
"Pasti kita akan selalu bahagia ya mi, selama ini kita baik-baik saja,apa lagi dengan tambahnya dedek kembar."
"Iya dong sayang, kita pasti bisa bahagia jika kita sabar dalam segala perjalanan hidup, dan yang pasti kita harus saling melengkapi satu sama lain, terutama untuk bisa saling memaafkan."
"Iya mi, aku bahagia memiliki mami."
"Mami lebih bahagia sayang,memiliki papi, abang dan juga dedek kembar."
"Apa kamu masih marah sama papi sayang?"
"nggak mi, papi sudah minta maaf jadi tidak ada alasan untuk tidak menerima permintaan maaf papi."
"Iya sayang kita harus bisa menerima papi tanpa ada dendam, kamu tahu sayang papi itu sangat sayang sama kita, mungkin papi tadi sadar kasih harapan sama wanita itu."
"Mami kenal dia?"
"secara langsung tidak, tapi beberapa kali jumpa ketika dia datang ke kantor papi."
"Gitu ya mi."
"Iya sayang, makanya mami harap abang jangan marah lagi dong sama papi,papi abang itu selalu ada untuk mami sejak mami kenal papi, dan karena papi abang juga mami dapat bertahan sampai sekarang."
"Benaran mi?"
"Benaran sayang, apa pernah abang lihat papi marah sama mami?"
"tidak sih mi."
"Makanya itu sayang, kita tidak boleh terlalu lama marah sama papi."
"Iya mi."
"Hal ini pula baik untuk pelajaran untuk abang di kemudian hari."
Andre mendengar perkataan maminya dengan baik tanpa ada sanggahan.
"Jika abang sudah besar nanti jangan pernah menyakiti hati wanita, tapi jangan juga mau di permainkan wanita."
"Abang janji mi."
"Abang juga harus menjaga dedek kembar, terutama Dia."
"Kenapa beda dengan Dia mi."
"Karena dia wanita sayang,jadi pasti lebih lemah."
"Seperti om Pino ya mi?"
"iya sayang."
Bertha sengaja mengajak Andre bercerita, agar dia dengan ikhlas bisa memaafkan papinya.
Bertha tahu anak kecil ibarat kertas putih yang masih polos, maka jika kepolosan itu diisi yang tidak baik, maka itu yang akan mengisi kertas putih tersebut.
Bertha sadar bahwa kenangan buruk yang dulu mengisi memorinya sangat berpengaruh dalam hidupnya.
Dia tidak mau sampai itu terjadi pada anaknya apa lagi akan berpengaruh dalam hubungan anaknya dengan papinya di kemudian hari.
"Mi kita makan yo, abang lapar."
"Ayo sayang mami juga sudah lapar, lagian mami mau makan obat."
"Mami bisa turun?"
"Bisa sayang, lagian kasihan kakek makan siang sendiri."
Andre membantu maminya untuk duduk, entah siapa yang mengajari bocah tersebut menjadi lebih dewasa.
Sampai di meja makan ternyata kakek sudah menunggu mereka.
"Ayo kita makan, kakek sudah sangat lapar."
"Baik kek, abang juga sudah lapar."
Saat mereka hendak makan, ternyata Edo dan Gilbert pulang untuk makan siang bersama.
"Papi ikut makan siang juga?"
"iya dong papi juga lapar."
"Papi tidak sibuk?"
"tidak sayang tapi nanti papi harus balik ke kantor lagi."
"Apa boleh aku ikut pi?"
__ADS_1
"Boleh saja sih, tapi kamu sudah tidak ada pr?"
"tidak ada pi, tadi di mobil sudah abang siapkan,jadi tidak ada lagi deh."
"Ok kalau begitu, tapi abang harus banyak makan ya."
"Iya pi."
Andre yang sudah semangat membuat dia selesai makan terlebih dahulu.
"Mi, abang ganti baju dulu ya, biar ganteng seperti papi."
"Boleh kok sayang, tapi tanpa harus ganti baju kamu itu sudah ganteng."
"Trimaksih pujiannya mi, aku sayang mami."
Segera Andre menuju kamarnya untuk berganti baju, memang sejak dulu, Andre selalu bahagia jika menyangkut datang ke kantor.
Beberapa menit kemudian Andre sudah selesai dia sudah terlihat sangat rapi.
"Yaela papi lama banget makannya, abang sudah ganteng nic."
"Sabar dong sayang, biar papi makan dulu biar nanti kuat untuk bekerja."
"He... he.. maaf mi, habis abang sudah lama tidak pernah ikut ke kantor papi, sudah lama tidak main sama kakek Wo dan om Gilbert."
"Abang nggak bisa ikut kalau hanya mengganggu pekerjaan mereka sayang."
"Tenang mi, abang tidak bandel, cukup hanya melihat mereka kerja, dan melihat papi nyuruh om Gilbert nampaknya keren mi."
"Wah... masih keci sudah jiwa seperti itu, baiklah om tidak masalah jika harus kamu tonton, asal ada imbalannya bos kecil."
"Ih... om nggak boleh minta imbalan sama anak kecil, mintanya sama papi tuh."
"Bolehlah asal bos kecil yang bilang sama papi kamu."
"Pi, bagaimana dengan tawaran om Gilbert."
"Loh... kok papi yang malah kena, tapi tidak apa-apa deh, biar nanti papi kasih bonus sama papi."
"Ha... itu baru benar,Andre bangga punya papi."
"Sekarang kita mau pergi atau masih puji memuji ya."
"Ok deh papi nyerah, sekarang kita langsung berangkat."
"Iya dong sayang mami selalu mendoakan yang terbaik untuk abang."
Setelah Edo, Andre dan Gilbert pergi, Bertha juga menyudahi makan siangnya.
"Nak.. papa mau pulang dulu ya nanti papa datang lagi, ada yang harus papa ambil."
"Iya pa hati-hati."
Saat ini Bertha bersama baby kembar yang sedang di bantu oleh suster untuk mengganti pakaiannya.
"Hai.. sayangnya mami, maaf ya sayang hari ini mami tidak banyak waktu untuk kalian, besok kita mami sudah sembuh kita bisa main lagi."
"Suster tolong angkatin dedeknya, biar saya kasih minum asi, sudah keras nic."
"Baiklah bu."
Satu jam memberi asih pada anaknya, sehingga keduanya sudah terlelap kembali.
Sementara itu Edo dan Andre sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Hei boy apa kamu bosan?"
"Tidak pi, ini abang masih belum selesai dengan pekerjaan yang pasti membuat papi bangga."
"Oya... tapi apa itu,papi penasaran deh."
Andre menunjukkan gambar yang dia buat dengan baik, yaitu gambar sebuah rumah mewah.
"Sayang kamu yang buat gambar ini?bagus banget."
"Iya dong pi, abang mau jadi arsitektur,papi suka tidak?"
"suka boy tapi jika abang suka bagian itu lalu siapa yang akan ngurus usaha papi."
"Iya abang sama dedek kembar pi."
"Ok deh papi percaya pada anak papi yang paling ganteng ini."
"Pi.. om Gilbert mana kok nggak ada sih?"
__ADS_1
"ada boy, tapi masih sibuk sama kakek, nanti kalau sudah mereka selesai kerja kita pergi ke mana abang mau."
"Hore.... papi yang paling keren deh."
"Iya sudah papi lanjut kerja ya."
"Iya pi, aku juga belum selesai."
Jam enam Gilbert dan pak Wo memasuki ruangan Edo.
"Halo boy lagi ngapain?"
"om Gilbert sini deh, gimana bagus tidak?"
"Waow... ini buatan kamu boy? sumpah hari ini om tidak jadi minta bonus tapi om traktir kamu deh."
"Benaran om?wah....jadi tidak sabar nih."
"Mau sekarang atau besok?"
"sekarang dong om."
"Berangkat."
Saat ini mereka sedang berada di toko mainan, tiga pria dewasa itu dengan sabar mengikuti kemana Andre melangkah.
"Sudah om, sekarang kita makan boleh?"
"boleh dong masa nggak."
Senang rasanya Edo melihat putranya begitu gembira.
Setelah selesai makan akhirnya mereka segera pulang, karena besok pagi Andre harus sekolah.
"Trimaksih iya om, lain kali kita jalan lagi, tapi biar papi yang traktir."
"Boleh dong,om tunggu ya boy."
"Ok om, hati-hati di jalan."
"Ok boy."
"Sudah ayo kita masuk, langsung bersihkan diri lalu ganti baju dan tidur."
"Siap pi."
Setelah itu mereka memasuki kamarnya masing-masing.
"Malam sayang, dah makan?"
"dah tadi sama papa."
"Iya sudah aku membersihkan diri dulu ya."
"Iya pi."
Edo segera membersihkan dirinya lalu menyusul istrinya berbaring.
"Sayang apa perut kamu masih sakit?ucap Edo sambil mengelus perut Bertha."
"Tidak lagi pi, obat yang di kasih dokter itu cukup bagus."
"Bagus sayang aku bahagia dengarnya."
"Oya... aku lihat si abang dulu ya,apa dia sudah selesai mandi."
"Ok pi."
Saat Edo memasuki kamarnya Andre, senyuman indah terukir di sana, dia bahagia melihat anaknya sedang berdoa dengan kusuk.
Edo menghampiri putranya ketika selesai berdoa.
"Wah... papa bangga sama kamu sayang, terus seperti ini ya."
"Iya pi,soalnya mami bilang kalau kita berdoa dengan tulus maka Tuhan akan mengabulkan."
"Iya sayang, papi juga selalu berdoa agar anak papi yang paling ganteng ini selalu sehat dan bahagia."
"Trimaksih pi, aku sangat sayang papi dan mami."
"Iya sayang tapi sekarang kamu harus segera tidur, biar besok bangun cepat lalu berangkat sekolah."
"Apa mami sudah tidur pi?"
"Tadi belum, memang kenapa boy."
__ADS_1
"Aku mau menemui mami."
Sudah sebaiknya kamu bobok tadi mami sudah titip salam semoga putranya ini mimpi indah.