APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 125.Rasa Bahagia


__ADS_3

Setelah perdebatan kedua cucunya kakek Aldo mengajak mereka segera berangkat.


"Ayolah kita berangkat, nanti kita lanjutkan lagi berdebatnya jika kalian belum puas."


"Sudah kok kek, kami sudah puas kok."


"Kalau begitu mari kita segera berangkat."


Akhirnya mereka segera berangkat menuju rumah yang sudah beberapa tahun kakek Aldo tempati.


Di perjalanan banyak hal yang mereka ceritakan hingga membuat mereka tertawa bahagia.


Kakek Aldo merasa sangat bahagia bersama kedua cucunya, walaupun sering banget bertengkar tetapi mereka sangat menyayangi satu sama lain.


"Kek kalau sedang sendiri siapa yang paling sering kakek ingat?"


"Siapa ya? sepertinya cucu kakek yang cantik deh."


"Benaran kek? abang yang ganteng ini tidak kakek ingat?"


"Ingat dong, semua cucu kakek pasti kakek ingatlah."


"Oh.... aku pikir hanya cucu cewek kakek yang cerewet ini saja."


"Oh.... tidaklah semua cucunya kakek ada di sini."


Kakek menunjukkan dadanya dengan kedua tangannya.


Karena sibuk dengan cerita akhirnya tanpa mereka sadari jika mereka sudah sampai dengan selamat.


Kakek tidak langsung mengajak mereka masuk melainkan melihat perkebunan sayur yang ada di pekarangan rumah.


"Wah.... sayurnya subur banget kek."


"Pastinya dong ini pak Arun yang urus."


"Sejak kapan kek ditanam sayur terakhir kami kesini belum ada lagi."


"Sejak pak Arun pindah ke dekat sini, dan tidak punya pekerjaan, jadi kakek menyuruh dia mengolah lokasi ini dari pada kosong, dan sudah dua kali panen hasilnya memuaskan."


"Mana orangnya kek?"


"Mungkin lagi pulang untuk istirahat, biasanya dia datang pagi lalu siang pulang."


"Ayo kita masuk, hari semakin panas,nanti kita turun lagi ketika pak Arun datang."


Mereka segera mengikuti langkah sang kakek menuju rumah.


"Kita istirahat dulu, kakek mau ke kamar, kalian boleh masuk kamar."


Kesehatan kakek yang sering turun membuat kakek cepat lelah.


Kedua remaja itu akhirnya menurut apa yang kakeknya katakan, walaupun mereka tidak capek tapi mereka bingung harus berbuat apa.


Dia yang tidak bisa tidur akhirnya keluar dari kamar, di ruang keluarga Dio juga sedang menikmati acara televisi.


"Abang nggak istrahat?"


"nggak bisa tidur lebih baik nonton."


"Bang sepertinya di depan ada jualan makanan, beli yo."


"Boleh yo nunggu kakek bangun."


Keduanya menuruni anak tangga, dan segera menuju halaman.


Dari depan rumah sudah terlihat orang yang sedang berjualan.


Dengan berjalan kaki mereka sampai di depan warung bakso.


"Adanya bakso ya bang."


"Iya mas, soto juga ada dan mie ayam, mas dan mbak mau apa?"


"Mie ayam satu, bakso satu pak."


"Baik mas tunggu sebentar ya, silahkan duduk."


Dia memilih duduk di kursi yang berhadapan dengan kebun bunga yang segar dan luas.


"Disini udaranya masih segar ya bang, lihat tuh bunganya bagus banget."


"Makanya kakek betah."


"Aku juga mau kalau di minta tinggal di sini menemani kakek."


"Sayangnya tidak ada yang minta agar kamu tinggal di sini."

__ADS_1


"Ada ya coba saja nanti jika kakek balik ke sini, dengan senang hati mau mengajak aku."


"Ngarap, mana mungkin papi dan mami setuju."


"Kenapa tidak?"


"Kamu cewek sendiri sudah gitu mana kuat papi jauh dari kamu bodoh."


"Ih...


kok ngegas sih bang, aku curiga nih jangan-jangan kamu yang tidak kuat jauh dari aku."


"Ya bisa juga sih."


"Akhirnya ngaku juga bang."


"Iya kalau kamu tidak ada sepi tahu.'


"Permisi mas, mbak."


Pak warung bakso mengantar pesanan mereka.


"Silahkan di nikmati mas.. "


"Terimakasih pak."


Dia dan Dio menikmati bakso mereka, setelah itu baru pulang karena kakek sudah mencari keberadaannya mereka.


"Kek lagi ngapain?"


kakek yang sedang memperbaiki letak pas bunga akhirnya meninggalkannya lalu duduk bersantai bersama cucu-cucunya.


"Kakek lagi menunggu kalian,sudah kenyang?"


"sudah kek."


"Padahal kakek mau mengajak kalian makan di warung langganan kakek di jamin kalian pasti suka."


"Iya sudah kek kita kesana saja, masih muat kok satu porsi nasi."


"Nanti saja kita temui pak Arun dia sudah datang."


Pak Arun yang melihat kakek datang sangat bahagia, dengan tergesa-gesa dia menghampiri kakeknya.


"Siang kek, kapan sampai?"


"Sudah kek, mungkin mulai besok sayur di sebelah rumah sudah siap panen.''


"Bagus kalau begitu, semangat terus kakek titip rumah ya, mungkin kakek akan jarang datang kemari."


"Kakek mau tinggal di kota?"


"iya, makanya kakek titip rumah."


"Baiklah kek, ini sudah mau pulang?"


"iya, karena kakek mau singgah dulu di suatu tempat."


"Sebentar kek aku ambilakan sayur, untuk di bawa ke kota."


"Tidak usah, kakek masih sering kesini, lain kali saja banyak salam sama anak kamu."


Pak Arun yang sangat bahagia memiliki pekerjaan akibat pertolongan kakek Aldo langsung mengambil beberapa sayuran, dia mau memberikan sedikit hasil jerih payahnya yang tidak seberapa di banding pertolongan kakek Aldo kepada keluarganya.


Pak Arun mengantar sayurannya langsung ke mobil.


Sebelum meninggalkan rumahnya kakek memberikan beberapa lembar uang seratus untuk membantu anak pak Arun.


"Ini berikan untuk anak kamu, salam untuk mereka, besok jika punya waktu lebih banyak kakek akan menjumpai mereka."


"Trimaksih banyak kek atas bantuannya, semoga kakek sehat."


"Trimakasih, kami tinggal dulu ya."


"Selamat jalan kek."


Setelah kepergian kakek Aldo pak Arun meneteskan air matanya karena masih memiliki hati yang baik dan tulus.


Banyak hal yang sudah kakek bantu dalam keluarganya, mulai membantu perobatan istrinya yang sedang sakit,hingga biaya sekolah kedua anaknya, serta modal dan tempat untuk menanam sayuran.


Rasa haru itu membuat dia semakin semangat untuk bekerja.


Rasa syukur pada Tuhan atas kebaikan kakek Aldo akan selalu dia panjatkan.


Kakek Aldo singgah di warung yang beliau janjikan, tempat itu adalah tempat makan yang beliau kasih modal.


Warung seorang bapak yang berjuang demi anaknya yang sedang sakit kanker tulang.

__ADS_1


Setiap kali kakek makan di sana, pasti membayarnya walaupun terkadang si bapak merasa tidak enak hati.


Tetapi kakek pasti menolaknya di jika sudah terjadi perdebatan pasti kakek Aldo akan mengancam bahwa dia tidak akan pernah datang lagi.


Dan pada akhirnya si bapak pasti menyerah.


Mereka bertiga sudah menikmati bakso nasi yang berlauk ikan panggang dan satur segar.


Kakek Aldo merasa sangat senang makan disana, karena selain membantu juga masakannya sangat pas di lidahnya.


Selesai makan, kakek Aldo mengajak cucunya untuk segera pulang.


"Ayo kita langsung pulang jika sudah kalian selesai makan."


"Sebentar lagi kek, aku mau menikmati makanan ini sangat enak kek."


"Ih.... kamu itu anak gadis tapi congok."


"Biarkanlah bang yang penting habis, silahkan bak, kakek akan sabar menunggu."


"We.... sirik saja."


Kakek hanya bisa geleng kepala melihat kedua cucunya.


"Ah... enaknya, kenapa baru sekarang kakek bawa kita kesini?"


"Iya warungnya saja baru buka enam bulan, kalian mana ada datang enam bulan ini."


"Eh... iya kek, tapi tidak apa-apa deh besok kalau kita ke sini, kita singgah lagi ya kek."


"Boleh... kakek dengan senang hati."


"Apa lagi saya non, lebih senang jika datang ke sini."


Bapak si punya warung ikut nimbrung mendengar perkataan kakek dan cucunya.


"Kami pulang dulu ya, sampai jumpa lain waktu, kakek mau tinggal bersama cucu dulu, mungkin akan lama datang."


"Iya pak, sehat di sana, banyak salam sama mbak Bertha."


"Oh...iya nanti akan saya sampaikan."


Mereka meninggalkan warung sederhana tersebut, lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju kota.


Karena sudah kenyang kali ini Dia tidak banyak bicara dia malah tertidur sepanjang jalan, demikian juga dengan kakek.


Dio yang tidak bisa tidur, hanya sibuk dengan poncelnya.


Saat mereka sampai hari masih sore Edo dan Bertha belum kembali demikian juga dengan Andre.


Karena rumah masih sepi Dia melanjutkan tidurnya hingga kedua orang tuanya sudah kembali bahkan sudah berkumpul di ruang keluarga menunggu waktu makan malam.


"Dio adik kamu mana?."


"Di kamar pi, tidur mungkin, mulai tadi belum ada keluar."


"Biar mami yang lihat."


Bertha bangkit menuju kamar putrinya.


Tok.... tok.... tok... suara pintu mami ketuk tapi sudah tiga kali tidaj ada suara dari dalam.


Akhirnya mami membuka pintu dan ternyata tidak di kunc.


Mami Bertha geleng kepala melihat anak gadisnya masih terlelap.


"Sayang bangun sudah malan nih, ayo cepat mandi biar makan."


"Eh.... mami... maaf aku ketiduran."


"Iya sudah tidak apa-apa cepat mandi mami tunggu di bawah ya."


"Baik mi."


Walaupun masih ngantuk Dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dua puluh menit kemudian Dia sudah turun dengan senyuman manisnya.


"Ayo kita makan," ajak papinya kemudian.


Mereka menuju kamar makan untuk makan malam karena perut mereka sudah lapar.


Setelah selesai makan mereka melanjutkan pembicaraan mereka tentang libur bersama.


Rasa bahagia bisa kita alami setiap saat, bukan hanya karena perkara besar tetapi juga perkara kecil.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like komentar dan votenya dong.


__ADS_2