APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 31.Terpuruk


__ADS_3

Dokter.. Edo memanggil dokter yang menangani Bertha, mendengar teriakan Edo, perawat segera datang.


"Suster tolong periksa Bertha teriak Edo panik."


"Baiklah pak,"tolong tunggu di luar biar kami periksa, suster segera menghampiri Bertha.


Melihat Bertha yang histeris, karena pada saat itu tidak ada dokter, maka mereka segara menghubungi dokter, untuk tindakan apa yang akan dilakukan.


"Halo dokter,pasien atas nama Bertha sedang mengalami kesakitan, dia histeris dokter,"jelas perawat.


Setelah perawat mengakhiri panggilannya, perawat terlihat menyuntikkan obat penenang.


Dalam hitungan menit Bertha langsung tertidur.


Setelah perawat meninggalkan ruangannya Edo, duduk kembali di samping ranjang.


"Sayang kamu harus tetap semangat,"jangan seperti ini, ucap Edo sambil mengelus rambut panjang Bertha.


Bertha tidur dengan wajah damai, walaupun masih terlihat sedikit agak pucat.


"Kamu pasti akan sembuh, tapi kamu harus selalu sabar sayang,"ucap Edo yang seolah dia bercerita kepada Bertha.


Saat Edo masih sibuk berbicara sendiri, ternyata Aldo sudah sampai, dan sudah berdiri disamping Bertha.


"Om kapan sampai? tanya Edo terkejut."


"Baru aja, tadi om sapa kamu, tapi kamu asyik dengan pemikiranmu sendiri,"ujar papa Aldo dengan suara parau.


"Iya om, tadi dia menangis histeris om, ini baru disuntik penenang om,"jelas Edo tanpa mengalihkan tatapannya.


"Kenapa?"Aldo penasaran kenapa Bertha bisa histeris.


"Tadi dia mau menggerakkan kakinya om, tapi karena tidak ada rasa dan tidak bisa diangkat jadi dia langsung menangis histeris om."


Aldo tampak menarik nafas kasar lalu membuangnya lagi.


"Apa kata dokter tadi?"tanyanya tanpa ekspresi.


Dokter lagi tidak ada om, hanya perawat yang menangani Bertha, jelas Edo lagi.


"Kamu pulanglah dulu!" biar om yang jaga, seru Aldo sedikit memerintah, walau dengan ucapan datar.


"Baik om aku tinggal ya om," Edo berlalu tanpa ingin membantah ucapan om Aldo.


Edo langsung menghubungi pak Wo, agar menjemputnya, karena Edo benar lelah.


Edo lelah dengan hati dan juga raganya, ingin rasanya menjeburkan diri di air yang besar, agar membawa segala beban hidupnya.


Jangankan untuk tertawa, untuk tersenyum saja sangat sulit rasanya.


Tanpa Edo sadari pak Wo sudah sampai, dia berdiri di samping mobilnya.


Ayo den sapanya untuk memulai percakapan mereka,Edo segera masuk ke dalam mobil yang sudah ditunggu oleh Edo."


"Langsung pulang ya pa,"ucap Edo sangat tidak bersemangat.


"Baik den,"ujar pak Wo sopan.


Sementara itu,


Beberapa menit kemudian rombongan teman -teman Edo sampai di rumah sakit, sengaja tidak memberitahukan kepada Edo, karena mereka tidak enak rasanya untuk mengganggu konsentrasi Edo.


"Sore om,"sapa mereka setelah pintu kamar Bertha terbuka.


"Sore, silahkan masuk,"ucap Aldo, yang dijawab serempak dari tamu yang datang.


Mereka berdoa sejenak sebelum akhirnya meninggalkan ruangannya dan Bertha.

__ADS_1


Setelah berbincang -bincang dengan papa Aldo, mereka akhirnya pamit untuk pulang.


"Kami permisi dulu om,"ucap mereka sambil menyalami pria yang tampak sedih itu.


Melihat wajah teman anaknya yang selalu ceria, menambah kesedihan bagi Aldo.


Seharusnya putrinya juga harus seperti mereka, bukannya bolak-balik masuk rumah sakit.


Malang sekali nasibmu nak ucapnya sambil menangis, papa Aldo sudah tidak kuat menahan air mata yang sejak tadi sudah mau menetes.


Bahunya terguncang hebat, sesak yang sudah ditahan sekarang tumpah tanpa bisa fi bendung lagi.


Saat papa Aldo menangis, Pino dan Rita datang untuk menjenguk adiknya.


"Om ada apa?" Pino menatap adiknya yang masih terlelap.


"Tidak ada apa -apa nak,"om hanya tidak tega melihat keadaan Bertha jelasnya.


Aldo segera meninggalkan ruangannya dan menuju kamar mandi untuk menyegarkan hati dan pikirannya.


Pino mendekati tubuh adiknya yang sudah terlihat kurus itu.


"Kak sepertinya ada sesuatu yang terjadi tadi, kenapa om sampai menangis ya?" Rita merasa ada sesuatu yang telah terjadi.


"Tidak tahulah dek,"nanti kita tanya om, apa yang terjadi.


Aldo sudah tampak segar setelah keluar dari kamar mandi.


Ia duduk di sofa yang ada di ruangan Bertha, perlahan Pino datang mendekati omnya.


"Bagaimana dengan perkembangan kesehatan Bertha om?"tanya Pino setelah melihat omnya sedikit tenang.


"Dia sepertinya masih sangat trauma, dia selalu merasa ada yang mengikuti dia."


"Saat sadar, dia akan menangis histeris dan terakhir tadi dia disuntik penenang karena dia histeris, setelah dia merasa kakinya tidak berfungsi."


Pino tidak tahu harus menjawab apa, tentang keterangan yang diberikan oleh omnya.


"Om takut hal yang sama jika seperti ini terus, kejadian beberapa bulan yang lalu, akan terulang kembali, jelas Aldo sedih."


Pino yang sudah tahu akan ucapan omnya ikut merasa kwatir.


"Kita berdoa aja om,"agar jangan hal buruk terjadi pada Bertha.


Ini semua akibat ulahmu mama grutu Pino yang sudah terbawa emosi.


"Bagaimana cara mama minta ampun pada Tuhan, karena mama telah tega menyakiti hati anak mama segini dalamnya," gumam Pino.


Setelah beberapa menit mereka akhirnya undur diri,karena sudah malam hari.


Kami permisi dulu om,pamit Pino yang kemudian bangkit daril duduknya.


Mereka segerap keluar dari ruangan Bertha menuju tempat parkir.


Setelah Pino dan Rita bekerja di perusahaan Bertha, semua kebutuhan mereka dipenuhi termasuk memberikan sebuah mobil ,asal dijaga dengan baik.


Sampai di rumah Pino, duduk merenungi keadaan Bertha.


Rita yang melihat Pino termenung datang menghampiri kakaknya.


"Kakak bagaimana jika sampai Bertha seperti beberapa bulan yang lalu?"


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan om Aldo dan juga Edo."


"Dia begitu tulus kepada Bertha," tidak peduli dengan pekerjaan dan kuliahnya demi Bertha.


Bahkan kedua orang tuanya juga sangat mencintai Bertha, dengan tulus.

__ADS_1


Itulah yang sangat sulit kakak pikiran dek,rasanya kepalaku mau pecah,jika memikirkan itu semua.


"Aku mandi dulu ya de


biar segar sedikit otak ini, ujar pino.


Dia berlalu menuju kamar,sedangkan hal yang sama dilakukan, oleh Bertha dia mengguyur seluruh tubuhnya.


Beberapa menit kemudian Rita sudah selesai dengan ritual mandiinya.


Rita turun untuk makan malam bersama kakaknya, walaupun hati sedang terluka, tapi perut janganlah sampai ikut demo, yang akan menambah beban.


Setelah makanan mereka disiapkan oleh bu Ar, asisten rumah tangga mereka,Rita menunggu kakaknya untuk makan bersamanya.


Lima menit kemudian Pino sudah duduk manis dikursi meja makan.


Mereka segara makan dengan nikmat, tanpa ada cerita yang menyesakkan dada mereka.


Selesai makan Pino dan Rita menuju ke kamar mereka masing -masing.


Sepertinya untuk sekarang lebih baik mencari kesibukan sendiri di banding memikirkan rumitnya hidup yang mereka lalui.


Sementara di rumah sakit, Bertha sudah bangun, dia hanya diam, tidak ada pembicaraan dengan papanya.


"Sayang kamu minum susu dulu ya,"ujar Aldo setelah membuat segelas susu untuk putrinya.


Bertha mengangguk dan berusaha untuk duduk, papanya yang melihat Bertha berusaha untuk duduk, akhirnya membantunya.


Setelah Bertha duduk, barulah papa Aldo menyodorkan susu dalam gelas tadi.


Bertha segera menghabiskan susu yang dibuat oleh papanya.


Bertha tidak mau menambah beban pikiran papanya, jadi Bertha berusaha untuk lebih tegar.


Saat ini papa Aldo tampak bercerita dengan gadisnya, ada senyum indah di sana terkadang malah tertawa.


Aldo merasa sangat bahagia melihat perubahan sikap Bertha, jika tadi Bertha hanya diam saja,maka saat ini sudah terlihat lebih ceria.


"Pa aku ngantuk ujar Bertha pada papanya."


Papa Aldo segera membantu Bertha untuk berbaring,tidurlah sayang,supaya cepat sembuh,ucap papa Aldo sambil menarik selimut, untuk menutupi tubuh Bertha.


Tidak butuh waktu yang lama, Bertha sudah tertidur, mungkin akibat obat penenang yang diberikan hingga membuat Bertha mudah untuk tidur.


Melihat Bertha yang sudah tidur, papa Aldo bangkit dari duduknya menuju sofa untuk, ikut tidur.


Tiga jam lamanya papa Aldo tidur pulas sampai dia mendengar suara perawat yang datang untuk periksa keadaan Bertha.


Saat mendengar suara papa Aldo langsung menghampiri perawat.


"Ada apa suster?"ucap papa Aldo setelah ada di samping ranjang Bertha.


"Tidak ada apa -apa pak,"hanya mengecek keadaan Bertha, karena ini sudah jam untuk memeriksa kondisi pasien pak, jelas perawat.


"O... saya pikir ada apa suster,"karena tadi saya sempat tertidur, jelas papa Aldo.


Tidak pak, semua batas normal kok pak, jadi tidak usah terlalu cemas, sejauh ini keadaan Bertha sudah semakin membaik, ujar perawat itu agar keluarga tidak terlalu takut akan keadaan Bertha.


Permisi pak, ucap perawat setelah selesai memeriksa kondisi Bertha.


Papa Aldo duduk di samping ranjang Bertha, karena sudah tidak merasa ngantuk lagi, akibat terkejut tadi.


Sampai menjelang pagi papa Aldo sudah tidak bisa memejamkan matanya.


Setelah para perawat lagi bertugas dipagi hari, Bertha yang sudah dibersihkan dengan melap badan Bertha.


Papa Aldo permisih ke perawat, karena papa Aldo hendak mencari kopi.

__ADS_1


"Baik pak,"ucap perawat ramah, nanti kami akan hubungi bapak jika ada yang penting.


Bersambung


__ADS_2