APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 47.Persiapan 2


__ADS_3

Edo merasa bahagia setelah mendengar penjelasan Bertha, dia melompat seperti anak kecil yang mendapatkan permen kesukaannya.


Akhirnya kami segera menikah juga. Trimakasih ya Tuhan.


Edo menghubungi mamanya untuk memberitahukan tentang kabar gembiranya.


Tut.... tut.... tut.... panggilan dari Edo belum juga mendapat jawaban.


Edo yang masih bahagia, mencoba menghubungi mamanya lagi.


Tut.... tut... tut... "iya halo sayang," segera jawaban terdengar dari seberang.


"Mama.....akhirnya Edo dan Bertha menikah juga, dia sudah setuju ma, om juga sudah setuju, aku harap mama dan papa segera mengurusnya."


"Tentu sayang Kami akan segera mengurus semua, kami juga sangat bahagia sayang."


Edo merebahkan tubuhnya diranjang empuknya sambil terus tersenyum.


Hari ini Edo merasa bahagia hingga dia cepat memejamkan matanya.


Pagi hari Edo terbangun masih dengan semangat menggebu.


Senyuman indah selalu menghiasi wajahnya yang tampan sehingga semakin tampan tidak seperti biasa.


Pak Wo yang melihat aura kebahagiaan majikannya ikut tersenyum bahagia.


Hingga sampai di kantor, senyum Edo belum luntur.


Saat siang hari Bertha yang sengaja datang untuk menjumpai Edo, langsung menuju kantornya Edo tanpa memberitahukan tentang kedatangannya.


Saat Bertha hendak membuka pintu ruangan Edo, dia mendengar tawa renyah Edo.


Rasa bahagia ikut menyelimuti hati Bertha, ia tahu siapa yang sedang berada di dalam ruangan Edo.


Saat Bertha datang sekretaris Edo sudah memberitahukan tentang Gilbert yang sedang di dalam ruangan Edo.


Sebenarnya sekretarisnya Edo mau mengantarkan Bertha, tapi Edo menolaknya.


"Kok nggak masuk nak?" tanya pak Wo yang sedang lewat.


Pak Wo bukannya tidak sopan tapi itu adalah permintaan dari Bertha sendiri.


"Jangan panggil nona deh pak,"panggil nak saja, aku nggak suka dengarnya.


"Tapi karena non, mana berani bapak panggil nak, sementara non Bertha tunangan majikanku."


"Kenapa tidak anggap aku anak bapak supaya bapak tidak merasa enak."


Tapi... n.. tidak apa pak, ucapan pak Wo terpotong oleh Edo.


"Biarin saja pak apa kata dia, tidak perlu merasa tidak enak segala.


"Iya sudah kalau begitu,bapak mengalah demi nak Bertha."


Bertha langsung masuk, Edo terkejut melihat Bertha tiba -tiba ada di sana.


"Sayang kok datang nggak bilang?" ucap Edo sambil bangkit dari duduknya.


Gilbert ikut bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.


"Kok pergi?" tanya Bertha merasa bersalah tidak enak hati.


"Iya malas jadi obat nyamuk untuk pria bucin kelas kakap ini,"ucapnya langsung cepat membuka pintu serta menutup pintu kembali.


"Ada apa sayang?" tumben datang kemari tanpa kabar lagi.


"Main saja, memang tidak boleh ya aku kesini,"rengek Bertha.


"Boleh dong sayang,"ini juga akan jadi punya kamu kok.


"Oya sayang aku sudah kabari mama tentang rencana kita, aku sangat bahagia sayang akhirnya kita akan menikah."


Edo sudah duduk di samping Bertha, ia membawa Bertha ke dalam pelukannya.


"Trimakasih sudah menerima aku,"ucap Bertha dengan senyuman indahnya.


"Tidak ada alasan untuk tidak menerima kamu sayang."

__ADS_1


"Kamu adalah separuh hatiku, maaf jika aku sempat menyakiti hati kamu."


Bertha mengangguk, karena tidak ada alasan juga untuk tidak menerimanya, Edo yang sudah menjaganya dengan baik.


Apalagi di saat Bertha bekerja di cafe Edo, banyak yang ingin melukai hatinya Bertha, tapi Edo rela menjaga Bertha dengan segala pekerjaan yang harus di bawa ke cafe.


Edo menjaga Bertha ibarat mutiara indah yang harus di jaga.


Saat mereka saling menatap satu sama lain, Gilbert yang sengaja mengganggu mereka datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Hai... kalian pacaran mulu,"ini masih jam kerja bos, ada banyak pekerjaan yang sudah menunggumu ,Gilbert memberikan banyak berkas, sehingga membuat Edo kesal.


"Kamu mau mati ya, sengaja kasih banyak berkas, sama yang tahun lalu saja."


Gilbert tertawa puas mengerjai bosnya sekaligus sahabat kecil tetangganya.


"Sengaja bos."


Edo hendak melempar Gilbert dengan snak mereka tadi, tapi Gilbert keburu lari.


Sekretaris Edo hanya geleng kepala melihat kelakuan bos dan asistennya itu.


"Sayang nggak apa ya, aku menyelesaikan ini dulu, atau kamu mau pergi ke mana biar diantar oleh bu Siska."


"Nggak mau aku mau kamu yang temanin," kalau hanya satu jam aku tunggu tapi kalau lebih aku lebih baik pulang aja.


"Jangan dong sayang," aku masih kangen, ujar Edo untuk menenangkan hati Bertha.


"Sebentar ya aku periksa dulu, sepertinya ada yang tidak beres nih."


Setelah Edo periksa memang Gilbert sengaja mengerjai dia, diantara tumpukan berkas tersebut ada beberapa yang sudah selesai dia periksa dan tanda tangani.


"Sudah ayo kita berangkat sayang,"ajaknya pada Bertha sambil menggenggam tangannya.


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil Edo, dia sengaja bawa mobil sendiri karena ingin membalas Gilbert melalui pak Wo.


"Sayang kita mau kemana?"tanya Edo bingung karena mereka tidak ada tujuan sejak tadi.


"Makan gado -gado dan es kelapa muda, jawab Bertha asal."


"Sayang kamu ngidam, tapi kita belum mencetaknya bagaimana bisa, sudah langsung jadi, hanya dengan rencana menikah saja."


"Kamu ya, mau mati kok tiba-tiba berhenti sih," kesal Bertha karena keningnya sakit terbentur.


Edo yang belum menyadari ucapannya hanya melihat Bertha yang menggosok jidatnya yang benjol.


Setelah jiwa Edo terkumpul, barulah sadar kalau Bertha sedang terluka.


"Sayang kamu kenapa?"tanya Edo kwatir.


"Itu karena kamu tiba-tiba berhenti tadi, jadi keningku terbentur," jelas Bertha.


Edo menggosok kening Bertha dengan telapak tangannya.


"Maaf ya sayang aku terkejut saja tadi kamu tiba-tiba minta makan itu."


"Aku pikir kamu ngidam, seperti sering di ceritakan orang, jika ngidam banyak maunya."


"Ngaur kamu....masa hanya minta itu kamu bilang ngidam,sampai mau bunuh diri tahu."


"Iya maaf ya aku tidak sengaja sayang."


"Iya sudah ayo lanjutkan lagi, aku lapar nic."


Edo menjalankan mobilnya kembali setelah dia melihat Bertha lebih tenang.


Edo tidak pernah sengaja ingin melihat Bertha terluka.


Edo menghentikan mobilnya ketika mereka berada di tepi danau indah.


"Sayang ayo kita turun, kita sudah sampai."


Bertha mengedarkan pandangannya untuk melihat sekitar.


"Kita kesini?Bertha melihat sekitar danau indah, kenangan manis beberapa minggu kemarin."


"Iya sayang, aku tahu kamu sangat suka dengan tempat ini."

__ADS_1


"Jelas dong apa lagi dengan hadiah ulang tahunku kemarin, Trimakasih ya."


"Kok Trimakasih sama aku ya, orang yang rencanain adik Kamu, aku hanya bantu dikit."


"Benarkah itu rencana Joni?"aku tidak nyangka dia melakukan itu semua.


"Itu nyata sayang jadi kamu harus percaya bahwa adik Kamu itu orang yang peduli akan kebahagian kakaknya."


Bertha duduk di ruang khusus yang sudah di pesan oleh Edo beberapa menit yang lalu.


Walau hanya dengan waktu singkat, tapi cukup unik dan romantis jika di nikmati.


Edo berlutut di depan Bertha sambil menggenggam tangannya Bertha.


"Sayang maaf ya jika aku bukanlah orang yang romantis, tapi aku berjanji akan selalu membuat kamu bahagia dan akan mejagamu, maka aku datang di sini Maukah kamu menikah dengan aku? Edo masih setia menggenggam tangannya Bertha sambil menunggu jawaban dari Bertha."


"Aku mau sayang untuk menemani kamu."


"Trimakasih ya sayang."


Edo membawa Bertha duduk manis di meja yang disediakan khusus untuk mereka berdua.


Edo menyuapkan makanan yang di pesan Bertha tadi.


"Semoga kamu suka dengan makanannya ya."


"Iya aku sangat suka enak banget, Trimakasih ya sekali lagi kamu memberikan aku kebahagiaan."


"Apa pun untukmu sayang."


Mereka sudah menghabiskan makanan mereka dengan lahap.


Setelah selesai makan mereka segera pulang karena sore ini kedua orang tuanya Edo datang untuk membicarakan tentang hubungan anak mereka.


"Kita pulang ya, soalnya mama dan papa sebentar lagi nyampai."


"Beres bos."


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Edo, dan ternyata kedua orang tua Edo sudah sampai.


"Sore ma," ucap Edo dan Bertha setelah berada di dekatnya mamanya.


"Sore sayang... halo mantu mama."


Setelah mencium punggung tangan kedua orang tua Edo, mereka berdua ikut duduk di samping orang tuanya.


"Jadi bagaimana dengan hubungan kalian?mama dan papa akan segera mengurus semua keperluan pernikahan kalian."


Tapi papa dan mama ingin mendengar secara langsung dari kalian.


"Iya ma, kami sudah mutuskan untuk segera menikah, dan kami juga sudah izin kepada kedua kakaknya Bertha."


"Apa betul itu nak?" tanya mama Edo dengan lembut.


"Betul ma."


"Iya sudah nanti mama dan papa akan menjumpai papanya Bertha."


"Sekarang papa dan mama istirahat dulu, biar nanti malam semua berjalan dengan lancar."


"Kalian juga istirahat, biar nanti kita kesana bersama."


Sementara di rumah papa Aldo mereka sudah berkumpul untuk menerima kedatangan orang tua Edo.


Papa Aldo sebelumnya sudah mendatangi kakaknya untuk bersama menerima kedatangan tamu mereka.


Ketiga kakaknya juga sudah berada di sana, makanan juga sudah di hidangkan di meja.


Mereka saat ini sudah duduk diruang keluarga menunggu keluarga Edo.


Bersambung


Trimakasih kepada semua yang setia untuk membaca karyaku ini.


Jangan lupa dengan like, komentar dan vote ya..


Trimakasih.

__ADS_1


__ADS_2