APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 67.Baby


__ADS_3

Semua keluarga sudah kembali dengan tugas dan rumah masing-masing.


Sekarang tinggal keluarga Edo yang ada di rumah itu.


Mama Edo yang merawat cucunya karena menantu kesayangannya masih perlu perawatan, demikian juga dengan Edo, dia juga masih pemulihan.


Tangannya belum bisa di gerakkan, maka tidak mungkinkan mama dan papa Edo meninggalkan mereka berdua, terpaksa papa Edo yang akan kembali besok pagi.


"Sayang kamu sudah bangun?"tanya Edo yang juga baru membuka matanya.


"Iya pi, oya aku haus."


"Sebentar ya sayang aku ambilkan dulu," ucap Edo lalu beranjak dari ranjang menuju meja yang ada di kamar mereka.


Edo memberikan segelas air putih, dan Bertha segera meneguknya sampai kandas.


"Sayang kamu lapar?"


"nggak pi, mau di peluk aja," ucap Bertha manja.


"Memang kalau di peluk laparnya hilang ya?"


"nggak sih tapi pengen saja," ujar Bertha yang sudah meringkuk di pelukan Edo.


"Nak buka pintunya dong, baby kalian mau sama papi dan maminya nic."


"Bentar ma," jawab Edo dan segera membuka pintu.


Mama Edo segera memberikan cucunya kepada putranya.


"Sayang mama keluar sebentar ya mau cari keperluan baby sama papa,"pamit mamanya kepada anak dan menantunya.


Edo meletakkan putranya di samping sang istri.


Bertha tidak memberikan asih kepada putaranya, karena mungkin saat baru lahir tidak di pancing atau memang benda indah itu hanya untuk sang suami,makanya asinya tidak keluar.


"Sayang maaf ya, mama tidak bisa memberikan kamu asih."


"Bertha memeluk putranya dengan hangat,mami juga tidak bisa merawat kamu sayang."


"Jangan sedih sayang, nanti sesudah kita pulih kita bisa merawat baby kita dengan baik."


"Iya papi,"jawab Bertha dengan suara khas anak kecil.


Baby mungil itu hanya melihat maminya yang berbicara dengan penuh kasih sayang.


Baby yang belum tahu apa-apa, tapi cukup merasa kasih sayang dari ibunya dengan tulus.


"Sayang aku bahagia banget bisa berkumpul bersama, aku tidak tahu harus bagaimana saat kamu di katakan dokter telah meninggalkan kami."


"Sayang tahu nggak saat itu aku bertemu dengan kedua mamaku, disana kami tertawa bersama ,di sana ya tempatnya bagus banget, mama kak Pino minta maaf karena sudah menyakiti aku selama ini, tapi setelah lama kami duduk besama akhirnya mereka melambaikan tangan dan menyuruh aku pulang karena menantu dan cucu mereka sudah menunggu."


"Iya sayang, mungkin selama ini beliau hanya terbawa emosi,dan di liputi rasa egois, belum lagi atas hasutan kak Kinan."


"Iya papi sayang."


"Syukurlah sayang mereka menyuruh kamu kembali,jika tidak pastinya kita tidak bisa kumpul bersama."


"Iya sayang tapi saat itu aku sangat sedih karena di tinggal sendiri," jelas Bertha sendu mengingat kejadian itu.


"Iya sudah sayang yang penting kita saat ini sudah hidup bahagia."


"Oya sayang kita belum kasih nama anak kita ya, mau buat nama apa?"


"Kalau Andre Berdo gimana sayang?kamu suka nggak?"


"Bagus banget sayang, aku suka."


Andre Bertha Edo maka di singkat Berdo jelas Edo penuh semangat.


"Kamu tidak pakai nama keluarga sayang."


"Pakai dong sayang."


"Berarti namanya Andre Berdo Jaya."


"Betul sayang, kamu sangat pandai, tidak sia-sia Tuhan memberikan Kita kesempatan."


"Iya dong istri siapa dulu."


Melihat senyum bahagia dari bibir Bertha membuat Edo bersyukur tiada henti, Tuhan memang selalu memberikan kekuatan yang luar biasa.


Walaupun dari berbagai macam cara, dan cara itu terkadang membuat kita sudah tidak mampu, tapi pada akhirnya kita harus berjuang dan dapat bertahan, Sekalipun melewati sampai ke titik terendah.

__ADS_1


"Sayang babynya sudah bobok tuh, aku bantu membersihkan diri ya."


"Iya bantu bangun, rengek Bertha manja."


Edo hanya terkekeh melihat kemanjaan istrinya, tapi dengan cepat dia bangkit dari ranjang lalu berjalan mendekati Bertha.


Ayo ajak Edo sudah menjulurkan tangannya, dan membantu istri tersayangnya.


Bertha mengikuti langkah Edo yang memapahnya dari samping sambil merangkul pundak Bertha.


Sebenarnya Edo tidak tega hanya memapah istrinya, tapi apa boleh buat tangannya juga belum sembuh.


Dia tidak bisa menggendong istrinya, seperti yang biasa dia lakukan.


Di kamar mandi Edo membantu istrinya untuk membuka pakaian dengan memakai satu tangan.


Edo membantu membersihkan tubuh Bertha dengan lembut, gerakan dan pemandangan indah itu akhirnya membangunkan si jak yang sudah sudah berdiri tegak.


Bertha tertawa terbahak-bahak melihat mainannnya itu sudah siap bertempur.


"Sayang kok malah ngejek aku sih, sakit tahu."


"Makanya tadi suruh tunggu di luar, aku bisa sendiri juga akhirnya tersiksa sendiri kan."


"Tidak apa-apa sayang, yang penting istri aku bersih dan wangi."


"Benaran nic,"goda Bertha, sebenarnya dia kasihan pada Edo, tapi apa yang mau di kata, memang dia tidak bisa menolong untuk saat ini.


"Sudah yo nanti kedinginan, aku tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan kamu lagi."


Di ranjang Edo menyuruh Bertha untuk duduk lalu Edo mengambil pakaian untuk istrinya pakai.


"Ini sayang,"ujar Edo sambil menyodorkan pakaian Bertha.


Setelah selesai berpakaian Edo memberikan teh hangat yang sudah di pesan kepada asisten rumah tangga mereka.


"Ayo baring sayang," kembali Edo membantu istrinya untuk berbaring lalu menarik selimut sampai sebatas bahu Bertha.


Baby Andre tidur pulas, sepertinya dia tahu keadaan kedua orang tuanya, yang belum bisa merawatnya dengan baik.


Iya selain operasi melahirkan, Bertha juga operasi bagian kakinya yang terjepit.


Edo yang sudah lebih baik, dengan tulus melayani kebutuhan istrinya.


Tuhan mengabulkan permohonan Edo, maka sekarang dia harus menepati janjinya.


Bertha sudah terlelap ketika mama mertuanya datang, mamanya kira babynya rewel, eh taunya bobok manis di samping mamanya.


Beberapa hari lalu, baby Andre memang sedikit rewel, ya.. mungkin ikatan batin mereka cukup dekat, makanya dia bisa bobok manis .


"Iya sudah mama tinggal ya nak, mama buatkan makanan untuk kalian."


Mama Edo segera belalu, dia akan mengganti hari -hari yang sudah hilang karena ketidak bersamaan mereka.


Saat Edo baru selesai mandi, mamanya masuk dengan membawa napan berisi makanan yang sangat lejat.


"Sayang kalian makanlah dulu biar makan obat, ini mama sudah buatkan makanan yang kalian suka."


"Baik mama ku sayang,"Edo segera berjalan menuju meja lalu mengisi nasi dalam piring serta lauknya.


Ia mendekati istrinya untuk menyuapi.


"Aku bisa sendiri,"ujar Bertha tapi tidak di gubris oleh Edo.


"Sudah sayang," buka mulutnya tidak usah protes.


Suapan demi suapan yang diberikan oleh Edo akhirnya nasi dalam piring habis juga.


Edo memberikan obatnya Bertha, setelah selesai Bertha makan obat,barulah Edo mengisi perut sendiri dan obantnya.


Dua minggu telah berlalu sejak Bertha pulang dari rumah sakit, tangan Edo sudah berangsur pulih, hanya terkadang terasa sakit jika banyak gerak.


Edo merawat Bertha sendiri, mau kekamar mandi dia yang membantu.


Kaki Bertha sudah tidak terlalu sakit tapi belum kuat untuk berjalan,dia masih harus di papah oleh suaminya yang tidak mau di bantu oleh siapa pun.


"Sayang,"sapa Edo sambil mencoel pipi baby Andre.


"Enak banget boboknya,bangun dong ayo main sama papi, sepi nih pada bobok semua."


Iya nggak pengaruh dua -dua pules bangat.


Karena satupun tidak ada yang bangun akhirnya Edo meninggalkan mereka dan masuk ke ruang kerjanya.

__ADS_1


Edo mengerjakan semua pekerjaannya dari rumah, di kantor pak Wo dan Gilbert yang mengurus, bagi pak Wo pekerjaan itu sudah biasa.


Dulu sewaktu Edo kecil dia yang membantu, walaupun masih di bantu Edo.


Sekarang sudah ada Gilbert jadi sudah tambah ringan pekerjaannya Edo.


Dua jam bergulat dengan berkasnya Edo kembali memasuki kamarnya.


Istri dan anaknya ternyata sudah bangun sejak tadi, mereka asyik bermain-main.


"Wah sayangnya papi sudah pada bangun ya."


"Sudah dong, ini buktinya."


"Oya mama di mana sayang?"


"lagi beras -beres, besok mama sudah mau pulang, papa ada urusan di luar kota, jadi kasihan bocah yang dua itu tidak ada yang jaga, padahal mereka lagi ujian."


"Iya sepi dong jika mama pulang, terus yang jagain dedek siapa?"


"kamu tenang sayang ada ibu, dia juga sama seperti mama menyanyangi kita dan pasti menyayangi baby Andre."


Yang di maksud ibu sama Edo adalah istri pak Wo, yang juga sangat menyayangi Edo sejak kecil, karena dia juga yang membantu merawat Edo sejak baru lahir batin


"O.. iya aku lupa sayang."


"Tidak apa-apa misay."


"Apa tuh."


"Mami sayang lalu di singkat misay."


"O.. kirain apa ya dek?"


"Suka nggak?"


"papi sayang, apapun panggilannya aku suka deh."


"berarti kamu juga harus panggil pisay,ok."


"Baik papi sayang alias pisay."


Baby Andre ikut tertawa melihat tingkah papi dan maminya yang dia sendiri belum tahu apa-apa.


"Pi aku pengen ke kamar mandi."


"Baiklah misay, ayo ucap Edo langsung mengangkat tubuh Bertha menuju kamar mandi."


"Pi nanti tangannya sakit lagi loh langsung ngangkat berat."


"Nggak sayang, tenang saja."


Selesai urusan kamar mandi segera mereka kembali ke kamar ternyata mama sudah ada di sana.


Mama sapa Bertha.


"Iya sayang, mama mau ngomong sama kalian."


"Iya ma ada apa?"


"sayang mama harus pulang besok, soalnya papa ada urusan di luar kota, sementara adik kalian ujian, jika mereka tidak ada yang jaga maka mereka tidak akan menyelesaikan ujuannya dengan baik."


Mereka itu jika tidak di banguni maka tidak akan bangun, jelas mama lagi.


"Iya tidak apa-apa ma, Trimakasih sudah merawat kami dengan baik."


"Itu tanggung jawabnya mama sayang, kalian sehat mama senang."


"Iya ma."


"Mama bersyukur karena kalian anak yang mandiri."


"Pasti dong ma," jawab Edo bangga.


"Jika adik kalian sudah selesai ujian, dan kamu belum sehat betul, mama akan kesini lagi."


"Ok mamaku cantik."


Edo memeluk mamanya dengan erat.


Iya sudah mama keluar ya mau beres-beres.


Jangan lupa like, vote dan komentar anda ya......

__ADS_1


__ADS_2