APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 58.Bersabar


__ADS_3

Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, drama gidam Bertha sudah berlalu,trimester kedua ini Bertha sudah tidak merasakan apa-apa lagi.


Tidak lagi lemas dan muntah, dan juga dia sudah merasa segar.


Hari ini mereka berangkat ke kantor bersama.


"Sayang kamu yakin mau ikut ke kantor? hari ini jadwal aku sangat padat apa kamu tidak akan bosan?"


"tidaklah, tenang aja disini juga aku bosan dendiri."


"Tapi kamu harus janji nanti di kantor istirahat,"aku tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan kamu dan anak kita sayang.


"Beres bos."


"Iya sudah kita sarapan supaya berangkat."


Di kantor Edo ternyata tidak memberikan pekerjaan kepada istrinya itu,sehingga Bertha menjadi uring-uringan sendiri.


Karena kesal Bertha beranjak menuju kamar pribadi milik suaminya.


Bertha tidur dengan pulas, makan siang juga hampir terlewati jika Edo tidak membangunkannya.


"Sayang bangun, kita makan siang dulu ya, nanti lanjut tidur lagi."


Hmmm,lenguhnya bukannya bangun Bertha malah memperbaiki tidurnya.


"Sayang kamu ngantuk banget ya, tapi bangun dulu sayang nanti tidur lagi."


Edo tidak mau menyerah untuk membiarkan Bertha tidur tanpa makan, dia mulai memjahili Bertha dengan mencium kening, bibir, leher dan terakhir di area pegunungan indah yang melekat di tubuh Bertha.


Merasa terganggu akhirnya Bertha membuka matanya perlahan.


"Akhirnya kamu bangun sayang,"ayo kita makan dulu baru nanti lanjut lagi bobok embeknya.


Bertha bangkit dengan bantuan Edo.


"Mereka segara menyelesaikan makan siangnya, aku mau bantu kerja Do."


Hmmm? Edo yang terkejut mendengarkan panggilan Bertha seketika meletakkan sendoknya hingga menimbulkan suara nyaring karena keadaan di ruangan itu sangatlah sunyi.


"Kamu panggil apa tadi sayang?"kok sepertinya panggilan itu sudah lama tidak terdengar.


"Habis kamu nyebelin percis seperti Edo yang aku kenal beberapa tahun yang lalu."


"Bukannya nyebelin sayang tapi demi kebaikan kalian berdua, jika kamu terlalu lelah nanti masalah dengan anak kita lagi."


"Hei bagaimana bisa aku kelelahan jika sejak tadi aku tidak kerja apa-apa."


"Iya sudah kalau kamu mau kerja tolong bantu susun berkas ini sesuai tanggal dan bulan, di sudut lemari sebelah kanan."


Edo akhirnya mengalah toh kerjanya gampang, dari pada ribut lebih baik kasih dia kerjaan.


Hari ini semua berlangsung menggembirakan bagi Bertha sebab dia bisa mulai bekerja.


Seperti biasa jika ada hal penting maka dia ikut kekantormya dan jika tidak dia bisa pergi ke butik.


Hari ini begitu menyenangkan bagi Bertha, dia bisa menggambar dua pola pakain.


Segera dia memberikan kepada penjahit yang sudah dia pekerjaan sekitar dua puluh orang.


Tepat Edo membiarkan dia bekerja, walaupun harus bersama sang suami tapi bagi Bertha itu lebih baik dari pada hanya berdiam diri saja.


Dia membuat pola dan tiga hari belakangan ini sangat laris, baik bagi kalangan atas maupun kalangan bawah.


Butik Bertha memiliki tempat yang luar biasa, siapa saja bebas masuk, tapi di dalam memiliki ruang tersendiri bagi kalangan atas.


Hanya sepintas pandang tempat itu bebas tapi di dalam sungguh memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjug.


Setelah masuk pintu akan ada tulisan yang menunjukkan tujuan kita, pakain rumah mahal, sederhana.


Bertha sadar tidak semua kalangan atas, banyak kalangan bawah yang menginginkan pakaian layak pakai tapi dengan harga terjangkau.


Dan terbukti dari kalangan atas atau bawah banyak yang berbondong -bondong untuk membeli pakaian sesuai dengan kemampuannya.


Bertha berharap daya beli pola kali ini akan jauh lebih laris dibanding tiga hari lalu.


Saat ini Edo berada di ruangan Bertha, Edo sengaja tidak menghampiri Bertha hanya memperhatikannya dari sudut ruangan.


Selesai dengan gambar di tagannya Bertha menghubungi asistennya agar segara membawa kepada pihak penjahit.


"Wah.. bagus banget kak aku yakin keempat pola yang kakak gambar pasti laris di pasaran."


"Amin.. Dara."


Setelah Dara keluar barulah Edo datang menghampiri Bertha.


,"Sayang begitu berartinya kertas dan pensilmu ini dari pada suamimu ini,sudah satu jam aku duduk di sini tapi tidak kau hiraukan."


"Maaf.. tapi kenapa hanya diam di sana,dan tidak menghampiri aku?"ucap Bertha sendu.


"Inilah alasan kenapa aku tidak membiarkan kamu bekerja, karena kamu akan lupa waktu."


"Sekali lagi aku minta maaf."


"Baiklah maaf di terima jika aku puas dengan layananmu nanti malam ini bagaimana hmmmmm?"goda Edo.


"Iya baiklah...


baiklah.. tidak masalah yang paling penting aku di maafkan."


"Ok."


"Ayo kita pulang sudah cukup bekerja hari ini,jangan sampai hilang kesempatanmu untuk bekerja."


Segara Bertha membereskan barang yang ada di atas mejanya.

__ADS_1


"Sayang sejak kapan ya kamu suka ngancam? nyebalin banget deh."


"Maaf,untuk sekali lagi."


"Iya sudah ayo,entar diancam lagi, aku juga sudah sangat lapar."


Akhirnya mereka mencari tempat untuk makan siang yang tertunda beberapa jam yang lalu.


Kamu mau pesan apa sanyang? tanya Edo sambil memberikan daftar menu makan di rumah makan itu.


"Hmmm, aku mau kepiting rebus dan ayam kampung goreng."


"Kamu yakin sayang mau makan itu?"


"iya aku pengen itu yang."


"Ok baiklah."


"Mbak pesan kepiting rebus dua dan ayam kampung goreng aja dua, minumnya jus mangga dua."


"Tunggu sebentar ya mas."


"Ok."


Sambil menunggu pesanan mereka, Edo berusaha untuk mencairkan suasana dengan bertanya pada Bertha.


"Sayang nampaknya butik kamu semakin maju ya, tapi kamu jangan terlalu memaksakan diri, biar desainer kamu yang mengerjakan tugas kamu."


"Iya besok aku janji tidak akan telat makan."


Sebenarnya Bertha juga merasa bersalah kepada anaknya karena sampai lupa untuk mengisi perutnya.


"Aku percaya sama kamu sayang."


"Setelah selesai makan, mereka segara menuju cafe Edo."


"Jika tadi mau kesini ngapain kita harus makan di rumah makan tadi."


"Kelamaan sayang jika harus kesini yang ada kamu keburu molor di mobil."


Bertha memang akhir -akhir ini sering cepat tidur, terkadang dari butik sampai rumah yang hanya setengah jam saja sudah sampai mengorok.


Di cafe Edo berkeliling sebentar untuk melihat kegiatan para karyawan, kemudian Edo memantau cctv untuk melihat kondisi cafe sejak kemarin.


Entah kenapa saat sampai di sana Bertha ingin bernyanyi, kemudian ia menghampiri Edo yang sedang memantau leptopnya.


"Sayang kita nyanyi yo," lagi pengen.. rengeknya agar dapat izin dari sang suami.


Edo yang tidak tega melihat wajah memelas istrinya,akhirnya menyerah.


"Ayo mau lagu apa?"


"Maunya apa?"


"Loh tadi yang mau nyanyi kamu, memang tidak ada lagu khusus?"


Lagu ***Tak Ingin Sendiri **


"Boleh ayo."


Mereka segara naik ke atas panggung dan menentukan pilihan nadanya.


Baiklah kepada para pengunjung, hari ini kami ingin membawa lagu dari Dian Piesesha.


Tak Ingin Sendiri


Aku masih seperti yang dulu


menunggumu sampai akhir hidupku


kesetiannku tak luntur


hatipun rela berkorban


demi keutuhan kau dan aku (Bertha)


Biarkanlah aku memiliki


semua cinta yang ada di hatimu apa pun kan kuberikan


cinta dan kerinduan


untuk mu dambaan hatiku (Edo)


Malam ini tak ingin aku sendiri kucari damai bersama bayanganmu


hangat pelukan yang masih kurasa


kau kasih... kau sayang (Bertha dan Edo)


Aku masih seperti yang dulu


menunggumu sampai akhir hidupku kesetiananku tak luntur


hatipun rela berkorban demi keutuhan kau dan aku (Bertha)


Biarkan lah aku memiliki semua cinta yang ada di hatimu apa pun kan kuberikan cinta dan kerinduan untuk mu dambaan hatiku (Edo)


Malam ini tak ingin aku sendiri


kucari damai bersama bayanganmu


hangat pelukan yang masih kurasa


kau kasih..

__ADS_1


kau sayang (Bertha dan Edo)


Setelah menyanyikan lagu itu para pengujung minta agar menyanyikan lagu yang lain.


Tambah... lagu Benci Tapi Rindu


lanjut... suara yang sangat merindukan suara emas dari pasangan muda itu.


Edo lanjut dengan memulai bersuara.


Ok Trimakasih sekarang kita dengar lagu dari Diana Nasution.


**Benci Tapi Rindu **


Bukan hanya sekedar penghibur diriku ini sayang(Bertha)


bukan pula sekedar pelepas rindumu oh sayang (Edo)


sakit hati ku


kau buat begitu( Bertha dan Edo)


Kau datang dan pergi


sesuka hati mu


oh kejamnya dikau


teganya dikau padaku(Bertha)


kau pergi dan datang sesuka hati mu oh...sakitnya hati


bencinya hati padamu (Edo)


sakitnya hati ini


namun aku rindu


bencinya hati ini tapi aku rindu (Bertha dan Edo)


Musik


Bukan hanya sekedar penghibur diriku ini sayang( Bertha dan Edo)


bukan pula sekedar pelepas iya rindumu oh sayang (Bertha)


sakit hati ku..


kau buat begitu..( Bertha dan Edo)


Kau datang dan pergi sesuka hati mu oh kejamnya dikau teganya di kau padaku (Bertha)


Kau pergi dan datang sesuka hatimu oh sakitnya hati


bencinya hati padamu (Edo)


Sakitnya hati ini..


namun aku rindu


bencinya hati ini..


tapi aku rindu


(Bertha dan Edo)


Sakitnya hati ini


namun aku rindu


bencinya hati ini


tapi aku rindu (Bertha dan Edo)


Ok Trimakasih, sekarang kami serahkan kembali kepada group band kami.


Sebenarnya Edo bukan tidak mau mengikuti keinginan para pengunjung tapi dia tidak mau mengambil resiko akan keselamatan anak dan istrinya.


"Sayang sudah ya, kasihan dedeknya vapek."


"Iya.. Trimakasih ya gantengku sudah mau bernyanyi bersama kami."


"Sama -sama istri cantikku."


Mereka segera menuju ruangan Edo karena mereka belum menyelesaikan tugas mereka datang ke sini.


Setelah Edo mengambil beberapa berkas yang ia butuhkan, mereka langsung menuju parkiran.


Pak Wo sudah datang menjemput mereka.


Sebenarnya pak Wo sudah di suruh pulang sama Edo, tapi dia merasa tidak tega, maka kembali menyusul majikannya itu.


"Loh kok bapak balik lagi, bukannya sudah pulang tadi?"


tanya Bertha.


"Bapak tidak tenang nak, karena kalian belum pulang."


"Trimakasih pak."


Pak Wo hanya menjawab dengan anggukan dan senyum.


Bersambung


Trimakasih kepada semua yang masih setia mengikuti karyaku ini.

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar dan votenya iya ya....


Salam kenal..


__ADS_2