
Pagi hari yang cerah, semua penghuni rumah besar nan megah itu sudah sibuk untuk sarapan, karena beberapa jam kemudian Edo, dan Bertha sudah bersiap untuk pulang.
"Kak kita disini saja ya ucap Gerecia memohon, aku sepi tahu."
"Kakak harus pulang dek,soalnya pekerjaan kakak sudah menumpuk,"jelas Edo lembut agar adiknya yang satu ini bisa mengerti.
"Ah..
kakak tidak seru, gerutu Gracia pada edo".
"Bukannya nggak seru," tapi kamu yang terlalu memaksakan kehendak, orang sejak awal kak Edo, hidupnya di sana, tapi kamu yang membuat menjadi rumit.
"Kakak kok sewot sih,orang aku ngomong sama kak Edo juga."
Sudah -sudah kalian ini selalu ribut, Gerecia sayang kak Edo tidak bisa tinggal di sini, kapan -kapan kakak mu akan datang lagi, papa yang mendengar suara anak -anaknya ribut akhirnya membuka suara.
Setelah selesai bersiap mereka segara berangkat menuju bandara.
"Sayang baik -baik ya di sana,nikmati waktu liburannya dan jangan terlalu dipikirkan.
Mama sangat sedih melihat anak mama tidak sembuh -sembuh, padahal masih banyak yang indah yang harus kita kejar."
Mama Jilda memberikan nasihat kepada Bertha, supaya Bertha tetap semangat untuk sembuh.
"Baik ma, Trimakasih sudah sangat baik padah aku, mama bdab papa juga sehat ya."
"Pasti sayang."
"Kak Edo jaga putri mama dengan baik ya, dan ingat jika ada orang yang mau menyakitinya kamu harus bisa mencegahnya."
"Cih... sepertinya mama lupa jika anak mama itu aku, bukan dia."
"Mama tidak lupa sayang," tapi mama hanya mengingat saja, ya sudah masuk sana.
Edo dan Bertha menyalami kedua orang tuanya Edo, sebelum akhirnya mereka meninggalkan bandara.
"Papa, kamu itu ya bawa mobilnya yang benar dong, gerutunya ketika suaminya memberhentikan mobil secara tiba-tiba."
"Itu loh ma, ada orang menyebrang, ya kuremlah dari pada nabrak."
"Iya maaf ya pa, mama tidak melihat."
"Tidak apa-apa sayang yang paling penting kita tidak apa-apa."
Kedua pasangan suami istri itu akhirnya sampai di kantor dengan selamat dan senyuman indah.
Dengan senyum merekah, jsegera mereka memulai pekerjaan mereka.
Sementara itu waktu pun berputar, dengan segala kesibukan yang mereka lakukan, hingga lupa untuk bertanya tentang kedua anaknya yang mereka berangkatkan tadi pagi.
"Apa anak kita sudah sampai ya pa?,"tanya wanita cantik itu pada suaminya.
"Sudah dong ma, ini sudah mau gelap,kita saja yang terlalu sibuk."
Wanita cantik itu memeriksa poncelnya dan benar saja ada sepuluh panggilan dari anak sulungnya itu.
Dengan suara lelahnya, mamanya Edo menghubungi Edo untuk bertanya apa mereka sudah sampai.
"Halo sayang,"maaf ya tadi tidak angkat telepon dari kak Edo, soalnya mama sangat sibuk.
"Tidak apa-apa ma," tadi hanya mau bilang kalau kami sudah sampai.
"Iya sayang baik -baik ya disana, dan jangan nakal."
"Iya mama ku sayang."
"Sudah dulu ya nak, soalnya papa dan mama mau pulang dulu."
"Ok ma, hati -hati."
Uos... hmmm,
Edo yang lagi menyelesaikan pekerjaannya, menarik nafas kasar.
Sedih banget rasanya jika mengingat jika orang tuanya lebih peduli dengan pekerjaannya dari pada dirinya.
Edo tidak mau mengambil pusing ,melanjutkan pekerjaanmya kembali.
__ADS_1
Setelah selesai pekerjaannya Edo memilih untuk beristirahat.
Pagi hari Edo bangun dan langsung bersiap karena pagi ini dia harus ke kantor karena sudah ada pertemuan penting dan Edo harus ada sesuai permintaan dari mereka.
Selesai bersiap Edo langsung sarapan, agar kuat untuk memulai hari ini.
Satu jam kemudian Edo sudah berada di ruang rapat, penampilan hari ini benar -benar menampilkan seorang pemimpin.
Edo memimpin rapat yang cukup lama, hingga menjelang siang hari baru mereka dapat keputusan.
Saat makan siang Edo segera mengisi perut yang sudah terasa lapar,pak Wo dengan telaten menyiapkan makanan untuk majikannya.
"Pak Wo,sudah makan?" tanya Edo sopan santun.
"Belum den, nanti saja."
"Duduklah Pak kita makan sama, lagian makanan sebanyak ini mana bisa aku habiskan."
Pak Wo selalu tidak bisa menolak majikannya itu, dan pada akhirnya duduk bersama majikannya.
"Ayo pak yang banyak makannya, supaya kuat, masih banyak lagi yang harus kita siapkan hari ini."
"Baik den, tapi ini sudah cukup."
Selesai makan Edo langsung melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena kebanyakan libur.
Pak Wo, panggil Edo.
"Ada apa den?" pak Wo yang lagi sibuk menghentikan kegiatannya lalu mendekati majikannya.
"Tolong pak siapkan mobil," kita harus ke pabrik hari ini juga, saya rasa ada yang tidak beres dengan semua laporan ini.
"Baiklah den,"setelah menjawab perkataan majikannya, pak Wo langsung mempersiapkan apa yang di perlukan dalam perjalanan dan di pabrik.
Edo menghubungi Gilbert agar ikut bersama mereka.
Setengah jam kemudian mereka sudah berada di dalam mobil ,Gilbert dan Edo bercanda sehingga tanpa terasa mereka sudah sampai di depan pabrik.
Dengan segera Edo langsung memasuki ruangan yang biasa dia pakai jika datang ke Indonesia pabrik.
Gilbert yang sudah tahu akan tugasnya segera menghubungi Direktur di pabrik.
Tapi beda dengan Agus yang menjabat sebagai bendahara, ia nampak ketakutan.
Setelah menjelaskan beberapa hal tentang keganjalan dalam laporan mingguan sampai laporan bulanan Edo membiarkan bagian keuangan untuk menjelaskan laporan yang di buatnya.
Merasa tidak puas dengan jawaban dari bendahara tersebut Edo menyerahkan kepada pak Wo.
Silahkan lanjutkan pa Wo, ucap Edo datar.
Setelah Edo keluar semua yang ada di ruangan itu semakin takut.
Mereka yang sudah tahu tentang pak Wo merinding disko.
Gilbert mengikuti perintah dari pak Wo, sedikit ngeri Gilbert tetap melaksanakan perintah pak Wo.
Belum sampai satu jam urusannya sudah selesai, bendahara mengakui apa yang dipetintahkan oleh Surya sebagai direktur mereka.
"Sudah selesai den, sekarang tinggal keputusan yang harus di buat kepada tersangka."
"Lakukan pak sebagai mana mestinya, bapak yang paling tahu harus bagaimana."
Pak Wo mengangguk lalu berlalu menuju ruang rapat.
Edo yang lagi menunggu pak Wo dan Gilbert, menghubungi gadis pujaan hatinya.
"Halo tuan putri ku yang cantik, lagi ngapain?" tanya Edo, yang melihat Bertha lagi memegang sesuatu.
"Ini lagi buat pola untuk pakaian anak -anak."
"Semangat ya tuan putriku yang cantik."
"Lagi dimana pangeranku?ruangannya sepertinya beda deh."
"Iya sayang, aku lagi di pabrik, ada sedikit masalah."
"Kapan berangkatnya? kok nggak bilang."
__ADS_1
"Tadi siang, nanti juga balik."
"Iya sudah hati -hati ya pageranku yang ganteng."
Edo menyudahi panggilannya dan saat bersamaan pak Wo dan Gilbert memasuki ruangan Edo.
"Sudah selesai den,"sekarang sebaiknya kita pulang, karena haru sudah malam.
Edo mengangguk dan berdiri untuk menuju pintu keluar.
Mobil yang mereka naiki segera melaju setelah mereka sudah duduk.
Di perjalanan Edo tidak ada suara dia memejamkan matanya hingga mereka sudah sampai.
"Den kita sudah sampai," ucap pak Wo sambil menggoyangkan tubuh Edo.
Edo yang mendengar namanya disebut mencoba membuka matanya, dengan menetralkan pikirannya Edo duduk tegak dan kemudian menjatuhkan kakinya di lantai.
Setelah kedua kakinya turun sempurna, Edo menutup pintu mobilnya.
Edo memasuki kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya diranjang.
Dengan tarikan nafas kasar, Edo kembali memejamkan matanya, hanya membuka jas kerjanya, Edo memakai pakaian kerjanya hingga pagi.
Pagi hari Edo sudah bangun, dengan lari pagi sebentar baru bersiap untuk berangkat bekerja.
Selama beberapa bulan mengambil cuti, hari ini mereka sudah mulai masuk kuliah.
Edo yang sudah siap dengan segala urusan pribadinya, berjalan menuju garasi,dengan minghidupkan mesin mobil ua sejenak memanaskan kendaraan yang selalu membawa dia kemanapun pergi.
Edo menjemput bidadari hatinya, agar mereka berangkat bersama.
"Hai tuan putri yang cantik, apa kabar? sudah siap? Bertha tersenyum kemudian masuk untuk mengambil peralatannya."
"Ayo ajak Bertha setelah mengambil tasnya."
"Om dimana can? ".
"Sudah berangkat kerja."
Edo melajukan mobilnya menuju kampus mereka.
"Can kamu baik -baik sajakan? tidak boleh lemah."
"Aku sudah tidak apa-apa gan, tidak usah kwatir, semuanya sudah baik -baik saja."
"Aku harap juga begitu sayang."
Mata kuliah pertama dan kedua telah berakhir, Edo yang kwatir dengan keadaan Bertha, langsung mendekatinya.
"Kamu tidak apa-apa can?" Edo langsung menatap gadisnya dengan penuh cinta.
"Tidak gan, lihat nih."
Edo terkekeh mendengar perkataan Bertha.
"Maaf can, aku sangat kwatir dengan kamu, aku tidak mau terjadi sesuatu lagi dengan mu."
"Iya pangeran gantengku, tapi aku sudah tidak apa-apa,lihatlah yang penting Kamu selalu ada untuk aku."
Edo membawa Bertha ke kantornya, karena ada yang harus di selesaikan berhubung dengan peristiwa kemarin di pabrik.
"Tunggu sebentar ya can, ada pekerjaan yang harus selesai hari ini juga."
"Iya gan, aku akan menunggu sampai selesai,tapi nanti kamu harus trakrir aku ya."
Edo terkekeh mendengar perkataan Bertha.
"Memang kamu mau apa sayang, tanpa harus kamu menunggu aku bekerja kamu bebas minta apa saja."
"Aku bercanda pangeranku."
Edo mengacak rambut Bertha dan kemudian, berjalan menuju meja kerjanya.
Dua jam Edo bergulat dengan pekerjaannya, sampai Bertha tidur dengan nyenyak.
Tuan putri ku yang cantik ayo pulang, ajak Edo sambil mencubit hidung Bertha lembut.
__ADS_1
Karena tidak ada reaksi dari Bertha, Edo menggendong tubuh Bertha, yang membuat para karyawan memandang dengan penuh keirian.
Bersambung.