APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 6.Berlalu


__ADS_3

Tepat pada jam tiga mereka keluar dari kantornya Edo, setelah sampai dirumah Bertha langsung masuk untuk menjemput papanya, tanpa menunggu lama mereka langsung berangkat menuju rumah sakit karena sebelumnya papanya sudah siap tinggal berangkat.


Setelah sampai dirumah sakit mereka tidak tinggal menunggu antrian karena sebelumnya sudah didaftarkan oleh Edo.


Sekarang tinggal menunggu no urut papanya dan terdengar suara perawat memanggil nama tuan Aldo, dan dengan cepat mereka masuk untuk menjumpai dokter.


Doktetpun telah selesai memeriksakan keadaan pak Aldo, atas saran dokter pak Aldo harus ikut terapi tiga kali seminggu.


Melihat senyum bahagia dari bibir Bertha, membuat papanya bertekat untuk semangat, dan tidak akan mengecewakan putri kesayangannya itu.


Setelah selesai dari rumah sakit, mereka melanjutkan perjalanan menuju pulang. Didalam perjalanan Edo meminta agar pak Aldo mau tinggal di rumahnya selama terapi.


"Om apa nggak sebaiknya om tinggal di rumah aja selama terapi, apa om tidak terlalu lelah untuk bolak balik dari rumah om?"


"Ya pa lagian adek masih libur, "jadi boleh ya Pa? mohon Bertha dengan memelas. Papanya yang melihat wajah memelas putrinya mana sanggup,untuk menolak dan akhirnya mengiyakan permintaan mereka.


"Baiklah nak papa ikut kalian,"tapi apa tidak merepotkan, jika kami di sini nak Edo? tanyanya sambil melihat kebelakang karena posisi duduk Edo dan Bertha duduk dibelakang.


"Terimakasih ya pa ucap Bertha tulus." Dengan semangat pastinya papa akan cepat sembuh. Aku sudah rindu pergi berjalan bersama paps krpantai yang dulu kita kunjungi.


"Iya sayang papa janji akan lebih semangat lagi agar kita bisa pergi berlibur, untuk mencairkan suasana yang tidak menyenangkan dan yang sudah berlalu."


"Iya pa karena hari tetap berlanjut dan kenangan sepanjang perjalanan hidup pasti akan berlalu."


Tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah Edo. Dengan dibantu oleh Edo dan supir akhirnya pak Aldo sudah berada di dalam rumah.


Joni yang lagi asyik bermain segara menghampiri papanya.


"Papa ujar Joni sambil memeluk papanya, dan juga Bertha dan Edo."


"Halo ganteng bosan ya main sendiri? ayo main sama kakak, ditanam belakangan enak banget kalau sore hari."


"Mau nggak?"ucapnya lagi .


"Mau dong Kak,"aku juga senang bermain bersama kakak,selama ini aku tidak punya teman.


"Iya deh kakak janji untuk teman yang paling baik untuk adikku yang paling nganteng ini ucapnya sambil mencium pipi Joni."


Edo yang tiba -tiba datang juga ikut bergabung dengan kedua orang itu.


"Kalau sama abang nggak mau ni?"tanyanya sambil membuat wajah sedihnya.


"Mau dong bang kalau punya banyak teman akan lebih asyik."


Edo langsung merentangkan tangannya dan memeluk Joni, dia bangkit dan memutar badan Joni seolah -olah berayun diudara. Suara tawa lepas kedengaran dari mulut Joni.


Melihat kebahagiaan Joni membuat hati Aldo juga sangat bahagia. Iapun tersenyum dan akhirnya memutar kursi rodanya ke ruangan keluarga. Ia sangat terkejut melihat ada foto sahabatnya ketika SMA dulu.


Wah ternyata sifatnya Edo turun dari papanya, gumamnya dalam hati. Hatinya semakin bahagia karena tahu anaknya dijaga orang yang tepat.


Saat dia terus memandang foto keluarga Edo, ketiganya masuk hingga mengejutkan Aldo. Ada apa ya pa?serius amat lihat fotonya.


Edo apa nama papa kamu John Antar?


"Iya om,"ujar Edo. Apa om kenal sama papa?


"Ya Edo dia teman om mulai SMP sampai kami sudah menikah."


"Bagus dong berarti besok om dan papa akan berjumpa soalnya papa dan mama datang."


"Wah bagus dong berarti semakin asyik ngobrolnya besok ucap Edo dengan semangat."


Selesai makan malam, akhirnya mereka menonton tv sambil cerita.Merasa sudah lelah menonton mereka masuk ke dalam kamar masing -masing.


Pada pagi hari mereka berkumpul bersama untuk sarapan bersama, selesai sarapan Edo dan Bertha pamit untuk pergi bekerja dan langsung menjemput kedua orangtua Edo.


Saat mereka dalam perjalanan, Edo bertanya pada Bertha bagagaimana dengan rencana pernikahan mereka.

__ADS_1


"Tha bagaimana dengan rencana pernikahan kita? mau dilanjutkan atau ditunda dulu tanyanya pada Bertha."


Soalnya pasti nanti papa dan mama akan bertanya tentang itu.


"Edo bisakan kita tunda dulu rencananya, aku akan tinggal bersama papa dan aku mau bekerja dulu, bagaimana?"


"Kalau itu kemauan kamu aku ngikut saja Tha."Asalkan kamu bahagia aku pasti mau menunggu kamu, akhirnya Edo mengalah.


Kebahagiaan Berthalah yang terpenting untuk Edo.


"Trimakasih banyak Edo kamu selalu pengertian sama aku, kata Bertha."


"Kamu itu ya seperti sama siapa saja berterimakasih terus."


"Iya gak apalah,"aku bahagia saja karena memiliki pacar yang sangat baik.


Edo memeluk Bertha dan membelai rambut panjang Bertha.


Tanpa terasa ternyata mereka telah sampai di bandara dan kedua orang tua Edo sudah duduk manis menunggu kedua anaknya.


Ya Bertha sudah mereka anggap sebagai anak sendiri.


"Maaf ma,"Pa sudah menunggu kata Edo sambil menyalam keduanya.


"Tidak apa sayang,"yang penting kalian baik dan sehat sudah membuat kami senang walaupun harus menunggu agak lama, ujar mama Edo.


"Ya sudah kita berangkat sekarang,"ucap papanya Edo.


Mereka akhirnya berangkat untuk segara pulang.


Di mobil mereka banyak bercerita tentang keadaan mereka setelah sekian lama tidak berjumpa.


"Kapan papa dan mama bawa adek-adek kesini,"tanya Edo kepada kedua orangtuanya.


"Mereka masih sekolah sayang,"lagian sesekali kalian yang datang kesana jangan hanya menunggu.


"Ya sudah kapan saja ada waktu kalian."


"Jadi sekarang bagaimana perkembangan kesehatan papa kamu nak?"


"Sudah ada perkembangan sedikit,"tapi untuk berjalan belum lagi tante ucap Bertha.


"Sabar sayang yang paling penting ada perkembangan itu sudah lebih baik."


"Iya tante, aku tahu mengembalikan papa dapat berjalan membutuhkan waktu, apa lagi sudah lama tidak bergerak."


Setelah percakapan mereka akhirnya semua diam membisu bahkan sudah tertidur pulas.


Sekarang mereka telah sampai dirumah Edo, setelah bel berbunyi terdengar suara dari dalam sedang berjalan menuju arah pintu dan tidak berapa lama terdengar gagang pintu berbunyi.


Pintunya sudah terbuka dan segera mereka masuk.Diruang keluarga tampak Aldo duduk di atas kursi roda.


Papa Edo sangat terkejut,melihat siapa yang duduk di kursi roda itu demikian juga dengan istrinya ,hanya Aldo yang tersenyum.


"Aldo ucap suami istri itu


bersamaan."


Kalian apa kabar? kok bengong, sini dekat ucapnya .


Tanpa menunggu lama mereka langsung mendekati Aldo dan memeluknya dengan hangatnya.


Wah dunia ini begitu sempit, dan putri yang sudah kuanggap putri ini adalah anakmu.


"Dari mana aja kamu selama ini Aldo?"tidak ada kabar kamu menghilang begitu saja. Ucap mama Edo panjang lebar.


"Panjang ceritanya," jadi lebih baik kalian mandi lalu istirahat, ujar Aldo.

__ADS_1


"Baiklah, tunggu kami mandi sebentar,jangan kemana-mana," ujar papa Edo layaknya pembawa iklan.


Setengah jam kemudian mereka sudah turun, dan duduk di kursi berhadapan dengan Aldo.


"Bagaiman ceritanya kamu bisa seperti ini?"tanya papa Edo.


"Setelah istriku meninggal, aku terjebak dengan wanita yang berhati busuk. Dan akhirnya kami menikah."


"Pertama menikahinya aku tidak tahu bahwa dia hanya penghianat, ketika dia minta untuk tidak mengurus Bertha akupun mengembalikan Bertha pada kakakku."


Tapi ternyata mereka tetap tidak memperlakukan Bertha layaknya seorang anak.


"Aku mau menjemputnya tapi aku sudah kecelakaan akibat ulah istriku."


"Aku merasa putus asa,"walaupun aku menjemput Bertha sudah terlambat, karena aku sudah tidak bisa mengurusnya dengan baik apa lagi dengan keadaanku.


"Tapi pikiran itu ternyata salah,"justru membiarkan Bertha bersama mereka akhirnya hidup Bertha semakin menderita.


"Syukurlah kalian menerima dia dengan tulus,"sedikitnya perasaan bersalahku berkurang ucap Aksi karena memang dia sangat senang Bertha berjumpa dengan orang tepat.


"Memangnya istrimu dulu sakit apa sebenarnya,"aku terakhir tahu dia dirubah sakit dan sesudah itu kalian sudah tidak pernah ada kabar lagi kata mamanya Edo panjang lebar.


"Ya maafkan kami, pergi tanpa memberitahukan kepada kalian."


"Saat itu setelah keluarga tahu istriku sakit kanker rahim dan tidak mungkin mempunyai anak, mereka menolak istriku dan minta aku untuk menceraikannya."


Makanya kami pergi bersama Bertha ke pinggiran kota ini.


Lima tahun kami hidup bahagia disana hingga akhirnya Tuhan menjemput nyawanya. Itulah akhir dari penderitaan kami.


"Ya sudahlah, kita yakin istrimu sudah tenang disana tinggal tugasmu kembali bersama Bertha dan anakmu itu."


Berjuang terus untuk sembuh tidak usah berpedoman dengan masa lalu, jadikan itu untuk pelajaran yang sangat berharga.


"Bertha butuh kamu dan kami tahu kamu sangat menyanyangi Bertha."


"Iya aku tahu makanya aku mau ikut kesini untuk terapi."


"Kalau begitu sebaiknya kita makan dulu baru istirahat,"tapi anak-anak dimana ya, mulai dari tadi tidak kelihatan, sebentar ya aku panggil ucap mama Edo sambil bangkit dari duduknya.


Sampai di depan pintu kamar Edo, mamanya mengetok pintunya sampai tiga kali tetapi tidak ada sautan.


Akhirnya dia langsung membuka hendel pintu dan tampak Edo sedang terlelap.


Demikian juga dengan Bertha sudah terbang bersama mimpinya.


Melihat keduanya sudah tidur akhirnya mamanya Edo menghampiri suami dan sahabatnya.


Mana anaknya ma tanya suaminya heran karena tidak ada yang turun bersama istrinya.


"Mereka sudah pada tidur mungkin sudah kelelahan,"sebaiknya kita makan saja nanti kalau mereka bangun baru makan.


"Baiklah mari kita makan,"mengenang jaman SMA dulu, dimana kita sering makan bertiga,sampai ada yang menyebut kita dengan tiga serangkai.


Ya itu sih karena kamu tidak mau pisah dari kita berdua, kemana kita pergi selalu ikut, ucap papa Edo sinis.


"Jangan gitulah bro,"entar dia nangis sulit untuk kamu diamkan.


"Wah kalian ini masih saja ingat kejadian itu, aku saja hampir lupa, ucap mamanya Edo."


"Ya kamu lupa atau malu goda suaminya lagi."


"Iya katakanlah begitu tetapi kamu tetap cintakan? ucapnya usil."


Bersambung


Mohon dukungannya ya.

__ADS_1


__ADS_2