APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 104.Penasaran


__ADS_3

"Dengar itu, abang sirik saja sama cewek tercanrik sejagat."


"Cih... percaya diri bangat kamu,cantik di toilet iya."


"Jahat banget kamu sama saudara sendiri."


"Aih... kalian ini rubut melulu, cepatlah makan."


Andre gerah mendengar perdebatan kedua adiknya.


"Sudah cepat papi akhirnya ikut bicara karena keduanya masih ribut."


Akhirnya mereka berangkat menuju sekolah anak-anak, mereka memang satu wilayah sekolah karena masih satu yayasan.


Saat ini Andre yang turun duluan, baru di susul oleh kedua adiknya.


"Baik-baik belajar ya, papi dan mami berangkat kerja."


"Iya sudah papi dan mami hati-hati di jalan."


Edo dan Bertha saat ini sudah sampai di kantor, mereka langsung bekerja soalnya siang hari ini mereka akan ke kantor Bertha untuk bertemu dengan kakaknya Pino.


"Sayang kamu lelah?"


"Tidak pi, memang kenapa?"


"tidak apa-apa sayang hanya jika kamu lelah istirahat saja dulu, nanti aku bangunin."


"Nggak kok pi."


"Iya sudah kita lanjutkan kerjanya, aku hanya takut sayang kamu itu sampai kelelahan."


"Tenang saja pi, aku aman di samping papi."


Edo tersenyum bahagia melihat istrinya selalu setia.


Siang hari Edo dan Bertha menuju kantornya, ruangan khusus miliknya sudah rapi dan tertata.


Mereka masuk dan ternyata di sana sudah ada Joni.


"Hai kak."


"Hai juga adikku sayang."


Mereka duduk sambil menikmati apa yang sudah di sediakan disana.


Setelah bercerita beberapa saat akhirnya mereka langsung pada intinya.


Pino mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan.


Ada beberapa poin yang mereka bahas rencana pembukaan cabang dan penaikan gaji karyawan.


Bertha dan Edo sangat setuju atas usul keduanya, akhirnya mereka memutuskan untuk segera melaksanakan.


Untuk penaikan gaji di mulai bulan depan.


Pino sebagai yang di percaya untuk mengelolah perusahaan tidak pernah berjalan sendiri, dia selalu melaporkan dan membicarakan segala sesuatunya.


Perusahaan tambah berkembang membuat Bertha tidak merasa kwatir.


Selain gaji yang sudah ditetapkan untuk kedua saudaranya, ia selalu menambahnya.


Bahkan setiap bulan dia juga mengirim untuk omnya.


Setelah selesai pembahasan mereka, Edo dan Bertha langsung pulang karena sudah sore.


"Kami pulang ya kak."


Edo duduk di samping istrinya sementara Gilbert melajukan mobilnya menuju rumah Edo.


Hanya percakapan kecil yang ada di sepanjang jalan hingga mereka sampai di rumah.


Saat sampai di depan rumah ternyata Andre sedang duduk bermain catur bersama kakek Aldo.


Gilbert ikut turun, dia menyapa papa Aldo terlebih dahulu.


"Sore om, seru banget mainnya."


"Iya nak Gil,si abang kalah dua kali jadi dia balas om."


"Wah... ternyata keponakan om sudah mempunyai semangat kalau sudah kalah."


"Tadi itu penghargaan om, bukan lemah."


Semua orang dewasa yang ada di sana tertawa mendengar perkataan Andre.


"Re... Re... ternyata gengsimu semakin tambah juga ya, iya... ya....om nyerah."


Saat semua tertawa Dia datang menyerobos para orang tua dan langsung berlindung pada papinya.


Dio yang datang mengejarnya tiba-tiba berhenti karena melihat tatapan abangnya Andre.


"Dio ada apa kok ngejar adik kamu."

__ADS_1


"Tidak apa-apa pi, hanya main."


"Sudah sana, jangan terus mengganggu adik kamu."


"Iya pi, maaf."


Edo mendekiti Andre yang masih menatap adiknya Dio.


"Sudah bang, lihat tu Dio sampai takut."


"Biarin pi, mulai tadi mereka hanya main, tugasnya saja belum selesai."


"Apa iya Dio?"


"He... he... ia pi, maaf."


"Punya kamu sudah dek?"


"sama juga belum selesai pi."


"Iya sudah sana kalian siapkan, besok di hukum lagi."


Dio dan Dia memang sangat berbeda dengan Andre yang lebih dewasa dan bertanggung jawab.


"Kebiasaan, gerutu Andre kesal soalnya mulai dari tadi sesudah pulang sekolah Andre sudah mengingatkan kedua adiknya.


"Sudah bang jangan marah terus entar cepat tua."


Gilbert menggoda Andre, lalu pamit untuk pulang.


Sekarang tinggal mereka, Andre dan papa Aldo melanjutkan permainan mereka sementara Bertha dan Edo masuk untuk membersihkan diri masing-masing.


"Sayang kita mandi berdua ya?"


Edo memeluk istrinya dari belakang.


"Tapi pi, aku harus ke kamar anak -anak,mandilah dulu."


"Kekamar anak-anak nanti saja ya sudah tidak kuat nic."


"Iya sudah yo."


Bertha akhirnya menyerah dengan kemauan suaminya.


Di kamar mandi Edo segera melepaskan pelukannya lalu membuka pakaiannya.


"Sayang aku kangen banget tahu, sudah puasa satu minggu juga."


Permainan mereka berakhir setelah Edo sudah selesai menyelesaikan dengan puas.


"Sudah yo, kita segera mandi katanya mau ke kamar anak-anakku."


"Hem... karena sudah dapat, jadi ngusir nic ceritanya."


"Bukan begitu sayang, iya sudah kalau masih mau bisa kita lanjut, kamu mau berapa ronde lagi hem?"


"ih... kamu itu ya, memang kamu kuat untuk berapa?"


"berapa kamu mau sayangku."


"Tapi nanti malam ya, soalnya ada papa mertua sudah menunggu untuk makan malam."


"Baiklah aku tunggu tantangannya, sekarang kita langsung mandi biar cepat selesai."


"Itu lebih baik sayang."


Pasangan suami istri itu segera membersihkan diri lalu keluar untuk berpakaian.


Rapi dengan pakaian santainya,mereka segera turun untuk makan malam bersama.


Andre mengambil makanan untuk kakeknya, lalu untuk adiknya Dia, baru untuk dirinya sendiri.


"Malam pi, mi, ayo makan sapa Dia dengan manja."


"Iya sayang, papi juga sudah sangat lapar."


Setelah mengucapkan syukur atas berkat yang mereka terima, maka mereka langsung mulai makan.


"Papa datang jam berapa tadi?"


"Sekalian jemput anak-anak sayang."


"Andra sama siapa pa?"


"Tadi dia diantar sama supir papa."


"Oh... berarti Andra ikut main kesini?"


"Iya mi,kali ini Andre yang jawab."


"Tapi papa permisi sama Joni kan pa?"


"Hanya papa telepon tadi nak, papa bosan makanya papa kesini."

__ADS_1


"Iya sudah tidak apa-apa pa, hanya nggak enak sama Angel."


"Kalau sama adik iparmu papa permisi kok."


"Iya.. pa, kalau papa mau di sini kita malah senang."


Edo juga membenarkan ucapan istrinya, karena terkadang hanya masalah sedikit keluarga bisa ribut.


"Iya nak, papa tidak akan membuat kalian salah faham."


Setelah selesai makan mereka bercerita di ruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi dan menonton televisi.


"Bawa sini tugas kalian biar abang bantu, ujar Andre pada kedua adiknya."


Saat ini mereka sedang belajar di ruang belajar.


Andre mengajari kedua adiknya sampai faham.


Andre tergolong anak cerdas, dengan mudah dia memahami pelajaran.


Dio sebenarnya juga cerdas tapi tidak bisa serius lebih lama.


Bertha menghampiri anak-anaknya.


"Sudah selesai nak?"


"sudah mi."


"Mami mau ngomong sama kalian, mami harap jangan lagi banyak main belajar yang rajin, biar ada besok yang ganti papi dan mami."


"Iya mi, maafkan Dio ya, jika sering buat mami dan papi marah."


"Iya sayang kamu itu laki-laki, yang kelak harus jadi pemimpin."


"Iya mi."


"Berarti kalau aku bisa main dong aku bukan laki-laki."


Andre mengacak rambut adiknya," siapa bilang bisa sayang, perempuan juga harus pandai lihat mami juga bekerja, malah punya usaha sendiri lagi."


"Oh... kirain boleh."


"Iya sudah siapkan belajarnya, kalian langsung istirahat saja ya."


Bertha kembali ke ruang keluarga tapi ternyata papanya sudah masuk ke kamar.


Akhirnya Bertha melihat papanya ke kamar.


"Papa sudah mau tidur?"


"belum lagi nak, ada apa?"


"Papa ada masalah dengan Angel?"


"tidak nak."


"Tapi tidak biasanya papa kesini tidak bilang sama adek."


"Tidak ada apa -apa nak."


"Terus ada apa pa?"


"papa hanya bosan,makanya papa datang kemari."


"Papa tidak sakit?"


"tidak nak, jangan kwatir papa baik-baik saja."


"Jika ada sesuatu papa bisa cerita sama aku."


"Iya papa tahu,kamu istirahat sana, pasti sudah capek."


"Ok pa, selamat tidur ya pa."


Bertha meninggalkan kamar papa Aldo lalu menuju kamar putrinya.


"Sayangnya mami kenapa kok bengong, tugasnya sudah selesai?"


"sudah mi, tadi abang yang bantu."


"Kamu tidur ya sayang, mami mau lihat abang dulu."


"Ok ma."


Bertha meninggalkan kamar gadisnya lalu menuju kamar Dio.


Dio masih asyik bermain game pada poncelnya ketika maminya masuk.


"Abang ngapain masih pegang HP, cepat tidur."


Bersambung


Dukung author dong, gampang kok hanya dengan like doang.

__ADS_1


__ADS_2