di box yang ada di kamar mereka.


Setelah membersihkan diri, akhirnya mereka juga memilih untuk beristirahat.


Pagi hari semua sudah berkumpul di meja makan.


Bertha sengaja tidak ikut ke kantor, dia berencana menemani sang kakak.


Selepas sarapan Edo dan Joni berangkat dengan memakai mobil masing -masing.


Pino yang tidak berniat pulang, berjalan menuju kolam renang.


Melihat kakaknya duduk temenung iya Bertha datang menghampiri.


"Kakak ada masalah?"


Mendengar suara adiknya Pino berusaha untuk tersenyum.


"Kakak sedang kecewa dek,"ucapnya jujur.


"Jangan bilang tempat semalam seharusnya kakak yang pakai,"ucap Bertha penuh selidik.


"Iya kamu benar dek, aku sudah merencanakan semuanya tapi yang kakak dapatkan adalah rasa kecewa, dia selingkuh dengan pria lain, bahkan mereka melebihi binatang."


"Sabar kak, berarti kak Via bukan jodohnya kakak, percaya kak pasti kakak akan dapat yang lebih baik dari dia."


"Berat rasanya dek, bahkan kakak harus berjuang untuk bisa mencintai dia setelah tahu tentang perselingkuhan mama dulu."


"Rasa percaya kakak untuk wanita semakin sedikit dek."


"Apa itu termasuk dengan aku kak?"


"iya tidaklah dek, sampai kapanpun kamu adalah peri buat kakak."


"Kak kita jalan yo, sudah lama kita tidak pernah liburan."


"Boleh dek, kakak lagi pusing banget.


Saat ini Pino dan Bertha sudah berada di pantai setelah minta izin ke pada Edo.


Pandangan indah membuat Bertha dan Pino menghilangakan segala beban hidupnya.


"Kak dulu ketika aku sering hampir kehilangan hidup Edo selalu ngajak aku kesini.


Kadang kami lomba berteriak, atau lomba lari hingga kaki ini sudah tidak mampu untuk berjalan kembali."


"Apa kakak mau coba untuk berteriak?"


ayo, ajak Pino langsung bangkit dari duduknya.


"Via.... kamu penghianat...


aku benci kamu Via."


"Kak Via, kamu akan menyesal telah membuat kakak aku terluka seperti ini," Bertha mengutuki Via yang telah menyakiti hati kakaknya.


Via adalah gadis yang di tolong oleh Bertha dan Edo, bahkan dia bisa bekerja sampai saat ini karena mereka membantunya kuliah dan memberikan pekerjaan.


"Aku akan mengambil kebahagiaan yang telah kamu ambil dari kakakku."


Apa yang ada di pikiran Bertha sudah semua di laksanakan oleh Edo.


Riko pacar Via juga bekerja di perusahaan Edo.


Sedangkan Via bekerja di perusahaan Bertha.


Edo sudah menyuruh pak Wo melakukan sesuatu pada kedua orang itu.


Saat ini Via dan Riko belum tahu tentang apa yang di lakukan pak Wo.


Mereka masih asyik dengan hubungan gila mereka.


Hingga kini...

__ADS_1


Sekian dulu ya...


Bersambung.


__ADS_2