
Bertha sudah mulai ceria seperti biasa, ikut bekerja tapi tidak lupa untuk mengawasi anak-anaknya.
Satu minggu papa Aldo menenangkan hati, setiap hari pula menghubungi Bertha.
Joni sudah menghubungi papanya dan juga minta maaf, Angel juga ikut minta maaf karena sudah terbawa emosi.
Papa Aldo sudah tidak mempermasalahkan hal itu, hanya dia masih ingin berjalan-jalan di sekitar kota Bandung tempat mama dan papa Edo.
Kedua sahabatnya memberikan pengertian agar tidak pergi jauh dari anak-anak,karena akan berdampak pada anak -anak terutama Veri akan selalu merasa bersalah jika sampai terjadi sesuatu.
Papa Aldo mengerti dengan penjelasan mereka, dan akhirnya hanya sekedar menghabiskan waktu dengan mengunjungi tempat rekreasi.
Cia sangat bahagia bersama papa Aldo, dia punya teman di rumah, papa, dan mamanya selama ini sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga dengan suaminya.
"Om... aku mau ikut jalan-jalan boleh?"
"boleh tapi biar ikut suster ya, biar ada yang menemani dan tahu kondisi kehamilan kamu."
"Iya deh om, yang penting aku bisa ikut jalan, bosan jika berada di rumah terus."
"Sayang kok gitu sama om, nanti om kamu terganggu bahaimana?"
"siapa bilang aku terganggu hanya aku takut dia kelelahan itu saja."
"Ha.. dengar tuh ma, om tidak keberatan kok."
"Iya sudah biar mama ikut juga apa papa mau ikut?"
"boleh deh,juga Rendi sudah mulai bisa di andalkan."
Rendi adalah suami Cia, dia dari keluarga yang tidak punya bisnis seperti keluarga Edo , papa dan mamanya sebagai dokter, jadi papa Edo harus kerja keras untuk mengajarinya dari awal.
Rendi yang baru datang akhirnya mengijinkannya untuk pergi.
Saat ini mereka sudah sampai di Lerang Anteng,mereka menikmati daerah pegunungan, hijau alam membuat mereka sangat bahagia.
Lelah menikmati pemandangan akhirnya mereka mencari tempat untuk makan, sajian kuliner bisa memanjakan lidah para pengunjung.
Sengaja mereka tidak ada mengikuti permainan karena mereka hanya khusus menikmati, selain sudah pada tua, juga menjaga cia yang sedang mengandung.
Selama ini mereka hanya sibuk untuk bekerja, jarang menikmati hidup seperti sekarang ini.
Daerah pegunungan sangat memanjakan mata dan juga membuat sejuk hati.
Cia terlihat begitu bahagia dengan pemandangan yang indah itu.
"Om, trimakasih ya akhirnya karena om datang ke sini kita jadi jalan, coba selama ini mana pernah papa dan mama mengajak liburan."
"Iya namanya juga kerja nak, tapi itu semua demi kamukan?"
"Aku tahu om."
"Iya sudah kalau begitu jangan mengeluh dong sayang syukurilah apa yang terjadi, agar membawa berkah."
"Ok deh om."
Dengar tuh, sudah mau jadi ibu tapi masih mengeluh terus,
mama dan papa sibuk bukan hanya kesibukan kami sendiri, tapi biar kalian punya masa depan.
"Iya mama sayang, maaf deh aku salah."
"Bagaimana masih mau lanjut makan atau jalan?"papa Aldo menegahi perdebatan ibu anak itu.
"sudah kenyang om, mau duduk sambil menikmati udara segar saja om."
"Iya sudah kita nikmati alamnya, ayo kita kesana lagi."
Papa Aldo menghubungi kedua anaknya dengan vc.
"Halo sayang lihat nic, papa sedang ada di mana?"
__ADS_1
"ih enak banget papa, sama siapa?"Bertha sangat bahagia melihat pemandangan yang ada di sekitar papanya.
"Sama papa dan mama mertua kamu sayang dan juga Cia, sekarang kita sudah mau pulang."
"Sepertinya aku tahu deh tempatnya, di Lembang ya pa?."
"Iya sayang, iya sudah papa mau pulang, kalian baik ya disana, papa baik di sini."
"Bsik bos,"Joni menghormati papanya, seperti menghormati bendera.
Menjelang sore mereka akhirnya harus kembali,walupun lelah badan mereka tapi jiwa mereka sangat bahagia.
Hari-hari berlalu begitu saja, namun setiap hari membawa berkah, dan kenangan masing -masing.
Hari ini Bertha dan Edo bercanda di dalam ruangan Edo.
"Sayang aku bahagia melihat kamu bahagia seperti ini."
"Sama pi, aku juga sangat bersyukur memiliki suami seperti kamu.''
Saat mereka masih asyik ngobrol tiba-tiba pintu terbuka, napaklah gadis manja bersama Dio.
"Idih... papi dan mami ternyata asyik pacaran pantas saja lupa sama anak sendiri."
"Kamu itu datang-datang marah kenapa? anak gadis itu harus sopan, ketuk dulu pintunya baru masuk sesudah ada perintah."
"Entah tuh mi, Dia ngrocos saja mulai tadi," Dio buka suara karena sudah kesal dengan saudari kembarnya.
"Ye... orang sirik."
"Ada apa sayang?" Edo mendekiti anak gadisnya yang sudah duduk di sofa.
"Pi... kapan kakek pulang aku kangen."
"Kok tanya papi tanya kakek dong sayang."
"Iya papilah yang kasih saran agar kakek pergi ke tempat nenek ya papi."
"Jadi karena itu gadis papi marah-marah hem?"
"iya pi aku sebel sama papi tahu."
"Gimana dong mi? papi di salahin sama gadis mami tuh."
"Iya... urusan papi dong, kok tanya mami ya?"
"jadi ceritanya semua mau nyerang papi ya, iya sudah bagaimana jika akhir pekan kita mengunjungi kakek dan nenek?"
"Ha... ha... itu baru papi Dia yang hebat."
"Ok, karena gadis papi sudah tidak marah lagi,bagaiman jika kita makan di luar."
"Tapi abang belum pulang pi."
"Nanti abang suruh datang langsung ke sana saja."
"Kita makan siang di mana pi?"
"dimana putri papi mau sayang."
"Baik pi, aku mau kita ke cafe milik papi."
"Sayang, jika itu maumu ayo kita berangkat."
Akhirnya mereka segera menuju cafe dimana cinta papi dan mami bertumbuh dengan indah, hingga sampai saat ini.
Sampai di sana, ternyata Andre sudah sampai duluan, karena saat pulang tadi papinya sudah memberitahukan.
"Abang sudah sampai ya," ujar Dia dengan semangat.
"Ye.. mulai lagi deh, iya jelas dong itu sudah duduk ya pasti karena sudah sampai."
__ADS_1
"Dio sirik tahu, orang aku tanya abang aku juga."
"Iya deh yang punya abang."
Mereka menghampiri Andre dan langsung mengambil tempat duduk masing-masing.
"Sekarang putri papi juga deh yang pesan mau makan apa."
"Ok pi,"Dia langsung menuju dapur, Dia langsung memesan makanan kepada koki.
Setelah memesan makanan Dia kembali ke tempat duduknya.
"Ngapain kamu harus ke dapur? tinggal panggil mbak tuh aman deh."
"Suka-suka orang cantik dong."
"Iya sudahlah, toh Dia mau."
"Abang selalu memanjakan Dia terus,"kesal Dio pada abangnya.
"Hei boynya papi, jangan cemberut terus dong, anak lajang itu tidak boleh seperti itu."
"Iya pi."
Makanan sudah tersaji di meja, mereka segara meniknati makanan itu tanpa ada keributan lagi.
"Sekarang kita mau ngapain lagi? mau pulang atau kalian mau belanja atau mau sesuatu?"
"aku mau belanja boleh pi."
"Boleh kok sayang, tadi papi sudah yang kasih pilihan betarti boleh sayang."
"Iya... ya... aku lupa pi."
Hari ini jadilah mereka berbelanja bersama, Dio yang sudah lelah mengikuti Dia,akhirnya memutuskan duduk sambail menunggu, sedang abang Andre masih setia mengekor kemana Dia pergi.
Dua jam akhirnya penderitaan Dio berhenti juga, si ratu mereka sudah berhenti belanja hingga sekarang mereka sudah berada di mobil.
Mami yang melihat Dio hanya diam berusaha untuk mengajak bicara.
"Kenapa sayang, kamu lelah? "
"iyalah mi, orang gadis mami belanja seperti ibu-ibu kompleks."
"Siapa suruh nunggu, orang sudah ada abang juga."
"Bukannya bersyukur di tunggu eh, malah ngomong gitu dasar gadis nakal."
"Nakal-nakal begini kembaran siapa coba?"
Andre tertawa karena adik laki-lakinya hanya diam.
"Jawab dong,"goda Andre yang masih tertawa.
"Iya akulah."
"Ha.. gitu dong harus berani,"jangan hanya menggrutu.
"Baiklah bang, aku nyerah."
Setelah mereka sampai di rumah mereka langsung membersihkan diri.
Dua hari kemudian sesuai janjinya Edo, mereka pergi ke rumah orang tuanya,dan saat ini mereka sudah berada di sana.
Dia melompat bahagia melihat kakeknya.
"Kakek, aku kangen kenapa kakek tidak pulang?"
mau nunggu dedek baby sayang, dan karena kalian sudah di sini jadi kita mengunjungi baby bersama.
Bersambung
__ADS_1
Trimakasih ya untuk semua yang masih setia mengikuti karyaku ini, tanpa kalian semua saya tidak dapat berkembang.