
Sampai di mobil Edo mendudukkan Bertha di kursi belakang setelah pak Wo membukanya pintu mobilnya.
Kemudian Edo ikut masuk dan duduk di samping Bertha, Edo menganggkat kepala Bertha agar paha Edo yang jadi alas kepalanya.
Pak Wo mengambil alih kemudi, seperti yang diperintahkan oleh majikannya.
Dengan kemahiran untuk menyetir pak Wo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Den kita sudah sampai," ucap pak Wo.
Edo turun dan mengangkat kembali tubuh Bertha.
Saat masuk Joni yang kebetulan sedang bermain, merasa heran melihat kakaknya berada di dalam gendongannya Edo.
"Ada apa dengan kakak?"tanyanya kwatir sambil terus mengikuti langkah Edo.
Joni membukakan pintu kamar Bertha, agar Edo dengan mudah meletakkan tubuh kakaknya.
"Kakak belum jawab kenapa dengan kak Bertha!"Joni yang sudah kesal dengan Edo yang tidak menjawab pertanyaannya.
"Tidak apa-apa dek, kakak hanya mengantuk saja, ayo kita keluar biar kak Bertha tetap beristirahat."
Joni tersenyum bahagia mendengar bahwa kakaknya baik -baik saja.
Joni yang sudah terlalu sering melihat kakaknya terluka sangat kwatir, ketika Edo tidak langsung menjawab pertanyaan Edo darinya.
"Kak Edo langsung pulang ya dek, salam untuk om dan Kak Bertha."
"Baik kak, Trimakasih."
Edo berjalan menuju pintu keluar dan menuju mobilnya.
Setelah Edo sudah duduk di samping pak Wo,segera mobilnya melaju dengan kecepatan sedang.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Edo.
Sementara Bertha yang sudah terbangun, merasa heran kenapa dirinya sudah berada di dalam kamar miliknya.
Joni yang sejak tadi tidak beranjak dari kamar Bertha, langsung mendekatinya.
'Kakak sudah bangun?" tadi kak Edo yang menggendong kakak sampai ke kamar ini.
Joni menjelaskan apa yang dia lihat, membuat pipi kakaknya merona merah.
"Apa papa sudah pulang dek?"tanya Bertha untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Belum kak,"makanya cepat mandi sana, biar papa pulang kita langsung bisa makan.
"Iya deh, adek kakak yang ganteng ini, tunggu sebentar ya, biar kita sama turun."
Bertha langsung menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri, Bertha dan Joni turun kelantai satu, untuk menungggu papa Aldo pulang.
Beberapa menit kemudian papa Aldo pulang dengan wajah lelah yang menemaninya.
__ADS_1
"Malam pa,"sapa kedua anaknya yang membuat semangatnya kembali bersemi.
"Malam sayangnya papa,"maaf ya buat kalian menunggu lama.
"Papa mandi dulu ya biar kita langsung makan."
"Ok pa, kami tetap menunggu biarpun agak lama," ujar Joni tetap sopan.
Papa Aldo tertawa kecil mendengar perkataan anaknya.
Selesai makan, papa Aldo duduk di ruang keluarga sambil nonton televisi, untuk menemani anaknya.
Bertha yang melihat wajah papanya tidak seperti biasa, duduk di samping papanya dan memeluk papanya.
"Ada apa pa? kok gelisah."
"Eh... itu,"ucapnya terbata -bata, yang membuat Bertha semakin heran.
"Apa pa?"Bertha masih menatap wajah papanya yang belum memberikan jawaban yang sesuai harapan Bertha.
"Papa kamu sedang sakit nak, dia sangat terpuruk saat ini, usahanya hancur sementara mama dan kinan kecelakaan saat pulang dari berlibur."
Iya bulan lalu mereka sudah keluar dari penjara karena Bertha memintanya,tapi setelah itu Bertha tidak tahu lagi apa yang terjadi kepada mereka.
"Bertha boleh jenguk papa?"ucapnya dengan penuh permohonan.
"Boleh sayang, asal kamu tidak terlalu dibebankan, hingga kejadian beberapa waktu lalu terulang kembali."
Aldo membawa Bertha untuk berjumpa dengan papa dan mama kandungnya dan juga abang kandungnya itu.
"Iya pa, Bertha janji akan baik -baik saja, asal papa tidak meninggalkan Bertha."
"Trimakasih ya pa, aku sangat bersyukur memiliki papa yang sangat menyayangi Bertha."
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit tempat papa dan mama serta kakaknya di rawat.
ke egoisan yang dulu sangat dominan dalam diri orang yang sedang terbaring itu, tapi beda dengan sekarang mereka terlihat lemah.
Mamanya yang belum sadarkan diri, serta Kinan yang belum bisa bicara, walau dia sudah sadarkan diri.
Ber... tha panggil pria paruh baya itu dengan lirih.
Bertha yang merasa namanya di panggil berjalan menuju ranjang tempat papanya berbaring lemah.
"Papa minta maaf nak, jika sudah banyak melukai hatimu, papa bukan ayah yang baik buat kamu, papa tidak bisa melindungimu, maafkan papa."
"Iya pa, aku sudah memaafkan papa, walau terkadang rasa sakit itu tidak bisa hilang begitu saja."
"Papa tahu bahwa rasa sakit itu tidak bisa hilang begitu saja, tapi tolong maafkan papa dan mama.
Mamamu sekarang sama seperti mayat hidup, jadi tolong atas nama mama, papa minta maaf."
Bertha yang perasaannya begitu lembut membuat pertahanannya goya seketika.
"Iya pa aku akan berusaha memaafkan mama dan kakak,"hati Bertha terasa sakit mengungkapkan hal itu.
__ADS_1
Air matanya mengalir membasahi pipinya itu, membuat orang yang melihatnya ikut merasa sakit.
Dengan berusaha untuk duduk pria lemah itu memberi syarat agar Bertha memeluk papanya.
Pelukan erat antara ayah dan anak itu seolah mereka tidak pernah berjumpa.
Tapi memang kenyataannya demikian, walaupun satu rumah dulu ya mereka jarang jumpa,bahkan jika dihitung mungkin hanya beberapa kali.
Pria paruh baya yang lemah itu seolah tidak punya tenaga untuk menolak keinginan istrinya selama ini untuk menyakiti hati Bertha.
Ciuman bertubi -tubi mendarat di pipi anak bungsunya itu.
Kedua kakak dan papa Aldo menangis menyaksikan drama di depan mereka.
Saat pelukannya terlepas pandangan mata papa Aldo bertabrakan dengan abangnya.
"Aldo abang minta maaf karena sudah mengambil apa yang harus menjadi hak kamu, dan sekarang aku tidak bisa mempertahankan itu semua."
"Aku sudah mengiklaskan itu semua bang, jadi tidak perlu mengungkitnya kembali."
"Aku tahu, tapi tetap saja perasaanku tidak tenang, jika saja waktu itu tidak mengikuti permintaan kakakmu mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi."
"Sudahlah bang, lupakan semua yang terjadi di masa lalu ,mulai sekarang kita belajar untuk melakukan hal yang baik."
Aldo yang lebih penyabar mencoba memberikan kesempatan kepada abang dan kakak iparnya.
Jika harus bertahan dengan ego masing -masing, sampai kapanpun keluarga akan hancur.
"Trimakasih sudah merawat dan menyanyangi Bertha dengan tulus, tolong tetap sayangi dia, aku tahu hanya kamu yang bisa membuat dia lebih berharga."
"Iya tanpa abang harus minta,aku akan menyanyangi dia dengan tulus.
Makanya abang harus cepat sembuh,agar kita bisa mulai dari awal."
Aldo tersenyum bahagia melihat abangnya yang sudah menyadari kesalahannya.
"Iya aku sangat rindu untuk makan bersama, seperti waktu kita kecil,yang selalu bersama."
Iya kenangan indah ketika mereka masih kecil, bersama kedua orang tua mereka yang selalu menyanyangi mereka dengan tulus.
Sungguh sangat berbalik dengan kehidupan yang dijalaninya selama ini.
Pengaruh buruk dari istrinya membuat keluarganya hancur berantakan.
"Sebaiknya papa istirahat kembali agar cepat pulih," kali ini Pino yang menasihati papanya itu.
Sebenarnya Pino sangat kecewa dengan papa dan mamanya tapi apa yang bisa di kata,mereka tetaplah orang tua yang harus di hormati.
Sikap protes anaknya itulah juga yang membuat papanya tersadar bahwa mereka selama ini sudah salah mendidik istri dan anaknya.
Melihat papanya sudah mulai memejamkan matanya, perlahan mereka meninggalkan ruang rawat papa dan mama mereka.
"Kita sebaiknya pulang,"biar perawat yang akan menjaga mereka, Aldo yang tidak ingin melihat keponakannya terasa terbebani.
Bersambung
__ADS_1
Ya.... ya..
jangan lupa dengan like dan votenya,trimakasih.