APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 109.Ingat Umur


__ADS_3

"Eh marah lagi,seharusnya jika ada tamu datang sudah seharusnya kamu menyambutnya."


Edo sengaja mengulangi perkataan Evan adiknya.


"Ingat umur kak, anak sudah pada gede wh malah berlaku pengantin baru lagi,"ucap Evan berbisik di telinga kakaknya.


Edo menonjok bahu Evan hingga dia meringis kesakitan.


Bertha tidak mau ambil pusing dengan kedua orang tersebut dia malah mrndekati adik iparnya.


Setelah beberapa jam kemudian mereka minta undur diri, karena mau menjemput Cia dan dedek bayinya.


Sore ini mereka harus pulang, tapi sebelumnya harus menjemput Cia dulu.


Sampai di rumah sakit ternyata semua sudah siap di urus oleh suami Cia, mereka tinggal berangkat.


Mereka langsung menuju mobilnya,Bertha yang mengendong dedek bayi agar Cia bisa duduk dengan baik.


Sampai di rumah Cia segera di bawa ke kamar beserta dedek bayinya.


Setelah semua terasa tenang, Bertha membereskan semua barang mereka, karena mereka akan pulang sore hari ini juga.


Semua sudah selesai, bahkan sudah selesai berpamitan pada semua,sekarang mereka sudah berada di mobil.


Saat mereka sudah berada di bandara,mereka langsung menuju ke ruang tunggu karena pesawat akan berangkat,sebab mereka memakai jet pribadi milik teman papa Edo.


Wajah Bertha dan Dia sangat bahagia, ceria, karena papanya Aldo sudah bersama mereka.


Dia bermanja-manja di bahu kakeknya,gadis itu sangat senang sebab kakeknya akhirnya bisa pulang bersama mereka.


Tidak terasa Dia sudah terlelap di bahu kakeknya, Andre yang melihat adiknya tidur di bahu kakeknya, lalu datang menghampiri mereka.


"Kek biar aku yang menopang Dia,"ujarnya karena kasihan pada kakeknya.


"Jangan nak, nanti dia terbangun, kasihan dia baru tidur."


"Tapi kek... Iya sudah tidak apa-apa nak,"ucap kakek yang memotong perkataan Andre.


Akhirnya Andre kembali ke tempat duduknya.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di bandara,supir sudah menunggu kedatangan mereka.


Setelah semua masuk ke dalam mobil,supir dan pak Wo langsung masuk dan segera supir melajukan mobilnya.


Akhirnya mereka sudah sampai di rumah mereka, dengan senangnya mereka turun karena sudah sampai di rumah dengan selamat.


Dengan cepat mereka masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.


Satu jam kemudian mereka sudah berkumpul kembali untuk makan malam.


Setelah selesai makan akhirnya mereka segera menuju ruang keluarga untuk menikmati siaran televisi.


Mereka menikmati beberapa cemilan dan secangkir kopi.


Sudah menghabiskan waktu bersama akhirnya mereka kembali ke kamar untuk beristirahat.


Pagi hari semua keluarga sudah terlihat rapi dengan pakaian yang semestinya mereka pakai.


Setelah sarapan Edo berangkat bersama anak-anaknya,sementara itu Bertha tidak ikut bekerja karena ingin menemani papa Aldo.

__ADS_1


Hari ini mereka akan bertemu dengan adiknya Joni beserta adik iparnya Angel.


Papa Aldo akan menemui anaknya Joni dan juga menantunya, sedangkan papa Aldo sudah memutuskan akan tetap tinggal di rumah miliknya.


Sedangkan Bertha sudah ikhlas dengan keputusan papanya, yang penting sekarang mereka bisa berkumpul kapan pun dia mau.


Saat ini Bertha sudah siap untuk menemani papanya, mereka sudah berada di rumah,rumah peninggalan kakeknya pada mamanya Bertha.


"Maafkan aku pa ucap tulus Joni."


"Iya papa sudah memaafkan kamu, duduklah papa mau bicara sama kalian."


Mereka duduk sambil menikmati secangkir kopi.


"Papa mau tinggal di rumah yang sudah papa beli beberapa tahun lalu."


"Tapi pa rumah ini milik papa, kalau papa mau tinggal sendiri, biarlah kami yang akan pergi."


"Tidak nak,rumah ini terlalu besar untuk papa,sedangkan rumah itu lebih kecil, rumah ini milik kakakmu Bertha, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah."


"Papa kok bicara seperti itu pa,rumah ini juga milik papa."


"Iya papa tahu sayang."


"Lalu kenapa papa bicara seperti itu?"


"Maafkan papa sayang, maksud papa bukan seperti itu nak."


"Iya sudah papa boleh tinggal di sana, tapi papa harus tinggal bersama orang yang sudah kami siapkan,jadi kami tidak terlalu kwatir akan keadaan papa."


"Iya papa menyerah akan hal itu sayang."


Sebegitu sakit hatinya papa karena perkataanku? batinnya.


Sedangkan Angel juga tidak bisa bicara apa-apa lagi, semua sudah terjadi, dia sangat menyesal atas perkataannya saat itu.


Saat emosi mereka tidak memikirkan perasaan papa Aldo.


Perasaan orang tua yang lebih sensitif, papa Aldo memang sangat terluka atas perkataan anak dan menantunya.


Jika saja Edo dan Bertha yang meminta papa Aldo sudah berada di rumah yang ada di desa.


Rumah yang di kelilingi pesawahan, membuat mata dan hati terasa sejuk.


Setelah pembicaraan itu akhirnya papa Aldo permisi mau ikut bersama Bertha karena untuk beberapa hari ini papa Aldo masih tinggal bersama Edo dan Bertha.


"Papa kok bicara seperti itu tadi, aku jadi tidak enak hati sama mereka."


"Tapi itu nyatanyakan sayang, mereka harus sadar akan hal itu."


"Tapi pa, aku kasihan sama adek, wajahnya tadi sangat sedih."


"Papa tahu sayang."


"Apa papa masih marah sama mereka?"


"Jujur saja hati papa maaih terasa sakit, tapi iya sudahlah papa mau hidup tenang saja."


"Aku sangat mengerti pa, tapi papa tidak boleh sedih lagi ya."

__ADS_1


"Baiklah princes papa yang paling cantik."


Papa Aldo tertawa setelah menggoda putrinya, dia tidak mau terlalu lama membuat putrinya bersedih.


Karena sudah waktunya anak-anak pulang, maka mereka langsung menuju sekolah anak-anak.


Dimeja makan mereka bercerita tentang pengalamannya di rumah kakek dan neneknya.


Edo yang datang makan siang hanya sebagai pendengar saja, dia bahagia melihat anaknya sangat bahagia.


Setelah selesai makan akhirnya Edo kembali ke kantor dan yang lain segera beristirahat.


Sore hari Edo sudah pulang dia langsung membersihkan dirinya.


Saat Edo keluar dari kamar mandi ternyata Bertha sudah memasuki kamarnya.


"Sayang kamu dari mana?"


"dari kamar anak-anakku pi, memang ada apa?"


"tidak ada apa-apa sayang, hanya aku heran tadi saat tiba, tidak ada istri tercintaku menyambut."


"Maaf pi, tadi seperti biasa sikembar ribut mulu."


"Iya tidak apa-apa sayang, mereka itu foto copy aku dan Cia."


"Iya juga ya pi."


"Tapi percayalah mereka itu saling menyanyangi satu sama lain."


Edo selesai berpakaian sabtainyay, dengan rambut basah ia masih sangat terlihat tampan, Bertha memandangi suaminya tanpa henti.


"Sayang ada apa?"


"nggak apa-apa sayang, kamu sangat ganteng," puji Bertha kemudian.


"Kamu baru sadar sayang? terus selama ini kemana?"


"di hatimu aja pi."


Edo memeluk istrinya, ia mengecup pucuk kepala Bertha dengan penuh kasih sayang.


Setelah jam makan malam tiba pasangan itu segera turun karena mereka akan makan malam bersama.


"Ayo banyak makan sayang,"ucap Edo sambil mengelus rambut putrinya.


"Iya pi,makanannya sangat enak,pastinya aku makan banyak."


"Nggak enak juga makan banyak," ejek Dio pada adik kembarnya.


"Sirik saja lo,ucap Dia kesal."


"Sudah jangan ribut waktu makan,"ujar sang papi menengahi perdebatan kedua anaknya.


Keduanya langsung memilih diam, mereka takut jika sampai papanya marah.


Pagi hari bersama udara segar dan kecauan burung,anak manusia itu kembali bersiap untuk melaksanakan tugas masing-masing.


Tuhan menciptakan dunia begitu indah agar manusia mampu bersyukur kepada Tuhan yang sudah memberikan kesempatan hidup.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2