
Setelah perjalanan dan perjuangan panjang akhirnya Bertha mulai bisa melangkah tanpa bantuan suaminya.
Hari ini mertua dan kedua adiknya masih tinggal bersama mereka.
Setelah Bertha bisa berjalan, baru rencananya mereka akan pulang, lagian karena saat itu masih liburan.
"Sayang makan dulu sini,"ajak mertuanya setelah Bertha selesai latihan.
"Iya ma,aku kekamar mandi dulu ya."
Edo yang sudah siap hendak berangkat ke kantor,melihat istrinya tidak ada segera menyusul ke kamar mandi.
"Kamu kenapa pi?" wajahnya kok gitu tanya Bertha heran.
"Misay aku kwatir, lama bangat sih di kamar mandinya."
"Maaf sudah membuatmu kwatir pi,tadi perut aku sakit jadi agak lama deh."
"Iya tidak apa-apa misay, yang penting Kamu sudah tidak apa-apa."
Cinta yang Edo punya untuk Bertha memang cukup besar, apa lagi setelah melewati masa sulit saat Bertha melahirkan putranya.
Saat ini mereka sudah berada di meja makan.
Bukan Bertha yang mengambil makanan untuk Edo malah Edo yang mengambil makanan dan minuman untuk istrinya.
"Iya Tuhan,kirimkanlah jodoh yang baik samaku seperti kak Edo, amin."
Spontan semua mata tertuju kepada pemilik suara itu, siapa lagi jika bukan Cia.
"He... belajar dulu yang benar, baru mikirin jodoh."
Evan memukul lengan adiknya yang super menyebalkan itu.
"Ye... aku juga masih hanya berharap tahu, kapan Tuhan mengabulkannya juga tidak tahu kapan."
"Dasar... otak mesum."
"Wajarlah selagi manusia, memang seperti kakak batu."
"Mana ada batu bisa bicara dan berjalan,"protes Evan.
"Ada, kakak."
"Enak saja kalau ngomong, kalau aku batu berati kamu kerikil."
"Sudah makan dulu sini, biar punya tenaga untuk berantam,"sela mama yang sudah biasa mendengar perdebatan kedua anaknya.
"Kalian itu mirip Simio dan Simeno, ribut melulu."
Sumio adalah anjing Evan senangkan Simeno kucing Cia.
"Dasar kakak duralex samain kita dengan kucing dan anjing,"gerutu Cia.
Setelah itu mereka sarapan dengan nikmat, tidak ada lagi perdebatan.
Selepas sarapan Edo pamit ke kantor, pekerjaannya sudah sangat nenumpuk setelah sebulan tidak pernah masuk kantor.
Walaupun ada pak Wo dan Gilbert tapi ada hal khusus yang tidak bisa di wakilkan.
Sementara di rumah Evan dan Gracia dengan senang hati membantu sang mama untuk merawat baby Andre dan Bertha.
Bertha sudah semakin baik, dia sudah dapat berjalan kembali, semua sangat bersyukur, karena ujian terjal sudah dapat mereka lewati bersama.
Hari ini hari sabtu, mereka berencana untuk libur sekeluarga, walaupun hanya di dekat saja.
Sekedar berbelanja dan makan di luar, tapi sudah sangat membuat mereka bahagia.
__ADS_1
"Sayang kamu pilih apa yang kamu mau," bisik Edo pada Bertha yang mulia tadi hanya pendengar setia sang mama.
Aku tidak mau apa-apa pi, aku hanya bercanda mau❤mu saja, goda Bertha.
Kalau itu tidak ada di sini sayang, tidak ada di jual, bisik Edo tepat di telinga Bertha.
"Sayang... nanti malam aku akan berikan sampai kamu puas, tapi untuk sekarang kamu harus ambil ini," tunjuk Edo pada sebuah kalung belian yang sangat indah.
Saat ini mereka sudah ada di toko perhiasan, Edo membawa Bertha ke sana, karena sejak tadi Bertha tetap tidak mau memilih sesuatu.
Sedangkan mama dan adiknya sudah penuh dengan barang yang mereka sukai.
"Iya nih aku suka,"ucap Bertha setelah melihat secara langsung kalung yang di berikan oleh Edo.
Setelah melakukan pembayaran mereka berjalan mendekati papanya yang sedang menjaga sang cucu bersama Evan.
"Pa.. kalau kita hanya untuk baby sister mending di rumah saja tadi,"gerutu Evan yang sudah mulai bosan.
"Sabar nak, terkadang kita harus melawan ego kita demi kebahagiaan orang yang sangat kita cinta."
"Lihat apa kamu tidak bahagia melihat mama dan adik mu, mereka tertawa,sudah sebulan lebih mereka sibuk dengan pikiran dan tenaga untuk melewati semua."
Evan hanya mengangguk tanpa menjawab, ia sadar apa yang papanya katakan memang benar adanya.
Sejak kecelakaan yang menipa kakaknya, banyak pikiran mereka terkuras, apa lagi selama satu minggu sebelum Bertha sadar hanya air mata yang ada.
Evan menarik nafas lalu beralih menatap bayi yang tidak berdosa, yang hampir kehilangan ibunya.
Andai saja Tuhan tidak memberikan kesempatan kedua untuk Bertha, entah apa yang terjadi kepada baby mungil itu.
Setelah puas berbelanja, mama dan adik Edo menghampiri pria yang selalu setia menemani mereka dengan senyum merekah.
"Anak dan menantu kita belum datang pa?"tanya mama setelah memberikan belanjaaannya pada Evan untuk di bawa ke mobil.
"Sudah tadi tapi karena mama belum siap mereka pergi lagi untuk mencari kebutuhan cucu kita ma."
"Kita cari makan dulu ya baru kita pulang."
"Iya ma, aku juga sudah lapar,"jawab Bertha tanpa malu.
Bertha memang merasa sudah sangat lapar, jadi untuk apa harus malu, sementara yang ada di sana semua anggota keluarga yang sangat menyayanginya.
Sampai di restoran yang ada disana, mereka segara memesan makanan vaforitnya.
Makanan sudah terhidang,Evan dan Cia juga sudah ada, sekarang mereka tinggal menyantap hidangan itu.
Mama bertugas mejaga sang cucu, jika nanti salah satu dari mereka sudah siap maka akan gantian untuk makan.
Ternyata sang papa yang duluan selesai, maka sang papalah yang menjaga sang cucu dengan senang hati.
"Wah... ternyata cucu kakek sangat pintar, tidak cengeng, teruslah jadi anak yang baik ya."
"Siapa dulu papanya,"ucap Edo sedikit sombong.
"Ih... sombong banget," celoteh Cia.
Mereka tertawa melihat Cia yang tidak terima dengan tingkah kakaknya itu.
Setelah mama selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang supaya sempat beristirahat, sebab besok orang tua dan adiknya Edo harus kembali, hari senin keduanya sudah harus menimba ilmu.
Semua langsung menuju kamar masing-masing.
Di kamar Edo membantu putranya untuk mandi, sedangkan Bertha juga langsung membersihkan diri.
"Sayang kamu tidak mandi?"tanya Bertha yang melihat suaminya santai setelah memberikan susu kepada sang anak.
"Mandi dong, biar wangi seperti pangeran papi iya ya,"ujarnya sambil mencoel pipi putranya yang sudah hampir tidur.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama Edo,sudah keluar dari kamar mandi tapi ternyata kedua yang ada di kamar itu, sudah terlelap.
Edo segera menyusul membaringkan tubuhnya di samping Bertha serta memeluknya.
Malam hari semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk makan bersama.
Setelah selesai makan mereka bercerita di ruang keluarga, banyak nasehat yang di berikan kedua orang tua itu, kepada pasangan yang masih sangat muda itu.
Setelah merasa cukup akhirnya mereka beristirahat karena besok mereka harus berangkat pagi.
Air mata terurai saat keluarga mereka akan kembali, setelah beberapa lama mereka bersama, membuat ketergantungan satu sama lain.
"Da... pangeran kakek yang baik," kakek pasti akan rindu, ucap papa Edo sambil mencium pipi baby Andre yang ada di dalam gendongan Edo.
Setelah acara perpisahan itu, Edo dan Bertha langsung masuk kembali, mereka sudah sarapan jadi mereka hanya bersantai.
"Misay... waktunya sudah sampai empat puluh hari kan?" tanya Edo di tengah kesunyian di antara mereka.
"Iya memang kenapa pi?"
"kok kenapa sih? si jak sudah sangat kedinginan, tidak pernah di hangatkan iya."
"Oh... itu, sudah sih, tapi sepertinya tidak bisa deh pi."
"loh kenapa misay?"
"karena sudah sang pangeran masih berjaga tu."
Edo terkekeh mendengar perkataan Bertha dan melihat putranya yang ikut tersenyum.
"Wah... kamu tahu memang dengan apa yang papi dan mami katakan, kok senyum."
Edo menghampiri putranya dan segera menggendong seperti biasa agar cepat tidur.
Tidak sampai setengah jam, Andre sudah terlelap.
Sayang panggil Edo setelah meletakkan baby Andre di boxnya.
Edo mendekiti Bertha yang berbaring di ranjang, "sayang boleh ya?"tanyanya penuh harap.
Bertha pun mengangguk dia tidak bisa melihat wajah yang memelas itu.
Mendapat jawaban ok, Edo yang sudah lama berpuasa memulai dengan lembut, tapi lama kelamaan hasratnya semakin menuntut.
Wajah, leher sudah berhasil dia absen sekarang tinggal bagian yang seharusnya untuk baby Andre itu.
Dengan penuh semangat, Edo menikmatinya hinga sampai pada titik terakhir.
Penyatuan... segera dia mengarahkan si jak untuk masuk pada ruang penghangat itu.
Terkulai lemas itulah yang terjadi, setelah semua tersalurkan.
Tidak berapa lama Edo kembali menyerang Bertha.
Dua jam kemudian baru Edo menyudahi kegiatannya, lalu membawa Bertha untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri Edo turun untuk mengambil minuman dingin untuk mereka berdua.
"Capek? maaf ya sayang, aku benar tidak bisa tahan diri, mungkin karena sudah lama puasa."
"Tidak apa-apa pi, aku suka kok,"jawab Bertha agar suaminya tidak merasa bersalah.
Mereka akhirnya tidur pulas setelah sebelumnya sudah Edo memberi susu untuk sang putra.
Bersambung.
Jangan lupa like, vote dan komentar dong.
__ADS_1