
"Kamu tidak salah nak, hanya memang papa sudah lama mau tinggal di sana,nanti papa juga akan sering kesini."
"Pa... jangan pergi."
"Sudah kamu tidak perlu merasa bersalah atas semua ini, nanti jika hati papa sudah merasa tenang papa akan kesini."
Papa Aldo akhirnya menenangkan hati Bertha, dia tidak tega melihat putrinya sedih.
Dengan berjanji bahwa hanya selama papa Aldo merasa tenang berada di sana.
Saat makan siang ternyata Edo juga sudah pulang setelah menjemput anak-anak dari sekolah.
Mereka makan dengan diam tidak ada yang membuka pembicaraan.
Anak-anak yang melihat maminya murung akhirnya hanya diam.
Dio yang biasanya rusuh juga ikut diam, dia merasa bahwa maminya marah karena masalah dia semalam.
Edo yang belum tahu masalahnya juga ikut menikmati makanannya.
Saat setelah selesai makan papa Aldo permisi pada semuanya, karena Edo yang akan mengantarkan papa mertuanya.
Bertha tidak ikut, dia memilih untuk beristirahat.
Ketiga anaknya ikut untuk mengantar kakek Aldo.
"Kek, selamat jalan jangan lama di sana nanti Dia kangen," ucap Dia manja.
"Iya sayang kakek tidak lama, kakek juga tidak kuat jika lama dari cucu kakek yang cantik ini."
"Benar ya kek."
"Iya Dia sayang."
Mereka langsung pulang sementara kakek juga sudah harus berangkat.
"Pa... mami kenapa ya kok diam terus."
"Papi juga belum tahu bang, nanti kita tanya jika sudah sampai di rumah."
Larut dengan pemikiran masing -masing hingga tidak terasa bahwa mereka sudah sampai.
"Kalian langsung saja ya, papi temui mami dulu."
Edo masuk ke kamar dan ternyata Bertha sudah tidur pulas di dia hanya mencium kening istrinya lalu membersihkan diri karena dia sudah tidak kekantor lagi.
Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian Edo berbaring di samping istrinya.
Edo membawa Bertha dalam pelukannya, dia bicara pada dirinya sendiri.
"Ada apa sayang kenapa kamu hanya diam?"
Edo membelai rambut panjang Bertha dengan lembut.
Hingga akhirnya dia juga tertidur.
Sore hari mereka bangun sudah lebih segar apa lagi sudah membersihkan diri.
Bertha yang terlebih dahulu bangun dan membersihkan diri berdiri di balkon kamarnya.
Pikirannya melayang bersama papanya yang pergi demi menenangkan hatinya.
Sejak dia tahu masalah papanya bahkan harus memutuskan untuk jauh darinya membuat semangantnya hilang separuh.
Ketika papa kandungnya meninggal dunia tahun lalu hatinya tidak sesedih ini.
Edo yang melihat istrinya sedang termenung datang menghampirinya.
"Sayang ada apa? mulai siang aku perhatikan mami diam terus."
Edo memeluk istrinya dari belakang, sambil meletakkan dagunya di bahu sang istri.
"Papa mau tinggal di rumahnya yang dulu pi."
Edo melepaskan pelukannya lalu membawa istrinya untuk duduk di sofa.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu sayang, sekarang ceritakan semua ada apa sebenarnya."
Bertha akhirnya menceritakan apa yang di ceritakan oleh papanya.
"Berarti bukan salah papa sepenuhnya dong jika Veri alergi durian."
"Iya... tapi mungkin karena mereka bingung akhirnya tanpa sadar membentak dan menyalahkan papa, sementara papa tersinggung ucap mereka."
"Terus bagaimana untuk selanjutnya pi."
__ADS_1
"Kamu tenang saja sayang, nanti setelah para sahabat itu bertemu semua akan baik-baik saja."
"Tapi bagaimana jika papa benar -benar tinggal sendiri pi?"
"Tidak apa-apa sayang itu hanya sementara paling jika hati papa sudah tenang papa akan kesini lagi."
"Papi yakin?"
"Yakin sayang papa itu orang yang bijak, dan selama ini belum pernah salah bertindak."
"Aku takut papa tinggal di sana, kejadian beberapa tahun lalu akan terulang kembali pi, papa menyerah dengan keadaan hingga tidak mau berobat."
"Itu tidak akan terjadi sayang, kamu percaya sama aku."
Bertha memeluk Edo, dia membawa segala masalahnya di bahu suaminya.
"Papi itu kesepian, di masa tuanya tidak ada yang bisa diajak bicara, jadi mendapat perlakukan seperti itu langsung merasa bersalah dan terhina."
Mungkin ini juga salah kita yang terlalu sibuk, hingga tidak ada waktu bersama papa, dan anak -anak juga sibuk dengan sekolah dan kegiatan lainnya."
"Sudah jangan sedih lagi dong, mami tahu sampai anak-anak pada takut semua."
"Iya pi trimakasih untuk semuanya."
"Iya sayangku, senyum dong biar tambah cantik."
"Papi.. memang mami tidak cantik ya."
"Cantik sayang luar dalam lagi."
Sementara itu Joni yang baru pulang dari luar kota menemui istri dan anaknya.
Mereka melepaskan rindu satu sama lain, walaupun hanya dua hari tapi bagi mereka yang sudah biasa bersama sudah sangat lama.
Beberapa saat kemudian Joni mencari keberadaan papanya, semua terdiam termasuk istrinya.
"Sayang papa dimana kok tidak ada kelihatan?"
"Kakek sudah mulai kemarin tidak ada pulang pa,"ujar Kevin takut.
Joni melihat istrinya, tapi hanya tertunduk,membuat dia cemas.
Joni berjalan ke kamar papanya, dia melihat tidak ada yang berubah, pakaian dan yang lain masih tertata rapi.
Dengan perasaan tidak enak, Joni duduk di ranjang papanya.
Papa Aldo memang hanya kirim pesan bahwa dia akan kerumah Bertha.
Joni ingat tadi kakaknya menghubungi dia tapi sampai saat ini dia belum menghubungi balik.
Joni bangkit dari duduknya dan berlari menuju ruang tengah, dia mengambil kunci mobilnya lalu segera keluar menuju mobilnya.
Joni mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, hatinya tidak tenang saat ini.
Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di rumah Edo, dengan cepat dia turun dan masuk ke dalam rumah.
Andre yang kebetulan berada di ruang keluarga lansung menyapa omnya.
"Sore om ada apa kok panik gitu?"
"Kakek mana?"
"Loh om tidak tahu kalau kakek pergi?"
"pergi ke mana?"
"Ketempat kakek sama nenek om."
Joni duduk sambil mengusap wajahnya kasar.
"Kapan perginya bang?"
"Tadi siang om."
"Papi sama mami kamu di mana?"
"ada di atas om, mami sedih terus karena kakek pergi mungkin."
"Panggil mereka bang."
Andre naik untuk memanggil mami dan papinya.
"Pi... mi.. di bawah ada om Kevin."
Edo bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Kenapa bang?"
"ada om Kevin di bawah katanya mau ketemu papi dan mami."
"Iya makasih bang."
Edo memanggil Bertha yang masih duduk di balkon.
"Sayang... ayo kebawa ada papanya Kevin."
Mereka turun untuk menemui Joni yang sedang duduk gelisah.
Saat mereka sampai ,Joni langsung berdiri untuk memeluk kakaknya.
"Kak maafkan aku, sudah membuat kakak sedih karena papa pergi."
"Ayo duduk, kita harus bicara,"ujar Bertha lalu duduk di samping Edo yang sudah duduk terlebih dulu.
Akhirnya mereka segera duduk, Edo hanya diam mendengar semua penjelasan dari adik iparnya.
"Lalu kenapa harus pergi kak?"
"Tidak apa-apa hanya untuk menenangkan hati papa tidak usah terlalu cemas tapi kalau boleh aku kasih saran, hubungi papa dan minta maaf."
Edo yang hanya diam akhirnya memberikan pendapat.
"Iya... kak, apa aku perlu kesana?"
"tidak usah hanya hubungilah beliau secepatnya."
"Kakak percaya sama kamu dek, tapi kakak mohon jangan sampai papa ke rumah kita dulu."
"Iya kak."
"Aku takut jika papa kesana yang ada kesehatan papa yang akan taruhannya,kamu masih ingatkan bagaimana keadaan papa saat itu."
"Masih kak,maafkan kami."
"Kakak tidak marah sama kamu hanya saja kakak sedikit kecewa, kok kalian langsung kasar sama papa, padahal mana mungkin papa sengaja melukai Veri."
Joni tidak menjawab perkataan Bertha ia tahu dia salah, saat itu dia hanya panik melihat putrinya sampai sesak.
"Kak aku pulang dulu ya, trimakasih karena sudah mau memaafkan aku."
Santai saja dengan kita, yang paling penting hubungan dengan papa perbaiki dulu kita tidak menyalahkan siapa-siapa.
Edo merangkul pundak Joni, dia tahu saat ini Joni dalam keadaan hati merasa bersalah.
Edo yang sudah tahu sifat semuanya jadi lebih mudah untuk mengerti keadaan.
Setelah Joni pulang Edo mendekiti istrinya sambil memeluknya.
"Sudah tidak usah terlalu di pikirkan yang jelas mereka mengakui kesalahan mereka sudah papa tidak mau jika anak dan cucunya akan sedih, pasti papa akan kasih keputusan yang tepat."
Saat Edo menenangkan hati istrinya, poncelnya berdering.
"Sayang papa lagi vc nih, jangan pasang wajah sedih lagi dong."
Setelah memastikan bahwa Bertha sudah tidak sedih, baru Edo mengangkat panggilan tersebut.
Halo... pa... sapa Edo dan Bertha bersamaan.
"Halo sayang, papa sudah sampai ya, nic sudah ada papa dan mama kalian."
Papa Aldo menunjukkan wajah kedua sahabatnya sekaligus besannya itu.
"Hai sayang... "sapa mama Edo dengan senyum manisnya.
"Hai... juga ma, wah nampaknya wajah mama senang banget jumpa pangerannya."
Edo sengaja mengoda para orang tua mereka disana, agar mereka bisa tertawa bersama.
"Iya dong siapa juga yang tidak senang jumpa dengan pangerannya, iyakan kak."
"Iya ces.. "
"Ha.... ha.. yang kasihan papa tuh, tidak punya princes."
"Siapa bilang papa tidak punya, nic masih cantik."
Papanya Edo ikut menggoda istrinya agar Edo merasa kalah.
"Iya.. deh pa.. aku kalah."
"Pastilah, papa gitu."
__ADS_1
Bersambung.
Kakak yang baik dan cantik bantu kita dong dengan likenya.