
Saat Edo dan Bertha sampai ternyata Joni sudah sampai.
Melihat keponakannya, Joni langsung berjalan menuju Bertha yang sedang sibuk menggendong Dia.
"Ih... keponakan om cantik banget ya."
Andre yang melihat omnya lebih fokus pada adik bungsunya segera protes.
"Ih... sama cewek saja langsung lengket, kita disisni mulai tadi maah tidak dilirik sama sekali."
"Ais... ada ya cowok pencemburu?"
"kan gara-gara om?"
Andre tidak mau diejek oleh omnya, maka ia menyalahkan omnya dengan cepat.
"Iya sudah sini biar om gendong,biar selesai urusannya, soalnya masih ada nic, keponakan om yang ganteng."
Andre langsung menghambur kepelukan omnya dengan cepat.
"Ternyata kamu sudah benar jadi abang ya, om saja hampir tidak kuat untuk mengangkat."
"Iya dong masak boong, kan nggak lucu om."
"Iya sudah ayo masuk entar keburu dingin oleh -oleh yang om bawa."
Mereka segara masuk dan duduk di sofa ruang keluarga.
Papa Aldo langsung membawa Dio dalam gendongannya,sementara Andre sudah duduk sendiri.
"Mana hadiah untuk abang om,"ujar Andre tidak sabar.
"Hadiah apa ya? emang kamu ulang tahun?"
"eh... lupa," ujar Andre sambil memukul keningnya dengan telapak tangannya.
"Terus?"
"oleh-oleh iya om."
Joni menyerahkan tas kecil yang di dalamnya masih ada lagi.
Tanpa menunggu lama, Andre langsung membuka dan suaranya memenuhi ruanngan tersebut.
"Bagus banget om Trimakasih."
Andre yang pencinta warna coklat, sangat bahagia melihat tas warna coklat pemberian omnya, belum lagi gambar yang sangat di senanginya yaitu gambar Ultramem.
"Kamu senang?" tanya Joni dengan wajah bahagia pula.
"Banget om."
"Bagus deh jadi tidak sia -sia mah usaha om mendapatkannya."
Joni menyerahkan tas lain kepada dua keponakannya.
"Bagus banget om pasti Dia,tambah cantik kalau pakai baju sebagus ini."
"Jelas dong om juga mau lihat keponakannya om cantik."
Setelah para keponakannya Joni baru beralih pada orang dewasa yang ada di sana.
Edo juga sangat bahagia mendapat jawaban oleh -oleh dari adik iparnya bukan karena tidak mampu beli, hanya sangat bahagia jika dia juga di perhitungkan.
"Trimakasih dek kakak pikir, kakak tidak dapat siapa tahu kamu lupa gitu ."
"Iya nggaklah,mana mungkin aku lupa pada kakakku yang tercantik sejagat."
"Ternyata kamu sudah pandai gombal, tapi sayangnya hanya bisa gombalin kakakmu,"ledek Edo yang membuat mereka tertawa.
__ADS_1
"Sabar kak, ada saatnya kemarin itu masih fokus untuk belajarnya, baru kerja lalu sambil gombal untuk calon adik ipar deh."
"Oya ...
gomong soal kerja, apa kamu sudah siap mentalkan? soalnya papa hanya bisa bantu sedikit, kamu yang harus berjuang."
Bertha bertanya dengan sungguh -sungguh agar adiknya benar-benar siap, sebab dia masih belum bisa karena dikembar yang jadi prioritasnya saat ini.
"Siap tuan putri, apa hamba bisa menolak permintaan kakanda?"
Iya Joni memang hanya tidak tega sama papa dan kakaknya, soalnya di tempat dia kuliah, sebuah pekerjaan sudah ada di depan matanya, dengan gaji yang cukup besar.
"Trimakasih iya dek sama kamu memang paling ok deh."
Untuk kali ini semua urusan kantor akan di serahkan kepada kakaknya dan juga adiknya Joni.
"Iya sudah sekarang kita makan siang dulu, nanti lanjut lagi ceritanya," ajak papa Aldo yang sudah merasa lapar.
Saat ini mereka sudah berada di meja makan, dengan nikmat mereka makan.
Setelah selesai makan papa Aldo mengajak Bertha untuk jiarah karena beberapa hari yang lalu sudah mengutarakan niatnya kepada sang papa.
"Sayang kamu jadi mau jiarah ke makam mama?"
"boleh deh pa, lagian masih lama biar makan malam bersama."
"Nak Edo mau ikut atau mau kembali ke kantor?"
"ikut deh pa, aku sudah tidak mau balik ke kantor lagi."
"Kamu istirahatlah kami pergi dulu," pamit papa Aldo pada Joni.
"Memang Joni tidak bisa ikut iya pa?"
"boleh jika kamu tidak merasa lelah, tadi papa tidak enak, tapi kalau kamu mau ayo, pada malah senang, atau sekalian mau jiarah ke makam mama kamu?"
Jadilah mereka berangkat bersama, Joni yang nyetir sementara Edo ikut di belakang bersama istri dan anaknya Andre.
Sikembar mereka sengaja di tinggal bersama neneknya Bertha.
"Sayang.. ayo kita turun," ajak Edo pada Bertha yang melamun sejak tadi.
Saat ini mereka sudah berada di makam sang mama, Bertha berdoa untuk kebahagiaan mamanya.
Edo mengusap punggung Bertha, dia tahu bagaimana keadaan istrinya jika berada di makam mamanya.
Wanita yang bisa memberikan Bertha rasa memiliki seorang ibu.
"Kita berdoa bersama iya nak, papa yakin mama kamu sudah bahagia di sana."
"Iya pa."
Mereka saat ini sudah berada di mobil menuju pemakaman mamanya Joni.
Joni yang tidak pernah mendapat kebahagiaannya dari sang ibu, tidak terlalu sedih berada di sana, hanya sebagai anak yang sudah dilahirkan oleh wanita yang dia sebut mama harus bisa menerima kenyataan bahwa bagaimanapun, dia harus berusaha memaafkan segala kekurangannya agar mendapatkan tempat di sisi Tuhan.
Setelah selesai berdoa mereka segara pulang, sampai di rumah mereka langsung membersihkan diri di kamar masing-masing.
Bertha sudah terlihat segar, dia menuju dimana si kembar berada.
"Apa mereka cengeng nek?"
"nggak sayang mereka anak yang baik, tidak mau merepotkan nenek."
"Syukur deh nek."
"Nenek boleh istirahat biar mereka aku bawa ke kamar,trimakasih nenek."
"Sama -sama sayang."
__ADS_1
Bertha memindahkan si kembar, karena masih tidur maka dia juga ikut tidur.
Saat Edo keluar dari kamar mandi dia melihat Bertha tidur pulas.
Edo turun untuk mengambil air putih, karena dia sangat haus.
Saat Edo mau naik, dia melihat Andre sedang main kuda -kuda dengan Joni.
Karena dia tidak mau mengganggu dia segera ikut berbaring di samping Bertha.
Sore hari rumah papa Aldo sudah sedikit ramai, Pino bersama istri dan anaknya.
Rita juga sudah sampai dengan suaminya serta anaknya.
Kinan duduk di dekat papanya,mereka bercanda sehingga tanpa terasa sudah menjelang malam.
Andre sangat semangat bermain bersama Andra juga Friska anaknya Rita.
"Kita makan dulu, nanti kita lanjut cerita, papa sudah lapar,"ajak papa Aldo, maklum sejak sakit papa Aldo tidak boleh terlambat untuk makan.
Mereka makan di lantai dengan beralaskan karpet, papa Aldo sengaja membuat suasana seperti ini agar terlihat lebih santai.
Suasana memang sangat berbeda jika makan di meja makan.
"Ternyata enak ya kek makan pakai tangan jauh lebih nikmat,"ujar Andre dengan mulut masih berlepotan.
"Iya nak, makanya kakek buat seperti ini."
Joni juga sangat bahagia melihat kebahagiaan keluarga besar berkumpul bersama dengan ceria, baru kali ini dia rasakan memiliki keluarga besar sangat menyenangkan.
Jika selama ini hanya ada perseteruan tapi saat semua itu tidak ada sama sekaki.
"Trimakasih pa,"ucapnya tulus pada pria sudah terlihat renta.
Joni memang memanggilnya papa juga sama seperti kakaknya Bertha.
"Sama -sama nak, dan selamat atas keberhasilanmu dalam studi."
"Trimakasih pa."
Joni melihat wajah itu sedih, iya papa Pino memang sedih karena dia tidak pernah melakukan seperti ini.
Bahkan ketika Pino dan Rita pulang dari luar negeri, mereka tidak mau bertemu papa dan mamanya.
"Sudahlah bang yang lalu biarlah berlalu mari kita mulai yang baru."
Papa Aldo yang melihat abangnya sedih segera menghibur.
Mereka kembali bercerita yang bisa membuat mereka tertawa bahagia.
Pino juga bercerita tentang pengalamannya ketika pertama di negara orang.
Menjelang jam sembilan mereka pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.
Bertha dan Edo sengaja tidak pulang, karena sejak pagi sudah menyiapkan segala keperluan merdeka, termasuk pakaian kerja Edo.
Saat bersama tadi Bertha tidak sempat cerita tentang Kinan,maka dia berencana mau mengunjungi papanya ke rumah.
Pagi hari semua anggota keluarga sudah berkumpul bersama untuk sarapan.
Edo sudah terlihat rapi, karena dia ada pertemuan penting satu jam lagi.
"Pa aku berangkat ya," pamitnya pada papa mertuanya.
"Hati -hati ya nak."
Setelah Edo pergi Joni bertanya jam berapa mereka akan berangkat ke rumah papa Pino.
Jam berapa kita pergi kak?
__ADS_1