APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 76.Kehadiran Dio dan Dia


__ADS_3

"Kamu senang ya lihat suami kamu ini seperti orang gila, kok mulai tadi ketawa terus."


"Siapa yang bilang aku senang,aku malah sedih tahu."


"Tapi kok ketawa terus?"


"karena bahagia papi sayang,soalnya atas kekerasaanku untuk nambah momongan akhirnya kita dapat baby kembar."


"Iya juga sih, Trimakasih sudah mau berjuang demi anak kita."


"Sama-sama sayang, kita berjuang bersama demi anak -anak kita."


"Iya sudah tidur lagi supaya cepat sembuh, biar bisa buat adik untuk si kembar," ujar Edo untuk menggoda istrinya.


"Ih... tadi katanya sudah cukup kenapa sekarang jadi pengen? tidak lagi mimpikan papi sayang?"


"Nggaklah aku serius, ujar Edo berlagak serius padahal dalam hati dia tertawa melihat reaksi istrinya yang terlihat bingung."


"Ha? aneh deh gumam Bertha."


Iya jelas dong Bertha merasa bingung soalnya tadi Edo sudah bilang cukup, eh.. sekarang malah pengen nambah bagi Bertha itu tidak masalah dia senang hanya dia tidak habis pikir dengan sikap pria yang sudah jadi suaminya sejak beberapa tahun lalu.


"Hei kenapa dengan wajah kamu sayang aku hanya bercanda jangan di ambil hati tahu."


"Kirain benaran, bingung aku tahu nggak hanya jarak lima menit keputusanmu berubah."


Ha.... ha.... tawa Edo lepas mendengarkan protes dari sang istri.


"Sudah tidur sana, entar sikembar bangun lagi."


Akhirnya Bertha memejamkan matanya karena tidak mau mendengar perkataan suaminya yang usil.


Satu jam Bertha tidur akhirnya harus terbangun karena mendengar tangisan si kembar.


Bertha menoleh di mana keberadaan suaminya, dan ternyata bobok manis pada sofa yang ada di ruangannya.


Akhirnya dia memencet bel untuk memanggil perawat karena dia belum bisa bergerak akibat reaksi bius.


Tidak butuh waktu lama dua orang perawat kini sudah ada di dalam ruangan dan menggendong putra dan putri mereka.


Perawat segera keluar setelah kedua baby tertidur pulas.


Bertha kembali tidur karena masalah anaknya sudah teratasi, dia yang tahu bahwa suaminya pasti kelelahan makanya dia tidak tega untuk membangunkan.


Menjelang subuh Bertha terbangun, tapi sudah ada suaminya yang memberi susu si kembar.


Edo tampak asyik menikmati perannya sebagai ayah yang.


Senyum merekah telihat pada wajah Bertha, bahagia rasanya jika suaminya yang sejak awal menentang tambah momongan karena trauma, eh akhirnya bisa menerima kehadiran anaknya sejak di awal kehamilan Bertha hingga sampai saat ini.


Edo yang sudah selesai dengan pekerjaannya melihat Bertha yang sedang senyum sendiri, membuat dia bingung.


Misay... panggilnya sambil mendekati Bertha.


Hemmm... jawab Bertha masih sambil tersenyum.


"Kok senyum sendiri knapa?"


"Bahagia."


Edo mengerucutkan bibirnya, yang tidak tahu harus bagaimana atas jawaban istrinya.


"Kok reaksinya gitu pisay?"


"Terus aku harus menangis?"


"Nggak dong, untuk apa menangis orang aku bahagia juga."


"Makanya itu."

__ADS_1


"Tapi tidak seperti itu juga ya,"protes Bertha.


"Terus bagaimana sayang?"


"Biasa saja."


"Lagian kamu bahagia karena apa sayang, apa boleh aku tahu?"


"Aku sangat bahagia melihat suami aku bahagia bersama anakku walau pada awalnya menolak."


"Jelas dong sayang aku bahagia karena mereka itu anak aku."


"Makanya itu."


Saat mereka masih asyik ngobrol gua orang perawat masuk untuk memandikan baby mereka dan juga Berthaa.


"Bapak tolong tunggu di luar sebentar,kami mandiin su kecil dan ibu ya."


"Baik suster," Edo mencium pipi Bertha lalu bergegas keluar.


Duduk di ruang tunggu beberapa menit kemudian seseorang menghampirinya.


"Pagi pak," sapa orang itu sambil tersenyum.


"Pagi juga pak,"sapa balik Edo, itulah keistimewaan dari seorang Edo yang selalu ramah kepada siapapun.


"Kok bapak," di luar tanya pria yang lebih tuah sekitar tujuh tahun dari Edo.


"Lagi kebersihan di dalam," jawab Edo singkat.


"Oya ini sarapannya mau dibuat di mana pak?"


"bawa sini, biar nanti saya yang bawa kedalam."


"Kalau begitu saya pulang pak,"ucap pria itu kemudian.


"Iya teimaksih."


"Banyak makan sayang biar cepat pulih dan juga sikembar tidak kekurangan asi."


"Tapi aku sudah sangat kenyang nih,"rengek Bertha manja.


Selesai makan dan minum obat akhirnya Bertha kembali merebahkan tubuhnya, dan tidak berapa lama sudah terlelap.


Edo yang sudah selesai mengurus keperluan istrinya, sekarang waktunya untuk makan, karena perutnya juga sudah sangat lapar.


Setelah selesai makan Edo berjalan menghampiri istrinya dan ternyata sudah tidur.


Edo mengambil leptopnya dan membuka agar bisa mengerjakan beberapa pekerjaan.


Satu... dua... tiga puluh jam ketiganya masih tetap, hingga ketukan pintu kamar rawat Bertha terdengar barulah Edo meninggalkan sofa.


"Permisi pak sudah waktunya babynya minum."


"Oya... silahkan suster," ucap Edo sopan.


Kembali Edo melanjutkan pekerjaannya karena sudah ada yang mengurus anaknya.


Setelah perawat tersebut keluar, Edo membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.


Tanpa menunggu lama akhirnya Edo bisa terlelap.


Bertha yang sudah lama tertidur akhirnya terbangun, melihat baby kembar masih terlelap merasa bahagia.


Dia mencari keberadaan suaminya sambil mengedarkan pandangannya.


Melihat pria yang sangat dicintainya tidur di sofa membuatnya merasa bersalah tapi untuk saat ini dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Akibat sisa bius yang masih tersisah di tubuhnya membuat tubuhya belum bebas bergerak.

__ADS_1


Bertha hanya diam bisa menatap dari jauh.


Saat Edo masih tidur sang kakak dan kakak iparnya pada datang hingga ruangannya benar ramai.


"Selamat ya dek,dan maaf baru bisa datang," ucap tulus Rita.


"Iya kak terimakasih."


Semua bercerita hingga akhirnya Edo bangun karena keributan di dekatnya itupun setelah beberapa lama.


"Eh... sudah pada ngumpul?"tanya Edo yang masih terlihat mengantuk.


"Ngantuk banget ya sampai kami seribut itu tidak dengar?"ucap suami Rita.


"Iya kak maaf karena aku tidak tahu kalian datang."


"Tidak masalah, santai saja kita paham kok."


"Oya kapan kalian pulang?"


"tadi pagi jam sembilan."


"Sukses seminarnya?"


"sukses, semua berjalan lancar."


Obrolan mereka mereka akhirnya harus usai karena waktu kunjung sudah habis.


Oya Edo ini makan siang untuk kalian, sampai mau lupa, jelas Kinan ketika mereka hendak pulang.


"Papa Aldo pulang dulu ya nak, cepat sehat supaya kita punya banyak waktu," ujar pria yang paling tua yaitu papa kandung Bertha.


"Iya pa, tetap jaga kesehatan ya."


Edo bangkit untuk menyalami papa mertuanya.


Sekarang semua sudah pulang, Edo mendekiti istrinya sambil membawa makanan yang di berikan oleh Kinan.


"Makan ya biar aku suapin," tanya Edo pada Bertha.


"Boleh aku juga sudah lapar,"ujar Bertha jujur.


"Kamu nggak makan?" tanya Bertha yang melihat Edo hanya menyuapinya.


"Kamu saja dulu sayang, setelah kamu baru aku."


"Sekalian saja kan lebih seru," ujar Bertha manja, dia tahu jika suaminya tidak suka makan sendiri.


"Baiklah sayang apa yang tidak untuk kamu."


Akhirnya Edo menyuapi istrinya dan juga dirinya sendiri.


Karena makan untuk berdua waktunya lebih sedikit lama, tapi dengan cara seperti ini mereka dapat merasakan kehangatan.


Setelah selesai makan dan minum obat, Bertha bertanya tentang nama anak kembar mereka.


Pisay, panggil Bertha yang melihat Edo mau duduk di sofa.


"Ada apa sayang?"


"Sudah ada nama sikembar?"


"Dari aku sih, Dio dan Dia,panjangannya kamu yang buat sayang."


"Gitu ya... bagaimana jika Evrano Dio jaya dan Evrina Dia jaya."


"Boleh kok bagus aku suka,tapi tidak ada nama maminya disana?"


"tidak apa-apa aku suka nama itu."

__ADS_1


Ok sayangku.


Bersambung.


__ADS_2