APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 92.Pendekatan


__ADS_3

Ibarat sungai tanpa air apakah itu dapat di katakan sungai? mungkin begitu juga dengan manusia, hidup tanpa cinta membuat seseorang menjadi kering dan tandus.


Setelah mereka sampai di rumah Edo, Angel dan Vero pamit untuk pulang Angel membawa mobil sendiri, jadi tidak ada alasan untuk Joni untuk mengantar pulang.


"Hai.... boy apa om sudah boleh pulang?"


"Boleh dong om tapi dengan satu syarat, bawa bibi untuk Andre."


"Apa?"


"Bibi tadi cantik om."


"Masih pendekatan boy."


Ha.... ha.... tawa Edo pecah mendengar interaksi antara anak dan adik iparnya itu.


"Boy... om itu iya jauh-jauh pergi kuliah akhirnya suka yang di samping mami kamu."


"Ih.... papi jangan ngejek om dong."


"Maaf boy, papi hanya bercanda."


"Sudah boy biar saja papi kamu puas ngejek om, tidak masalah."


"Nggak om, Andre tidak rela jika papi jahil, cukup Andre yang jahil."


Perkataan Andre barusan membuat orang dewasa yang ada disana menjadi bengong.


"Jangan jahil juga dong bang, "ujar Bertha untuk memperingati putranya.


"Siap bos mami."


"Sudah deh, om pulang dulu kasihan kakek tinggal sendiri.


Akhirnya Joni segera pulang karena dia harus segera membersihkan diri, badannya sudah terasa lengket dan sedikit lelah bermain-main bersama Andre.


Tidak butuh waktu lama karena jalan tidak terlalu macet, Joni sudah sampai di rumah.


Saat turun dari mobil papanya duduk di teras rumah dengan seseorang yang tidak Joni kenal.


"Sore pa, om," sapanya sopan.


"Sore nak,perkenalkan teman papa namanya Rudi."


Joni om, ujarnya.


"Wah ternyata anak kamu tumbuh menjadi pria ganteng ya, sayang sekali aku tidak punya anak perempuan."


Ha.... ha... tawa pria paruh baya itu terdengar sangat merdu.


"Kamu punya anak perempuan, eh belum apa-apa sudah di jaga pria lain, jadi tidak punya kesempatan aku."


"Iya sudahlah mau gimana lagi, yang penting kita masih teman."


"Itulah... aku senang akhirnya bisa sering jumpa sama kamu, aku pikir ikut anakku kesini membuat aku jadi gila tidak punya teman."


"Sama Rudi,apa lagi sekarang aku sudah jarang masuk kantor, jadi kita bisa nongkrong."


"Pa, aku ke kamar dulu ya," nanti pamit Joni yang merasa di abaikan keberadaannya.


"Ah.. iy, silahkan membersihkan diri dulu biar kita makan malam."


"Baik pa."

__ADS_1


Selesai membersihkan diri Joni langsung menyusul papanya dia tidak mau sampai menunggu lebih lama.


Saat ini mereka sudah berada di kursi meja makan, hidangan yang sudah khusus dibuat untuk sahabatnya itu membuat mereka sangat nikmat.


"Ha... ha... kamu masih ingat saja makanan kesukaanku," ucap Rudi merasa bahagia.


Sudah lebih sepuluh tahun mereka tidak bertemu, dulu ketika papa Aldo terpuruk atas kepergian istrinya, papa Rudilah yang selalu ada untuknya.


Papa Rudi yang duluan kehilangan istrinya merasa bahwa dunia ini seakan runtuh, dan dia tahu itulah yang dialami oleh papa Aldo.


Papa Aldo dan papa Rudi bertemu di rumah sakit, saat itu dia sampai sakit karena di tinggal istrinya yang terkena kanker rahim.


Maka sejak saat itulah mereka semakin dekat.


Papa Rudi memiliki tiga putra jadi ketika istrinya meninggal dia memutuskan untuk tidak menikah lagi.


Beda jauh dengan papa Aldo yang tidak memiliki anak mendapat rayuan dari wanita cantik membuat dia menemukan hidupnya, apa lagi saat itu wanita itu sangat baik percis seperti mendiang istrinya.


Sayangnya sifat itu hanya bertahan beberapa waktu saja, karena pada kenyataannya hanya menutupi kesalahan atas kehamilannya.


Untuk kedua kalinya papa Aldo tejatuh bahkan lebih dalam.


Jika saat itu istrinya meninggal dunia masih ada putri yang sangat dicintainya, beda ketika istri keduanya, putrinya sudah jauh bahkan sangat menderita.


Penyesalan yang ada saat itu, sampai akhirnya Bertha datang sendiri, membuat dia mau bangkit.


Melihat wajah murung papa Aldo, sedikit tersirat rasa bersalah.


"Kamu kenapa? masih teringat akan masa lalu?"


Papa Aldo tersentak dengan memori masa lalu yang membuat dia menjadi murung.


"Ah... ia aku terkadang masih tenggelam dalam pengalaman itu."


"Jangan seperti itu kasihan anak kamu."


Joni sebagai anak hanya diam mendengar ucapan kedua pria yang ada di depan matanya.


Terasa tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini, dia saja belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan pahit itu.


Teringat jelas dalam benaknya saat dia TK papanya percis patung, hanya berdiam diri di kursi roda.


Saat dia bicara sesuatu hanya saat itulah papanya bicara, selain itu hanya diam.


Mungkin hal itulah yang membuat dia sulit untuk memaafkan mamanya.


Menghancurkan kehidupan papanya sama saja menghancurkan hidupnya.


Sibuk dengan pikiranya, tanpa terasa kedua pria paruh baya itu sudah tidak berada di meja makan.


Huf.... tarikan nafas Joni terdengar kasar membuat bibi yang sedang membersihkan meja makan merasa heran.


Joni berjalan menuju ruang keluarga dan ternyata papanya sedang main catur.


Joni tidak jadi mendekat dia malah masuk kamar untuk membereskan pekerjaannya yang belum selesai.


Sementara itu di kediaman Edo masih rusuh dengan berbagai drama dari sang papi yang membuat Andre kesal.


"Papi jangan ganggu mami Andre!"


"eh... sejak kapan ada larangan tidak bisa ganggu istriku."


"Dia maminya Andre."

__ADS_1


"Tapi dia istri papi boy."


Mendengar perkataan papinya Andre langsung menghambur ke punggung papinya.


Jadilah mereka main kuda-kudaan hingga lupa makan.


"Pi... abang...sudah ya, kita makan dulu mami sudah lapar nic, kalau kalia masih main mami makan sendiri saja iya."


"Baik... baik mi," ujar Andre cepat dia tidak mau membuat maminya kelaparan.


"Pi sebagai hukuman papi yang jahil, papi harus gendong abang samapi di meja makan."


"Siapa takut boy, ayo."


Akhirnya mereka makan setelah terlewati satu jam.


Setelah selesai makan Edo langsung mengajak Andre untuk istirahat, karena besok pagi Andre harus sekolah.


"Ayo.. boy kita langsung tidur papi yang temanin, supaya besok pagi bangun dengan semangat."


"Papi.. ayo," ujar Andre penuh semangat karena memang dia sudah mengantuk.


Setelah Andre tidur Edo meninggalkan kamar putranya lalu menuju kamarnya.


Disana istrinya baru selesai mengganti pakaiannya si kembar.


"Sayang kamu pasti tahu dong jika si abang dan si kembar tidur,"ucap Edo lembut di telinga Bertha.


"Memang mau apa? tanya Bertha pura-pura tidak tahu."


"Jangan pura-pura tidak tahu sayang."


Edo mulai bereaksi, tangannya sudah mulai liar bahkan tangannya sudah tidak terkontrol di depan dada indah istrinya.


"Sayang... "ucap Edo sudah dengan hasrat yang membara.


Dan disinilah mereka saat ini, memadu manisnya cinta di atas ranjang.


Mencium, *******, mengerang dengan berbagai macam suara dan nikmat yang mereka rasakan.


Suara panjang kepuasaan mengakhiri pertempuran mereka telah malam ini.


"Sayang Trimakasih ya,"ucap Edo dengan lembut.


"Sama-sama sayangku."


Karena sangat lelah, mereka akhirnya tertidur sangat pulas,hingga sampai mentari pagi menyapa.


Pagi hari seperti biasa suasana di rumah Edo sangat harmonis, bersiap dengan saling membantu bahkan sampai selesai sarapan.


Semua telah berangkat hari ini Bertha menyelesaikan pekerjaannya yaitu rancangan baju untuk mereka pakai di saat pesta pernikahan Kinan.


Kedua belah pihak sudah sepakat pernikahan di langsungkan tiga minggu lagi.


Kekuarga Yanto sudah resmi melamar Kinan.


Baju pengantin Kinan sudah sampai di tangan penjahit propesional butik miliknya.


Satu jam kemudian akhirnya selesai semua, Bertha segera mengirim melalui supir mereka.


Bertha merasa jenuh karena tidak ada kegiatan lalu turun untuk menjumpai pelayan menyiapkan makanan dan memasukkannya dalam rantang.


Bertha berencana setelah menjemput Andre langsung menuju kantor suaminya.

__ADS_1


Bersambung


Sekian dulu ya.


__ADS_2