
Setelah Bertha bangun, mereka segera meninggalkan butiknya Bertha untuk segera pulang.
"Mulai jam berapa kamu tidur dek?"tanya Rita pada Bertha.
"Aku tidur mulai jam tiga kak, eh ternyata malah sampai sore,"kekeh Bertha.
"Kamu tahu dek,papa kamu sampai melebihi setrika, jika tidak ada pertemuan pasti sudah terbang mulai tadi."
"Terus kakak tahu darimana?"
"iya dari mana lagi jika papamu, tadi nelepon kakak, katanya kamu tidak angkat telepon, hingga sampai sore, karena kami penasaran akhirnya kami nyusul."
"Kamu tidak apa-apakan dek?bukan karena kamu sakit," tanya Pino.
"Tidak kak, hanya ngantuk saja."
Sampai di rumah ternyata papa Aldo sudah sampai terlebih dahulu.
Papa Aldo dengan cepat menghampiri putrinya untuk melihat kondisi Bertha.
"Kamu baik -baik saja nak?"tanyanya masih dengan nada kwatir.
"Iya pa," aku tidak apa-apa hanya mengantuk jelas Bertha yang membuat sedikit lega di wajah papa Aldo.
"Syukurlah nak, tadi papa sangat kwatir."
"Papa lagian aneh deh kenapa tidak hubungi Leo bukannya dia papa tugaskan untuk menjaga aku."
"Eh iya,papa lupa,pikiran papa mentok sayang."
"Tapi ya sudahlah yang penting Kamu tidak apa-apa, rasanya sudah lebih cukup."
Sementara Pino dan merasa sangat bahagia melihat pemandangan di hadapannya.
Trimakasih ya Tuhan,atas cintamu pada adikku.Doa Pino mengalir begitu saja, cinta tulus dari omnya membuat adiknya bisa lebih kuat hingga sampai sekarang.
"Om kami pulang ya," ucapnya setelah keduanya menyaksikan acara dihadapan mereka.
"Tidak makan dulu nak?"papa Aldo yang merasa tidak enak karena sejak tadi hanya sibuk dengan urusan sendiri.
"Trimakasih om, nanti saja dirumah,soalnya papa sudah menunggu,"ucap Pino sambil menyalam omnya.
"Iya sudah kalian hati -hati ya dan trimakasih."
"Iya om kami permisi dulu," ucap mereka bersamaan.
Papa Aldo dan Bertha akhirnya masuk ke dalam rumah, dengan cepat mereka membersihkan diri, lalu tidak berapa lama mereka sudah duduk di sekeliling meja makan.
"Ayo makan yang banyak ganteng,biar kuat dan pandai,"ujar Bertha sambil mengacak rambut adiknya itu.
"Baiklah kak, nanti kalau aku sudah besar,ikut kerja sama kakak ya,"ucap Joni memohon.
"Makanya cepatlah besar kakak sudah tidak sabar menunggunya," goda Bertha pada adiknya yang sangat terlihat lucu itu.
"Ih kakak, tidak sekarang juga kak, aku masih kecil."
"Oya... kemarin katanya sudah besar, kok sekarang kembali kecil,"ucap Bertha semakin menggoda adiknya.
"Itu karena kakak senang sekali ngacak rambut aku," gerutu Joni.
"Jadi sebenarnya kamu masih kecil atau sudah besar."
"Tahu ah kak,malas kakak lama -lama jadi cerewet banget."
Bertha tertawa yang membuat Joni semakin kesal.
Maaf deh kakak hanya bercanda, ujar Bertha pada akhirnya.
"Besok jalan sama kakak yo,"ajak Bertha agar adiknya tidak marah lagi.
"Nggak mau, lebih baik tidur,"jawab Joni ketus, ia masih pura -pura marah sama kakaknya.
"Iya sudah kalau tidak mau, tidak usah ketus juga seperti cewek tahu."
"Memang kakak pikir aku mau disogok?no."
"Siapa juga mau nyogok, orang benaran kok tulus mau ngajak main."
"Iya sudah deh aku mau,"akhirnya Joni setuju dengan semua sayarat yang diberikan oleh oleh kakaknya.
__ADS_1
Sebenarnya Joni tahu jika kakaknya itu mempunyai banyak cara untuk meluluhkan hatinya.
Sang papa hanya tersenyum menyaksikan kedua anaknya, rasa bahagia menyelimuti hatinya.
Selesai makan mereka duduk di ruang keluarga seperti biasa mereka melewati waktu bersama sekedar menonton televisi.
"Pa apa aku bisa datang ke kantor?" entah kenapa tiba -tiba Joni bertanya seperti itu.
"Kamu tidak apa-apakan dek?"aku atau kamu masih mau kepikiran dengan candaan kakak tadi?tidak serius dek.
"Bukan kak, tapi aku sepi setiap hari hanya sendiri, papa sama kakak sibuk terus, hanya malam kita jumpa."
"Iya sudah jika kamu mau datanglah, suruh pak Ali yang selalu mengantar," ucap sang papa.
Papa Aldo sebenarnya kasihan pada anaknya, yang setiap hari dia tinggal, tapi mau gimana lagi, dia juga harus bekerja.
"Benaran pa, aku bisa kesana?"tanya Joni dengan semangat.
"Iya nak, mau kebutik kakak juga boleh,"saran papa lagi pada Joni.
"Kakak sama dengan papa?"tanyanya bingung karena memang dia tidak tahu masalah itu, yang dia tahu perusahaan itu milik kakaknya, itulah yang dia tahu saat penyambutan kakaknya di kantor.
"Tempat kakak itu banyak ceweknya loh dek," goda Bertha.
"Memang aku mau cari cewek?"sungut Joni yang kemudian mengerucutkan bibirnya.
"Iya siapa tahu kamu mau lihat cewek mentel,banyak disana."
"Nggak mau."
"Iya sudah tidak usah lihat mereka, tapi kakak tunggu kamu disana, ok."
"Ok."
Kebersamaan mereka berakhir, yang kemudian masuk ke dalam kamar masing -masing.
Pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran mereka, sudah berlangsung selama sebulan, demikian juga dengan Joni selalu datang untuk sekedar main disela belajarnya.
Sepulang latihan bela diri dia akan senang hati ketempat kakaknya, tempat bela diri itu juga tempatnya Bertha dan Edo menimba ilmu bela diri.
"Kak makan yo, sudah lapar,"ucap Joni yang masih menunjukkan pukul empat sore.
"Memang kamu tadi belum makan siang ya dek?" tanya Bertha penuh curiga yang melihat adiknya sedikit lemas.
Bertha merasa bersalah karena memang mereka tidak pernah makan siang bersama.
"Iya sudah, ayo kita makan."
Dengan penuh semangat Joni yang menuju mobil yang selalu mengantarnya.
Saat ini mereka sudah berada di sebuah cafe ala remaja modern.
Sekarang kedua kakak beradik itu sedang menikmati makanan mereka, terlihat raut bahagia di wajah Joni.
Setelah Bertha resmi membuka butiknya mereka tidak pernah makan siang bersama lagi.
Biasanya selesai kuliah Bertha langsung kebutiknya .
Papa Aldo dengan senang hati membiarkan putrinya untuk melakukan sesuatu yang membuat Bertha bahagia selagi dia masih bisa membantu si kantor.
Tidk ada alasan baginya untuk melarang Bertha membuka butik apa lagi itu merupakan cita-cita Bertha, yang sudah direncanakan jauh sebelum mereka berjumpa lagi.
Di kantor masih ada Pino dan Rita yang sedia membantunya.
Setelah selesai makan, Bertha mengajak adeknya jalan.
Sebuah danau indah hasil kreasi anak manusia yang mampu memanjakan mata.
"Kak kok kita kesini? memang kakak tidak subik? aku tidak mau gara -gara aku kerjaan kakak jadi numpuk."
"Nggak kebetulan tadi rancangan untuk pesanan besok sudah selesai, jadi nikmatilah sore ini,kakak juga sudah izin sama papa."
'Trimakasih ya kak,'' aku sangat bersyukur memiliki kakak.
"Sama sayang, kakak juga sngat bersyukur dek, karena memilik adik yang sangat menyayangi kakak."
Sambil menikmati peraduan antara terang dan gelap mereka masih berada disana.
"Dek sama nanti saat menjelang malam danau ini akan lebih indah, lampu hias dan suara musik indah.
__ADS_1
Disini juga bebas untuk menyumbangkan suaranya,ada hiburan lawak disudut danau ini."
"Apa kakak sering kesini?"
"Ada tiga kali kakak kesini sama kak Edo, setiap kakak ada masalah dia selalu bawa kakak ke tempat alam seperti ini."
"Kak Edo itu baik bangat ya kak, aku salut sama dia."
'Iya dek, mungkin kalau bukan karena dia, kakak tidak bisa bertahan sampai sekarang."
"Nanti kalau aku sudah besar mau lah seperti kak Edo, janji Joni mantap."
Bertha hanya tersenyum bahagia melihat adiknya yang semangat.
"Kak itu bukannya kak Kinan yang ya,"ucap Joni sambil menunjukkan pada seseorang yang sedang membawa mapan.
"Iya.. iya kok dia kerja di sini,"ucap Bertha seolah dia sedang bertanya.
"Biarin saja kak,supaya tahu sakitnya kerja itu, bukannya dulu dia tidak peduli sama kakak, bahkan selalu menyakiti kakak."
"Kamu sepertinya pendendam dek, tidak boleh seperti itu."
"Kakak terlalu baik, sama dia."
"Iya bagaimana juga dia tetap kakak kita, hanya kadang sikapnya itu yang sulit untuk di terima."
"Justru itu kak, sebaiknya kakak tidak usah terlalu dekat dengan dia."
"Dia sudah berubah dek,"dia hanya takut kasih sayang mama dan papa beralih ke pada kakak, makanya dia tega selalu memfitnah kakak.
"Mama yang sudah tidak suka dengan kehadiran kakak sejak di kandungan menjadi buta akan cinta.
Dia semakin membenci kakak karena aduan kak Kinan.
Berkali -kali dia memecahkan barang kesukaan mama dan menuduh kakak, bahkan kakak di tuduh mencuri uang, itulah sebabnya kakak harus bekerja baru bisa makan.
Dan mama tidak memberikan uang lagi, makanya kakak harus kerja.
Waktu itu kakak bekerja sama kak Edo untuk bernyanyi di cafe milik keluarganya.
Tapi sekarang kakak sudah bisa memaafkan kakak Kinan,jadi kamu juga tidak usah membencinya terus.
Kita harus belajar menerima kenyataan dek."
"Hati kakak sungguh sangat baik ,bisa menerima kenyataan pahit itu."
"Tapi tidak usah kakak ajak dia kerja sama kakak biar dia semakin sadar."
Bertha mencubit pipi adiknya yang sudah mulai dewasa sebelum waktunya.
"Ih.. kakak selalu gitu, aku sudah besar ucapnya tidak terima."
"Kita duduk disana yo, sambil melihat pertunjukan dari mereka."
"Iya kak."
Pertunjukan akan dimulai, para pemain lawak sudah bermunculan satu persatu.
Terlihat para pengunjung mulai tertawa melihat aksi mereka, seketika beban yang ada hilang, yang ada hanya tawa bahagia.
Satu jam mereka menyaksikan hiburan itu, kini sudah selesai, satu persatu penonton mekangkahkan kaki mereka menuju tempat lain.
"Apa kamu masih mau disini atau kita pulang?"tanya Bertha setelah mereka menikmati semangkok bakso.
"Pulang aja deh kak."
Akhirnya mereka meninggalkan tempat itu, dan kini mereka sudah berada di mobil.
"Bagus ya kak tempatnya, aku suka kapan -kapan kita kesana lagi ya kak."
"Boleh ganteng, kita ajak papa ok."
Saat ini mereka sudah sampai di rumah, papa Aldo sudah menunggu kedatangan anaknya.
"Ayo duduk, gimana menynangkan?"
"pastinya dong pa, jawab Joni antusias."
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar dan vote ya.
Trimakasih.