APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 74.Harapan


__ADS_3

Sementara itu Pino juga sudah menikah dengan Tia,empat tahun yang lalu saat ini mereka sudah memilik anak laki-laki yang sangat tampan yang sudah berusia tiga tahun.


Anaknya bernama Pito Adrian.Pino sangat bahagia memiliki keluarga kecilnya.


"Sayang kenapa ya, Bertha kasih nama anaknya Andre?bukannya itu nama penjahat?"


"iya sayang, katanyanya sih mau berdamai dengan orang yang bernama Andre, mereka berharap bahwa Andre kecil akan jadi anak yang baik, bukan jahat seperti Andre anak pak Wo yang tangguh."


"Aneh ya, seperti tidak ada nama saja."


"Iya aku tahu sayang kenangan itu sangat menyakitkan, dimana saat dokter mengatakan bahwa Bertha sudah pergi, semua sedih bahkan sampai pingsan."


"Jadi itu alasannya mengapa nama Andre yang di berikan pada anak mereka."


"Iya sayang, supaya bisa berdamai katanya."


"Iya sih mas aku tahu berdamai dengan dengan masa lalu itu sangat berat."


"Itu harapan terbesar mereka sayang, dan juga termasuk keluarga besar kita."


"Luka yang di alami Bertha selama ini sudah cukup berat sayang, tapi aku selalu percaya bahwa dia mampu melalui itu."


Saat mereka masih bercerita tiba -tiba anaknya masuk ke dalam kamar mereka.


Adrian datang menghampiri mereka, sambil merentangkan kedua tangannya agar di peluk.


"Papa.... aku tidak bisa tidur,"rengeknya.


"Sini papa pangku biar kamu tidur sayang," ucap Pino dengan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang buah hati.


"Apa yang membuat kamu tidak bisa tidur sayang? apa kamu mimpi buruk?"


"iya Pa aku mimpi buruk tadi."


"Iya sudah sekarang kamu tidur lagi, papa temani ya."


Sampai Andra terlelap barulah di baringkan di ranjang kembali.


Pagi hari Pino sudah terlihat sangat rapi, dia akan berangkat kerja, sedangkan istrinya akan ke butik saat siang hari.


Pagi ini Pino ada rapat penting yang harus dia hadiri, setelah dia sarapan bersama keluarga kecilnya, Pino segera melajukan mobilnya menuju kantor yang sudah di di percayakan Bertha padanya.


Papa Aldo sudah tidak bekerja lagi, dia hanya menemani ketiga cucunya untuk mengisi hari -harinya.


Bertha yang tidak memperbolehkan papanya bekerja lagi karena papa Aldo sudah sering sakit.


"Papa kalau terus masih bekerja, berarti aku juga harus bekerja,"ancam Bertha yang sedang hamil anak kedua mereka yang kembar.


Ingatan beberapa tahun yang lalu berputar manis dimemorinya.


"Nak kamu ngomong apa? tidak....!papa tidak akan mengizinkan kamu menginjakkan kakimu di kantor,jangan buat papa merasakan apa yang pernah terjadi akan kehilanganmu."


"Iya sudah papa juga harus mau dengarin Bertha, aku tidak mau kehilangan papa karena harus pusing dengan urusan kantor."


"Papa hanya membatu Pino nak."


"Iya papa bantu kak Pino dari rumah saja, ingat kata dokter papa tidak bisa terlalu lelah."


Papa Aldo yang melihat anaknya menangis, membuat hatinya sakit.


"Baiklah papa tidak akan bekerja,asal anak papa bisa tersenyum jangan menagis lagi."


Papa Aldo memeluk Bertha dengan erat, rasa sakit hilang seketika.


"Nak kamu pulanglah biar papa di bantu sama perawat, kasihan cucu papa jika maminya kelelahan."


"Iya pa, cepat sembuh," ucap Bertha kembali memeluk pria yang sudah membuatnya mempunyai cinta di dunia ini.


Edo yang sudah menyaksikan itu tersenyum bahagia melihat orang yang sangat dicintainya sudah bisa tersenyum setelah beberapa hari hanya murung karena papa Aldo yang sakit.


Dokter sudah menyarankan beberapa bulan yang lalu agar istirahat, karena kondisi papa Aldo sangat lemah, apalagi adanya riwayat penyakit jantung.

__ADS_1


Tapi ternyata papa Aldo malah pergi ke kantor, itulah yang membuat dia terus murung.


Sedangkan Bertha karena keadaan hamil semua melarang untuk bekerja dan keluar rumah, trauma masa lalu masih melekat bagi seluruh keluarga, apa lagi papa Aldo dan kedua orangtua Edo.


Bertha mengikuti semuanya demi keselamatan dia dan babynya.


Setelah beberapa bulan, baru kali ini dia keluar, itupun karena menjenguk papanya.


Setelah beberapa hari hanya murung akhirnya Edo mengijinkannya istrinya untuk menemui papanya.


Ada dua mobil yang mengawal mobil Edo yang di kawal khusu supir pilihan pak Wo.


Pak Wo sudah tidak di izinkan Edo untuk menyetir karena sudah tua, takut terjadi sesuatu, sedangkan untuk dia sendiri Edo menyuruh agar memakai supir.


Pak Wo yang selalu bersama Edo, membuat dia menganggap pria itu adalah ayah setelah papanya.


Sejak kecil pak Wo yang selalu ada untuknya.


Selain jadi orang kepercayaan kakeknya juga pengawal untuk Edo.


"Pa.. kami pulang dulu ya, nanti aku datang kesini untuk temani papa setelah mengantarkan putri papa," ujar Edo sambil menyalami papa Aldo."


Papa Aldo tersenyum sambil mengangguk.


Edo kembali ke rumah mereka, saat mobil mereka banyak samapai ternyata Andre baru pulang sekolah.


"Papi... mami...abang pulang... "teriaknya senang karena melihat kedua kesayangannya ada di depannya.


Edo langsung mengangkat tubuh putranya dan memutar badannya.


"Papi.. sudah turunkan abang, malu pa aku sudah besar, sudah punya aduk dua lagi," gerutu Andre yang kesal papinya selalu membuat dia seperti anak kecil.


Edo terkekeh mendengar perkataan putranya yang sok dewasa.


"Iya.. iya... papi lupa kalau pangeran papa ini sudah besar, papi pikir masih kecil," goda Edo yang senag melihat anaknya kesal.


"Apa papi tidak lihat seragam abang Andre, kok masih bilang kecil," jelas Andre masih terlihat jengkel.


"Mana coba papi lihat," ucap Edo semakin menggoda putranya.


"Sudah ah.. papi senang banget goda anaknya sendiri."


Entah tuh ma, heran abang, ucap Andre sambil menarik tangan maminya.


Saat ini mereka sedang makan siang, Andre sangat bahagia melihat papinya ada bersama mereka.


Biasanya papinya tidak makan siang di rumah selain akhir pekan.


"Papa tidak kerja?" tanya Andre di sela makan siang mereka.


"Tidak sayang papi tadi habis antar mami jenguk kakek,"jelas Edo lembut.


"Iya.... kok nggak tunggu abang sih."


"Abang belum bisa masuk sayang, nanti jika kakek sudah boleh pulang, kita rawat di sini,"jelas Edo yang membuat Bertha dan Andre tersenyum bahagia.


"Serius pi."


"Lagian kasihan lalau kakek sendirian, om Joni masih kuliah."


"Kapan pa om pulang abang sudah kangen tahu, celoteh Andre."


"Sebentar lagi sayang, tinggal setengah tahun lagi, jadi selama setengah tahun biar kakek bersama kita."


"Hore... abang bisa main sama om lagi, lagian kenapa sih om harus keluar negeri, kenapa tidak seperti abang sekolah dekat dengan rumah,"protes Andre.


"Biar tambah pintar sayang,makanya om kuliah jauh."


"Berarti papi tidak pintar dong, soalnya papi sekolahnya di sini,"ucap Andre lagi yang membuat Edo tertawa.


"Siapa bilang papi tidak pintar, buktinya papi dapat mami Andre, ha... baru Andre dan sekarang siapa lebih pintar? coba abang bayangkan papi kuliah jauh yang ada mami Andre di ambil orang."

__ADS_1


Bertha mencubit pinggang Edo, karena ucapannya tidak dijaga saat berbicara pada anaknya.


"Sayang... sakit tahu.." ucapnya sambil terus terkekeh.


"Ih.... papi manja banget deh,"celoteh Andre yang sudah malas dengan tingkah papinya.


Sebenarnya Andre tidak terlalu tahu apa yang diucapkan oleh papinya hanya karena Kekehan papinya dia semakin kesal.


Setelah selesai makan Edo istirahat sebentar lalu berangkat menuju rumah sakit.


Edo tidak membiarkan kita papa mertuanya hanya di rawat oleh pihak medis.


Dua malam lalu papanya datang dan beliau yang menjaga papa Aldo selama dua hari satu malam.


Saat memasuki ruangan papa Aldo, Edo langsung duduk di sisi papa Aldo yang sedang tertidur.


Edo duduk sambil memeriksa laporan dari kantor, hingga dua jam kemudian barulah papa Aldo terbangun.


Saat sudah malam Pino datang untuk menganti Edo, Pino membawa makan malam untuk adik iparnya.


"Makan dulu baru pulang, nanti masuk angin," ucap Pino sambil menyerahkan mereka kotak nasi pada Edo.


Edo tidak berkomentar, dia mengambil kotak tersebut lalu memakannya dengan lahap.


"Trimakasih ya kak,"aku pulang dulu ucapnya minta izin pada kakak iparnya.


"Pa aku pamit sampai ketemu besok," ucap Edo sambil mencium punggung tangan mertuanya.


Edo sampai rumah, dia melihat putranya masih bermain di temani sang istri.


"Papi sudah pulang? mandi sana biar main sama abang."


"Ok bos kecilku," ucap Edo sambil mengangkat tangan kanannya seperti menghormati bendera.


"Papi jahil... "


teriak Andre yang membuat Edo tertawa.


Sepuluh menit kemudian Edo sudah menuruni anak tangga, dia mendekati kedua orang yang sangat dicintainya.


"Main apa kok serius banget?"tanya Edo yang melihat Andre tidak menyadari kehadirannya.


"Main tembakan pi, lihat penjahatnya kalah,"jelas Andre sambil memperlihatkan layar leptop yang sedang menunjukkan permainannya.


Jam sembilan Bertha mengajak Andre untuk tidur, karena besok pagi harus berangkat kerja.


Setelah melihat Andre tidur, Bertha kembali ke kamar mereka.


Edo asyik melihat leptopnya, tapi tetap menyadari kehadiran istrinya.


"Sayang kalau mau tidur, duluan saja aku masih ada beberapa pekerjaan."


"Benaran mau aku langsung tidur nic? nggak nyesal? pada hal aku mau loh."


"Ok kalau begitu, tunggu seperempat jam lagi maka keinginanmu akan terpenuhi sayang."


Dengan semangat Edo menyelesaikan pekerjaannya.


"Kamu benar menggoda aku sayang... bisik Edo di telinga Bertha."


Iya saat ini Edo sudah berbaring di samping istrinya.


Perlahan tapi pasti Edo sudah menjelajahi tempat yang membuat mereka terbang tinggi.


Senyuman indah terukir indah bak mentari pagi di kala mereka sudah selesai melaksanakan tugas yang terindah yang tidak bisa di wakilkan oleh siapapun.


Jika hal itu terjadi maka bukan cinta namanya melainkan pengkhianatan.


Hai.....


semua.... salam terindah dari author.

__ADS_1


Semoga semuanya yang sudah sudi mampir di karyaku ini, sudi meninggalkan jejak ya.


Trimakasih.


__ADS_2