
Mamanya Edo sungguh sangat bersyukur bahwa Bertha sudah sadar, tidak tega rasanya melihat putranya harus bersedih setiap hari.
Bahkan lebih dari itu, Edo layaknya putus asa karena penderitaan Bertha.
Tapi hari ini, Tuhan telah menunjukkan kekuasaannya atas diri Bertha.
Sesadis-sadisnya binatang tapi masih mau melindungi anaknya, tetapi kenapa justru manusia yang memiliki akal dan budi bisa menyakiti anak sendiri?
Mama Edo sibuk dengan pikiranya tentang kelakuan orang terdekat Bertha yaitu mamanya sendiri.
Ya Tuhan cukupkanlah penderitaan Bertha,sudah cukuplah penderitaannya,
baru beberapa bulan yang lalu dia mengalami derita batin sekarang lagi, ya Tuhan apa yang Engkau rencanakan untuk dia?
Jilda mamanya Edo sangat kasihan atas semua yang dialami oleh Bertha.
Beberapa menit kemudian Bertha sudah dipindahkan keruangan rawat dengan fasilitasnya yang mewah.
Asisten Aldo sudah menyiapkan semua kebutuhan Bertha di rumah sakit.
Bahkan sejak kejadian yang dialami oleh Bertha sudah disediakan oleh pihak kantor segala keamanan Bertha.
Aldo menyetujui bahwa Bertha akan selalu dikawal demi kebaikannya.
Saat Bertha membuka matanya, dia menangis, dia sebentar melihat sekelilingnya yang serba putih.
Tapi tangis itu semakin pecah, Aldo segera menghampiri Bertha dan memenangkannya.
"Sayang ada apa? mana yang sakit? jangan memikirkan yang bisa membuat kamu sakit hati dan luka."
Bertha tidak menjawabnya dia tersenyum dan berusaha mengalihkan tatapannya,
Tetapi air matanya terus saja mengalir membasahi pipinya itu.
Papa.. panggilnya dengan suara gemetar, sekali lagi dia memanggil papanya.
"Ada apa sayang?"
"Aku takut mereka ayah, jujur Bertha."
"Siapa sayang? disini tidak ada yang mau menyakitimu, papa ada di sini untuk menemanimu iya.
Lihat di sini ada tante mamanya Edo dan juga papanya Edo yang tidak pernah akan menyakitimu.
"
Saat itu Edo keluar dari kamar mandi, Edo segera menghapiri Bertha.
"Ada apa om?"tanya Edo bingung yang melihat Bertha menangis.
"Nak lihat ini nak Edo yang selalu menjagamu, jadi jangan takut ya sayang. "
Aldo tidak menjawab pertanyaan Edo, dia berharap Bertha cepat tenang.
Hidup ini indah jika kita membuatnya indah.
Melihat Bertha, Edo segera menggenggam tangannya dan ikut menenangkannya.
Aldo dan kedua orangtua Edo memilih untuk keluar.
Setelah itu baru Edo merasa puas setelah Bertha berhenti menangis.
"Sayang ada apa kok kamu menangis?"
"Aku sangat merindukan senyummu, aku tidak mau melihat kamu menangis lagi."
Bertha menjawab perkataan Edo dengan senyum.
Edo menemani Bertha sampai tidur, setelah melihat Bertha sudah terlelap, barulah Edo keluar.
Dilluar ketiga sahabat itu masih tetap masih setia menunggu Edo keluar.
Melihat Edo sudah keluar, segera mereka bertanya keadaan Bertha.
"Sayang bagaimana keadaan nak Bertha?"
Dia sudah tidur ma, jaesb Edo yang kemudian duduk di samping mamanya.
"Sepertinya dia masih trauma dengan kejadian itu, makanya selalu di katakannya takut,"jelas Aldo.
"Tidak apa Aldo, nanti juga dia akan sembuh, dia orang yang kuat, kamu jangan berpikir negatif terus."
Bagamana aku tidak takut Jil,masih teringat jelas bagaimana keadaan Bertha beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
"Kamu tahu sendiri dokter bilang apa?"Aldo mengusap wajahnya kasar.
"Tapi dia tidak seperti kemarin Al,"dia hanya trauma saja jelas Jida mamanya Edo.
Edo yang hanya diam akhirnya membuka suara.
"Tenanglah om, dia hanya trauma kecil, aku lihat tidak ada seperti kemarin."
Dia hanya takut bahwa mereka akan menyakitinya.Edo berusaha memberikan kekuatan kepada papa Bertha.
Sebenarnya Edo juga sangat takut jika pikiran Bertha terbebani oleh trauma itu.
Maka mentalnya akan kembali tergoncang.
"Sekarang om pulang aja untuk istirahat, biar aku yang jaga om, pinta Edo agar Aldo segar."
Saat ini penampilannya sudah tidak karuan lagi.
Rambut acak -acakan, kantong mata yang menghitam, membuat Edo sangat prihatin.
"Iya Al,nanti jika kamu sudah lebih baik, kamu kesini lagi, ucap kedua sahabatnya itu."
"Baik lah om titip Bertha ya, jika ada sesuatu tolong hubungi om pintanya pada Edo memelas."
"Tentu bisa om,"jawab Edo agar Aldo lebih tenang untuk meninggalkan Bertha.
Setelah ketiganya pergi tinggal,Edo sendiri merenungi jalan hidup yang di kaluinya dengan Bertha.
Tidak mau berlama-lama dengan pikiranya sendiri, akhirnya Edo masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan Bertha.
Edo menatap wajah Bertha dalam,tanpa terasa Edo sudah ikut tertidur.
Bertha terbangun dan mengedarkan pandangannya, dia melihat Edo tidur sambil duduk di sofa.
Bertha tersenyum, dia sangat bersyukur atas segala kebaikan yang telah diberikan oleh Edo.
Bertha mrngingat segala pengorbanan Edo sejak mereka berjumpa dalam keadaan tidak baik.
"Kenapa kamu selalu baik padaku Edo, sedangkan orang yang melahirkan aku aja, selalu menyakiti aku,"gumam Bertha sedih.
Tanpa terasa air mata Bertha sudah berjatuhan dari pipi mulus Bertha tanpa komando.
Edo terbangun dan langsung melihat Bertha yang sudah bangun, dia bangkit dari duduknya.
"Ada apa sayang kok nangis?"pertanyaan Edo menyadarkan Bertha dari pikiran sedihnya.
"Jangan sedih dong sayang, aku ada di sini untuk menemanimu iya."
"Trimakasih ya kamu selalu ada untuk aku, ucap Bertha lembut."
Edo mengangguk sambil tersenyum bahagia melihat Bertha yang juga ikut tersenyum.
"Apa pun kondisi kamu, aku sudah jatuh cinta saat pertemuan pertama kita, jelas Edo."
"Asal kamu kuat,"aku janji akan selalu menjagamu,tapi aku tidak mau melihatmu seperti ini, jelek tahu kata Edo, yang kemudian menghapus air mata Bertha.
"Iya aku janji Edo,"aku tidak akan mengecewakanmu, aku akan lebih kuat lagi.
,Iya sudah senyum dong, jangan sedih lagi ya sayang, apa lagi kepada papa kamu, jangan tunjukkan wajah jelek ini terus -terus."
Bertha berusaha tersenyum bahagia kepada Edo.
Belum senyum tulus sayang, masih nampak sedihnya tahu,"ejek Edo.
"Iya nanti aku akan melakukannya, tapi sekarang aku masih takut kalau nanti kak Kinan datang,dan menyakiti aku lagi."
"Tidak akan pernah sayang,"karena papanya langsung yang melaporkan perbuatan mereka je pihak kepolisian.
"Apa? papa mau melakukan itu, untuk aku?"
"Iya sayang makasih masa aku bohong, sejak kamu koma, kak Pino menyampari mereka, dan papanya mendengar semua perdebatan mereka.
Makanya saat itulah mereka dilaporkan, jadi sekarang tinggal kamu sayang, msu membebaskan mereka atau tetap membiarkan mereka disana."
"Untuk sekarang aku tidak dapat berpikir, ujar Bertha menyesal."
"Tidak ada yang memaksakan untuk itu sayang, asal kamu sehat semua pasti bisa diurus."
Bertha hanya mengangguk pasrah atas semua perkataan Edo.
Kami tidak mau melihat lagi, keadaanmu yang seperti kemarin itu.
"Aku juga tidak mau seperti itu lagi,"apa lagi harus berurusan dengan dokter jiwa itu mah rengek Bertha.
__ADS_1
"Asalkan kamu baik -baik itu semua tidak akan pernah."
"Jangan terlalu dipikirkan iya,"biar mereka sedikit merasakan hukuman atas perbuatan mereka.
"Iya sudah kamu tidur aja deh lagi, biar cepat sembuh,"aku sudah tidak sabar ingin ajak kamu bulan madu, goda Edo yang mendapatkan cubitan dari Bertha.
Edo terkekeh melihat reaksinya Bertha yang mengemaskan antara rona merah dan malu-malu dipipinya.
"Sayang sakit ah,"kamu itu kok jadi kepiting rebus sih, suka nyubit.
"Rasain tahu, itu kalau kamu nakal,"ujar Bertha.
"Iya maaf sayang,"aku hanya bercanda agar kamu tidak mayun terus, seru Edo sambil membelai pipi Bertha.
"Tidurlah, aku akan menjaga kamu disini, semua pasti akan baik, ok."
Bertha berusaha memejamkan matanya, sehingga tanpa terasa ternyata dia sudah tertidur.
Edo tersenyum bahagia melihat Bertha yang sudah tertidur pulas,kamu gadis yang baik Tha tidak sebaiknya kamu mengalami seperti ini, gumam Edo dalam hati.
Edo kembali kesofa untuk melihat poncelnya agar tidak hanya merenungi nasib dirinya dan Bertha.
Saat sore hari hari, orang kantor datang bersama omnya.
Setelah pintu terbuka sempurna,senyum mengembang di wajah pria sebaya papanya itu.
"Sayang kamu sudah sadar?"ucapnya sambil memeluk Bertha.
"Om sangat cemas memikirkan keadaanmu sayang,"tapi tantemu tidak bisa meninggalkan karena masih dirumah sakit habis melahirkan.
"Inilah om baru bisa,"inipun om tidak bisa langsung ke sini masih harus kekantor tadi.
"Tidak apa-apa om, tapi dedeknya sehat om?"
"Sehat sayang."
"Cewek atau cowok om? "
"Cowok nak."
Terus tante masih di rumah sakit om?
"Tidak lagi nak,"kemarin sudah pulang, makanya om bisa kesini, jelasnya.
"Memangnya,dikantor ada masalah om?"
"Tidak ada nak,"tapi sejak kamu sakit, papamu tidak pernah kekantor,sementara hari ini ada pertemuan penting, makanya om gantikan, jelas omnya.
"Trimakasih ya om."
"Untuk apa nak,"om sudah janji untuk terus membantu kamu, jadi saat tidak bisa seperti ini, ya waktunya om yang kerja.
Cepat sembuh ya bu, ujar karyawan yang lain yang datang bersama mantan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
"Trimakasih ya, atas doanya," ucap Bertha lembut.
Kami permisi dulu ya bu, ucap mereka dan kemudian pergi.
"Sayang om juga pergi dulu,"nanti selesai kerja om kesini lagi, masih ada yang harus om temui.
"Trimakasih om," jawab Bertha.
Setelah semua sudah pergi Edo mendekati Bertha.
"Sayang lihatlah masih banyak yang sangat mencintai kamu,"makanya jangan sampai mengecewakan hati mereka.
"Iya aku tau, aku sudah kuat seru Bertha yang ingin duduk, tapi seluruh badannya terasa sakit."
"Hati -hati,"seru Edo dengan cepat menahan tubuh Bertha agar jangan memaksakan diri.
"Kamu baru habis operasi di kaki dan kepalamu sayang,"jadi belum bisa langsung duduk.
"Apa? jadi aku tidak bisa lagi untuk jalan? hu.... hu.. "
tangis Bertha pecah, yang mengira dia akan lumpuh.
"Tidak sayang,"nanti kamu bisa untuk berjalan lagi,buktinya operasi bagian kepala mu, berhasil baik.
"Buktinya kamu bisa mrngingat semua, jadi jangan sedih kamu akan cepat sembuh."
Edo membawa Bertha dalam pelukannya, dia tidak tega melihat Bertha yang sangat terpuruk seperti saat ini.
Melihat Bertha yang tidak bisa tenang, akhirnya Edo nemanggil dokter.
__ADS_1
Bersambung
Mohon bantuannya untuk vote dan like.