
Sesuai janjinya, Edo datang menjemput Bertha untuk berangkat kuliah.
Saat Edo telah sampai, Bertha dan keluarganya sedang sarapan.
Edo yang sudah biasa keluar masuk rumah itu, merasa tidak canggung lagi, bahkan sesudah dia sampai langsung menghampiri mereka.
"Pagi om," sapa Edo dengan suara khasnya.
"Pagi nak Edo,"sini kita sarapan dulu.
"Sudah tadi om."
Iya sudah kalau begitu kita berangkat, aku juga sudah siap,"seru Bertha dan bangkit dari duduknya untuk mengambil tas yang diletakkan di ujung meja makan.
Bertha mencium pipi papanya, karena masih sedang makan.
"Hati -hati sayang," jangan terlalu di paksakan, jika kamu masih pusing, sebaiknya istirahat aja dulu ya.
"Ok pa,kakak duluan ya dek," ucapnya sambil mencubit pipi Joni adiknya.
"Titip dan jaga anak om ya Edo."
"Pasti om."
Edo akhirnya berangkat menuju kampus, sampai di kampus banyak teman -teman mereka yang menyalami Bertha,karena sudah sembuh.
"Tha, kami sudah sangat rindu tahu nggak? aku kemarin itu kerumah sakit, tapi kamu tidurnya nyenyak banget.
"Pantas saja aku ngrasa ada bau asam gitu, rupanya kamu ya," canda Bertha yang membuat mereka tertawa bersama.
"Ih.. kamu itu ya, aku harum tahu!"Tia merasa kesal sama Bertha karena teman mereka menertawakannya.
Tia memajukan bibirnya, hinga Bertha kembali menggodanya,"pantas aku tidak bangun, orang kamu tidak jelek gitu."
"Sayang sudah ah, kasihan Tia nanti bibirnya lebih mancung dari pada hidungnya loh."
"Ais kamu Edo sama aja dengan pacarmu, pura -pura bela ternyata sama saja menghina."
Kembali teman -teman mereka tertawa, membuat Tia tambah kesal.
"Puas?" ucapnya pura -pura semakin marah.
Sebenarnya Tia tidak benar marah, hanya ingin ikut mengerjai teman-teman mereka yang senang menertawakannya.
Ketika mereka masih asyik saling mengejek ternyata dosen mereka masuk.
"Apa masih ada yang harus di bicarakan?".
"Tidak pak,"serempak mereka menjawab pertanyaan dari dosen galak mereka.
"Bertha apa kamu sudah kuat? aku jika nanti kamu merasa tidak mampu silahkan istirahat, jangan terlalu dipaksakan."
"Iya pak," Bertha meresa heran kenapa tiba-tiba dosennya itu sangat perhatian.
Biasanya beliau tidak pernah, memberi keringanan kepada para mahasiswa.
"Ayo kita mulai dengan kuis pertama."
Mata kuliah pertama telah usai, dengan segala usaha dilakukan oleh Bertha untuk menahan rasa sakit pada kepalanya.
Saat Edo kembali dari toilet,fia melihat Bertha menahan rasa sakit, langsung menghampirinya.
"Sayang, kamu sakit kita pulang ya," ucap Edo.
Bertha yang sudah tidak tahan hanya mengangguk pasrah.
Edo memesan kepada teman mereka, agar memberitahukan kepada dosen yang akan mengajar mereka untuk satu jam kemudian.
"Apa kamu lapar sayang?"Edo sangat kwatir melihat Bertha yang sedang menahan sakitnya.
Edo menghubungi dokter yang menangani Bertha, dan dokter tersebut menyarankan agar membawa Bertha ke rumah sakit.
__ADS_1
Edo segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit, karena Edo tidak mau terjadi sesuatu pada Bertha.
"Sayang sabar ya,"sebentar lagi kita jumpa dengan dokter yang menangani kamu.
Edo segera memarkirkan mobilnya saat mereka sudah sampai di rumah sakit.
Edo menggendong tubuh mungil Bertha, agar tidak terlalu lama, jika harus menunggu perawat.
Setelah sampai di ruang dokter, Edo meletakkan Bertha dengan lembut, di bad pasien.
"Apa tadi Bertha ada melakukan sesuatu yang berat?atau memaksa untuk berpikir."
"Iya dok tadi dia ikut kuliah dan mengikuti kuis."
"Jangan terlalu dipaksakan nak, jika tahun ini tidak bisa dikejar, ambillah cuti, supaya kamu lebih tenang."
"Iya dokter,"ucap Bertha dengan suara gemetar menahan rasa sakitnya.
Akhirnya Bertha harus dirawat lagi, agar bisa istirahat.
"Sayang maafkan aku ya, jika aku tidak memberitahu iya kamu, pasti sekarang kamu tidak apa-apa."
Bertha akhirnya tertidur setelah dokter memberikan obat mengurangi rasa nyeri.
Melihat Bertha tidur, Edo segera menghubungi papa Aldo.
"Halo om,"ucap Edo setelah sambungan teleponnya dijawab oleh papa Aldo.
"Maaf om aku tidak bisa jaga Bertha, sekarang kami lagi di rumah sakit, dan terpaksa harus dirawat lagi om."
"Iya sudah, sekarang om kesana ya."
Segera papa Aldo mematikan sambungan telepon dan mengambil tas kerjanya tapi lalu keluar dari ruangan kerjanya.
Sampai di rumah sakit, papa Aldo langsung menemui dokter yang menangani Bertha.
"Bagaimana keadaan Bertha?"tidak ada yang serius lagi kan.
"Jika mungkin, lebih baik dia cuti kuliah sampai dia sudah benar sembuh."
"Baiklah nanti aku akan bicarakan hal ini, Trimakasih ya sudah selalu ada waktu untuk putriku."
"Iya sama -sama, santailah asal jangan lupa traktirannya."
Papa Aldo meninggalkan ruangan dokter lalu nenuju ruangan Bertha.
"Om maaf, ucap Edo lirih."
"Kamu tidak perlu minta maaf karena ini bukan kesalahan kamu, justru om sangat bersyukur karena kamu selalu menemani dia."
Aldo memandang wajah Bertha yang pucat,hatinya selalu teriris
mengingat semua rasa sakit yang dialami oleh Bertha.
Bertha perlahan membuka matanya, ia melihat senyuman dari papanya,membuat Bertha ikut tersenyum.
"Sayang kamu tadi terlalu memaksanya ya?kok sampai kamu sakit."
"Maaf pa," Bertha tidak sengaja melakukan itu.
"'Tidak apa-apa sayang, papa tidak menyalahkan mu,"hanya papa sangat kwatir.
"Iya sudah kamu istirahat saja lagi,papa makan siang dulu ya, tadi papa belum sempat makan."
"Nak Edo ayo kita makan, om rasanya seperti mau tumbang ni."
"Om sajalah dulu, tadi kami sudah makan sama Bertha."
"Iya sudah om keluar dulu."
"Apa yang kamu pikirkan sayang?" Edo menghampiri Bertha yang tampak murung.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku harus cuti, malas aku, gerutu Bertha."
"Tidak apa-apa sayang," aku juga ikut cuti bersama kamu tidak nanti jika kamu sudah sehat kita lanjut lagi.
"Tapi aku tidak mau sampai kamu mengorbankan kuliah kamu karena aku."
"Sayang kamu adalah penyemangat hidupku, jadi jika kamu harus cuti, aku juga karena aku tidak mau merasa kesepian."
"Trimakasih kamu selalu ada untuk aku."
"Kamu tenang dulu, nanti kita bicarakan dengan dosen bagaimana baiknya. "
Satu hari di rumah sakit akhirnya Bertha bisa pulang, tapi dengan satu syarat Bertha harus tetap istirahat.
Sesuai anjuran dokter, Edo menjumpai dosen untuk mencari solusinya.
Dan solusi yang tepat yaitu dengan cuti, maka Edo juga ikut mengambil cutinya.
Hari ini mereka bersiap untuk berangkat untuk berlibur ke tempat Bertha tinggal waktu sakit pertama.
"Kamu benaran mau kesana lagi sayang? jika kamu mau ketempat lain, aku siap untuk menemanimu."
"Kesana saja aku suka tempatnya yang sejuk, hatiku damai disana."
Bertha sangat merindukan kedamaian dalam hidupnya, lelah rasanya jika harus seperti ini terus.
Satu bulan lamanya mereka menghabiskan waktu bersama di rumah singgah Edo.
Malam ini Bertha menatap bintang yang jauh diatas sana, bintang yang tidak bisa digapai.
Bertha mengibaratkan kebahagiaannya dengan bintang yang sulit untuk di gapai.
Edo yang baru nyampai dari kota mereka untuk menyelesaikan pekerjaannya, menghampiri Bertha dan ikut berbaring seperti Bertha.
"Sayang apa yang kamu pikirkan dengan bintang itu?".
"Tidak ada, aku hanya memandang mereka yang bertaburan diatas sana, lihat ada yang terang, ada yang redup."
"Iya sayang, mereka juga mengibaratkan hidup kita, sekalipun dia redup tapi tetap memberikan cahaya."
"Sayang aku lapar nic, soalnya sekalipun aku melihat bintang tapi perutku tidak kenyang."
"Kamu belum makan?".
"Belum sayang, selesai kerja tadi langsung ke sini, soalnya satu minggu tidak jumpa bidadariku,aku sangat rindu."
Saat Bertha hendak bangkit, ternyata pelayan di rumah itu datang membawa berbagai macam makanan.
Kita makan disini saja sayang, biar lebih romantis.
Edo segera duduk untuk memulai makan, sekali -kali Edo menyuapi makanan miliknya ke mulut Bertha.
Bertha juga tidak mau kalah, ia melakukan hal yang sama dengan Edo.
"Aku sudah kenyang," ucap Bertha karena masih disuapi oleh Edo sedangkan makanan dalam piringnya sudah habis.
Bertha menyusun kembali tempat makan mereka.
"Sayang kamu masih betah di sini? kalau tidak kita bulan madu ke tempat lain yo."
"Bulan madu apa? ngaur kamu."
Edo malah tertawa melihat ekspresi Bertha.
"Iya kalau kamu mau kita cicil sekarang nggak apa."
"Nggak ah, aku nggak mau di cicil nggak seru."
Edo mencium pipi Bertha, hingga Bertha menjadi memerah.
Bersambung
__ADS_1